no comments

Surat Yasin: Uraian Lengkap (Teks Arab, Teks Latin, Terjemahan, Keutamaan, Dll). Baca Yuk Biar Kita Lebih Paham :)

Surat Yasin adalah salah satu surat didalam Al Qur’an yang paling sering di baca, khususna di Indonesia. Pada kesempatan kali ini, kita akan mempelajari berbagai hal tentang surat Yasin. Di lihat dari berbagai dalil seperti hadist dan keutamaan-keutamaan yang terkandung didalamnya.

Lihat juga artikel tentang asmaul husna beserta dengan memahami pengertiannya.

Teks dan terjemahan Surat Yasin

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
يسٓ ﴿١﴾

  1. Yaa siin
  2. Yaa siin.

وَٱلْقُرْءَانِ ٱلْحَكِيمِ ﴿٢﴾

  1. Wal Qur’aanil hakiimi
  2. Demi Al Qur’an yang penuh hikmah

إِنَّكَ لَمِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ ﴿٣﴾

  1. Innaka laminal mursaliina
  2. sesungguhnya kamu salah seorang dari Rasul-rasul

عَلَىٰ صِرَ‌ٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍۢ ﴿٤﴾

  1. ‘Alaa sirathin mustaqiiminin
  2. (yang berada) di atas jalan yang lurus,

تَنزِيلَ ٱلْعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ﴿٥﴾

  1. Tanziilal ‘aziizir rahiimi
  2. (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasalagi Penyayang,

لِتُنذِرَ قَوْمًۭا مَّآ أُنذِرَ ءَابَآؤُهُمْ فَهُمْ غَـٰفِلُونَ ﴿٦﴾

  1. Litundzira qauman maa undzira aabaaa-uhum fahum ghaafiluuna
  2. agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.

لَقَدْ حَقَّ ٱلْقَوْلُ عَلَىٰٓ أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ ﴿٧﴾

  1. Laqad haqqal qaulu ‘alaa aktsa rihim fahum laa yu’minuuna
  2. Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman.

إِنَّا جَعَلْنَا فِىٓ أَعْنَـٰقِهِمْ أَغْلَـٰلًۭا فَهِىَ إِلَى ٱلْأَذْقَانِ فَهُم مُّقْمَحُونَ ﴿٨﴾

  1. Innaa ja’alnaa fii a’naaqihim aghlaalan fahiya ilal adzqaani fahum muqmahuuna
  2. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tengadah.

وَجَعَلْنَا مِنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّۭا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّۭا فَأَغْشَيْنَـٰهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ ﴿٩﴾

  1. Waja-‘alnaa mim baini aidiihim saddan wa min khal-fihim saddan fa aghsyainaahum fahum laa yubshiruuna
  2. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.

وَسَوَآءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ ﴿١٠﴾

  1. Wasawaa-un ‘alaihim a-andzartahum amlam tundzirhum laa yu’minuuna
  2. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman

إِنَّمَا تُنذِرُ مَنِ ٱتَّبَعَ ٱلذِّكْرَ وَخَشِىَ ٱلرَّحْمَـٰنَ بِٱلْغَيْبِ ۖ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍۢ وَأَجْرٍۢ كَرِيمٍ ﴿١١﴾

  1. Innamaa tundziru maittaba-adz dzikra wa khasyiar rahmaana bil ghaibi fabasysyirhu bi magfiratin wa ajrin kariimin
  2. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.

إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَـٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَـٰهُ فِىٓ إِمَامٍۢ مُّبِينٍۢ ﴿١٢﴾

  1. Innaa nahnu nuhyil-mauta wa naktubu maa qaddamuu wa aatsarahum, wa kulla syai’in ahshainaahu fii imaamim mubiin
  2. Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).

وَٱضْرِبْ لَهُم مَّثَلًا أَصْحَـٰبَ ٱلْقَرْيَةِ إِذْ جَآءَهَا ٱلْمُرْسَلُونَ ﴿١٣﴾

  1. Wadhrib lahum matsalan ash-haabal-qaryati idz jaaa’ahal-mursaluuna
  2. Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka;

إِذْ أَرْسَلْنَآ إِلَيْهِمُ ٱثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍۢ فَقَالُوٓا۟ إِنَّآ إِلَيْكُم مُّرْسَلُونَ ﴿١٤﴾

  1. Idz arsalna ilaihimuts naini fakadzdzabuuhuma fa ‘azzaznaa bi tsalitsin faqaaluu innaa ilaikum mursaluuna
  2. (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata:” Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang-xx diutus kepadamu “.

