Sunan Kalijaga: Sejarah dan Penjelasan [LENGKAP]

Sunan Kalijaga ialah satu di antara sembilan Wali Songo yang berpengaruh dalam penyebaran Islam di bumi pertiwi. Bagaimana sepak terjangnya? Hasana.id akan membahas sejarah lengkap mengenainya.

Berkembangnya Islam di Tanah Air

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

Waman ahsanu qaulan mimman da’aa ilallahi wa ‘amila shaalihan waqaala innanii minal muslimiin

Artinya: “Siapa yang lebih bagus perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”

Allah telah menjadikan Islam sebagai satu-satunya agama yang diridai-Nya. Tidak ada agama lain yang benar dan baik disisi-Nya selain Islam. Hal ini telah dibuktikan dari berbagai literasi maupun fakta yang terjadi dari sejak empat belas abad yang lalu sampai sekaraang.

Rasulullah saw adalah rasul dan utusan terakhir dari seluruh nabi yang diutus Allah untuk memberi kabar gembira bagi mereka yang mau beriman dan bertakwa, juga memberi kabar peringatan bagi mereka yang membangkang dan durhaka kepada-Nya.

Islam begitu cepat eksis dan sukses dalam menyiarkan pesannya yaitu rahmatan lilalamin. Sehingga hanya dalam waktu yang sangat singkat islam telah menyebar keseluruh penjuru dunia tidak terkecuali Indonesia.

Indonesia adalah sebuah Negara yang penduduknya termasuk penduduk terbesar yang beragama islam. Hal ini telah diakui oleh seluruh Negara baik Negara islam atau bukan.

Namun taukah kalian siapa yang membawa ajaran islam ke Indonesia, hingga begitu hangatnya agama islam diterima di Indonesia?

Mengenal Wali Songo

Berkembang dan tersiarnya islam di Tanah air tidak terlepas dari sentuhan kebaikan dan karomah dari Sembilan tokoh pilihan yang dikenal dengan wali songo. Merekalah yang dengan karomah yang dimiliki sekaligus sikap dan kepribadian yang mumpuni mampu merubah seluruh nusantara dengan agama yang penuh rahmat ini.

Mereka yang digelar dengan wali songo adalah orang-orang pilihan yang telah sangat berjasa menyiarkan agama Islam di bumi nusantara ini.

Wali songo adalah sembilan orang wali yang begitu tinggi ilmunya dalam bidang agama sehingga dengan mudah dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, Islam telah semerbak diberbagai penjuru.

Perlu diketahui, Wali songo memiliki peran penting dalam misi ini, mereka sangat memahami cara-cara mengajak penduduk Indonesia untuk memeluk agama islam. Kesembilan para wali ini saling memiliki ikatan dan hubungan antar sesama baik itu hubungan darah, maupun hubungan guru dengan murid.

Nama-nama sembilan wali itu adalah:

  • Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
  • Sunan Ampel
  • Sunan Bonang
  • Sunan Giri
  • Sunan Drajad
  • Sunan Kudus
  • Sunan Muria
  • Sunan Gunung jati
  • Sunan Kalijaga

Mereka semualah yang begitu berperan aktif dalam tersiarnya agama islam ke seluruh nusantara. Adapun pusat penyebarannya dimulai dari pulau Jawa.

Alasan mereka memilih pulau Jawa karena, ketika itu pulau Jawa adalah tempat yang sangat strategis dan sentral untuk segala kegiatan, dan tempat lalu lalang penduduk diluar pulau Jawa untuk berdagang dan menjalankan bisnisnya.

Namun, pada kesempatan ini hasana.id tidak akan menceritakan kisah keseluruhan dari para wali tersebut. Hasana.id hanya akan mengulik sedikit kisah salah satu wali yang sangat masyhur dalam Islam. Salah satu tokoh yang paling berpengaruh sampai sekarang, yaitu Sunan Kalijaga.

Siapakah Sunan Kalijaga?

Sosok yang satu ini sangat lah unik alur kehidupannya, bagaimana tidak dia adalah sosok yang kehidupan sehari-hari selalu mencuri dan melakukan aksi begal kepada masyarakat yang kaya, dan membagikan hasil rampasannya kepada rakyat miskin. Tiba-tiba menjadi seorang wali .

