Surat Al Mulk: Arab, Latin, Terjemah, DLL [LENGKAP]

Dalam sejarah turunnya Al-quran, terdapat dua kota suci yang dijadikan sebagai tempat dimana Al-quran diturunkan, yaitu kota suci Makkah Al-mukarramah dan kota Madinah Al-munawwarah.

Surat yang diturunkan di kota Makkah disebut dengan surat Makkiyah dan surat yang turun di kota Madinah disebut Surat Madaniyah. Diantara keduanya juga terdapat beberapa berbedaan. Seperti surat Makkiyah yang lebih dominan dengan ayat yang pendek-pendek.

Pada tulisan kali ini kita akan membahas salat satu dari surat Makkiyah, yaitu surat Al-Mulk. Salah satu surat yang sering dibaca oleh para santri dan masyarakat umumnya. Karena salah satu kelebihan surat ini adalah mempermudah rezeki bagi yang istiqamah mengamalkannya.

Mengenal Lebih Dalam Surat Al Mulk

Berdasarakan urutan dan letaknya, surat Al Mulk menjadi surat pembuka juz 29. Dalam Alquran berada pada nomor surat ke 67. Sedangkan berdasarkan urutan turunnya wahyu, surat Al Mulk berada pada urutan ke 77.

Surat Al Mulk yang berjumlah sebanyak 30 ayat ini memiliki arti “Kerajaan”. Selain menjadi surat Makkiyah, surat Al Mulk dikategorikan sebagai surat Mufashal.

Surat Mufhassal adalah surat yang memiliki ayat yang pendek-pendek.

Al Mulk sendiri berarti kerajaan, yang menegaskan kepada kita bahwa hakikat seluruh kerajaan dan keuasaan di alam ini hanyalah milik Allah.

Surat Al Mulk juga disebut sebagai surat Tabaarak. Penamaan ini berdasarkan kata Tabaarak yang ada pada awal ayat pertama.

Kata Tabaarak (تبارك) sendiri diambil dari kata Barak (برك) yang antara lain berarti mantap, langgeng. Selain itu kata Tabaarak juga memiliki makna kebajikan yang banyak dan berkesinambungan. Sehingga dari kata inilah lahir istilah berkat/berkah.

Surat Al Mulk juga memiliki nama lain di antaranya surat Al mani’ah (Yang menegah), Al waqiyah (Yang menahan), Al munjiyah (Yang menyelamatkan) dan Al man’ah (Yang sangat menahan).

Alasan penamaan surat ini berdasarkan para pembaca yang mengamalkannya akan selamat dari azab neraka dan tubuh mereka tidak akan dimakan api.

Selain itu, merujuk kepada tafsir Jalalain, surat ini juga dinamakan dengan Al mujadalah (Yang berbantah-bantahan). Dinamaka dengan demikian karena pada hari akhirat surat ini akan membantah dakwaan kubur kepada pengamalnya.

Sebelum mendalami lebih jauh tentang surat Al-Mulk, ada baiknya sejenak kita membaca surat yang sangat dianjurkan untuk dibaca pada malam hari.

Surat Al Mulk (Teks Arab, Teks Latin Dan Terjemahan)

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Bismillahir rahmaanir rahiim

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

تَبَٰرَكَ ٱلَّذِي بِيَدِهِ ٱلۡمُلۡكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ(1)

Tabaarakalladzi biyadihil mulku wa huwa ‘ala kulli syaiin qadiir.

Maha Suci allah yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan dia maha kuasa atas segala sesuatu.

ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ(2)

Alladzi khalaqal mauta wal hayaata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalaa. Wahuwal ‘aziizul ghafuur.

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalannya. Dan dia maha perkasa lagi maha pengampun.

ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ طِبَاقٗاۖ مَّا تَرَىٰ فِي خَلۡقِ ٱلرَّحۡمَٰنِ مِن تَفَٰوُتٖۖ فَٱرۡجِعِ ٱلۡبَصَرَ هَلۡ تَرَىٰ مِن فُطُورٖ(3)

Alladzi khalaqa sab’a samaawaatin thibaaqaa. Maa taraa fii khalqir rahmaani min tafaawuut. Farji’il bashara hal taraa min fithuur.