قَالُوا۟ مَآ أَنتُمْ إِلَّا بَشَرٌۭ مِّثْلُنَا وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحْمَـٰنُ مِن شَىْءٍ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ ﴿١٥﴾

  1. Qaaluu maa antum illaa basyarun mitslunaa wamaa anzalar-rahmaanu min syai’in in antum illa takzibuuna
  2. Mereka menjawab:” Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka “.

قَالُوا۟ رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّآ إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ ﴿١٦﴾

  1. Qaaluu rabbunaa ya’lamu inna ilaikum la mursaluuna
  2. Mereka berkata:” Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu.

وَمَا عَلَيْنَآ إِلَّا ٱلْبَلَـٰغُ ٱلْمُبِينُ ﴿١٧﴾

  1. Wa maa’alainaa illal-balaaghul mubiinu
  2. Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas “.

قَالُوٓا۟ إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ ۖ لَئِن لَّمْ تَنتَهُوا۟ لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌۭ ﴿١٨﴾

  1. Qaaluu inna tathay-yarnaa bikum la’il lam tantahu lanarjumannakum walayamas sannakum minna ‘adzaabun aliimun
  2. Mereka menjawab:” Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami “.

قَالُوا۟ طَـٰٓئِرُكُم مَّعَكُمْ ۚ أَئِن ذُكِّرْتُم ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌۭ مُّسْرِفُونَ ﴿١٩﴾

  1. Qaaluu thaa’irukum ma-‘akum, a-in dzukkirtum bal antum qaumun musrifuuna
  2. Utusan-utusan itu berkata:” Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas “.

وَجَآءَ مِنْ أَقْصَا ٱلْمَدِينَةِ رَجُلٌۭ يَسْعَىٰ قَالَ يَـٰقَوْمِ ٱتَّبِعُوا۟ ٱلْمُرْسَلِينَ ﴿٢٠﴾

  1. Wajaa’a min aqshal madiinati rajulun yas-‘aa qaala yaa qaumit tabi’ul mursaliina
  2. Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata:” Wahai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu,

ٱتَّبِعُوا۟ مَن لَّا يَسْـَٔلُكُمْ أَجْرًۭا وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿٢١﴾

  1. Ittabi-‘uu man laa yas-‘alukum ajran wahum muhtaduuna
  2. ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

وَمَا لِىَ لَآ أَعْبُدُ ٱلَّذِى فَطَرَنِى وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ ﴿٢٢﴾

  1. Wa maa liya laa a’budul-ladzii fatharanii wa ilaihi turja’uuna
  2. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakan dan yang hanya kepada-Nya kamu (semua) akan dikembalikan?

ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدْنِ ٱلرَّحْمَـٰنُ بِضُرٍّۢ لَّا تُغْنِ عَنِّى شَفَـٰعَتُهُمْ شَيْـًۭٔا وَلَا يُنقِذُونِ ﴿٢٣﴾

  1. A-attakhidzu minduunihi aalihatan in yurudnirrahmaanu bidzurrin la tughnii ‘anni syafa’atuhum syai’an walaa yunqidzuuna
  2. Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku?

إِنِّىٓ إِذًۭا لَّفِى ضَلَـٰلٍۢ مُّبِينٍ ﴿٢٤﴾

  1. Inni idzan lafii dhalaalin mubiin
  2. Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata.

إِنِّىٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمْ فَٱسْمَعُونِ ﴿٢٥﴾

  1. Inni aamantu birabbikum fasma’uuni
  2. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku.

قِيلَ ٱدْخُلِ ٱلْجَنَّةَ ۖ قَالَ يَـٰلَيْتَ قَوْمِى يَعْلَمُونَ ﴿٢٦﴾

  1. Qiilad-khulil-jannata qaala yaa laita qaumii ya’lamuuna
  2. Dikatakan (kepadanya): “Masuklah ke surga”. Ia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,

بِمَا غَفَرَ لِى رَبِّى وَجَعَلَنِى مِنَ ٱلْمُكْرَمِينَ ﴿٢٧﴾

  1. Bimaa ghafaralii rabbii waja-‘alanii minal mukramiina
  2. apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan”.

وَمَآ أَنزَلْنَا عَلَىٰ قَوْمِهِۦ مِنۢ بَعْدِهِۦ مِن جُندٍۢ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ﴿٢٨﴾
28. Wa maa anzalna ‘alaa qaumihii min ba’dihii min jundin minas-samaa’i wa maa kunna munziliina

  1. Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya.

