Zakat Fitrah: Pengertian, Dalil, Tata Cara, hingga Hikmah Penetapan Syariat Mulia Ini

Zakat Fitrah: Pengertian, Dalil, Tata Cara, hingga Hikmah Penetapan Syariat Mulia Ini

Pengertian Zakat Fitrah

Term zakat fitrah terdiri dari dua kata yaitu زكاة dan فطرة. Kata زكاة secara bahasa bermakna “bertumbuh, bertambah, membaik, inti dari sesuatu dan bagian tertentu dari harta yang dikeluarkan untuk membersihkan sisanya”.[1] Adapun kata فطرة  merupakan bentuk mashdar dari فطر yang artinya alami atau keadaan asal dari sesuatu. Allah swt berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah.

Pada ayat di atas,  kata |NtôÜÏù  digunakan untuk menunjukkan makna keadaan asal manusia sebagaimana mereka diciptakan.[2] Dengan demikian kata فطرة   juga dapat dipahami maknanya adalah suci karena keadaan asal setiap manusia adalah suci dari dosa dan kesalahan. Rangkaian dari kata زكاة dan فطرة   dipahami sebagai rangkain sebab-akibat, maksudnya zakat yang dikeluarkan untuk mengembalikan status “fitrah” atau kesucian seseorang. Zakat fitrah dalam ilmu fiqih terkadang juga diistilahkan dengan zakat badan untuk membedakannya dengan zakat mal (Harta), jika zakat mal bertujuan untuk menyucikan harta, maka zakat fitrah bertujuan untuk menyucikan jiwa atau badan.

Menurut terminologi fikih, zakat fitrah artinya adalah:

صدقة تجب بالفطر  من رمضان

Artinya: sedekah yang wajib dibayarkan ketika lewat atau selesainya bulan Ramadhan.[3]

Dalil-Dalil Berkaitan dengan Zakat Fitrah

Jumhur ulama berpendapat bahwasanya zakat fitrah hukumnya wajib untuk setiap orang Islam, pendapat ini didasarkan pada beberapa hadis di antaranya:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَا حَدَّثَنَا مَالِكٌ و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَاللَّفْظُ لَهُ قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنْ الْمُسْلِمِينَ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah bin Qa’nab dan Qutaibah bin Sa’id keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Malik -dalam jalur lain- Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya -lafazh juga miliknya- ia berkata, saya telah membacakan kepada Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewajibkan zakat Fithrah di bulan Ramadhan atas setiap orang muslim, baik dia itu merdeka atau hamba, laki-laki atau perempuan, yaitu satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum.[4]

Perintah dalam hadis di atas dipahami oleh banyak ulama menunjukkan sebuah kewajiban.  Dalam riwayat yang lain disebutkan:

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ خَالِدٍ الدِّمَشْقِيُّ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّمْرَقَنْدِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنَا أَبُو يَزِيدَ الْخَوْلَانِيُّ وَكَانَ شَيْخَ صِدْقٍ وَكَانَ ابْنُ وَهْبٍ يَرْوِي عَنْهُ حَدَّثَنَا سَيَّارُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ مَحْمُودٌ الصَّدَفِيُّ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ

Telah menceritakan kepada Kami Mahmud bin Khalid Ad Dimasyqi dan Abdullah bin Abdurrahman As Samarqandi berkata; telah menceritakan kepada Kami Marwan, Abdullah berkata; telah menceritakan kepada Kami Abu Yazid Al Khaulani ia adalah syekh yang jujur, dan Ibnu Wahb telah meriwayatkan darinya, telah menceritakan kepada Kami Sayyar bin Abdurrahman, Mahmud Ash Shadafi berkata; dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya sedekah diantara berbagai sedekah.[5]

Hadis di atas dapat menunjukkan dengan jelas terkait dengan hukum zakat fitrah, waktub pelaksanaan zakat fitrah serta tujuan dari zakat fitrah.

