Pengertian Haji, Rukun Haji, dan Tata Caranya

Sebagai masyarakat Indonesia yang beragama muslim tentu saja sudah tidak asing dengan ibadah haji. Menunaikan ibadah haji merupakan perintah dari rukun Islam yang kelima.

Sehingga banyak kaum muslimin yang berlomba-lomba dalam kebaikan untuk menunaikan ibadah agung yang satu ini.

Bahkan, orang Indonesia juga memiliki sebutan musim haji saat mendekati datangnya Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Kurban setiap tahunnya.

Selain itu, masyarakat Indonesia juga kerap menyematkan gelar kepada umat muslim yang sudah menunaikan ibadah haji. Sebutan Bapak Haji untuk pria dan Ibu Hajah untuk wanita.

Sayangnya, gelar tersebut rupanya hanya terdapat di Indonesia saja, lho! Mengapa demikian ? Nah, untuk mencari penjelasan mengenai haji dan rukun haji yang benar, tidak ada salahnya untuk membaca sejumlah penjelasan dari Hasana.id berikut!

Arti Haji

Haji merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim, di mana pun mereka berada.

Tidak heran jika umat muslim di berbagai belahan di dunia berlomba-lomba untuk memenuhinya. Tidak terkecuali dengan umat muslim yang jarak tempat tinggalnya dengan kota Mekah sangatlah jauh.

Ibadah haji sendiri secara bahasa memiliki arti melakukan perbuatan dengan sengaja. Namun, berbeda lagi secara istilah yang berarti dengan sengaja pergi mengunjungi Baitullah untuk melaksanakan ibadah yang telah ditentukan segala sesuatunya menurut izin Allah sekaligus mencari berkah dan ridha Allah Swt.

Sesuai dengan artinya, melakukan haji adalah mengunjungi kota Mekah, terutama Baitullah untuk melaksanakan ibadah yang telah diperintahkan lewat rukun Islam kelima.

Tidak heran jika salah satu tujuan dari ibadah haji adalah melihat Ka’bah yang berada di dalam bangunan Masjidil Haram.

Sejarah dari Ibadah Haji

Kendati termasuk ke dalam salah satu rukun Islam, ibadah haji ternyata juga berkaitan dengan kisah Nabi Ibrahim a.s. Bahkan, Nabi Ibrahim a.s. menjadi umat muslim yang menunaikan ibadah haji.

Kelahiran Ismail

Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim a.s. yang sampai usia tuanya masih belum dikaruniai keturunan dari istrinya yang bernama Sarah.

Kehadiran Nabi Ismail a.s. yang merupakan buah hati dari Nabi Ibrahim a.s. dengan ibu Siti Hajar justru membuat Sarah semakin bersedih yang akhirnya membuat Nabi Ibrahim mengadu kepada Allah Swt. Pada saat itu, Allah Swt. memberikan wahyu kepada Nabi Ibrahim untuk meninggalkan negeri Syam.

Allah juga memerintahkan Nabi Ibrahim a.s. untuk membawa Nabi Ismail a.s. dan juga ibu Siti Hajar pergi ke tanah Haram, Mekkah. Dari sinilah ibadah haji bermula.

Pada saat itu, malaikat Jibril diperintahkan oleh Allah Swt. untuk membawa sebuah kendaraan cepat untuk memboyong Nabi Ibrahim a.s., Nabi Ismail a.s. dan juga ibu Siti Hajar ke Mekkah.

Sesampainya di Mekkah, keluarga Nabi Ibrahim a.s. tiba di tempat yang kini menjadi Ka’bah. Di sana terdapat sebuah pohon yang rindang. Sesampainya di Mekkah, rupanya Nabi Ibrahmim a.s. berniat untuk mengunjungi istri pertamanya, Sarah yang masih berada di negeri Syam.

Awal Mula Munculnya Air Zam-Zam

Saat Nabi Ibrahim a.s. meninggalkan Siti Hajar dan bayi Nabi Ismail a.s., matahari yang berada di tempat tersebut semakin terik sehingga membuat bayi Nabi Ismail a.s. haus dan menangis.

Mengetahui hal tersebut Siti Hajar pun panik dan berusaha mencari sumber air. Area sekitar yang berupa gurun dan tandus membuat Siti Hajar berlari ke bukit Shafa.

