Tata Cara dan Ketentuan Sholat Witir Beserta Keutamaannya

Tahukah kamu jika sholat witir merupakan salah satu di antara salat-salat sunah yang dianjurkan?

Ya, salat yang dilakukan dalam jumlah ganjil ini memiliki keutamaan sebagai penutup serangkaian salat malam yang diamalkan umat Islam.

Secara bahasa, witir sendiri berarti ganjil, menegaskan bahwa salat ini memang hanya boleh dikerjakan dalam jumlah ganjil.

Lalu, bagaimana ketentuan pelaksanaan salat witir? Adakah doa khusus yang dianjurkan?

Sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, Hasana.id akan membahas seputar salat sunah ini secara rinci. Yuk, simak!

Ketentuan Salat Witir dan Jumlah Rakaatnya

Ketentuan paling utama dalam menjalankan salat witir adalah jumlah rakaatnya yang harus ganjil dengan jumlah maksimal 11 rakaat.

Meskipun kamu diperbolehkan untuk menunaikan salat sunah ini dalam satu rakaat saja (sebagai jumlah minimalnya), melaksanakannya sebanyak tiga rakaat lebih diutamakan sedangkan lima rakaat adalah paling utama.

Kamu juga bisa melakukan salat witir sebanyak tujuh atau sembilan rakaat. Sedangkan yang paling sempurna adalah menunaikan salat ini 11 kali.

Jangan lupa untuk mencatat jumlah maksimal tersebut karena rakaat salat witir tidak boleh dilakukan lebih dari itu.

Apabila kamu ingin melaksanakan salat sunah tersebut lebih dari tiga rakaat, maka caranya adalah dengan dilakukan setiap dua rakaat salam. Kemudian, tutup dengan satu rakaat agar jumlahnya tetap ganjil.

Ketentuan lainnya adalah tidak boleh dilakukan berjamaah. Salat witir ini merupakan salat sunah yang wajib kamu lakukan sendirian atau munfarid.

Selain pada bulan Ramadan sebagai penutup salat tarawih, kamu tidak diperbolehkan untuk menunaikan witir secara berjamaah.

Niat Sholat Witir dan Surah Yang Disunahkan

Buat kamu yang akan mengamalkan salat witir dengan dua rakaat salam, berikut ini niatnya:

اُصَلِّى سُنَّةَ الْوِتْرِرَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) ِللهِ تَعَالَى

Ushallii sunnatal witri rak’ataini mustaqbilal qiblati (makmuuman / imaaman) lillaahi ta’aalaa.

Artinya:

Saya (berniat) mengerjakan salat sunah witir, dua raka’at dengan menghadap kiblat, (makmum / imam), karena Allah Ta’ala.

Sedangkan untuk salat witir dengan satu rakaat, berikut niatnya:

اُصَلِّى سُنَّةَ الْوِتْرِرَكْعَةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) ِللهِ تَعَالَى

Ushallii sunnatal witri rok’atan mustaqbilal qiblati (makmuuman / imaaman) lillaahi ta’aalaa.

Artinya:

Saya (berniat) mengerjakan sholat sunah witir, satu raka’at dengan menghadap kiblat, (makmum / imam), karena Allah Ta’ala.

Lalu, adakah bacaan surah dalam shalat witir yang dianjurkan atau disunahkan? Sesuai ajaran Nabi Muhammad saw., surah yang dianjurkan adalah al-A’la untuk rakaat pertama. Sedangkan pada rakaat kedua, kamu bisa membaca Al-Kafiruun.

Kemudian, untuk satu rakaat yang terpisah, kamu bisa membaca tiga surah, yaitu an-Nas, al-Falaq, dan al-Ikhlas. Anjuran ini juga tertulis dalam kitab Hasyiyah al-Jamal oleh Syekh Sulaiman al-Jamal.

Akan tetapi, ada sedikit perbedaan pendapat dalam surah yang disunahkan pada rakaat terakhir tersebut.

Berbeda dengan ulama Syafii’iyyah yang berpendapat seperti di atas, ulama Hanabilah berpendapat bahwa surah yang disunahkan hanya al-Ikhlash saja.

Meskipun ada perbedaan pendapat dalam surah yang disunahkan untuk salat witir, bukan berarti hal tersebut menjadi ajang untuk saling menyalahkan.