إِن كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةًۭ وَ‌ٰحِدَةًۭ فَإِذَا هُمْ خَـٰمِدُونَ ﴿٢٩﴾

  1. In kaanat illaa shaihatan waahidatan fa idzaa hum khaamiduuna
  2. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.

يَـٰحَسْرَةً عَلَى ٱلْعِبَادِ ۚ مَا يَأْتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُوا۟ بِهِۦ يَسْتَهْزِءُونَ ﴿٣٠﴾

  1. Ya hasratan ‘alal-ibaadi maa ya’tiihim mir rasuulin illaa kaanuu bihi yastahzi’uuna
  2. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.

أَلَمْ يَرَوْا۟ كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُم مِّنَ ٱلْقُرُونِ أَنَّهُمْ إِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُونَ ﴿٣١﴾

  1. Alam yarau kam ahlaknaa qablahum minal-quruuni annahum ilaihim laa yarji’uuna
    31. Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka.

وَإِن كُلٌّۭ لَّمَّا جَمِيعٌۭ لَّدَيْنَا مُحْضَرُونَ ﴿٣٢﴾

  1. Wa in kullun lammaa jamii’un ladainaa mukhdharuuna
  2. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami.

وَءَايَةٌۭ لَّهُمُ ٱلْأَرْضُ ٱلْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَـٰهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّۭا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ ﴿٣٣﴾

  1. Wa aayatun lahumul-ardlul maitatu ahyainaahaa wa akhrajnaa habban faminhu ya’kuluuna
  2. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.

وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّـٰتٍۢ مِّن نَّخِيلٍۢ وَأَعْنَـٰبٍۢ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ ٱلْعُيُونِ ﴿٣٤﴾

  1. Waja’alnaa fiihaa jannatin min nakhiilin wa a’nabin wa fajjarnaa fiihaa minal’uyuuni
  2. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air,

لِيَأْكُلُوا۟ مِن ثَمَرِهِۦ وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ ۖ أَفَلَا يَشْكُرُونَ ﴿٣٥﴾

  1. Liya’kuluu min tsamarihi wa maa ‘amilat-hu aidiihim afalaa yasykuruuna
  2. supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?

سُبْحَـٰنَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْأَزْوَ‌ٰجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلْأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ ﴿٣٦﴾

  1. Subhaanalladzi khalaqal-azwaaja kullahaa mimmaa tunbitul-ardhu wa min anfusihim wa mimmaa laa ya’lamuuna
  2. Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.

وَءَايَةٌۭ لَّهُمُ ٱلَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ ٱلنَّهَارَ فَإِذَا هُم مُّظْلِمُونَ ﴿٣٧﴾

  1. Wa aayatun lahumul lailu naslakhu minhun nahaara fa idzaahum muzhlimuuna
  2. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan,

وَٱلشَّمْسُ تَجْرِى لِمُسْتَقَرٍّۢ لَّهَا ۚ ذَ‌ٰلِكَ تَقْدِيرُ ٱلْعَزِيزِ ٱلْعَلِيمِ ﴿٣٨﴾

  1. Wasy-syamsu tajrii limustaqarrin lahaa dzaalika taqdiirul ‘aziizil ‘aliimi
  2. dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

وَٱلْقَمَرَ قَدَّرْنَـٰهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَٱلْعُرْجُونِ ٱلْقَدِيمِ ﴿٣٩﴾

  1. Walqamara qaddarnaahu manaazila hatta ‘aada kal urjuunil qadiimi
  2. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.

لَا ٱلشَّمْسُ يَنۢبَغِى لَهَآ أَن تُدْرِكَ ٱلْقَمَرَ وَلَا ٱلَّيْلُ سَابِقُ ٱلنَّهَارِ ۚ وَكُلٌّۭ فِى فَلَكٍۢ يَسْبَحُونَ ﴿٤٠﴾

  1. Lasy-syamsu yan baghii lahaa an tudrikal qamara wa lallailu saabiqun-nahar, wa kullun fi falakin yashbahuuna
  2. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

وَءَايَةٌۭ لَّهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِى ٱلْفُلْكِ ٱلْمَشْحُونِ ﴿٤١﴾

  1. Wa aayatun lahum annaa hamalnaa dzurriyyatahum filfulkil masyhuuni
  2. Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan,

وَخَلَقْنَا لَهُم مِّن مِّثْلِهِۦ مَا يَرْكَبُونَ ﴿٤٢﴾

  1. Wa khalaqnaa lahum mim mitslihii maa yarkabuuna
  2. dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti seperti bahtera itu.