Sayangnya, di bukit tersebut tidak ditemukan sumber air. Berlarilah Siti Hajar ke bukit Marwa dan berharap agar bisa mencari sumber air untuk bayi Nabi Ismail a.s.

Sayangnya, sumber air yang dicari tidak kunjung ditemukan sehingga membuat Siti Hajar berlarian dari bukit Shafa ke Marwa sebanyak tujuh kali.

Dalam kesedihannya, Siti Hajar pun dibuat terkejut dengan Nabi Ismail a.s. yang tiba-tiba diam. Siapa yang menyangka jika di antara kedua kaki bayi Nabi Ismail a.s. muncul aliran air.

Dengan gembira, Siti Hajar berlari mendekati Nabi Ismail a.s. dan berusaha untuk membendung aliran air tersebut sembari berucap “zam.. zam” yang berarti menampung.

Sejak saat itulah air yang muncul di antara kedua kaki Nabi Ismail a.s. hingga saat ini dikenal dengan nama air zam-zam. Tidak lama kemudian, kabilah Jurhum yang berada di bukit Arafah melihat banyaknya burung-burung yang terbang di atas sumber mata air zam-zam.

Kabilah Jurhum

Namun, pada saat itu kabilah Jurhum masih belum mengetahui jika sumber air tersebut merupakan sumber air yang muncul di antara kaki Nabi Ismail a.s.

Sesampainya di tempat di mana Nabi Ismail a.s. dan Siti Hajar berada, mereka menanyakan identitas dari Siti Hajar dan bayinya.

Setelah menjawab bahwa Siti Hajar adalah istri dari Nabi Ibrahim a.s., ketua suku dari kabilah Jurhum pun meminta izin untuk membangun rumah di seberang tempat tinggal Siti Hajar dan Nabi Ismail a.s.

Tiga hari setelahnya, Nabi Ibrahim a.s. datang mengunjungi SIti Hajar dan bayinya. Pada saat itu pula Siti Hajar meminta izin agar kabilah Jurhum diperbolehkan menjadi tetangganya.

Tak disangka-sangka, Nabi Ibrahim pun memberikan izinnya. Lambat laun, tempat yang ditinggali oleh Siti Hajar, Nabi Ismail a.s. dan juga kabilah Jurhum pun semakin ramai.

Pembangunan Ulang Ka’bah

Pada saat Nabi Ismail a.s. beranjak remaja, Allah memeriintahkan beliau dan juga ayahnya untuk membangun Ka’bah di tempat Qubah yang sudah diturunkan kepada Nabi Adam a.s. sebelumnya.

Setelah selesai membangun Ka’bah, Nabi Ismail a.s. dan juga ayahnya, Nabi Ibrahim a.s. ternyata diperintahkan Allah Swt. melalui malaikat Jibril untuk mendistribusikan air zam-zam ke sejumlah daerah sekitar.

Tidak terkecuali daerah Mina dan Arafah. Hari inilah yang dikenal dengan nama hari Tarwiyyah. Sejak saat itu, banyak umat muslim yang akhirnya berbondong-bondong untuk berziarah ke Ka’bah yang akhirnya dikenal dengan nama ibadah haji.

Hukum Haji

Haji sendiri merupakan rukun Islam kelima yang mewajibkan seluruh umat Islam untuk menunaikannya. Tidak heran jika ibadah haji bersifat fardhu ‘ain atau wajib.

Terutama bagi kaum muslimin yang sudah mampu secara lahir (harta) dan batin. Terkait hal ini, jika kamu sudah memiliki salah satu syarat tersebut akan lebih baik untuk segera menunaikan ibadah haji.

Ketika Hukum Haji Menjadi Sunnah

Tetapi, bagi orang yang menginginkan untuk menunaikan ibadah haji setiap musim haji tiba dan memiliki harta yang cukup juga diperbolehkan.