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak ada pada penciptaan tuhan yang maha pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang?

ثُمَّ ٱرۡجِعِ ٱلۡبَصَرَ كَرَّتَيۡنِ يَنقَلِبۡ إِلَيۡكَ ٱلۡبَصَرُ خَاسِئٗا وَهُوَ حَسِيرٞ(4)

Tsummarji’il bashara karrataini yanqalib ilaikal bashara khaasian wahuwa hasiir.

Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.

وَلَقَدۡ زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِمَصَٰبِيحَ وَجَعَلۡنَٰهَا رُجُومٗا لِّلشَّيَٰطِينِۖ وَأَعۡتَدۡنَا لَهُمۡ عَذَابَ ٱلسَّعِيرِ(5)

Wa laqad zayyannas samaaid dunya bimashaabiiha wa ja’alnaahaa rujuumal lisysyayaathiin. Wa a’tadnaa lahum ‘azaaba sa’iir.

Sesungguhnya kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan dan kami sediakan bagi mereka neraka yang menyala-nyala.

وَلِلَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ(6)

Wa lilladziina kafaruu birabbihim ‘azaaba jahannama wa biksal mashiir.

Dan orang-orang yang kafir kepada tuhanNya, memperoleh azab jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.

إِذَآ أُلۡقُواْ فِيهَا سَمِعُواْ لَهَا شَهِيقٗا وَهِيَ تَفُورُ(7)

Idzaa ulquu fiiha sami’uu lahaa syahiiqaw wahiya tafuur

apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak.

تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ ٱلۡغَيۡظِۖ كُلَّمَآ أُلۡقِيَ فِيهَا فَوۡجٞ سَأَلَهُمۡ خَزَنَتُهَآ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ نَذِيرٞ(8)

Takaadu tamayyazu minal ghaizh. Kullamaa ulqiya fiihaa faujun saalahum khazanatuhaa alam yaktikum nadziir

hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan kedalamnya sekumpulan (orang-orang kafir) penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?”

قَالُواْ بَلَىٰ قَدۡ جَآءَنَا نَذِيرٞ فَكَذَّبۡنَا وَقُلۡنَا مَا نَزَّلَ ٱللَّهُ مِن شَيۡءٍ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ كَبِيرٖ(9)

Qaluu balaa qad jaa ana nadziirun fakadzdzabnaa wa qulna maa nazzalaAllaahu min syaiin in antum illa fii dhalaalin kabiir

mereka menjawab: “benar ada”, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(Nya) dan kami katakan “Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar”

وَقَالُواْ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ(10)

Wa qaalu lau kunnaa nasma’u au na’qilu maa kunnaa fii ash haabis sa’iir

dan mereka berkata:”sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”

فَٱعۡتَرَفُواْ بِذَنۢبِهِمۡ فَسُحۡقٗا لِّأَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ(11)

Fa’tarafuu bidzanbihim fasuhqal liashhaabis sa’iir

maka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَأَجۡرٞ كَبِيرٞ(12)

Innalladziina yakhsyauna rabbahum bil ghaibi lahum maghfiratuw wa ajrun kabiir

sesungguhnya orang-orang yang takut kepada tuhanNya Yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.

وَأَسِرُّواْ قَوۡلَكُمۡ أَوِ ٱجۡهَرُواْ بِهِۦٓۖ إِنَّهُۥ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ(13)

Wa asirruu qaulakum awijharuu bihii. Innahuu ‘aliimum bidzaatish shuduur

Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.

أَلَا يَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ(14)

Alaa ya’lamu man khalaqa wa huwal lathiiful khabiir

Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui(yang kamu lahirkan atau rahasiakan) dan Dia Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

هُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ ذَلُولٗا فَٱمۡشُواْ فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُواْ مِن رِّزۡقِهِۦۖ وَإِلَيۡهِ ٱلنُّشُورُ(15)

Huwal ladzi ja’ala lakumul ardha dzaluulam famsyuu fii manaakibihaa wa kuluu min rizqihi. Wa ilaihin nusyuur.

Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekiNya. Dan hanya kepadaNya-lah kamu(kembali setelah) dibangkitkan.

ءَأَمِنتُم مَّن فِي ٱلسَّمَآءِ أَن يَخۡسِفَ بِكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ(16)

A amintum man fis samaai an yakhsifa bikumul ardha fa idza hiya tamuur

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjugkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang?

أَمۡ أَمِنتُم مَّن فِي ٱلسَّمَآءِ أَن يُرۡسِلَ عَلَيۡكُمۡ حَاصِبٗاۖ فَسَتَعۡلَمُونَ كَيۡفَ نَذِيرِ(17)

Am amintum man fissamaai an yursila ‘alaikum haashibaa. Fasata’lamuuna kaifa nadziir.

Atau Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaiman (akibat mendustakan) peringatanKu?

وَلَقَدۡ كَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ فَكَيۡفَ كَانَ نَكِيرِ(18)

Wa laqad kadzdzabal ladziina min qablihim fa kaifa kaana nakiir

Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasulNya) maka alangkah hebatnya kemurkaanKu.

أَوَ لَمۡ يَرَوۡاْ إِلَى ٱلطَّيۡرِ فَوۡقَهُمۡ صَٰٓفَّٰتٖ وَيَقۡبِضۡنَۚ مَا يُمۡسِكُهُنَّ إِلَّا ٱلرَّحۡمَٰنُۚ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَيۡءِۢ بَصِيرٌ(19)

A walam yarau ilaththairi faiqahum shaaffaatiw wayaqbidhna maa yumsikuhunna illar rahmaan. Innahuu bikulli syaiin bashiir.

Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat Segala Sesuatu.

أَمَّنۡ هَٰذَا ٱلَّذِي هُوَ جُندٞ لَّكُمۡ يَنصُرُكُم مِّن دُونِ ٱلرَّحۡمَٰنِۚ إِنِ ٱلۡكَٰفِرُونَ إِلَّا فِي غُرُورٍ(20)

Amman haadzal ladzii huwa jundul lakum yanshrukum min duunir rahmaan. Inilkaafiruna illa fii ghuruur

Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolonmu daripada Allah Yang Maha Pemurah? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu.

أَمَّنۡ هَٰذَا ٱلَّذِي يَرۡزُقُكُمۡ إِنۡ أَمۡسَكَ رِزۡقَهُۥۚ بَل لَّجُّواْ فِي عُتُوّٖ وَنُفُورٍ(21)

Amman haadzal ladzii yarzuqukum in amsaka rizqahu. Bal lajjuu fi ‘utuwwiw wanufuur.

Atau siapakah dia yang memberi kamu rizki jika Allah menahan RizkiNya? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombingan dan menjauhkan diri?

أَفَمَن يَمۡشِي مُكِبًّا عَلَىٰ وَجۡهِهِۦٓ أَهۡدَىٰٓ أَمَّن يَمۡشِي سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ(22)

A faman yamsyi mukibban ‘ala wajhihi ahdaa amman yamsyi sawiyyan ‘ala shiraathim mustaqiim

Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?

قُلۡ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنشَأَكُمۡ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفِۡٔدَةَۚ قَلِيلٗا مَّا تَشۡكُرُونَ(23)

Qul huwal ladzii ansyaakum wa ja’ala lakumus sam’a wal abshara wal af idah. Qaliilam maa tasykuruun.

Katakanlah :”Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati” (tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.

قُلۡ هُوَ ٱلَّذِي ذَرَأَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَإِلَيۡهِ تُحۡشَرُونَ(24)

Qul huwal ladzi dzara akum fil ardhi wa ilaihi tuhsyaruun

Katakanlah: “dialah Yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi, dan hanya kepadaNya-lah kamu kelak dikumpulkan”

وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ(25)

Wa yaquuluuna mataa haadzal wa’du in kuntum shaadiqiin

Dan mereka berkata:”kapankah datangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar?”