Hukum Zakat Fitrah dalam Mazhab Syafi’iy

Mazhab Syafi’iy  sesuai dengan pendapat jumhur ulama yang menyatakan bahwa zakat fitrah hukumnya wajib, dengan berdalil pada hadis Ibn ‘Umar. Jika melihat  pemetaan hukum dalam empat mazhab, hanya mazhab Maliky yang memiliki pendapat yang berbeda dan mengatakan bahwasanya zakat fitrah hukumnya sunnah.[6]

Syarat Wajib Zakat Fitrah

Zakat Fitrah baru wajib dibayarkan jika memenuhi beberapa syarat berikut ini:

  1. Islam, Zakat fitrah tidak wajib dibayarkan oleh orang kafir, akan tetapi orang kafir tersebut tetap wajib membayarkan zakat firah untuk budak dan orang yang ditanggung nafkahnya yang beragama Islam.[7] Misalnya Pak Jono Berstatus non muslim, akan tetapi memiliki anak  yang ia tanggung nafkahnya yang beragama Islam, maka ia wajib membayar zakat Fitrah untuk anaknya yang Islam tersebut.
  2. Berstatus Merdeka, dengan demikian orang Islam yang berstatus sebagai budak tidak terkena kewajiban zakat, melainkan zakat fitrah untuk dirinya dibayarkan oleh tuannya. Seorang budak juga tidak terkena kewajiban membayar zakat fitrah untuk Istrinya, jika istrinya itu juga seorang budak, maka zakat fitrah dibayarkan oleh tuannya, sedangkan jika istrinya adalah orang merdeka, maka istrinya tersebut harus membayarkan zakat fitrah untuknya sendiri karena suaminya adalah seorang budak.[8] Seorang Budak pada dasarnya tidak memiliki hak kepemilikan untuk harta apapun, sehingga ia terkena kewajiban zakat.
  3. Memiliki kemampuan untuk membayar zakat fitrah. Kemampuan ini diukur dengan perhitungan yang berbeda-beda menurut para ulama fikih. Dalam mazhab Syafi’iy, standar mampu di sini adalah jika seseorang memiliki simpanan harta yang melebihi dari kebutuhan makan, pakaian dan tempat tinggal untuk dirinya sendiri dan orang yang ia tanggung nafkahnya selama malam hari raya dan hari esoknya.

Standar seperti ini didasarkan pada sebuah hadis:

مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنْ النَّارِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا يُغْنِيهِ وَقَالَ أَنْ يَكُونَ لَهُ شِبْعُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَوْ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ

“Barang siapa yang meminta-minta sementara ia memiliki sesuatu yang mencukupinya maka sesungguhnya ia memperbanyak api neraka.” Kemudian mereka berkata; wahai Rasulullah, apa yang mencukupinya?, Beliau menjawab, “seukuran ia dapat mengenyangkan diri untuk satu hari satu malam”.[9]

Hadis di atas menunjukkan bahwa orang yang memilki persediaan untuk dirinya dan tanggungannya yang mencukupi untuk makan (kebutuhan primer) selama satu hari dan satu malam setelahnya, maka ia dihitung sebagai orang yang berkecukupan dalam hal ini, sehingga jika melebihi ukuran kebutuhan tersebut, maka ia terkena kewajiban zakat fitrah.

Pendapat berbeda disampaikan oleh ulama mazhab Hanafi yang mengatakan bahwa kewajiban zakat fitrah berlaku bagi orang yang memiliki harta di atas ukuran  nishab zakat perak yaitu 200 Dirham.

Siapa Saja yang Wajib Membayar Zakat Fitrah

Zakat Fitrah mulai tiba kewajibannya saat tenggelamnya matahari pada hari terakhir bulan Ramadhan, dengan kata lain dengan berakhirnya bulan ramadahn dan mulai masuknya bulan syawal. Dengan demikian setiap orang yang sempat merasakan peralihan dari bulan Ramadhan menuju bulan Syawal tersebut terkena kewajiban zakat fitrah. Berdasarkan pada ketentuan di atas, zakat fitrah tidak wajib atas orang yang meninggal sebelum matahari tenggelam pada hari terakhir bulan Ramadhan, maupun anak bayi yang terlahir setelah matahari tenggelam pada hari tersebut.[10]

Dasar perhitungan tenggelamnya matahari pada hari terakhir bulan Ramadhan didasarkan pada hadis:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ

Dalam hadis di atas kata shadaqah dikaitkan dengan kata al-Fithr kaitan ini menimbulkan aspek pengkhususan yaitu sedekah yang terkhusus terjadi ketika terjadinya al-Fithr (selesainya bulan Ramadhan). Aspek selesainya bulan Ramadhan sendiri terjadi pada saat habisnya seluruh bagian daripada bulan Ramadhan yaitu pada saat terbenamnya matahari pada hari terakkhir di bulan Ramadhan. Pendapat lainnya disampaikan oleh mazhab Hanafi yang mengatakan bahwasanya penyebab kewajiban zakat Fitrah dihitung saat terbitnya fajar pada hari raya idul fitri.