Namun, hukum dari ibadah haji tersebut adalah sunnah. Sebagaimana Allah berfirman pada QS Ali Imran: 97 yang berbunyi:

فِيهِ ءَايَٰتٌۢ بَيِّنَٰتٌ مَّقَامُ إِبرَٰهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلبَيتِ مَنِ ٱستَطَاعَ إِلَيهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلعَٰلَمِينَ

fīhi āyātum bayyinātum maqāmu ibrāhīm, wa man dakhalahụ kāna āminā, wa lillāhi ‘alan-nāsi ḥijjul-baiti manistaṭā’a ilaihi sabīlā, wa mang kafara fa innallāha ganiyyun ‘anil-‘ālamīn

Artinya:

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Selain tertuang dalam ayat-ayat suci dalam Al-Quran, perintah untuk menunaikan ibadah haji rupanya juga tertulis dalam riwayat hadis. Salah satunya yang berbunyi:

بُنِىَ الإِسلاَمُ عَلَى خَمس شَهَادَةِ أَن لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالحَجِّ ، وَصَومِ رَمَضَانَ

bunīa al-īslāamu ʿalai ẖams šahādaẗi ān lāa īlaha īlāaw al-lawhu waʾānaw muḥamawddā rasūlu al-lawhi , waīqāmi al-ṣawlāaẗi , waīītāʾi al-zawkāẗi , wālḥaǧiw , waṣaūmi ramaḍāna

Artinya:

“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengaku Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, berhaji dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16)

Haji Hanya Sekali

Adapun kewajiban menunaikan ibadah haji ternyata tidak harus dilakukan berkali-kali seperti yang banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia.

Islam tidak mewajibkan menunaikan ibadah haji setiap tahun atau bahkan setiap musim haji tiba. Dalam Islam, setiap umat muslim hanya diwajibkan untuk sekali saja menjalani ibadah haji.

Hal ini juga disepakati oleh para ulama yang menyatakan bahwa ibadah haji hanya wajib dilakukan sekali seumur hidup bagi yang mampu. Dan barang siapa yang mengingkari kewajibannya ini maka akan tergolong ke dalam kelompok orang-orang yang kafir.

Jenis Haji

Mungkin banyak orang yang belum mengetahui jika ibadah haji yang rutin dilakukan setiap tahunnya oleh jutaan umat muslim di seluruh dunia ini terbagi menjadi beberapa macam.

Pembagian jenis-jenis ibadah haji ini rupanya dilihat dari niat ihram dan juga tata cara pelaksanaannya. Berikut ini beberapa jenis haji yang perlu kamu ketahui:

Haji Ifrad

Haji Ifrad adalah ibadah haji yang dilakukan dengan niat untuk menunaikan haji beserta ketentuan-ketentuannya sampai selesai. Umat muslim yang memilih ibadah haji Ifrad kemudian diharuskan untuk melanjutkannya dengan niat melaksanakan ibadah umrah.

Haji Tamattu’

Berbeda lagi dengan haji Tamattu’ di mana umat muslim yang menjalankannya harus memiliki niat melaksanakan umrah beserta ketentuan-ketentuannya sampai selesai.

Setelah proses ibadah umrah selesai ditunaikan, umat muslim tersebut diwajibkan untuk melanjutkan kembali ibadah dengan niat melaksanakan ibadah haji

Haji Qiran

Jika niat dari kedua jenis ibadah haji di atas dilakukan secara bergantian, berbeda dengan haji Qiran. Kamu yang ingin melaksanakan ibadah haji Qiran dapat membaca niat untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah secara bersamaan, lho! Tidak hanya itu saja, umat muslim yang memilih haji Tamattu’ dan Qiran ternyata juga diwajibkan untuk membayar Dam Nusuk.

Syarat untuk Menunaikan Ibadah Haji

Selain syarat memiliki kecukupan baik secara lahir dan batin, ternyata terdapat syarat-syarat tambahan bagi kamu yang ingin menunaikan ibadah haji. Nah, berikut syarat untuk menunaikan ibadah haji yang telah dirangkum oleh Hasana.id:

  1. Wajib beragama Islam
  2. Sudah baligh, dalam Islam masa baligh seseorang ditandai dengan mulainya masa pubertas
  3. Berakal atau tidak gila
  4. Mampu melaksanakannya, baik secara jasmani dan rohani
  5. Merdeka, bukan budak atau tidak dalam kuasa orang lain
  6. Umat muslim yang berjenis kelamin wanita wajib didampingi oleh mahramnya. Namun, jika tidak memiliki mahram boleh melakukan ibadah haji dengan wanita lain yang beribadah beserta mahramnya.