قُلۡ إِنَّمَا ٱلۡعِلۡمُ عِندَ ٱللَّهِ وَإِنَّمَآ أَنَا۠ نَذِيرٞ مُّبِينٞ(26)

Qul innamal ‘ilmu ‘indaAllaahi wa innamaa ana nadziirum mubiin.

Katakanlah :”Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan”.

فَلَمَّا رَأَوۡهُ زُلۡفَةٗ سِيَٓٔتۡ وُجُوهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَقِيلَ هَٰذَا ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تَدَّعُونَ(27)

Falammaa ra auhu zulfatan siiat wujuuhul ladziina kafaruu wa qiila haadzal ladzii kuntum bihi tadda’uun.

Ketika mereka melihat azab (pada hari kiamat) sudah dekat mka orang-orang kafir itu menjadi muram. Dan dikatakan (kepada) mereka inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya.

قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِنۡ أَهۡلَكَنِيَ ٱللَّهُ وَمَن مَّعِيَ أَوۡ رَحِمَنَا فَمَن يُجِيرُ ٱلۡكَٰفِرِينَ مِنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ(28)

Qul ara aitum in ahlakaniyaAllaahu wa man au rahimanaa faman yujiirul kaafiriina min ‘adzaabin aliim.

Katakanlah:”terangkanlah kepadaku jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersama dengan aku atau memberi rahmat kepada kami,(maka kami akan masuk surga), tetapi siapakah yang dapat melindungi orang-orang kafir dari siksa yang pedih?”

قُلۡ هُوَ ٱلرَّحۡمَٰنُ ءَامَنَّا بِهِۦ وَعَلَيۡهِ تَوَكَّلۡنَاۖ فَسَتَعۡلَمُونَ مَنۡ هُوَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ(29)

Qul huwar rahmaanu a amanna bihi wa ‘alaihi tawakkalnaa. Fasata’lamuuna man huwa fii dhalaalim mubiin.

Katakanlah:”Dialah Allah Yang Maha Penyayang kami beriman kepadaNya dan kepadaNyalah kami bertawakkal. Kelak kamu akan mengetahui siapakah yang berada dalam kesesatan yang nyata”

قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِنۡ أَصۡبَحَ مَآؤُكُمۡ غَوۡرٗا فَمَن يَأۡتِيكُم بِمَآءٖ مَّعِينِۢ(30)

Qul ara aitum in ashbaha maa ukum ghauram faman yaktikum bimaa im ma’iin.

Katakanlah:”terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapaka yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?”

Al Mulk, Apa Maknanya?

Sebelumnya kita telah memahai makna dari Al Mulk yaitu kerajaan dan juga telah kita ketahui bersama surat Al Mulk juga memiliki beberapa nama lain.

Secara garis besarnya makna surat Al Mulk terkandung di dalam setiap ayatnya. Ada beberapa tema pokok yang di bahas dalam 30 ayat surat Al Mulk.

Surat Al Mulk tidak berdiri sendiri, ada keterkaitan makna dan kandungan dengan surat sebelumnya yaitu Surat At Tahrim dimana Allah mengetahui segala rahasia, kemudian ditegaskan lagi dalam surat Al Mulk bahwa Allah mengetahui segala rahasia karena Allah pemilik alam semesta.

Pada akhir surat Al Mulk Allah mengancam orang yang tidak bersyukur dan akan mengeringkan bumi kepada mereka yang kufur nikmat. Pada surat setelahnya yaitu Al Qalam, Allah menyebutkan contoh siksaan kepada mereka yang kufur kepada nikmatNya.

Adapun makna atau kandungan yang disebutkan dalam surat Al Mulk adalah hakikat seluruh kerajaan di alam semesta ada di dalam kekuasan Allah SWT. Begitu juga dan hidup dan matinya seseorang adalah ujian yang sebenarnya.