Sunan kalijaga adalah salah satu dari kesembilan wali atau dalam bahasa Jawanya disebut (Wali songo). Hubungan nya dengan wali yang lain adalah sunan kalijaga merupakan murid langsung dari Sunan Bonang.

Kalijaga adalah wali yang memilih mengajarkan islam dengan metode yang unik, yaitu dengan jalur kesenian dan hiburan, seperti wayang kulit, seni ukir, gamelan, dan lain-lain.

Beliau memilih jalur kesenian karena pada masa itu kehidupan masyarakat yang sangat menggemari hiburan dan kesenian. Maka beliau ambil andil dan masuk dalam ranah tersebut dengan menyelipkan islam didalamnya.

Paham keagamaan Kalijaga lebih berbasis kepada paham sufistik salaf, dimana kehidupannya dipenuhi dengan sikap yang sangat sederhana, hal ini digambarkan dari basisnya yang begitu terkontaminasi dengan sikap zuhud.

Menurut pandangannya semua manusia berhak untuk bekerja dan melakukan apasaja selama masih dalam koridor agama dan tidak menjatuhkan martabatnya sebagai manusia.

Sikap zuhud inilah yang mendasari Kalijaga yang lebih cenderung kedalam sufisme, juga dari beberapa gubahan syairnya yang sangat kental akan kentara sufi.

Dalam kesehariannya, Kalijaga lebih sering memakai pakaian adat jawa dengan penutup kepala berupa bLankon yang menjadi ciri khas adat Jawa sampai sekarang.

Banyak yang telah mengetahui kisah dari Kalijaga, tetapi tidak banyak yang tau bahwa panggilan tersebut bukanlah nama aslinya, nama aslinya yaitu Raden said salah satu putra dari kadipaten kerajaan Majapahit.

Nama Asli Sunan Kalijaga

Nama kecil Kalijaga adalah Raden Said putra dari Tumenggung Wilatika atau yang lebih familier dengan Raden Sahur. Ia seorang adipati Tuban yang merupakan salah satu dari kadipaten yang masih berada dibawah kerajaan Majapahit.

Berdasarkan dari beberapa sumber yang penulis baca Raden said lahir dalam periode akhir tahun 1450 M. Raden Said muda memiliki beberapa panggilan dari orang sekitarnya, diantaranya yaitu, Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdirrahman.

Sebelum menjadi wali yang dikenal dengan Sunan Kalijaga, kehidupan Raden Said muda agak sedikit nyeleneh dibandingkan dengan kehidupan kawan-kawannya yang seusia dengannya.

Bagaimana tidak, keseharian beliau adalah merampok. Namun, hasil curiannya dibagikan kepada warga yang miskin. Pada masa itu memang sedang krisis kelaparan ditambah dengan keharusan membayar upeti yang tinggi bagi penguasa.

Pernah suatu ketika Raden Said muda mengambil lumbung dari Adipati Tuban untuk diserahkannya kepada rakyat miskin seperti biasanya, satu dua kali beliau mengambil dari penyimpanan kerajaan masih aman dan tidak ketahuan.

Namun, makin hari makin sering beliau curi hasil panen dikerajaan hingga aksi tersebut diketahui oleh penjaga. Diserahkannya beliau ke ayahnya yang menjabat sebagai adipati Tuban. Hingga ayahnya menghukumnya.

Hukuman dari ayahnya masih tidak membuatnya jera, hasrat hati untuk menolong orang miskin masih menggebu-gebu, sehingga beliaupun masih mencuri dari orang kaya seperti biasanya. Ayahnya pun memberi hukuman berat kepadanya, yaitu dengan mengusir Raden said dari kerajaan.

Disinilah pengembaraan Raden said dimulai.

Sejarah Sunan Kalijaga

Berbicara mengenai sejarah Sunan Kalijaga maka sama dengan membicarakan konsep kehidupan yang zuhud. Artinya, kehidupan yang mencoba untuk menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan hina yang dapat merusak tatanan hati.

Sunan Kalijaga adalah sosok yang tidak mempertentangkan antara agama dan budaya. Bahkan budaya dijadikannya sebagai sarana untuk menyiarkan agama.