Kamu bisa mengikuti pendapat yang paling diyakini kebenarannya menurut pendirianmu sendiri, tanpa perlu mencela pendapat yang berlawanan.

Namun, karena surah-surah tersebut bersifat sunah, kamu bisa membaca surah mana saja yang menurutmu mudah dibaca.

Tata Cara Salat Witir Tiga Rakaat

Mungkin kamu sudah tidak asing dengan tiga rakaat witir karena salat sunah tersebut sangat umum dilaksanakan setelah salat tarawih di bulan ramadan.

Sebagian umat Islam menjalankan salat tersebut dengan dua rakaat salam dan dilanjutkan dengan satu rakaat. Akan tetapi, beberapa yang lain menggabungkan tiga rakaat salat tersebut sekaligus seperti salat maghrib.

Bagi mereka yang tidak biasa dengan hal tersebut tentu bertanya-tanya: apakah menyambung tiga rakaat salat witir sekaligus itu diperbolehkan?

Pendapat Imam Syafi’i

Menurut mazhab Syafi’i, melaksanakan tiga rakaat secara berturut-turut saat salat witir tidak ada salahnya. Akan tetapi, memisahkannya dengan salam lebih diutamakan.

Dasar dari pernyataan tersebut dapat kamu lihat di kitab Hasyiyah al-Bujairami ala al-Munhaj yang diriwayatkan oleh Syekh Sulaiman al-Bujairami berikut ini:

ـ (ولمن زاد على ركعة) في الوتر (الوصل بتشهد) في الأخيرة (أو تشهدين في الأخيرتين) للاتباع في ذلك رواه مسلم ، والأول أفضل ، ولا يجوز في الوصل أكثر من تشهدين ، ولا فعل أولهما قبل الأخيرتين لأنه خلاف المنقول من فعله صلى الله عليه وسلم

Artinya:

“Bagi orang yang melaksanakan witir lebih dari satu rakaat maka boleh baginya untuk menyambung witir dengan satu tasyahud di akhir rakaat atau dua tasyahud di dua rakaat terakhir. Hal ini berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Namun, praktik yang pertama (satu tasyahud) lebih utama. Dalam menyambung rakaat dilarang lebih dari dua tasyahud dan juga tidak boleh melakukan awal dari dua tasyahud sebelum dua rakaat terakhir, sebab praktik demikian tidak pernah ditemukan dalam shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”

Hal tersebut mungkin diperbolehkan, tetapi melaksanakan salat witir tiga rakaat satu salam tersebut dianggap makruh karena tata caranya yang mirip dengan salat maghrib.

Penjelasan Syekh Zainudi al-Maliabari

Penjelasan Syekh Zainudi al-Maliabari dalam Fath al-Mu’in berikut ini menjadi dasar akan pengertian tersebut:

والوصل خلاف الاولى، فيما عدا الثلاث، وفيها مكروه للنهي عنه في خبر: ولا تشبهوا الوتر بصلاة المغرب

Artinya:

“Menyambung rakaat witir merupakan menyalahi hal yang utama (khilaf al-aula) pada selain tiga rakaat. Sedangkan menyambung tiga rakaat witir (sekaligus) dihukumi makruh, sebab adanya larangan dalam hadits Nabi: ‘Janganlah kalian menyerupakan shalat witir dengan shalat maghrib’.”

Meskipun demikian, melaksanakannya tiga rakaat secara berturut-turut tetap lebih utama daripada menjalankan satu rakaat witir saja.

Khusus salat witir tiga rakaat sekaligus, kamu bisa membaca niatnya seperti berikut ini:

اُصَلِّى سُنَّةَ الْوِتْرِ ثَلَاثَ رَكْعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatal witri tsalâtsa raka‘âtin mustaqbilal qiblati adâ’an lillâhi ta‘âlâ

Artinya:

“Aku menyengaja sembahyang sunnah shalat witir tiga rakaat dengan menghadap kiblat, karena Allah Ta’ala.”

Niat tersebut dibaca jika kamu akan menjalankan sholat witir sendirian atau munfarid. Jika kamu menjadi makmum dalam salat witir berjamaah, seperti saat ramadan, jangan lupa untuk menambahkan kata ‘ma’muman’ dalam niatnya.