وَإِن نَّشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنقَذُونَ ﴿٤٣﴾

  1. Wa in nasya’ nughriqhum falaa shariikha lahum wa laahum yunqadzuuna
  2. Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan.

إِلَّا رَحْمَةًۭ مِّنَّا وَمَتَـٰعًا إِلَىٰ حِينٍۢ ﴿٤٤﴾

  1. Illa rahmatan minnaa wa mataa’an ilaa-hiinin
  2. Tetapi (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّقُوا۟ مَا بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ﴿٤٥﴾

  1. Wa idzaa qiila lahumuttaquu maa baina aidiikum wa maa khalfakum la’allakum turhamuuna
  2. Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Takutlah kamu akan siksa yang di hadapanmu dan siksa yang akan datang supaya kamu mendapat rahmat”, (niscaya mereka berpaling).

وَمَا تَأْتِيهِم مِّنْ ءَايَةٍۢ مِّنْ ءَايَـٰتِ رَبِّهِمْ إِلَّا كَانُوا۟ عَنْهَا مُعْرِضِينَ ﴿٤٦﴾

  1. Wa maa ta’tiihim min aayatin min aayaati rabbihim illa kaanuu ‘anha mu’ridhiina
  2. Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ أَنفِقُوا۟ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ قَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَنُطْعِمُ مَن لَّوْ يَشَآءُ ٱللَّهُ أَطْعَمَهُۥٓ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا فِى ضَلَـٰلٍۢ مُّبِينٍۢ ﴿٤٧﴾

  1. Wa idzaa qiila lahum anfiqu mimma razaqakumullahu qaalal-ladziina kafaruu lil ladziina aamanuu anuth’imu mal lau ya-sya’ullahu ath’amahu, in antum illa fii dhalaalim mubiinin
  2. Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Nafkahkanlah sebahagian dari rezeki yang diberikan Allah kepadamu”, maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman: “Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan, tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata”.

وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَـٰذَا ٱلْوَعْدُ إِن كُنتُمْ صَـٰدِقِينَ ﴿٤٨﴾

  1. Wa yaquuluuna mataa haadzal wa’du in kuntum shaadiqiina
  2. Dan mereka berkata: “Bilakah (terjadinya) janji ini (hari berbangkit) jika kamu adalah orang-orang yang benar?”

مَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةًۭ وَ‌ٰحِدَةًۭ تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ ﴿٤٩﴾

  1. Maa yanzhuruuna ilala shaihatan waahidatan ta’khudzuhum wahum yakhis simuuna
  2. Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar.

فَلَا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةًۭ وَلَآ إِلَىٰٓ أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ ﴿٥٠﴾

  1. Falaa yastathii’uuna taushiyatan wa laa ilaa ahlihim yarji’uuna
  2. Lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiatpun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya.

وَنُفِخَ فِى ٱلصُّورِ فَإِذَا هُم مِّنَ ٱلْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنسِلُونَ ﴿٥١﴾

  1. Wa nufikha fish’shuuri fa idzaa hum minal-ajdaatsi ilaa rabbihim yansiluuna
  2. Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka.

قَالُوا۟ يَـٰوَيْلَنَا مَنۢ بَعَثَنَا مِن مَّرْقَدِنَا ۜ ۗ هَـٰذَا مَا وَعَدَ ٱلرَّحْمَـٰنُ وَصَدَقَ ٱلْمُرْسَلُونَ ﴿٥٢﴾

  1. Qaaluu ya wailanaa man ba’a tsanaa min marqadinaa haadzsa maa wa’adar-rahmaanu wa shadaqal mursaluuna
  2. Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami? Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya).

إِن كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةًۭ وَ‌ٰحِدَةًۭ فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌۭ لَّدَيْنَا مُحْضَرُونَ ﴿٥٣﴾

  1. In kaanat illaa shaihatan waahidatan fa idzaa hum jamii’un ladainaa muhdharuuna
  2. Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami.

فَٱلْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌۭ شَيْـًۭٔا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿٥٤﴾

  1. Falyauma laa tuzhlamu nafsun syai’an wa laa tujzauna illaa maa kuntum ta’maluuna
  2. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.

إِنَّ أَصْحَـٰبَ ٱلْجَنَّةِ ٱلْيَوْمَ فِى شُغُلٍۢ فَـٰكِهُونَ ﴿٥٥﴾

  1. Inna ash-haabal jannatil yauma fii syughulin faakihuuna
  2. Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).

هُمْ وَأَزْوَ‌ٰجُهُمْ فِى ظِلَـٰلٍ عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ مُتَّكِـُٔونَ ﴿٥٦﴾

  1. Hum wa azwaajuhum fi dzilaa lin ‘alal araa’iki muttaki’uuna
  2. Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.