Seseorang wajib membayar zakat untuk dirinya sendiri, kecuali jika nafkah dirinya merupakan kewajiban orang lain, maka zakat fitrah dirinya wajib dibayarkan oleh orang yang menanggung nafkahnya tersebut. Dengan kata lain seseorang wajib membayar zakat untuk dirinya dan siapa saja yang ia tanggung nafkahnya.

Sebab kewajiban nafkah dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Yaitu faktor pernikahan, artinya seorang suami terhadap istri. Faktor kepemilikan, yaitu seorang tuan terhadap budak yang ia miliki. Faktor kekerabatan misalnya seorang ayah terhadap anaknya yang belum dewasa, atau seorang anak terhadap orang tuanya yang sudah tua atau cacat.

Faktor kewajiban nafkah ini juga diukur pada ketentuan masa peralihan bulan Ramadhan menuju bulan Syawal. Misalnya seorang suami tidak wajib membayar zakat untuk istri yang baru ia nikahi setelah matahari tenggelam pada hari tersebut, karena dalam kasus ini ia belum wajib menanggung nafkah istrinya saat penyebab  kewajiban zakat fitrah muncul. Tetapi seorang suami wajib membayar zakat fitrah untuk istri yang ia talak setelah matahari tenggelam.

Seorang ayah tidak wajib membayar zakat fitrah untuk anak yang baru lahir setelah matahari terbenam, atau anak yang meninggal dunia sebelum matahari terbenam. Begitu juga seorang tuan tidak wajib memnayar zakat fitrah untuk budak yang baru ia beli setelah matahari terbenam, atau budak yang meninggal dunia sebelum matahari terbenam. Artinya ketentuan kewajiban dan tanggungan zakat firha diukur pada saat peralihan bulan Ramadhan menuju bulan Syawal yaitu pada saat terbenamnya matahari di hari terakhir bulan Ramadhan.

Besaran Zakat Fitrah yang Wajib dikeluarkan

Besaran zakat fitrah yang harus dikeluarkan untuk setiap jiwa adalah satu Sha’. Satu Sha’ itu sendiri seukuran dengan empat Mud.  Jika dikonversikan menjadi satuan yang familiar saat ini, maka terjadi perbedaan pendapat antara ulama mazhab syafi’iy dengan pendapat Abu Hanifah. Menurut ulama mazhab Syafiiy, satu Sha’ sepadan dengan  2175 gram, sedangkan menurut abu Hanifah satu Sha’ sepadan dengan 3800 gram. Artinya besaran dalam pandangan Abu Hanifah juga lebih besar dibandingkan dengan mazhab Syafi’iy, dengan selisih sekitar 1700 gram.[11]

Zakat Fitrah dengan Beras atau Uang

Menurut pendapat yang dipegang dalam mazhab Syafi’i, zakat fitrah dikeluarkan dari jenis tumbuhan yang dijadikan makanan pokok (Qut) sebuah daerah sama halnya dengan yang berlaku pada zakat biji-bjian. Seandainya pada sebuah daerah ada beberapa jenis makanan pokok, maka dipilih mana yang paling dominan diantara beberapa makanan pokok tersebut.[12] Untuk kasus di Indonesia, maka zakat fitrah dibayarkan dengan beras karena itulah makanan pokok yang lazim dikonsumsi di sini.

Pendapat yang berbeda disampaikan oleh mazhab yang lain. Misalnya pendapat mazhab Hanafi yang lebiih menganjurkan untuk membayar zakat dengan uang, atau mazhab hanbaly yang membolehkan membayar zakat dengan kurma kering atau anggur kering.[13]

Jika merujuk pada ketentuan yang dipegang oleh para ualam mazhab Syafi’iy, zakat fitrah tidak boleh dibayarkan dengan uang. Hal ini didasarkan pada keterangan yang disebutkan oleh para sahabat dalam hadis bahwasanya mereka membayarkan zakat fitrah hanya dengan bahan makanan. Akan tetapi para ulama kontemporer juga ada yang menyatakan bolehnya membayar zakat fitrah dengan uang dengan pertimbangan kemaslahatan dan kesesuaian dengan situasi sekarang ini, diantaranya seperti beberapa ulama al-Azhar seperti Syaikh ‘Athiyah Shaqar, Syaikh ‘Ali Jum’ah dan Syaikh Yusuf al-Qardhawy. Dan juga salah seorang ulama besar Maroko yaitu Ahmad Ibn Shiddiq al-Ghumary. Pendapat ini juga dipilih Ustadz Abdulshamad.[14] Pendapat serupa juga disampaikan oleh Syaikh Wahbah Zuhaily dan Imam al-Ramli dalam fatwa beliau. Pendapat di atas didasarkan pada pertimbangan bahwa membayar zakat fitrah dengan uang dinilai lebih praktis dan besar manfaatnya di masa sekarang.