Sedangkan cara pelaksanaanya sama persis dengan salat maghrib, jadi dua rakaat terakhir harus disertai dengan tasyahud.

Tata Cara Salat Witir Satu Rakaat

Apakah boleh shalat witir 1 rakaat? Mungkin kamu salah satu yang bertanya-tanya mengenai hal ini juga.

Sebenarnya, satu rakaat merupakan batas paling minimal untuk mengerjakan salat witir, akan tetapi batas minimal kesempurnaan salat sunah ini adalah tiga rakaat.

Meskipun begitu, untuk mendapatkan jumlah yang ganjil, kamu tetap perlu mengetahui tata cara salat witir satu rakaat.

Pertama, kamu harus melafalkan niat salat witir satu rakaat terlebih dahulu seperti yang disebutkan di atas.

Dalam hal kamu bertidak sebagai imam, bacaan niat salat witirnya adalah sebagai berikut:

اُصَلِّى سُنَّةَ الْوِتْرِرَكْعَةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا ِللهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatal Witri rak‘atan mustaqbilal qiblati adā’an imāman lillāhi ta‘ālā.

Artinya:

“Aku menyengaja sembahyang sunnah Witir satu rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai imam karena Allah SWT.”

Urutan salat witir satu rakaat setelah salam sama dengan salat sunah lainnya. Yang membedakannya adalah kamu tidak perlu berdiri setelah sujud kedua di rakaat pertama, melainkan langsung duduk tasyahhud dan salam.

Kemudian, khusus pada paruh kedua bulan Ramadan, dianjurkan untuk membaca doa qunut setelah itidal saat salat witir.

Doa dan Wirid Seusai Salat Witir

Seusai salam dari salat witir, kamu dianjurkan untuk tidak langsung berdiri dan meninggalkan tempat beribadah.

Seperti yang dijelaskan oleh Syekh M Nawawi dalam Nihayatuz Zain berikut ini:

يُسَنُّ أَنْ يَقُولَ بَعْدَ الْوِتْرِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ وَأَنْ يَقُولَ اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِرِضَاك مِنْ سَخَطِك وَبِمُعَافَاتِك مِنْ عُقُوبَتِك وَأَعُوذُ بِك مِنْك لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْك أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْت عَلَى نَفْسِك

Yusannu ayyaquu la ba’da lawitri tsalatsa marratin subkhaanal malikil qadu si wa ayyaqu lallahummanna a’udzubiri dhakamin sakhothik wabimu’afatik min ‘uqubatik wa a’udzubik min kala akhsyi tsanaa an alayk antakama atsnat ‘ala nafsik

Artinya:

“Seseorang dianjurkan setelah salat witir membaca tiga kali, ‘Subhānal malikil quddūs,’ kemudian membaca, ‘Allāhumma inī a‘ūdzu bi ridhāka min sakhathika, wa bi mu‘āfātika min ‘uqūbatika. Wa a‘ūdzu bika minka, lā uhshī tsanā’an alayka anta kamā atsnayta ‘alā nafsika,’”

Lalu, bagaimana susunan wirid yang dianjurkan seusai salah witir? Pertama, kamu bisa memulainya dengan syahadat, diikuti dengan istighfar, dan berdoa memohon ridha serta surga Allah Swt.

Doa agar Allah Ridha

Kamu bisa membaca doa berikut ini untuk memohon ridha serta surga Allah Swt.:

أَسْأَلُك رِضَاك وَالْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِك مِنْ سَخَطِك وَالنَّارِ

Allāhumma innī as’aluka ridhāka wal jannah, wa a‘ūdzu bika min sakhathika wan nār.

Artinya:

“Tuhanku, aku memohon ridha dan surga-Mu. Aku juga berlindung kepada (rahmat)-Mu dari murka dan neraka-Mu.”

Baca ketiga poin di atas sebanyak tiga kali. Selanjutnya, wirid tersebut bisa diikuti dengan tasbih sebanyak tiga kali dan pujian kesucian, sebagai berikut:

سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّنَا وَرَبُّ المَلَائِكَةِ وَالرُّوْحِ

Subbūhun, quddūsun, rabbunā wa rabbul malā’ikati war rūh.

Artinya:

“Suci dan qudus Tuhan kami, Tuhan para malaikat dan Jibril,” (HR. Al-Baihaqi dan Ad-Daruqutni).