Di antara orang-orang dewasa yang menunaikan haji, tentu kamu pernah melihat ada anak kecil yang ikut menjalankan ibadah ini bukan? Lalu bagaimana hukum dari seorang anak kecil yang menunaikan haji?

Siapa yang menyangka jika haji yang dilakukan oleh anak tersebut merupakan ibadah yang sah. Akan tetapi, ibadah haji tersebut dihitung sebagai haji Tathowwu’ yang juga mengharuskan anak tersebut untuk menunaikan ibadah haji kembali.

Rukun Ibadah Haji

Rukun haji merupakan serangkaian kegiatan yang wajib dilakukan secara berurutan untuk menjadikan ibadah tersebut sah.

Bahkan, jika kamu melewatkan satu saja dari rukun ini, ibadah haji yang telah dilakukan akan dianggap tidak sah dan harus membayar denda.

Maka dari itu, perhatikan dengan seksama sejumlah rukun haji berikut agar ibadah haji yang dilakukan tidak sia-sia, ya!

Ihram untuk Haji

Rukun pertama ini dilakukan dengan membaca niat ibadah haji sekaligus mengenakan kain ihram (kain putih tanpa jahitan) Niat untuk setiap jenis haji berbeda-beda dan berbunyi:

  • Niat Haji Secara Umum

نَوَيتُ الحَجَّ وَأَحرَمتُ بِهِ لِلهِ تَعَالَى لَبَّيكَ اللَّهُمَّ بحَجًَةِ

“Nawaitul hajja wa ahramtu bihi lillahi ta’ala labbaika Allahumma hajjan”

Artinya:

Aku niat melaksanakan haji dan berihram karena Allah Swt. Aku sambut panggilan-Mu, ya Allah untuk berhaji.”

  • Niat Haji Qiran

نَوَيتُ الحَجَّ والعُمرَةَ وَأَحرَمتُ بِهاَ لِلهِ تَعَالَى

“Nawaitul hajja wal ‘umrata wa ahramtu bihi lillahi ta’ala”

Artinya:

Aku niat melaksanakan haji sekaligus umrah dan berihram karena Allah Swt.”

Wukuf di Arafah

Wukuf merupakan salah satu rukun ibadah haji, Wukuf di Arafah dilaksanakan serentak oleh seluruh kaum muslimin yang melaksanakan haji pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Waktu wukuf sendiri dimulai pada waktu tergelincirnya matahari atau dzuhur sampai terbit fajar di tanggal 10 Dzulhijjah.

Thawaf

Setelah melaksanakan wukuf, kamu akan diwajibkan untuk melanjutkannya dengan thawaf. Thawaf merupakan kegiatan berjalan dengan memutari Ka’bah sebanyak tujuh kali. Proses thawaf sendiri harus dilakukan dalam keadaan telah suci dan aurat yang tertutup.

Sa’i

Rukun haji selanjutnya adalah sa’i atau berlari-lari kecil. Sa’i sendiri dilakukan dengan cara berlari kecil di antara bukit Shafa ke Marwah dan sebaliknya, hingga tujuh kali dan berakhir di bukit Marwah.

Rukun haji satu ini akan mengingatkanmu pada Siti Hajar yang dahulu kebingungan mencari sumber air untuk bayi Nabi Ismail a.s.

Tahallul

Tahallul merupakan rukun haji yang mengahruskan umat muslim untuk mencukur rambutnya. Bagi jamaah pria diwajibkan untuk menggundul habis rambut kepala.

Sedangkan untuk jamaah wanita hanya diminta untuk melakukan taqshir atau memotong rambut sebanyak satu ruas jari saja.

Agar ibadah haji yang dilakukan sah, maka kamu harus melakukan rukun pertama hingga kelima secara berurutan dan tertib.

Jangan sampai melewatkan atau bahkan mengganti urutan rukunnya karena akan membuat ibadah hajimu tidak sah.

Wajib Haji

Selain rukun haji, Hasana.id juga merangkum penjelasan mengenai wajib haji. Berbeda dengan rukun haji yang harus dilakukan secara berurutan tanpa telewati agar ibadah menjadi sah, wajib haji memiliki aturan tersendiri saat umat muslim meninggalkan salah satu rangkaiannya.

