Niat, Sejarah, Rakaat dan Keutamaan Sholat Tarawih

Datangnya bulan Ramadhan sebagai bulan yang penuh berkah selalu ditunggu-tunggu oleh setiap umat Islam.

Tidak hanya diwajibkan untuk menjalankan puasa, saat bulan Ramadhan tiba, setiap umat muslim juga dianjurkan untuk mengerjakan shalat Tarawih di malam harinya. sholat Tarawih ini dapat dilakukan secara berjamaah di masjid atau pun di rumah.

Bicara soal shalat Tarawih, tentu setiap orang kerap bertanya-tanya mengapa umat muslim sangat disarankan untuk mengerjakan shalat satu ini. Tidak hanya itu saja, jumlah rakaat dari shalat Tarawih yang dikerjakan pun kadang berbeda dari satu masjid ke masjid lainnya.

Nah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, simak penjelasan yang telah Hasana.id kumpulkan untuk kamu berikut ini!

sholat Tarawih

Dilansir dari laman Nahdlatul Ulama, shalat tarwaih merupakan salah satu ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan dan dapat menghidupkan malam Ramadhan atau disebut dengan qiyamu Ramadhan.

Berbeda dari ibadah lainnya, shalat Tarawih juga memiliki banyak keutamaan bagi umat muslim yang mendirikannya.

Hadis tentang sholat Tarawih

Hal ini seperti yang telah dicantumkan dalam salah satu hadis riwayat yang berbunyi:

عَن أَبِي هُرَيرَةَ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ مِن غَيرِ أَن يَأمُرَهُم فِيهِ بِعَزِيمَة فَيَقُولُ مَن قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانا وَاحتِسَابا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِهِ

ʿan ābī huraīraẗa qāla: kāna rasūlu al-lwahi ṣalwai al-lhu ʿalaīhi wasalwama īuraġwibu fī qīāmi ramaḍāna min ġaīri ān īaʾamurahum fīhi biʿazīmaẗ faīaqūlu man qāma ramaḍāna īīmānnā wāḥtisābbā ġufira lahu mā taqadwama min ḏanbihi

Artinya:

“Dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anh Rasulullah gemar menghidupkan bulan Ramadhan dengan anjuran yang tidak keras. Beliau berkata: ‘Barangsiapa yang melakukan ibadah (shalat tarawih) di bulan Ramadhan hanya karena iman dan mengharapkan ridha dari Allah, maka baginya di ampuni dosa-dosanya yang telah lewat” (HR. Muslim).

Nabi Muhammad sholat Tarawih di Masjid ataupun di Rumah

sholat tarawih sendiri merupakan shalat yang dikerjakan Nabi Muhammad saw. pada tanggal 23 Ramdhan di tahun kedua Hijriyah. Di masa itu, Nabi Muhammad saw. mengerjakan shalat Tarawih di rumah mau pun di masjid seperti yang diceritakan dalam hadis:

عَن عَائِشَةَ أُمِّ المُؤمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنهَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيلَة فِي المَسجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاس ثُمَّ صَلَّى مِن القَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجتَمَعُوا مِن اللَّيلَةِ الثَّالِثَةِ أَو الرَّابِعَةِ فَلَم يَخرُج إِلَيهِم رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصبَحَ قَالَ قَد رَأَيتُ الَّذِي صَنَعتُم وَلَم يَمنَعنِي مِن الخُرُوجِ إِلَيكُم إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَن تُفرَضَ عَلَيكُم وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ (رواه البخاري ومسلم)

ʿan ʿāʾīšaẗa aumwi al-mūʾminīna raḍīa al-lwahu ʿanhā: ānwa rasūla al-lhi ṣalwai al-lwahu ʿalaīhi wasalwama ṣalwai ḏāta laīlaẗ fī al-masǧidi faṣalwai biṣalātihi nās ṯumwa ṣalwai min al-qābilaẗi fakaṯura al-nwāsu ṯumwa aǧtamaʿuwā min al-lwaīlaẗi al-ṯwāliṯaẗi āū al-rwābiʿaẗi falam īaẖruǧ īlaīhim rasūlu al-lwahi ṣalwai al-lwahu ʿalaīhi wasalwama falamwā āṣbaḥa qāla qad raʾāītu al-waḏī ṣanaʿtum walam īamnaʿnī min al-ẖurūǧi īlaīkum īlwā ānwī ẖašītu ān tufraḍa ʿalaīkum waḏalika fī ramaḍāna (rwāh al-bẖārī ūmslm)