Tatacara Pembayaran Zakat Fitrah

Niat Zakat Fitrah

Niat merupakan salah satu syarat dalam pembayaran zakat. Oleh sebab itu, maka ia jug aberlaku dalam pembayaran zakat fitrah.  Niat yang disyaratkan di sini tidak perlu untu dilafalkan akan tetapi cukup dengan gerak hati saja. Seseorang dapat berniat bahwa ia membayarkan zakatnya atau berniat membayarkan sedekah yang diwajibkan kepadanya. Niat dalam berzakat tidak diberatkan sebagaimana dalam shalat. Diantaranya tidak diharuskan membuat perincian seperti niat fardhu, karena pada dasarnya zakat itu memang hukumnya fardhu, tidak diharuskan adanya Muqaranah atau berbarengannya niat dengan tindakan penyerahan zakat. Niat zakat sudah memadai jika dilakukan sebelum penyerahan zakat misalnya ketika berangkat dari rumah, atau ketika menyerahkan zakat kepada orang yang kita wakilkan untuk membayarkan zakat. Selain itu, seandainya seseorang  merasa ragu apakah ia sudah berniat atau belumm, maka ia tidak harus mengulangi zakatnya.[15]

Pihak Penerima Zakat Fitrah

Orang yang berhak menerima zakat fitrah sama halnya seperti ketentuan yang berlaku pada zakat yang lain , yaitu delapan gologan yang disebutkan di dalam ayat berikut ini:

 إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Artinya: Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Jumhur ulama termasuk mazhab Syafi’iy  berpendapat bahwa penerima zakat yang disebutkan di dalam ayat di atas berlaku secara umum termasuk dalam zakat fitrah. Akan tetapi ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa zakat fitrah terkhusu hanya diberikan pada fakir miskin saja, diantaranya seperti seperti ulama Malikiyah, Ibn Taymiyah, Ibn Qayyim, dan para ulama salafi lainnya. Mereka berdalil bahwa ketentuan pada ayat di atas tidak berlaku pada zakat fitrah karena telah dikhususkan pada hadis di bawah ini:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ

Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya sedekah diantara berbagai sedekah

Pada Hadis di atas Rasulullah mengkhususkan penyebutan orang miskin, sehingga sebagian ulama memahaminya bahwa zakat fitrah hanya diberikan kepada fakir miskin saja, dan tidak berlaku pada enam golongan lainnya yang disebutkan di dalam Surah al-taubah.

Zakat Fitrah diwakili oleh keluarga atau orang lain

Orang yang nafkahnya ditanggung oleh orang lain maka zakat fitrahnya wajib dibayarkan oleh orang yang menanggung nafkahnya. Adapun orang yang nafkahnya atas dirinya sendiri, maka ia sendiri yang ajib membayarkan zakat fitrah dirinya, namun seandainya zakat fitrahnya dibayarkan oleh orang lain misalnya orang tua atau keluarga, padahal mereka tidak wajib menanggung  nafjah untuk dirinya, maka ini juga memadai.

Adapun Syarat yang perlu terpenuhi dalam penyerahan zakat adalah adanya niat dan penyerahan kepada kelompok penerima zakat. Penyerahan zakat tidak mesti dilakukan sendiri, tetapi juga dapat diwakili oleh orang lain, hanya saja pemberi zakat harus berniat saat menyerahkan zakat yang hendak ia bayarkan kepada orang yang menjad wakilnya.[16]  Orang yang menjadi wakil tidak diwajibkan untuk berniat, tetapi jika ia melakukannya maka hukumnya sunat.[17]

Doa Zakat fitrah

Sama halnya setelah melaksanakan ibadah yang lainnya, setelah membayar zakat seseorang juga disunnahkan untuk berdoa, misalnya agar ibadahnya tersebt diterima oleh Allah, namun tidak ada bacaan doa khusus ketika membayarkan zakat fitrah yang disebutkan dalam kitab-kitab Fikih.