Kisah Raden Said

Sunan Kalijaga muda yang bernama Raden Said kerap mencuri harta dari orang-orang kaya yang kemudian dibagikannya kepada rakyat miskin.

Suatu ketika Raden Said melihat orang tua yang sedang berjalan dihutan dengan membawa tongkat emas. Dalam benak Raden Said terbesit bahwa orang tua ini pasti orang kaya. Ia pun mengambil tongkat tersebut.

Orang tua itu kemudian melawan dan tidak mebiarkan Raden Said mengambil tongkatnya. Raden said tidak mengetahui kalau orang tua itu adalah Sunan Bonang.

Sunan Bonang: “Hai anak muda mengapa engkau mencuri padahal itu adalah perbuatan yang dilarang?”

Raden Said: “Aku curi dari orang kaya, tetapi aku serahkan kepada orang miskin.”

Sunan Bonang lantas menasehati Raden Said sehingga luluh di depan Sunan Bonang dan menginginkan agar dirinya diangkat jadi muridnya. Raden Said kagum akan wibawa dan kehebatan yang terpancar pada sunan Bonang.

Karomah Sunan Bonang

Menurut sumber yang penulis temukan dari satu riwayat bahwa ketika Raden Said hendak merampas tongkat dari Sunan Bonang, beliau menasehatinya dengan mengatakan bahwa harta di dunia hanyalah titipan dari Tuhan.

Sunan Bonang pun menampakkan karomahnya, yaitu menunjukkan pohon aren dengan tangannya dan tiba-tiba pohon tersebut berubah menjadi emas. Hal itu mengakibatkan Raden Said terperangah oleh kejadian tersebut.

Namun, Sunan Bonang tidak lantas langsung setuju untuk mengangkat Raden Said sebagai murid. Beliau menguji Raden Said dengan menyuruhnya untuk bersemedi di tepi sungai dan menjaga tongkat yang beliau tancap di sampingnya.

Waktu berjalan tiga tahun, kemudian Sunan Bonang menemui Raden Said dan melihat ia yang masih sabar bersemedi tanpa bergeser sedikit pun dari tempat yang diperintahkannya.

Sejak itulah Raden Said menjadi murid setianya Sunan Bonang. Setelah kejadian itu Sunan Bonang memberi nama Raden Said dengan Sunan Kalijaga.

Menurut beberapa sumber terjadi perbedaan pendapat mengenai sebab penamaan sunan kalijaga. Ada yang mengatakan bahwa diberi gelar Kalijaga karena lamanya beliau bersemedi di tepi sungai (kali) sampai tiga tahun.

Namun, ada juga yang mengatakan bahwa Kalijaga adalah nama satu desa di Cirebon. Menurut masyarakat sekitar Raden Said ketika tinggal di sana suka berdiam diri di sungai atau dalam bahasa Jawa (kalijogo).

Sejak Sunan Kalijaga berguru pada Sunan Bonan, saat itu pula beliau menyiarkan Islam di Jawa. Tentunya beliau  menjadi tokoh yang sangat berpengaruh dalam pendirian kerajaan Islam pertama di Jawa, yaitu Kerajaan Demak.

Peran Sunan Kalijaga dalam Berkembangnya Islam

Salah satu wali yang dikenal memiliki tingkat toleransi dan welas asih yang tinggi adalah Sunan Kalijaga. Beliau tidak memasukkan tindak kekerasan dalam menjalankan misinya, tetapi beliau sisipkan filosofi-filosofi keislaman dalam adat dan kebudayaan.

Peran Sunan Kalijaga dalam Islamisasi di Jawa bisa dilihat dari berbagai kegiatannya dalam menjalankan dakwah, baik itu dari ranah keagamaan, ranah pemerintahan, ranah politik, hingga ranah seni dan kebudayaan.

Terlebih ketika Raden Trenggono dilantik menjadi sultan dan raja di Kerajaan Demak sebagai pengganti Raja Patiunus yang pada waktu itu menjadi raja pertama dalam Islam.

Metode yang diterapkan Sunan Kalijaga ketika itu mendapatkan sambutan hangat dari para penguasa. Karena yang beliau terapkan adalah metode kompromistis atau metode tidak kaku dan lentur bagi semua kalangan.