Artinya:

“Dari ‘Aisyah Ummil Mu’minin radliyallahu ‘anha, sesungguhnya Rasulullah pada suatu malam shalat di masjid, lalu banyak orang shalat mengikuti beliau. Pada hari ketiga atau keempat, jamaah sudah berkumpul (menunggu Nabi) tapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam justru tidak keluar menemui mereka. Pagi harinya beliau bersabda, ‘Sungguh aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku takut sekali bila shalat ini diwajibkan pada kalian.” Sayyidah ‘Aisyah berkata, ‘Hal itu terjadi pada bulan Ramadhan’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari hadis tersebut bisa disimpulkan bahwa pada awal-awal malam bulan Ramadhan, Nabi Muhammad saw. mengerjakan shalat Tarawih di masjid.

Alasan Nabi Tidak Selalu sholat Tarawih di Masjid

Akan tetapi, di hari ketiga atau keempat Nabi Muhammad saw. mengurungkan niatnya untuk mendirikan shalat Tarawih di masjid karena melihat para sahabat begitu bersemangat untuk mendirikan shalat tersebut. rupanya hal tersebut dilakukan oleh Nabi karena beberapa alasan, yaitu:

  1. Nabi merasa khawatir karena Allah Swt. dapat menurunkan wahyu yang berisi perintah untuk mewajibkan shalat Tarawih kepada umat-Nya. Jika hal tersebut terjadi, Nabi merasa wahyu tersebut akan memberatkan umat yang lahir di generasi berikutnya yang semangat untuk mendirikan ibadah Tarawih tidak setinggi para sahabat.
  2. Nabi merasa takut jika umat Islam menganggap shalat Tarawih merupakan shalat yang wajib dilakukan karena dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Hal ini juga diamini oleh keterangan dalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari yang berisi:

أَنَّهُ إِذَا وَاظَبَ عَلَى شَيء مِن أَعمَال البِرّ وَاقتَدَى النَّاس بِهِ فِيهِ أَنَّهُ يُفرَض عَلَيهِم

ānwahu īḏā wāẓaba ʿalai šaīʾ min āʿmāl al-birw wāqtadai al-nwās bihi fīhi ānwahu īufraḍ ʿalaīhim

Artinya:

“Sesungguhnya Nabi ketika menekuni suatu amal kebaikan dan diikuti umatnya, maka perkara tersebut telah diwajibkan atas umatnya.”

Alasan-alasan di atas menjadi bukti-bukti begitu sayangnya Nabi Muhammad saw. kepada umatnya. Dan sejak saat itu, Nabi tidak pernah terlihat mendirikan shalat Tarawih berjamaah di masjid.

Hukum sholat Tarawih

sholat yang dikerjakan di malam bulan Ramadhan ini memiliki hukum sunah. Hukum sunah sendiri akan mendapatkan pahala jika dikerjakan dan tidak menimbulkan dosa apabila ditinggalkan. sholat Tarawih sendiri didirikan setelah umat muslim menunaikan ibadah shalat Isya’.

Setelah itu, umat muslim yang telah menyelesaikan shalat Tarawih juga dianjurkan untuk mendirikan shalat witir yang memiliki jumlah rakaat ganjil.

Anjuran untuk mendirikan shalat Tarawih sendiri tertera dalam sebuah hadis. Salah satunya adalah hadis yang berbunyi:

مَن قَامَ رَمَضَانَ إيمَانا وَاحتِسَابا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِهِ

man qāma ramaḍāna īmānnā wāḥtisābbā ġufira lahu mā taqadwama min ḏanbihi

Artinya:

“Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau” (HR. al-Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Terkait dari hadis yang ada di atas, sejumlah ulama pun menyepakati kalimat “qama ramadlana” mengacu pada makna shalat Tarawih. Kendati demikian, masalah jenis dosa yang diampuni oleh Allah Swt. dalam hadis tersebut masih menjadi perdebatan sampai saat ini.

Salah satunya adalah pendapat Imam Al-Haramain yang menyebut bahwa Allah Swt. hanya mengampuni dosa-dosa kecil dan menyatakan bahwa dosa besar hanya bisa diampuni dengan cara bertobat.