Setelah itu, kamu bisa membaca pujian atas keluasan ampunan sebanyak tiga kali dengan lafal berikut ini:

اللَّهُمَّ إنَّك عَفْوٌ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Allāhumma innaka ‘afuwwun karīmun tuhibbul ‘afwa, fa‘fu ‘annī.

Artinya:

“Tuhanku, sungguh Kau maha pengampun lagi pemurah. Kau menyukai ampunan, oleh karenanya ampunilah aku.”

Pujian kepada Allah atas Rahmat-Nya

Selanjutnya, kamu dapat melanjutkan wirid dengan membaca pujian atas kemurahan dan kasih sayang Allah Swt., serta memohon ampunan dan keselamatan, seperti di bawah ini:

يَا كَرِيْمُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Yā karīmu, bi rahmatika yā arhamar rāhimīna.

Artinya:

“Wahai Zat yang maha pemurah, (aku memohon) atas berkat rahmat-Mu, wahai Zat yang paling penyayang dari segenap penyayang.”

Dan

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِرِضَاك مِنْ سَخَطِك وَبِمُعَافَاتِك مِنْ عُقُوبَتِك وَأَعُوذُ بِك مِنْك لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْك أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْت عَلَى نَفْسِك

Allāhumma inī a‘ūdzu bi ridhāka min sakhathika, wa bi mu‘āfātika min ‘uqūbatika. Wa a‘ūdzu bika minka, lā uhshī tsanā’an alayka anta kamā atsnayta ‘alā nafsika.  

Artinya:

“Tuhanku, aku berlindung kepada ridha-Mu dari murka-Mu dan kepada afiat-Mu dari siksa-Mu. Aku meminta perlindungan-Mu dari murka-Mu. Aku tidak (sanggup) membilang pujian-Mu sebanyak Kau memuji diri-Mu sendiri,” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah). 

Doa keselamatan tersebut juga selaras dengan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud mengenai doa yang disunahkan untuk dibaca setelah menunaikan salat witir.

Doa Salat Witir

Jika sudah, lanjutkan dengan doa yang biasa kamu panjatkan setelah salat atau baca doa sholat witir berikut ini:

أَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْاَلُكَ إِيْمَانًا دَاِئمًا وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا وَنَسْأَلُكَ عَمَلًا صَالِحًا وَنَسْأَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا وَنَسْأَلُكَ خَيْرًا كَثِيْرًا وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ وَنَسْأَلُكَ الْغِنَى عَنِ النَّاسِ أَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخَشُعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا أَللهُ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

“Allahumma innaa nas’aluka iimaanan daaimaan, wan’asaluka qalban khaasyi’an, wanas’aluka ‘ilman naafi’an, wanas’aluka yaqiinan shaadiqon, wanas’aluka ‘amalan shaalihan, wanas’aluka diinan qayyiman, wanas’aluka khairan katsiran, wanas’alukal ‘afwa wal’aafiyata, wanas’aluka tamaamal ‘aafiyati, wanas’alukasyukra ‘alal ‘aafiyati, anas’alukal ghinaa’a ‘aninnaasi. Allahumma rabbanaa taqabbal minnaa shalaatanaa washiyaamanaa waqiyaamanaa watakhusy-syu’anaa watadhorru’anaa wata’abbudanaa watammim taqshiiranaa yaa allaahu yaa allaahu yaa allaahu yaa arhamar raahimiin. washallallaahu ‘alaa khairi khalqihi muhammadin wa’alaa aalihi washahbihi ajma’iina, walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiina.”

Artinya:

“Ya Allah, kami mohon pada-Mu, iman yang langgeng, hati yang khusyuk, ilmu yang bermanfaat, keyakinan yang benar,amal yang saleh, agama yang lurus, kebaikan yang banyak. Kami mohon kepada-Mu ampunan dan kesehatan, kesehatan yang sempurna, kami mohon kepada-Mu bersyukur atas karunia kesehatan, kami mohon kepada-Mu kecukupan terhadap sesama manusia. Ya Allah, tuhan kami terimalah dari kami: salat, puasa, ibadah, kekhusyu’an, rendah diri dan ibadah kami, dan sempurnakanlah segala kekurangan kami. Ya allah, Tuhan yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih. Dan semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada makhluk-Nya yang terbaik, Nabi Muhammad SAW, demikian pula keluarga dan para sahabatnya secara keseluruhan. Serta segala puji milik Allah Tuhan semesta alam.”