لَهُمْ فِيهَا فَـٰكِهَةٌۭ وَلَهُم مَّا يَدَّعُونَ ﴿٥٧﴾

  1. Lahum fiiha faakihatun wa lahum maa yadda’uuna
  2. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta.

سَلَـٰمٌۭ قَوْلًۭا مِّن رَّبٍّۢ رَّحِيمٍۢ ﴿٥٨﴾

  1. Salaamun qaulan min rabbir rahiimi
  2. (Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.

وَٱمْتَـٰزُوا۟ ٱلْيَوْمَ أَيُّهَا ٱلْمُجْرِمُونَ ﴿٥٩﴾

  1. Wamtazul yauma ayyuhal mujrimuuna
  2. Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat.

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَـٰبَنِىٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا۟ ٱلشَّيْطَـٰنَ ۖ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّۭ مُّبِينٌۭ ﴿٦٠﴾

  1. Alam a’had ilaikum yaabanii aadama anla ta’budusy syaitaana innahuu lakum ‘aduwwun mubiinun
  2. Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaithan? Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”,

وَأَنِ ٱعْبُدُونِى ۚ هَـٰذَا صِرَ‌ٰطٌۭ مُّسْتَقِيمٌۭ ﴿٦١﴾

  1. Wa ani’ buduunii haadzaa shiraathun mustaqiimun
  2. dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.

وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنكُمْ جِبِلًّۭا كَثِيرًا ۖ أَفَلَمْ تَكُونُوا۟ تَعْقِلُونَ ﴿٦٢﴾

  1. Wa laqad adhalla minkum jibillan katsiran afalam takuunuu ta’qiluuna
  2. Sesungguhnya syaithan itu telah menyesatkan sebahagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan?

هَـٰذِهِۦ جَهَنَّمُ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ ﴿٦٣﴾

  1. Haadzihii jahannamul-latii kuntum tuu’aduuna
  2. Inilah Jahannam yang dahulu kamu di ancam (dengannya).

ٱصْلَوْهَا ٱلْيَوْمَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ ﴿٦٤﴾

  1. Ishlauhal yauma bimaa kuntum takfuruuna
  2. Masuklah ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya.

ٱلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰٓ أَفْوَ‌ٰهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ ﴿٦٥﴾

  1. Alyauma nakhtimu ‘ala afwaa hihim wa tukallimunaa aidihim wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanuu yaksibuuna
  2. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.

وَلَوْ نَشَآءُ لَطَمَسْنَا عَلَىٰٓ أَعْيُنِهِمْ فَٱسْتَبَقُوا۟ ٱلصِّرَ‌ٰطَ فَأَنَّىٰ يُبْصِرُونَ ﴿٦٦﴾

  1. Walau nasyaa’u lathamasnaa ‘ala a’yunihim fastabaqush-shiraatha fa-annaa yubshiruuna
  2. Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba (mencari) jalan. Maka betapakah mereka dapat melihat (nya).

وَلَوْ نَشَآءُ لَمَسَخْنَـٰهُمْ عَلَىٰ مَكَانَتِهِمْ فَمَا ٱسْتَطَـٰعُوا۟ مُضِيًّۭا وَلَا يَرْجِعُونَ ﴿٦٧﴾

  1. Wa lau nasyaa’u lamasyakhnaahum ‘alaa makaanatihim famastathaa’u mudhiyan walaa yarji’uuna
  2. Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami robah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak (pula) sanggup kembali.

وَمَن نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِى ٱلْخَلْقِ ۖ أَفَلَا يَعْقِلُونَ ﴿٦٨﴾

  1. Wa man nu-‘ammirhu nunak-kishu fil-khalqi afalaa ya’qiluuna
  2. Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian (nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?

وَمَا عَلَّمْنَـٰهُ ٱلشِّعْرَ وَمَا يَنۢبَغِى لَهُۥٓ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌۭ وَقُرْءَانٌۭ مُّبِينٌۭ ﴿٦٩﴾

  1. Wa maa ‘allamnahusy-syi’ra wa maa yanbaghii laahu in huwa ilala dzikrun wa qur’aanun mubiinun
  2. Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan,

لِّيُنذِرَ مَن كَانَ حَيًّۭا وَيَحِقَّ ٱلْقَوْلُ عَلَى ٱلْكَـٰفِرِينَ ﴿٧٠﴾

  1. Liyundzira man kaana hayyan wayahiqqal qaulu ‘alal-kaafiriina
  2. supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.