Hal yang berbeda disampaikan oleh Imam Ibnu AL-Mundzir yang menyebutkan bahwa dosa yang diampuni dalam hadis tersebut merupakan semua jenis dosa, baik yang kecil atau yang besar.

sholat Tarawih di Masa Abu Bakar ra

Sebagai tambahan informasi, walaupun tergolong ke dalam ibadah sunah, shalat Tarawih termasuk ke dalam kategori sunah mu’akkadadah. Sunah mu’akkadadah sendiri merupakan sunah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan.

Lebih lanjut, pada masa Abu Bakar ra, umat Islam mengerjakan shalat Tarawih sebanyak 20 rakaat. Dan tdiak mendirikan shalat witir setelahnya.

Aturan shalat Tarawih Abu Bakar ra ini bahkan sampai sekarang menjadi ijma; bagi sahabat Nabi dan semua ulama mazhab, seperti: Imam Syafi’I, Imam Hanafi, Imam Hanbali hingga mazhab Maliki.

Kendati di mazhab Maliki terdapat sejumlah perbedaan pendapat mengenai rakaat yang dikerjaan, antara 20 dan 36 rakaat.

Hal tersebut ditegaskan kembali oleh riwayat dari Imam Malik bin Anas ra yang menyebutkan bahwa imam Darul Hijrah Madinah shalat Tarawih dilakukan dengan jumlah rakaat lebih dari 20 hingga 36 rakaat.

Namun, Imam Malik ternyata memilih untuk mengerjakan shalat Tarawih sebanyak 8 rakaat saja. Sedangkan mayoritas penganut mazhab Malikiyah, Syafi’iyyah, Hanabila dan Hanafiyyah mengerjakan shalat Tarawih sebanyak 20 rakaat.

Berbeda dengan kebiasaan umat muslim saat ini yang kerap mendirikan shalat Tarawih berjamaah, di masa Abu Bakar ras, umat muslim justru melakukan shalat Tarawih sendiri-sendiri di rumahnya.

Atau shalat berjamaah dalam kelompok kecil yang hanya beranggotakan tiga hingga enam orang saja. Hal inilah yang akhirnya membuat Umar bin Khattab melaksanakan ibadah Tarawih secara berjamaah.

sholat Tarawih di Umar bin Khattab

Sebelumnya diketahui jika semasa kepemimpinan Abu Bakar ra, umat muslim tidak melaksanakan shalat Tarawih secara berjamaah di masjid.

Apalagi masih terdapat kelompok-kelompok umat yang mendirikan shalat Tarawih sesuai dengan mazhab yang dianutnya. Terkait hal ini, maka Umar bin Khattab berinisiatif untuk menggelar saat Tarawih secara berjamaah.

Hadis tentang Tarawih Berjamaah

Hal ini tertera dalam sebuah hadis yang berbunyi:

عَن عَبدِ الرَّحمَنِ بنِ عَبد القَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ: خَرَجتُ مَعَ عُمَرَ بنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنهُ لَيلَة فِي رَمَضَانَ إِلَى المَسجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوزَاع مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَو جَمَعتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئ وَاحِد لَكَانَ أَمثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُم عَلَى أُبَيِّ بنِ كَعب ثُمَّ خَرَجتُ مَعَهُ لَيلَة أُخرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِم قَالَ عُمَرُ نِعمَ البِدعَةُ هَذِهِ

ʿan ʿabdi al-rwaḥmani bni ʿabd al-qārīwi ānwahu qāla: ẖaraǧtu maʿa ʿumara bni al-ẖaṭwābi raḍīa al-lhu ʿanhu laīlaẗ fī ramaḍāna īlai al-masǧidi faīḏā al-nwāsu āūzāʿ mutafarwiqūna īuṣalwī al-rwaǧulu linafsihi waīuṣalwī al-rwaǧulu faīuṣalwī biṣalātihi al-rwahṭu faqāla ʿumaru īnwī ārai laū ǧamaʿtu hauʾulāʾi ʿalai qāriʾi wāḥid lakāna āmṯala ṯumwa ʿazama faǧamaʿahum ʿalai aubaīwi bni kaʿb ṯumwa ẖaraǧtu maʿahu laīlaẗ auẖrai wālnwāsu īuṣalwūna biṣalāaẗi qāriʾīhim qāla ʿumaru niʿma al-bidʿaẗu haḏihi

Artinya:

“Dari ‘Abdirrahman bin ‘Abdil Qari’, beliau berkata: ‘Saya keluar bersama Sayyidina Umar bin Khattab radliyallahu ‘anh ke masjid pada bulan Ramadhan. (Didapati dalam masjid tersebut) orang yang shalat tarawih berbeda-beda. Ada yang shalat sendiri-sendiri dan ada juga yang shalat berjamaah. Lalu Sayyidina Umar berkata: ‘Saya punya pendapat andai mereka aku kumpulkan dalam jamaah satu imam, niscaya itu lebih bagus.” Lalu beliau mengumpulkan kepada mereka dengan seorang imam, yakni sahabat Ubay bin Ka’ab. Kemudian satu malam berikutnya, kami datang lagi ke masjid. Orang-orang sudah melaksanakan shalat tarawih dengan berjamaah di belakang satu imam. Umar berkata, ‘Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini (shalat tarawih dengan berjamaah),” (HR. Bukhari).

Hadis lainnya yang meceritakan hal serupa juga berbunyi:

عَن أَبِي هُرَيرَةَ قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا النَّاسُ فِي رَمَضَانَ يُصَلُّونَ فِي نَاحِيَةِ المَسجِدِ فَقَالَ مَا هَؤُلَاءِ ؟ فَقِيلَ: هَؤُلَاءِ نَاس لَيسَ مَعَهُم قُرآن وَأُبَيُّ بنُ كَعب يُصَلِّي وَهُم يُصَلُّونَ بِصَلَاتِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ أَصَابُوا وَنِعمَ مَا صَنَعُوا

ʿan ābī huraīraẗa qāla: ẖaraǧa rasūlu al-lwahi ṣalwai al-lhu ʿalaīhi wasalwama faīḏā al-nwāsu fī ramaḍāna īuṣalwūna fī nāḥīaẗi al-masǧidi faqāla mā hauʾulāʾi ? faqīla: hauʾulāʾi nās laīsa maʿahum qurʾān waʾaubaīwu bnu kaʿb īuṣalwī wahum īuṣalwūna biṣalātihi faqāla al-nwabīwu ṣalwai al-lhu ʿalaīhi wasalwama āṣābuwā waniʿma mā ṣanaʿuwā

Artinya:

“Dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anh, beliau berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dan melihat banyak orang yang melakukan shalat di bulan Ramadhan (tarawih) di sudut masjid. Beliau bertanya, ‘Siapa mereka?’ Kemudian dijawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak mempunyai Al-Qur’an (tidak bisa menghafal atau tidak hafal Al-Qur’an). Dan sahabat Ubay bin Ka’ab pun shalat mengimami mereka, lalu Nabi berkata, ‘Mereka itu benar, dan sebaik-baik perbuatan adalah yang mereka lakukan,” (HR. Abu Dawud).

Dari kedua hadis di atas, bisa disimpulkan bahwa Umar bin Khattab merupakan orang pertama yang berhasil mengumpulkan sahabat Nabi untuk mengerjakan shalat Tarawih secara berjamaah.

Hadis tentang Jumlah Rakaah di Masa Umar bin Khattab

Adapun jumlah rakaat yang dikerjakan dalam shalat Tarawih di masa Umar bin Khattab adalah 20 rakaat. Hal ini juga tercantum pada salah satu hadis riwayat Malik yang berbunyi:

عَن يَزِيدَ بنِ رُومَانَ قَالَ: كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَنِ عُمَرَرضي الله عنه فِي رَمَضَانَ بِثَلاَث وَعِشرِينَ رَكعَة

ʿan īazīda bni rūmāna qāla: kāna al-nwāsu īaqūmūna fī zamani ʿumararḍī al-lh ʿnh fī ramaḍāna biṯalāaṯ waʿišrīna rakʿaẗ

Artinya:

“Dari Yazid bin Ruman telah berkata, ‘Manusia senantiasa melaksanakan shalat pada masa Umar radliyallahu ‘anh di bulan Ramadhan sebanyak 23 rakaat (20 rakaat tarawih, disambung 3 rakaat witir),” (HR. Malik).

Tidak heran jika sampai saat ini shalat Tarawih dikerjakan sebanyak 20 rakaat. Aturan 20 rakaat yang ditetapkan oleh Umar bin Khattab ini pun juga diaplikasikan oleh para sahabat Nabi lainnya dan juga oleh Sayyidahh Aisyah yang memperkuat ijma’ tersebut.