Tutup doa tersebut dengan Al-Fatihah dan doa pendek penutup seperti setelah salat lainnya. Jika salat witir tersebut dilakukan selama bulan Ramadan, jangan lupa untuk mengikuti wirid serta doa di atas dengan niat berpuasa Ramadan.

Waktu untuk Melaksanakan Sholat Witir

Sebagai salat penutup, waktu pelaksanaan salat witir adalah setelah dilakukannya salat-salat sunah malam, seperti hajat, tahajud, dan istikharah.

Oleh karena itu, salat witir mempunyai waktu yang cukup panjang, yaitu dari habis isya sampai menjelang subuh.

Dengan begitu, waktu salat witir menjadi lebih fleksibel sebagai pungkasan salat-salat sunah lainnya.

Hal ini senada dengan hadis Nabi Muhammad saw., sebagai berikut:

عن ابن عمر: عن النبي صلى الله عليه وسلم قال اجعلوا آخر صلاتكم باليل وترا

Artinya:

Dari Ibnu Umar r.a. dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Jadikanlah salat witir sebagai akhir salat malam kalian.”

Akan tetapi, jika kamu merasa khawatir karena tidak bisa menjalankan salat ini di tengah atau akhir malam, maka disarankan untuk melakukannya seusai salat Isya.

Salat witir juga bisa dilakukan setelah salat tarawih saat bulan Ramadan dengan rakaat ganjil, seperti tiga, lima, dan tujuh.

Apabila kamu sudah melakukan witir di waktu tersebut dan melaksanakan salat sunah lain di tengah atau sepertiga malam terakhir, kamu bisa mengerjakan salat witir lagi.

Namun, kali ini rakaat salat witirnya harus genap, seperti dua atau empat, agar menjaga jumlah keseluruhannya tetap ganjil.

Keutamaan Sholat Witir Bagi Umat Islam

Meskipun hukum salat witir adalah sunah, namun ibadah ini termasuk qiyamullail atau yang paling utama.

Barang siapa yang mengerjakan salat sunah tersebut akan memperoleh pahala yang sangat besar. Hal ini juga dipertegas dengan penjelasan Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Sunan at-Tirmidzy:

عن علي قال: الوتر ليس بحتم كصلاتكم المكتوبة ولكن سن رسول الله صلى الله عليه وسلم وقال إن الله وتر يحب الوتر فأوتروا يا أهل القرآن

Artinya:

Dari Sayyidina Ali berkata,“(Shalat) witir bukanlah kewajiban sebagaimana salat maktubah kalian, akan tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menyunnahkan hal itu. Dan beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah adalah Esa dan menyukai yang ganjil, karena itu, berwitirlah kalian wahai para ahli al-Quran.”

Bahkan, mazhab Hanafy mewajibkan salat witir sebagai tambahan dari salat lima waktu karena begitu utamanya salat tersebut.

Nabi Muhammad juga pernah menegaskan bahwa salat witir merupakan hak Allah Swt. yang seharusnya dilaksanakan oleh umat Islam.

Dalam hadis riwayat Ahmad, Abu Daud, dan al-Hakim juga disebutkan bahwa mereka yang tidak menjalankan witir adalah bukan termasuk golongan umat Rasulullah saw.

Mengingat betapa utamanya sholat witir, ada baiknya kita menjaganya supaya tidak pernah terlewatkan.

Akan tetapi, bila tidak sengaja terlewat karena satu dan lain hal, kamu dianjurkan untuk meng-qadha salat witir tersebut sebagai bentuk keistikomahan.

Hikmah Menunaikan Salat Witir Sesuai Pesan Rasulullah saw.

Wasiat Nabi Muhammad saw. terkait keutamaan salat witir tentu bukan suatu hal yang bisa diabaikan.

Dalam ‘Umdatul Qari’, Badruddin Al-‘Ayni mengungkapkan bahwa pesan Nabi Muhammad saw. tersebut mempunyai hikmah.

Di antara hikmah yang dimaksud adalah menunjukkan pentingnya witir, supaya para sahabat terbiasa menunaikan salat witir, dan menegaskan kemuliaan witir yang dilaksanakan di malam hari.