Allah juga menyebutkan tentang penciptaan langit yang berlapis-lapis dan semua ciptaan Allah memiliki keseimbangan.

Tidak hanya itu, Allah juga memerintahkan kita memperhatikan alam semesta ini. Bagaimana azab yang diberikan kepada orang kafir dan janji Allah kepada orang mukmin .

Allah juga telah menciptakan bumi ini sedemikian rupa sehingga kita bisa mencari rezeki di dalamnya. Terakhir, kita harus mengingat bagaiman azab yang diberikan kepada orang-orang yang kufur nikmat kepada Allah.

Asbabunnuzul Surat Al Mulk

Dalam memahami ayat Alquran penting bagi kita untuk mengetahu sebab-sebab turunnya ayat, akan tetapi tidak semua ayat dalam Alquran memilki asbabunnuzul. Surat Al Mulk sendiri tidak memiliki asbabunnzul.

Keutamaan Surat Al Mulk

Adapun keutmaan membaca surat Al Mulk sangatlah banyak disebutka oleh Nabi Muhammad dalam hadits, sebagaimana yang telah dituliskan oleh ulama tafsir, diantaranya:

Menjadi penyelamat siksa kibur. Dalam kitab tafsir Ibnu Katsir disebutkan:

وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي الشَّوَارِبِ ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مَالِكٍ النُكْرِيُّ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ أَبِي الْجَوْزَاءِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : ضَرَبَ بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – خِبَاءَهُ عَلَى قَبْرٍ ، وَهُوَ لَا يَحْسَبُ أَنَّهُ قَبْرُ إِنْسَانٍ يَقْرَأُ سُورَةَ الْمُلْكِ حَتَّى خَتَمَهَا ، فَأَتَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، ضَرَبْتُ خِبَائِي عَلَى قَبْرٍ وَأَنَا لَا أَحْسَبُ أَنَّهُ قَبْرٌ ، فَإِذَا إِنْسَانٌ يَقْرَأُ سُورَةَ الْمُلْكِ ” تَبَارَكَ ” حَتَّى خَتَمَهَا ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : ” هِيَ الْمَانِعَةُ ، هِيَ الْمُنْجِيَةُ ، تُنْجِيهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ” ثُمَّ قَالَ : ” هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ .

Telah berkatalah Attirmidzi: telah menceritakan kepada kami Muhammada bin Abdul Malik bin Abi Syawarib telah menceritakan kepada kami Yahya bin Malik an nukri dari ayahnya Abil Jauza dari Ibnu Abbas berkata:

“salah satu sahabat Nabi membuat kemah di atas kuburan, dia tidak mengira itu kuburan. Tiba-tiba ada seorang yang sedang membaca surat Al Mulk sampai selesai. Ia pun menghadap Nabi dan berkata: Wahai Rasulullah , aku membuat kemahku di atas kuburan, aku tidak mengira itu kuburan. Tiba-tiba ada suara seseorang sedang membaca surat Al Mulk(Tabaarak) sam[pai selesai. Nabi bersabda: Surat Al Mulk adalah surat yang mencegah dari siksa kubur” (Hadits hasan gharib, HR At Tirmidzi)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ لِرَجُلٍ : أَلَا أُتْحِفُكَ بِحَدِيثٍ تَفْرَحُ بِهِ ؟ قَالَ : بَلَى . قَالَ اقْرَأْ : ” تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ ” ، وَعَلِّمْهَا أَهْلَكَ ، وَجَمِيعَ وَلَدِكَ ، وَصِبْيَانَ بَيْتِكَ ، وَجِيرَانَكَ ، ، فَإِنَّهَا الْمُنْجِيَةُ وَالْمُجَادِلَةُ ، تُجَادِلُ – أَوْ تُخَاصِمُ – يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ رَبِّهَا لِقَارِئِهَا ، وَتَطْلُبُ لَهُ أَنْ يُنْجِيَهُ مِنْ عَذَابِ النَّارِ ، وَيُنْجِي بِهَا صَاحِبَهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ; قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : ” لَوَدِدْتُ أَنَّهَا فِي قَلْبِ كُلِّ إِنْسَانٍ مِنْ أُمَّتِي

Dari Ibnu Abbas r.a bahwasanya beliau berkata pada seseorang : “maukah kuhadiahi engkau sesuatu yang akan membuatmu gembira?”