Nabi Membenarkan yang Dilakukan Umar

Tidak hanya itu, atas usaha dari Umar bin Khattab ini pula akhirnya Nabi Muhammad saw. juga ikut membenarkan tindakan Umar yang juga disebutkan dalam HR. Tirmidzi:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ قَالَ إِنَّ اللهَ جَعَلَ الحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ وَقَلبِهِ

ānwa rasūla al-lhi qāla īnwa al-lha ǧaʿala al-ḥaqwa ʿalai lisāni ʿumara waqalbihi

Artinya:

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan kebenaran melalui lisan dan hati Umar.” (HR. Turmudzi).

sholat Tarawih dan Witir

Sebelumnya sempat disebutkan bahwa shalat Tarawih dilakukan setelah shalat Isya’ dan sebelum menunaikan shalat witir. Bahkan, kebiasaan mendirikan shalat Tarawih dan witir setelah shalat Isya’ di bulan Ramadhan ini telah lama dilakukan oleh banyak umat muslim di Indonesia.

Kendati shalat-shalat tersebut lebih dianjurkan dilakukan dengan cara berjamaah tetapi bagi orang-orang yang melakukannya secara munfarid atau sendirian di rumah juga diperbolehkan.

Lebih lanjut, setelah mengerjakan shalat Tarawih umat muslim di Indonesia terbiasa mengucapkan doa khusus yang juga disebut dengan nama Doa Kamilin.

Doa satu ini dilakukan dengan tujuan untuk memohon kesempurnaan iman kepada Allah Swt. Adapun bunyi dari Doa Kamilin bisa kamu simak di poin pembahasan berikutnya.

Tata Cara sholat Tarawih

Seperti shalat-shalat sunah dan wajib yang ada di dalam agama Islam, shalat Tarawih juga memiliki tata cara tersendiri. Kali ini, Hasana.id akan membagikan tata cara shalat Tarawih menurut mazhab Imam Syafi’I:

  1. Membaca niat shalat Tarawih
  2. Mengucapkan niat shalat di dalam hati saat takbiratul ihram
  3. Membaca ta’awudz dan surat Al-Fatihah
  4. Setelah menyelesaikan surat Al-Fatihah dianjurkan untuk membaca satu surat pendek yang ada di Al-Quran
  5. Ruku’
  6. I’tidal
  7. Melakukan sujud pertama
  8. Duduk di antara dua sujud
  9. Sujud kedua
  10. Duduk sejenak sebelum melakukan rakaat kedua
  11. Melakukan rakaat kedua seperti rakaat pertama tetapi setelah sujud kedua melakukan duduk tasyahud akhir
  12. Mengucap salam di akhir duduk tashayud akhir
  13. Mengucap istighfar
  14. Membaca Doa Kamilin

Niat sholat Tarawih

sholat Tarawih sendiri terbagi menjadi dua berdasarkan tata cara pelaksanaannya. Adapun niat bagi kamu yang ingin mengerjakan shalat Tarawih berjamaah di masjid adalah sebagai imam:

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيحِ رَكعَتَينِ مُستَقبِلَ القِبلَةِ أَدَاء إِمَاما ِللهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatat tarāwīhi rak‘atayni mustaqbilal qiblati adā’an imāman lillāhi ta‘ālā.

Arinya:

“Aku menyengaja sembahyang sunnah tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai imam karena Allah Swt.”

Niat shalat Tarawih sebagai makmum:

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيحِ رَكعَتَينِ مُستَقبِلَ القِبلَةِ أَدَاء مَأمُوما لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatat tarāwīhi rak‘atayni mustaqbilal qiblati adā’an ma’mūman lillāhi ta‘ālā.

Artinya:

Aku menyengaja sembahyang sunnah tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai makmum karena Allah Swt.”

Sedangkan bacaan niat shalat Tarawih sendirian atau secara munfarid berbunyi:

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيحِ رَكعَتَينِ مُستَقبِلَ القِبلَةِ أَدَاء لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatat tarāwīhi rak‘atayni mustaqbilal qiblati adā’an lillāhi ta‘ālā.

Artinya:

“Aku menyengaja sembahyang sunnah tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai karena Allah Swt.”

Bacaan Bilal dan Jawabannya Saat sholat Tarawih

Jika kamu pernah mengamati, di antara shalat Tarawih pertama, kedua dan seterusnya pasti akan terdengar seruan bilal. Bahkan, setelah seruan tersebut jamaah shalat Tarawih pun juga memberikan jawaban. Nah, kira-kira apa sih bacaan dan tujuan dari hal tersebut?