Bagi umat muslim yang melewatkan atau meninggalkan salah satu wajib haji, maka diwajibkan untuk membayar dam sebagai gantinya. Berikut wajib haji yang perlu kamu ketahui:

  1. Ihram dari Miqat
  2. Bermalam atau Mabit di kota Muzdalifah
  3. Melempar Jumrah (Ula, Wustha dan ‘Aqabah)
  4. Bermalam atau Mabit di kota Mina
  5. Melakukan thawaf wada’ (thawaf perpisahan) sebelum meninggalkan kota Mekah
  6. Menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang dalam Ihram

Sunah – Sunah Haji

Selain rukun dan wajib haji, kamu juga harus mengetahui apa saja yang menjadi sunah dari ibadah haji. Adapun berikut daftar sunah dalam ibadah haji:

1. Mengutamakan haji Ifrad

2. Melakukan salat sunah di Hijr Ismail

3. Melakukan salat sunah di belakang makam Ibrahim

4. Membaca bacaan talbiyah sebanyak-banyaknya

5. Membaca zikir sebanyak-banyaknya

6. Memasuki Ka’bah sambil memanjatkan dan memohon doa kepada Allah Swt.

Larangan Saat Melaksanakan Haji

Agar ibadah haji yang telah dilakukan dapat berjalan dengan lancar tanpa satu halangan, tidak ada salahnya bagi kamu untuk mengetahui apa saja larangan selama menjalankan ibadah haji.

Kali ini, Hasana.id mengelompokkan larangan selama menunaikan haji menurut jenis kelamin dari jamaah yang menjalankannya.

Larangan Bagi Pria

  • Memakai pakaian yang sudah dijahit
  • Mengenakan penutup kepala. Mulai dari topi hingga peci sekalipun

Larangan Bagi Wanita

  • Menutupi muka atau wajah
  • Menutupi telapak tangan

Larangan Secara Umum

  • Melakukan sesuatu yang berhubungan dengan upacara pernikahan
  • Memakai minyak wangi
  • Memotong kuku
  • Mencabut bulu atau pun rambut yang ada di tubuh
  • Memburu atau membunuh binatang, semut sekalipun
  • Bersetubuh atau berhubungan badan

Keutamaan Ibadah Haji

Perintah Allah Swt. kepada para umat-Nya untuk menunaikan ibadah haji ternyata juga memberikan banyak keutamaan. Adapun keutamaan dari menjalankan ibadah haji, adalah:

  1. Semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt.
  2. Menjalin ukhuwah antara umat Islam dari berbagai belahan dunia
  3. Beribadah sambil belajar sejarah para Nabi yang tercantum di dalam Al-Quran
  4. Mensyukuri segala berkah dan nikmat yang diberikan oleh Allah Swt. kepada umat-Nya
  5. Menumbuhkan semangat muslim yang lain untuk menunaikan ibadah haji dengan sempurna

Semoga setelah membaca penjelasan dari Hasana.id di atas kamu bisa melaksanakan ibadah haji dengan sempurna.

Selain itu, semoga ibadah haji yang telah ditunaikan bisa memberikan rasa syukur atas nikmat dan berkah yang telah diberikan oleh Allah Swt. kepada umat-Nya.

Jangan lupa untuk melaksanakan rukun dan wajib haji secara berurutan agar terhindar dari batalnya ibadah dan juga denda, ya!

Source:

Semua tentang Haji

http://bloktuban.com/2017/04/28/bingung-menunaikan-haji-atau-umroh-berikut-jawaban-nu/

https://islam.nu.or.id/post/read/109043/khutbah-jumat–ibadah-haji–antara-kebutuhan-dan-keinginan#:~:text=Ibadah%20haji%20secara%20syar’i%20hukumnya%20wajib.&text=Artinya%3A%20%E2%80%9CMengerjakan%20ibadah%20haji%20adalah,mampu%20mengadakan%20perjalanan%20ke%20Baitullah.%E2%80%9D

https://www.nu.or.id/post/read/109420/ibadah-haji-bisa-memperkuat-rasa-kemanusiaan-dan-cinta-damai

Sejarah Haji & Umrah

 

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p