أَوَلَمْ يَرَوْا۟ أَنَّا خَلَقْنَا لَهُم مِّمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَآ أَنْعَـٰمًۭا فَهُمْ لَهَا مَـٰلِكُونَ ﴿٧١﴾

  1. Awalam yarau annaa khalaqnaa lahum mimmaa ‘amilat aidiina an’aaman fahum lahaa maalikuuna
  2. Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya?

وَذَلَّلْنَـٰهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ ﴿٧٢﴾

  1. Wadzallalnaahaa lahum faminhaa rakuubuhum waminhaa ya’kuluuna
  2. Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan.

وَلَهُمْ فِيهَا مَنَـٰفِعُ وَمَشَارِبُ ۖ أَفَلَا يَشْكُرُونَ ﴿٧٣﴾

  1. Walahum fiihaa manaa fi’u wa masyaaribu afalaa yasykuruuna
  2. Dan mereka memperoleh padanya manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?

وَٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِ ٱللَّهِ ءَالِهَةًۭ لَّعَلَّهُمْ يُنصَرُونَ ﴿٧٤﴾

  1. Wattakhadzuu min duunillahi aalihatan la’allahum yunsharuuna
  2. Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan.

لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُندٌۭ مُّحْضَرُونَ ﴿٧٥﴾

  1. Laa yastathii’uuna nashrahum wahum lahum jundun muhdharuuna
  2. Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka; padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka.

فَلَا يَحْزُنكَ قَوْلُهُمْ ۘ إِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ﴿٧٦﴾

  1. Falaa yahzunka qauluhum inna na’lamu maa yusirruuna wa maa yu’linuuna
  2. Maka janganlah ucapan mereka menyedihkan kamu. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.

أَوَلَمْ يَرَ ٱلْإِنسَـٰنُ أَنَّا خَلَقْنَـٰهُ مِن نُّطْفَةٍۢ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌۭ مُّبِينٌۭ ﴿٧٧﴾

  1. A wa lam yaral-insanu anna khalaqnahu min nutfatin fa iza huwa khasimum mubin
  2. Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًۭا وَنَسِىَ خَلْقَهُۥ ۖ قَالَ مَن يُحْىِ ٱلْعِظَـٰمَ وَهِىَ رَمِيمٌۭ ﴿٧٨﴾

  1. Wa daraba lana masalaw wa nasiya khalqah qala may yuhyil-izama wa hiya ramim
  2. Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?”

قُلْ يُحْيِيهَا ٱلَّذِىٓ أَنشَأَهَآ أَوَّلَ مَرَّةٍۢ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ ﴿٧٩﴾

  1. Qul yuhyiihal ladzi ansya’ahaa aw-wala marratin wahuwa bikulli khalqin ‘aliimun
  2. Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk,

ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلشَّجَرِ ٱلْأَخْضَرِ نَارًۭا فَإِذَآ أَنتُم مِّنْهُ تُوقِدُونَ ﴿٨٠﴾

  1. Alladzii ja’ala lakum minasy syajaril akhdari naaran fa idza antum minhu tuuqiduuna
  2. yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu.”

أَوَلَيْسَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ وَٱلْأَرْضَ بِقَـٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يَخْلُقَ مِثْلَهُم ۚ بَلَىٰ وَهُوَ ٱلْخَلَّـٰقُ ٱلْعَلِيمُ ﴿٨١﴾

  1. Awalaisal-ladzii khalaqas samaawaati wal ardha biqaadirin ‘ala an-yakhluqa mitslahum balaa wahuwal khallaqul-‘aliimu
  2. Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.

إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْـًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ﴿٨٢﴾

  1. Innamaa amruhuu idzaa araada syai-an an yaquula lahuu kun fayakuunu
  2. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia.

فَسُبْحَـٰنَ ٱلَّذِى بِيَدِهِۦ مَلَكُوتُ كُلِّ شَىْءٍۢ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ ﴿٨٣ ﴾و

  1. Fasubhaanal ladzhii biyadihii malakuutu kulli syai’in wa ilaihi turja’uuna.
    83. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan

Asbabun Nuzul

Asbabun Nuzul adalah peristiwa-peristiwa yang menjadi penyebab atau pengiring dari turunnya surat Yasin. Ada beberapa hadist sebagaimana tercantum dalam beberapa kitab sirah. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut,

  1. Abu Na’im di dalam kitab Ad Dalail-nya menceritakan sebuah hadits yang bersumberkan dari sahabat Ibnu Abbas r.a. yang telah menceritakan, bahwa Rasulullah saw. membaca surat As Sajdah, lalu beliau mengeraskan bacaannya, sehingga hal ini membuat segolongan orang-orang Quraisy merasa terganggu karenanya. Lalu mereka bangkit hendak memukuli Rasul saw., akan tetapi tiba-tiba tangan mereka menjadi kaku menempel pada leher-leher mereka, dan tiba-tiba mereka tidak dapat melihat sama sekali.