Maka dari itu perkembangan Islam begitu pesat terjadi ketika berada dibawah naungan Sunan Kalijaga. Di antara peran Sunan Kalijaga dalam mengembangkan Islam di Jawa ialah:

Membangun Masjid Demak Bersama Para Wali

Sunan Kalijaga bersama para wali membangun sebuah masjid pertama yaitu Masjid Demak yang difungsikan selain sebagai tempat beribadah juga menjadi sarana dakwah dan pemersatu umat. Meski demikian, tidak bisa ditemukan literasi yang menjelaskan kapan kepastiannya masjid Demak itu didirikan.

Memang, Sunan Kalijaga tidak hanya ikut serta dalam menyediakan bahan-bahan kebutuhan pembuatan masjid, tetapi beliau sangat berperan aktif dalam musyawarah-musyawarah sebelumnya.

Menerapkan Prinsip Keislaman Dalam Kebudayaan

Salah satu metode yang diterapkan Sunan kalijaga adalah memasukkan ajaran islam dalam wayang, dimana ketika itu wayang adalah budaya yang sudah sangat melekat dengat kehidupan penduduk Jawa.

Wayang yang pada mulanya sangat kentara dengan ajaran Hindu dengan tokoh didalamnya seperti Ramayana dan Mahabarata tidak serta merta dilarang dan diharamkan oleh Sunan Kalijaga.

Akan tetapi, beliau memasukkan tokoh-tokoh yang menggambarkan ajaran Islam seperti Semar, Petruk, Gareng, Bagong yang dikenal dengan punakawan. Tanpa disadari penduduk sekitar telah menanamkan dalam diri mereka ajaran-ajaran islam.

Menerapkan Ajaran Welas Asih

Sunan Kalijaga tidak langsung mendobrak mereka yang masih diluar agama Islam. Lingkungan yang masih di dominasi oleh agama Hindu diambil sikap oleh Sunan Klaijaga dengan menerapkan sistem welas asih atau kasih sayang sesama manusia.

Bersikap Zuhud

Sunan Kalijaga adalah sosok yang begitu zuhud dalam kesehariannya. Beliau menyatkan bahwa pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari harus dilandasi dengan hukum halal. Tidak boleh adanya harta haram yang mengalir dalam tubuh manusia. Karena memasukkan harta haram kedalam tubuh adalah sikap yang dapat meruntuhkan martabat seseorang sebagai manusia.

Metode Lemah Lembut

Sang Sunan Kalijaga menyebarkan ajaran Islam dengan lemah lembut, tidak penuh kontradiksi, dan dengan menyentuh alam bawah sadar masyarakat agar mencintai agama islam langsung dari hati, bukan dengan kekerasan.

Adapaun metode yang dibawa Kalijaga dalam berdakwah memperkenalkan islam ke masyarakat diantaranya yaitu

Memperkenalkan Ajaran Islam Sedikit Demi Sedikit

Sunan Kalijaga sangat mahir melihat karakter masyarakat, beliau mampu menganalisa pikiran seseorang, sehinngga pesan-pesan yang ingin beliau sampaikan terasa mudah dicerna oleh masyarakat. Beliau sampaikan pesan Islam sedikit demi sedikit agar pesan tersebut lebih terpatri dalam hati masyarakat.

Menggabungkan Budaya

Kultur budaya ketika itu yang masih melekat dengan budaya Hindu menjadikan sunan Kalijaga ingin menyisipkan pesan-pesan islam dalam adat budaya. Sehingga sedikit demi sedikit upacara dan kegiatan yang dulunya sangat kentara dengan ajaran Hindu berganti dengan ajaran Islam.

Beberapa peran Sunan Kalijaga yang melekat dihati masyarakat diantaranya:

  1. Seorang Dai,
  2. ahli dalam strategi peperangan,
  3. orang yang ahli kesenian,
  4. ahli budaya, dan lain-lain.

Sunan Kalijaga adalah sosok yang begitu berkharisma dan berpengarauh dalam lingkungan masyarakat ketika itu. Beliau begitu berjasa dalam merubah pola pikir masyarakat yang berpikiran salah kepada jalan yang benar.