من خاف أن لايقوم من آخر الليل فليوتر أوله، ومن طمع أن يقوم آخره فليوتر آخر الليل، فإن صلاة آخر الليل مشهودة، وذلك أفضل

Artinya:

“Siapa yang khawatir tidak bangun di akhir malam, maka witirlah terlebih dahulu. Sementara orang yang yakin bangun di akhir malam, kerjakanlah witir di akhir malam, sebab salat di akhir malam itu disaksikan malaikat dan lebih utama,”

Seperti tertulis dalam hadis tersebut, keistimewaan salat yang dilakukan di akhir malam akan disaksikan oleh para malaikat.

Hal ini dapat berarti juga malaikat-malaikat tersebut turut membawa rahmat untuk para hamba Allah Swt. yang sedang beribadah sunah di malam hari tersebut.

Dalam hadis riwayat Ibnu Majah juga disebutkan bahwa Allah Swt. menurunkan rahmat-Nya ketika malam hari.

Oleh karena itu, barang siapa yang berdoa di waktu tersebut akan lebih dimudahkan doanya untuk dikabulkan Allah Swt.

Hal-Hal Lain Yang Sering Ditanyakan Seputar Sholat Witir

Selain beberapa hal di atas, tak jarang masyarakat bertanya-tanya mengenai hal lain yang menyangkut ibadah salat witir ini.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul tersebut, Hasana.id telah merangkumnya di bawah ini.

Bolehkah Melaksanakan Salat Tahajud Setelah Menunaikan Salat Witir?

Seperti yang sudah kamu tahu, salat tahajud juga tidak kalah dianjurkan di banding salat sunah lainnya. Bahkan, Allah Swt. berfirman dalam Alquran mengenai keutamaan salat tersebut:

وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِۦ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Wa minal-laili fa taḥajjad bihī nāfilatal laka ‘asā ay yab’aṡaka rabbuka maqāmam maḥmụdā

Artinya:

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji,” (QS. Al-Isra’t: 79)

Mengingat salat tahajud juga mempunyai beberapa ketentuan khusus, seperti dilakukan pada malam hari setelah salat Isya dan hanya boleh ditunaikan setelah tidur, bukan tidak mungkin kamu bertanya-tanya mengenai pelaksanannya setelah salat witir dilakukan.

Yang perlu kamu ingat di sini adalah kenyataan bahwa salat tahajud tetap bukan penutup salat meskipun dilaksanakan di akhir malam.

Kondisi seperti ini tentu tidak jarang ditemui karena di sekitar kita, salat witir umumnya dilakukan setelah salat tarawih selama bulan Ramadan.

Lalu, bagaimana jika kamu berkehendak untuk salat witir meski sebelumnya sudah melaksanan salat witir?

Jika diperbolehkan, apakah disunahkan untuk mengulang sholat witirnya atau bagaimana?

Ulama Syafi’iyah Membolehkan

Menurut para ulama Syafi’iyah, pelaksanaan salat tahajud setelah salat witir itu sah-sah saja. Alasannya adalah karena pelaksanaan salat witir sebagai salat pamungkas hanya sebuah anjuran, bukan kewajiban.

Akan tetapi, ada baiknya untuk tetap mengahiri salat malam kamu dengan salat witir jika memang sudah berniat untuk salat tahajud di malam hari.

Dalam hal kamu sudah terlanjur salat witir, seperti saat bulan Ramadan, tidak ada kewajiban untuk mengulang sholat witir.

Beberapa Ulama Menganggapnya Tidak Sah

Bahkan, beberapa ulama berpendapat bahwa melakukan hal tersebut dihukumi tidak sah. Salah satunya adalah Syekh Ibrahim al-Baijuri dalam karyanya Hasyiyah al-Baijuri.

Sementara itu, Syekh Muhammad bin Abdurrahman dalam Rahmah al-Ummah menuliskan pendapat yang senada dalam Bahasa Indonesia:

“Apabila seseorang telah melaksanakan shalat witir kemudian ia hendak bertahajud, maka shalat witir tidak perlu diulang menurut qaul ashah dari mazhab Syafi’i dan Mazhab Abi Hanifah”

Dari beberapa uraian di atas, kamu bisa menyimpulkan bahwa menjalankan salat tahajud setelah salat witir bukan lah suatu masalah.