Kemudian mereka mendatangi Nabi saw. seraya meminta kepadanya : “kami minta pertolongan kepadamu demi Allah dan demi hubungan silaturrahmi kita, hai Muhammad”.

Maka Rasul saw. mendoakan mereka sehingga keadaan mereka normal kembali. Lalu turunlah firman-Nya :

Yaa Siin. Demi Alquran yang penuh hikmah. (Q.S. Yasin 36 : 1-2)

Sampai dengan firman-Nya :

Ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman . (Q.S. Yasin 36 : 10)

Selanjutnya sahabat Ibnu Abbas menceritakan, bahwa ternyata tidak ada seorangpun dari mereka itu yang mau beriman.

Kemudian, Ibnu Jarir mengabarkan sebuah hadits melalui Ikrimah yang telah menceritakan, bahwa Abu Jahal telah mengatakan :

“Sungguh jika aku melihat Muhammad, aku akan hajar dia dan aku akan melakukan demikian dan demikian”.

Lalu Allah menurunkan firman-Nya :

Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka (Q.S. Yasin 36 :8)

Sampai pada firman-Nya :

Sehingga mereka tidak dapat melihat. (Q.S. Yasin 36 : 9)

Orang-orang mengatakan kepadanya, “inilah Muhammad”.

Akan tetapi Abu Jahal berkata : “Mana dia ? mana dia ?” sedangkan ia tidak dapat melihat.

  1. Imam Turmudzi menyampaikan sebuah hadits hasan dan Imam Hakim menilainya sebagai hadits sahih. Kedua imam tersebut meriwayatkan hadits ini melalui sahabat Abu Sa’id Al Khudri r.a. yang telah menceritakan, bahwa orang-orang Bani Salamah tinggal di salah satu sudut kota Madinah. Lalu mereka bermaksud untuk pindah ke tempat yang dekat dengan Masjid, maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya :

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-oran mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. (Q.S. Yasin 36 :12)

Kemudian Nabi saw. bersabda : “sesungguhnya jejak-jejak kalian (dari rumah kalian ke Masjid untuk menunaikan salat) ditulis (pahalanya) oleh Allah, maka janganlah kalian pindah”.

Imam Thabrani telah mengetengahkan pula hadits yang serupa bersumberkan dari sahabat Ibnu Abbas r.a.

  1. Diriwayatkan dari imam Hakim, sebuah hadits yang dinilainya sebagai hadits sahih. Asal hadist ini dari Ibnu Abbas r.a. yang telah menceritakan, bahwa Al Ashi Ibnu Wail datang kepada Rasul saw. dengan membawa tulang yang telah rapuh, lalu sesampainya di hadapan Rasulullah saw. ia meremas-remas tulang itu hingga hancur, seraya berkata, “Hai Muhammad, apakah tulang yang telah hancur ini akan dihidupka lagi kelak ?”

Rasulullah saw. menjawab : “Ya, Allah pasti akan menghidupkannya kembali, kemudian Dia akan mematikanmu dan menghidupkanmu kembali, selanjutnya Dia akan memasukkanmu ke dalam neraka Jahannam”.

Kemudian turunlah ayat ini :

Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air mani . . . (Q.S. Yasin 36 : 77)

Sampai akhir surat ini.

Ibnu Abi Hatim telah mengetengahkan pula hadits ini melalui jalur yang bersal dari Mujahid, Ikrimah, Urwah Ibnuz Zubair dan As Saddi. Di dalam haditsnya ini mereka menyebutkan, bahwa orang yang membawa tulang tersebut adalah Ubay Ibnu Khalaf.

Kandungan Isi Surat Yasin

Untuk memahami lebih lengkap mengenai apa-apa yang terdapat dalam surat Yasin, sebaiknya kita membaca kitab tafsir karangan para ulama ang berkompetensi baik itu dari kalangan terdahulu ataupun yang masa kini.