Banyak jasa beliau yang telah tercatat dengan tinta emas, dan sangat banyak jejak peninggalan beliau yang masih dilestarikan sampai saat ini, yang menjadi bukti suksesnya Sunan kalijaga dalam menjalankan misinya yaitu menyiarkan agama Islam di Indonesia.

Diantara peninggalan-peninggalan Sunan Kalijaga yaitu:

  1. Masjid Sunan Kalijaga
  2. Masjid Kadilangu
  3. Keris Kyai Clubuk
  4. Keris Kyai Syir’an
  5. Kotang Ontokususmo

Masih banyak lagi tentunya peran dari sosok Sunan Kalijaga dalam tersebarnya Islam, khususnya di Jawa dan nusantara.

Makam Sunan Kalijaga

Tidak ada sumber yang jelas yang menjelaskan perihal tentang tanggal dan waktu yang akurat mengenai wafat Sunan Kalijaga. Hal ini karena faktor minimnya literasi ketika itu yang menjadikan informasi tentang beliau menjadi simpang siur.

Setelah membaca beberapa literasi dan sumber yang mencukupi, saya simpulkan berikut tentang fakta dari makam Kalijaga. Faktanya, beliau dimakamkan di Jawa tengah tepatnya di desa Kadilungu, kecamatan Demak kota, kabupaten Demak Jawa tengah.

Bila kita berjalan dari kota demak maka jarak yang perlu kita tempuh kurang lebih 2 kilometer untuk sampai ketempat ini. Letak geografis makam ini berada pada ketinggian 22 mdpl yang menjadikannya tempat yang rendah yang berada di sekitar pesisir pantai utara Jawa tengah.

Lokasi makam Kalijaga berada di lingkungan padat penduduk atau lebih tepatnya langsung bersentuhan dengan pemukiman penduduk disana.

Jejak Peninggalan Sunan Kalijaga

Salah satu jejak peninggalan Kalijaga yang masih utuh sampai kini adalah masjid Kadilangu yang berada tepat di sekitar makam beliau. Corak masjid yang bertipikal joglo dengan atap tumpang susun 3 menjadi tanda dan bukti keberadaan Kalijaga dalam menyebarkan Islam di daerah itu.

Di sekitar masjid juga terdapat bangunan-bangunan yang agak serupa dengan corak Kadilangu yang kemungkinan jarak pembangunannya tidak jauh berbeda.

Posisi sang Sunan di daerah itu dahulu adalah sebagai kepala yang menjadi tempat berdiskusi perihal seluruh kehidupan dan masalah yang dialami masyarakat.

Kadilungu adalah tempat yang dibuat oleh Sunan Kalijogo untuk berdakwah dan diteruskan oleh murid-muridnya sampai sekarang. Mengingat hal itu, maka makam beliau dan masjid Kadilungu adalah dua magnet yang tidak dapat dipisahkan dan menjadi tempat berkah bagi Desa Kadilungu sendiri.

Di samping menjadi tempat yang penuh berkah, makam sang Sunan juga menjadi objek destinasi wisata yang sangat digemari oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

Para wisatawan mengunjungi tempat ini karena histori dari kuburan Kalijaga yang masih sangat terawat dan terjaga dengan baik oleh warga disekitar. Bahkan mereka bebas menanyakan apa saja tentang perjalanan hidup dari sosok walisongo ini.

Namun, kita juga harus menjaga adab dan tata krama. Karena destinasi ini adalah makam seorang wali yang sangat masyhur dan telah dimuliakan oleh Allah swt.

Penutup

Islam masuk dan tersebar di Indonesia sudah sangat lama, melalui pedagang dari jazirah Arab yang masuk pertama kali ke daerah Samudra Pasai di Aceh. Kemudian, dari Aceh tersebarnya Islam ke Pulau Jawa melalui sembilan Ulama yang di gelar dengan walisongo.

Salah satu dari wali songo adalah Kalijaga yang merupakan murid langsung Sunan Bonang. Beliau termasuk sosok yang sebelum bertemu dengannya ialah anak muda yang nakal. Kesehariannya suka mencuri dan merampas harta orang-orang kaya.

Kalijaga adalah salah satu dari sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Metode yang beliau tempuh adalah pendekatan dan kebudayaan sehingga mengubah ideologi masyarakat yang awalnya beragama Hindu ke Islam.

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p