Kemudian, apabila kamu memang sudah menunaikan salat witir sebelumnya, tidak ada anjuran untuk mengulang salat penutup tersebut.

Namun, akan lebih baik bila seseorang yang berniat untuk melakukan salat tahajud atau salat malam lainnya tidak buru-buru untuk melaksanakan salat witir.

Kamu bisa menunda salat witir tersebut dan menunaikannya setelah menyelesaikan salat sunah lainnya di malam hari.

Dengan begitu, kamu dapat meraih keutamaan dari salat witir sebagai penutup dari semua salat.

Di sisi lain, ada juga ulama-ulama yang berpendapat bahwa melakukan salat witir kembali setelah tahajud diperbolehkan.

Bagaimana Hukum Membaca Qunut dalam Salat Witir di Bulan Ramadan?

Selain itu, pertanyaan yang sering muncul lainnya adalah mengenai hukum qunut witir yang dilakukan di setengah bulan Ramadan.

Ya, membaca qunut pada rakaat terakhir salat witir tentu bukan suatu hal yang asing karena kebiasaan tersebut telah berlangsung cukup lama.

Membaca qunut di akhir salat witir tersebut dijelaskan oleh Imam al-Nawawi dalam al-Adzkar, sebagai berikut:

ويستحب القنوت عندنا في النصف الأخير من شهر رمضان في الركعة الأخيرة من الوتر، ولنا وجه: أن يقنت فيها في جميع شهر رمضان، ووجه ثالث: في جميع السنة، وهو مذهبُ أبي حنيفة، والمعروف من مذهبنا هو الأوّل

Artinya:

“Menurut kami, disunnahkan qunut di akhir witir pada separuh akhir Ramadhan. Ada juga dari kalangan kami (Syafi’iyyah) yang berpendapat, disunnah qunut di sepanjang Ramadhan. Kemudian ada pula yang berpendapat bahwa disunnahkan qunut di seluruh shalat sunnah. Ini menurut Madzhab Abu Hanifah. Namun yang baik menurut madzhab kami adalah model yang pertama, yaitu qunut pada separuh akhir Ramadhan.”

Dikisahkan juga bahwa Umar Ibn Khatab, Ubay Ibn Ka’ab, dan beberapa sahabat lainnya juga menambahkan bacaan qunut di rakaat terakhir witir setelah bulan Ramadan telah separuh terlewati.

Menurut Imam al-Nawawi, membaca qunut di akhir salat witir tersebut bersifat sunah.

Sebagian ulama juga ada yang berpendapat bahwa doa qunut boleh dibacakan sepanjang rakaat terakhir salat witir selama bulan Ramadan.

Akan tetapi, pendapat paling kuat di mazhab Syafi’i ialah untuk membaca qunut khususnya di separuh akhir Ramadan saja.

Mana yang Harus Didahulukan: Sholat Witir atau Tidur Dulu?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya saya merujuk pada amalan dua sahabat Rasulullah saw. dalam menjalankan salat witir.

Dikisahkan bahwa Abu Bakar menunaikan witir sebelum tidur dan saat terbangun di tengah malam, beliau baru menjalankan salat tahajud.

Di sisi lain, Sayyidina Umar memilih tidur terlebih dahulu lalu bangun di tengah malam untuk salat tahajud dan witir.

Saat menceritakan hal tersebut ke Nabi Muhammad saw., Rasulullah menjawab bahwa Abu Bakar dalam hal ini memilih yang pasti, sedangkan Umar bin Khatab mengambil pilihan tersebut dengan kekuatan.

Dari kisah tersebut, mazhab Syafi’i lebih memilih amalan yang dikerjakan oleh Abu Bakar r.a., seperti dijelaskan oleh Imam Ghazali. Wallahu a’alam.

Itulah beberapa hal yang sering menjadi pertanyaan terkait sholat witir. Akhirnya, semoga Allah Swt. menerima amalan kita dan menjaga kita dari perbuatan tercela. Aamiin.

Referensi:

https://islam.nu.or.id/search?q=witir

Bolehkah Mengulang Shalat Witir Setelah Tahajud?

https://lbm.mudimesra.com/2012/07/shalat-witir.html

 

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p