Secara ringkas, kandungan dari surat Yasin bisa dibedakan menjadi sebagai berikut,

 Keimanan :

  1. Menerangkan tentang hari akhir
  2. Al Qur’an bukan-lah syair
  3. Mengenali kekuasaan Allah
  4. Balasan bagi orang-orang mukmin, yaitu Syurga
  5. Pensucian Allah dari berbagai yang tak pantas
  6. Persaksian anggota tubuh di hari kiamat kelak

 Kisah :

Terdapat kisah tentang utusan-utusan Nabi Isa as, untuk kaum Anthakiyah.

 Hikmah Lain :

  1. Peringatan bagi orang-orang musyrik yang dinilai sia-sia
  2. Allah menciptakan semua makhluknya berpasang-pasangan
  3. Peredaran berbagai benda langit sesuai dengan apa yang telah Allah kehendaki
  4. Ajal dan Hari kiamat akan datang secara tiba-tiba
  5. Hiburan untuk Rasulullah yang diakibatkan oleh pengingkaran orang-orang musyrik.

Keutamaan surat yasin

Pada dasarnya, Surat Yasin memiliki keutamaan yang sama dengan surat-surat lain di dalam Al Qur’an. Sebagaimana RAsulullah pernah bersabda,

عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ».

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

Dengan demikian membaca surat Yasin, entah itu secara khusus atau bagian dari tilawah rutin, maka kita akan mendapat pahala sebagaimana yang telah dijanjikan.

Akan tetapi, keistimewaan surat Yasin tidak hanya berhenti disana saja. Para ulama banyak berpendapat jika Surat Yasin ini memiliki keistimewaan khusus yang tidak dimiliki oleh surat-surat lainnya. Karena itu pula mayoritas masyarakat di Indonesia menyemarakan membaca surat Yasin di acara-acara dan di waktu-waktu tertentu.

Secara khusus, ada dua dalil yang menerangkan tentang keutamaan yang dimiliki oleh surat Yasin ini.

  1. Keutamaan Membaca Surat Yasin di Malam Hari

Nabi SAW bersabda:

مَنْ قَرَأَ يس فِيْ لَيْلَةٍ اِبْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ غُفِرَ لَهُ

“Siapa yang membaca (surat) Yasin pada malam hari dengan mengharap keridooan Allah maka diampuni dosa-dosanya”

(HR. At Thobroni/145, 418 dan Al-Bayhaqi/2360, 2361 dari Abu Huroiroh, Ad Darimi/3478 dari Hasan, Dishohihkan oleh Ibnu Hibban/2626)

مَنْ دَاوَمَ عَلَى قِرَاءَةِ يس كُلَّ لَيْلَةٍ ، ثُمَّ مَاتَ ، مَاتَ شَهِيْدًا

“Siapa yang membiasakan membaca Yasin setiap malam, kemudian ia mati, maka ia mati dalam keadaan syahid”

(HR. At-Thobroni)

Membaca surat Yasin di malam hari juga bisa disempurnakan dengan melaksanakan qiyamulail seperti sholat tahajud dan sholat lainnya.

  1. Manfaat Membaca Surat Yasin bagi Orang yang Meninggal Dunia

Diriwayatkan dari Ma’qol bin Yasar, bahwa Nabi SAW bersabda:

اِقْرَءُوْا عَلَى مَوْتاَكُمْ يس

“Bacalah untuk orang mati di antara kamu, surat Yasin”

(Hadits Shohih Riwayat Ibnu Hibban/3064, juga diriwayatkan oleh Abu Daud/2714, Ibnu Majah/1438, Ahmad/19416, 19427, Nasai/10913, Alhakim/2028, Aththobroni/16904, Albayhaqi/2356, 8930)

Dijelaskan pula mengenai hadist ini dalam kitab At-Taysiir, Al-Munawi berkata:

وفي رواية ذكرها ابن القيم عند ( موتاكم ) أي من حضره الموت من المسلمين لأنّ الميت لا يقرأ عليه

“..dalam riwayat yang disebutkan Ibnul Qayyim: yang dimaksud “mautaakum” adalah muslim yang akan meninggal dunia, karena mayyit tidak perlu lagi dibacakan.”

Kemudian beliau mengatakan:

أو المراد اقرؤها عليه بعد موته والأولى الجمع

“Atau bisa juga maksudnya adalah bacakanlah setelah kematiannya. Yang paling utama adalah digabungkan.”

Akhirnya semoga dengan mengetahui dalil yang melandasi keutamaan surat Yasin ini, kita bisa semakin memaksimalkan setiap kesempatan yang telah Allah berikan kepada kita dengan kualitas amal sebaik mungkin.

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p