Ia menjawab “tentu saja”

Ibnu Abbas berkata “bacalah tabaarakalladzi biyadihil mulk dan ajarkanlah pada keluargamu, semua anak-anakmu, semua anak kecil dan balita di rumahmu dan termasuk pula teranggamu!”

Sesungguhnya surat tersebut adalah Al munjiyah(penyelamat)dan Al mujadilah(pendebat) yang akan berdebat membela pembacanya di hadapan Allah pada hari kiamat.

Ia juga akan menuntut kepada Allah agar menyelamatkan pem bacanya dari azab neraka. Dan menuntut agar sahabtnya itu selamat dari azab kubur.

Rasulullah bersabda: Aku sangat menginginkan agar surat Al Mulk berada di dalam dada setiap orang dari seluruh umatku. (HR At Tabrani)

Dalam Tafsir Al Munir Syeh Wahbah Zuhaily menyebutkan hadits nabi tentang dimasukkan ke surga bagi pembaca surat Al Mulk

عن أنس بن مالك قال : قال رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم : سُوْرَةٌ فِى الْقُرْآنِ خَاصَمَتْ عَنْ صَاحِبِهَا حَتَّى أَدْخَلَتْهُ الْجَنَّةَ : تَبارَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُ. أخرجه الطبراني والحافظ الضياء المقدسي

Dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda “surah di dalam Alquran yang dapat bertengkar untuk membela pembacanya sampai ia dimasukkan ke dalam surga yakni surat tabaarakalladzi biyadihil mulk”(HR At Thabrani)

Sunnah membaca surat Al Mulk

Berkenaan dengan anjuran kapan sebaiknya membaca surat Al Mulk, nabi menyebutkan dalam hadits waktu yang baik membaca surat Al Mulk adalah sebelum tidur.

عَنْ جَابِرٍ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ ” الم تَنْزِيلُ ” سُورَةَ السَّجْدَةِ ، وَ ” تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ

Dari Jabir “Sesungguhnya tidaklah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam tidur hingga membaca surat Assajadah dan Al Mulk” (HR At Tirmidzi)

Kemudia dianjurkan membaca surat Al Mulk setiap malam.

Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata.

مَنْ قَرَأَ تَبَارَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُ كُلَّ لَيْلَةٍ مَنَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَكُنَّا فِيْ عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُسَمِّيْهَا الْمَانِعَةَ، وَإِنَّهاَ فِيْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، سُوْرَةٌ مَنْ قَرَأَ بِهَا فِيْ كُلِّ لَيْلَةٍ فَقَدْ أَكْثَرَ وَأَطَابَ

“Barangsiapa membaca tabaarakalladzi biyadihil mulk setiap malam, maka Allah menghalanginya dari azab kubur. Kami pada zaman nabi shallallaahu alaihi wa sallam biasa menyebut surat Al Mulk dengan Al mani’ah. sesungguhnya ia benar-benar berada dalam kitab Allah. Ia adalah satu surat barangsiapa membacanya setiap mala maka dia telah memperbanyak pahala dan membaguskannya”(HR Nasa’i)

Penutup

Kita telah sampai pada akhir pembahasan surat Al Mulk, dimana kita telah memahami kandungan dan anjuran untuk memperbanyak mengamalkan surat ini.

Terakhir, Abu Muhammad Ali Irsyad atau sering disebut Abu Teupin Raya di dalam kitabnya Mukhkhul ‘Ibadah menuliskan “Barang siapa membaca surat Al Mulk pada tiap-tiap malam maka diberi oleh Allah akan dia mulai dalam kubur akan teman yang menemaninya dan melindunginya daripada segala bahaya dan ancaman

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p