Ternyata, seruan bilal setelah mengerjakan dua rakaat shalat tersebut adalah shalat salam kepada Nabi Muhammad saw. Alasan mengucapkan seruan dan menjawabnya adalah sebagai bentuk doa kepada Allah Swt. atas Nabi Muhammad saw.

Tidak hanya itu saja, seruan dan jawaban di sela-sela shalat Tarawih juga terdiri dari taradhdhi yang diucapkan untuk mendoakan empat pemimpin pengganti Nabi Muhammad saw.

Selain bertujuan untuk mendoakan Nabi Muhammad saw. dan keempat khalifah yang ada setelah beliau memimpin, doa-doa tersebut juga digunakan sebagai:

  1. Penentu atau jeda dari shalat Tarawih satu ke shalat Tarawih selanjutnya. Apalagi bagi yang beum terbiasa mengerjakan shalat Tarawih 20 rakaat kerap dibingungkan atas jumlah rakaat yang telah ia kerjakan tadi.
  2. Menjadi waktu istirahat bagi jamaah. Seruan dari bilal setelah menyelesaikan satu shalat Tarawih juga menjadi waktu istirahat bagi para jamaah. Hal ini juga tertera dalam salah satu hadis riwayat yang berbunyi:

وسميت تراويح؛ لأنهم لطول قيامهم كانوا يستريحون بعد كل تسليمتين

ūsmīt trāwyḥ; lʾanhm lṭūl qīāmhm kānwā īstrīḥūn bʿd kl tslīmtīn

Artinya:

“Dan disebut tarawih, karena mereka beristirahat setiap dua kali salam, sebab lamanya berdiri. Mereka beristirahat setelah tiap dua salam (empat rakaat),” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 2, hal. 241).

  1. Menjadikan jamaah lebih khusyuk dalam beribadah. Jumlah rakaat yang cukup banyak kerap kali membuat jamaah shalat Tarawih bingung sembari menghitung rakaat yang telah diselesaikannya. Tentu saja hal ini membuat ibadah shalat Tarawih kurang sempurna.

Doa Kamilin, Doa Setelah sholat Tarawih

Bulan Ramadhan memang dianggap sebagai salah satu bulan yang paling diberkahi oleh Allah Swt. Tidak heran jika sedari dulu umat Islam telah dianjurkan untuk memperbanyak doa dan melakukan amalan baik saat bulan Ramadhan tiba. Salah satu doa yang bisa kamu panjatkan adalah Doa Kamilin.

Doa Kamilin merupakan doa khusus yang biasa diucapkan para ulama di Indonesia setelah mengerjakan shalat Tarawih. Tidak hanya sebagai bentuk permohonan kepada Allah Swt., Doa Kamilin juga sebagai bentuk kerendahan hati seorang hamba-Nya. Adapun bunyi dari Doa Kamilin sendiri adalah:

اَللهُمَّ اجعَلنَا بِالإِيمَانِ كَامِلِينَ. وَلِلفَرَائِضِ مُؤَدِّينَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِينَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِينَ. وَلِمَا عِندَكَ طَالِبِينَ. وَلِعَفوِكَ رَاجِينَ. وَبِالهُدَى مُتَمَسِّكِينَ. وَعَنِ الَّلغوِ مُعرِضِينَ. وَفِى الدُّنيَا زَاهِدِينَ. وَفِى الآخِرَةِ رَاغِبِينَ. وَبَالقَضَاءِ رَاضِينَ. وَلِلنَّعمَاءِ شَاكِرِينَ. وَعَلَى البَلاَءِ صَابِرِينَ. وَتَحتَ لِوَاءِ مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَومَ القِيَامَةِ سَائِرِينَ وَعَلَى الحَوضِ وَارِدِينَ. وَإِلَى الجَنَّةِ دَاخِلِينَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِينَ. وَعَلى سَرِيرِالكَرَامَةِ قَاعِدِينَ. وَبِحُورعِين مُتَزَوِّجِينَ. وَمِن سُندُس وَاِستَبرَق وَدِيبَاج مُتَلَبِّسِينَ. وَمِن طَعَامِ الجَنَّةِ آكِلِينَ. وَمِن لَبَن وَعَسَل مُصَفّى شَارِبِينَ. بِأَكوَاب وَّأَبَارِيقَ وَكَأس مِّن مَعِين. مَعَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِم مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيقا. ذلِكَ الفَضلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيما. اَللهُمَّ اجعَلنَا فِى هذِهِ اللَّيلَةِ الشَّهرِالشَّرِيفَةِ المُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ المَقبُولِينَ. وَلاَتَجعَلنَا مِنَ الأَشقِيَاءِ المَردُودِينَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد وَآلِه وَصَحبِه أَجمَعِينَ. بِرَحمَتِكَ يَاأَرحَمَ الرَّاحِمِينَ وَالحَمدُ لِلّهِ رَبِّ العَالَمِينَ