Sunat-sunat dalam pembayaran Zakat

Ada beberapa hal yang sunat dilakukan dalam pembayaran zakat baik zakat mal maupun zakat fitrah, diantaranya adalah:

  1. Disunnahkan untuk menampakkan penyerahan zakat pada orang lain, sekedar dapat menghilangkan kecurigaan orang lain bahwa ia tidak membayar zakat
  2. Disunnahkan agar menyerahkannya sendiri dengan tidak diwakilkan kepada orang lain, agar ia dapat memastikan bahwa zakatnya sampai pada yang berhak mendapatkannya. Dengan kata lain, ia disunnahkan untuk aktif mengawasi penyaluran zakat yang telah ia serahkan.
  3. petugas yang menerima zakat hendaknya mendoakan kebaikan kepada orang yang membayarkan zakatnya, misalnya berdoa agar ibadah zakat orang tersebut diterima dan diberikan balasan yang sebesar-besarnya oleh Allah Swt.

Hikmah diwajibkannya zakat fitrah

Diantara hikmah dari syariat zakat fitrah adalah memberikan manfaat dan kebahagiaan kepada orang-orang miskin agar mereka turut merasakan kesenangan pada hari lebaran. Mereka mendapatkan makanan untuk mereka makan, jika pembayaran zakat dilakukan dengan uang, maka orang-orang miskin juga dapat menggunakannya untuk membeli kebutuhan mereka pada hari lebaran dan beberapa hari setelahnya.

Zakat fittrah juga dapat menjadi pelengkap dan penyempurna terhadap kekurangan yang ada dalam ibadah yang telah dilakukan seseorang selama satu bulan. Zakat fitrah juga menambah rasa kepekaan seseorang terhadap kemiskinan dan kepedulian terhadap sesama yang telah terwujud sebelumya ketika merasakan lapar saat berpuasa.

Referensi

[1]Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, vol. XXIII, (Kuwait: Departemen waqaf dan Urusan keagamaan Kuwait, 1992), hal. 334.

[2]Abu Bakr Syata, Hasyiyah I’’anat al-Thalibin ‘ala Fath al-Mu’in, Vol. II, hal.167.

[3] Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah

[4]Hadis  ini diriwayatkan oleh Muslim, no. 1635, kitab: Zakat, Bab: Zakat Fitri Kaum Muslimin dengan kurma dan gandum. Hadis dengan makna serupa juga diriwayatkan oleh Bukhari No. !407,  Kitab Zakat, bab: Kewajiban zakat fitri.

[5]Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 1371, Kitab: Zakat, Bab: Zakat Fitri.

[6] Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah… Hal. 336.

[7]Muhammad Ibn Muhammad al-Mahally, kanz  al-Raghibain Syarh Minhaj al-Thalibin, Vol.II, Hal.41.

[8] Abu Bakr Syata, Hasyiyah I’’anat al-Thalibin ‘ala Fath al-Mu’in

[9]Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, No. 1388, Kitab: Zakat, Bab: Siapa saja yang membayar zakat dan ukuran batas kecukupan.

[10] Abu Bakr Syata, Hasyiyah I’’anat al-Thalibin ‘ala Fath al-Mu’in, hal. 168.

[11]Ponpes Lirboyo, Mengenal Istilah dan Rumus Fuqaha’, (Kediri: Pustaka De-Aly, 1997), hal.90.

[12] Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah… Hal. 344.

[13] Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah… Hal. 343.

[14] Ustadz Abdul Shamad, 30 fatwa seputar Ramadhan.

[15] Abu Bakr Syata, Hasyiyah I’’anat al-Thalibin ‘ala Fath al-Mu’in, hal. 180.

[16] Abu Bakr Syata, Hasyiyah I’’anat al-Thalibin ‘ala Fath al-Mu’in, hal. 182.

[17] Muhammad Ibn Muhammad al-Mahally, kanz  al-Raghibain Syarh Minhaj al-Thalibin, Hal.53.

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p

Klik utk mendapatkan ebook gratis!

Mau Ebook Islami MURAH?

Apa itu ebook? Ebook adalah elektronic book, atau buku digital. Ebook tetap disebut buku, hanya tidak berbentuk fisik (kertas). Biasanya ebook berbentuk file pdf dan bisa dibaca melalui smartphone (HP), tablet, ataupun komputer / laptop.