Allâhummaj‘alnâ bil îmâni kâmilîn. Wa lil farâidli muaddîn. Wa lish-shlâti hâfidhîn. Wa liz-zakâti fâ‘ilîn. Wa lima ‘indaka thâlibîn. Wa li ‘afwika râjîn. Wa bil-hudâ mutamassikîn. Wa ‘anil laghwi mu‘ridlîn. Wa fid-dunyâ zâhdîn. Wa fil ‘âkhirati râghibîn. Wa bil-qadlâ’I râdlîn. Wa lin na‘mâ’I syâkirîn. Wa ‘alal balâ’i shâbirîn. Wa tahta liwâ’i muhammadin shallallâhu ‘alaihi wasallam yaumal qiyâmati sâ’irîna wa alal haudli wâridîn. Wa ilal jannati dâkhilîn. Wa minan nâri nâjîn. Wa ‘alâ sariirl karâmati qâ’idîn. Wa bi hûrun ‘in mutazawwijîn. Wa min sundusin wa istabraqîn wadîbâjin mutalabbisîn. Wa min tha‘âmil jannati âkilîn. Wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syâribîn. Bi akwâbin wa abârîqa wa ka‘sin min ma‘în. Ma‘al ladzîna an‘amta ‘alaihim minan nabiyyîna wash shiddîqîna wasy syuhadâ’i wash shâlihîna wa hasuna ulâ’ika rafîqan. Dâlikal fadl-lu minallâhi wa kafâ billâhi ‘alîman. Allâhummaj‘alnâ fî hâdzihil lailatisy syahrisy syarîfail mubârakah minas su‘adâ’il maqbûlîn. Wa lâ taj‘alnâ minal asyqiyâ’il mardûdîn. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma‘în. Birahmatika yâ arhamar râhimîn wal hamdulillâhi rabbil ‘âlamîn.

Artinya:

“Yaa Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban-kewajiban, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang ridha dengan qadla-Mu (ketentuan-Mu), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka, yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan shahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (Lihat Sayyid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta).

Lebih lanjut, ternyata Doa Kamilin ini juga tercantum dalam kitab-kitab doa ulama di Indonesia salah satunya adalah kitab Majmu’ah Maqruat Yaumiyah wa Usbu’iyyah yang merupakan karya dari KH Muhammad bin Abdullah Faqih.

KH Muhammad bin Abdullah Faqih merupakan pengasuh dari Pondok Pesantren Langitan yang ada di Tuban. Dalam kitab tersebut juga disebutkan bahwa doa-doa di dalamnya merupakan hasil ijazah dari Kiai Langitan, Kiai Lasem, Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki serta Syekh Yasin bin Isa al-Fadani.

Keutamaan Mendirikan sholat Tarawih

sholat Tarawih yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan di bulan Ramadhan ini memiliki banyak keutamaan. Adapun keutamaan yang akan diperoleh oleh orang-orang yang mengerjakan shalat Tarawih, antara lain:

Diampuni Dosa-Dosanya

Salah satu keutamaan bagi yang mengerjakan shalat Tarawih di malam bulan Ramadhan adlaah mendapat ampunan atas dosa-dosanya. Hal ini juga tercantum dalam salah sat hadis riwayat yang berbunyi:

مَن قَامَ رَمَضَانَ إيمَانا وَاحتِسَابا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِهِ

man qāma ramaḍāna īmānnā wāḥtisābbā ġufira lahu mā taqadwama min ḏanbihi

Artinya:

“Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau” (HR. al-Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Terkait dengan hadis yang ada di atas, An Nawawi menjelaskan bahwa Allah Swt. akan mengampuni segala dosa, baik yang kecil atau pun besar bagi siapa saja yang menunaikan shalat Tarawih.

Tidak heran jika saat bulan Ramadhan tiba, masjid selalu terlihat penuh oleh para hamba-Nya yang berlomba-lomba memperbanyak pahala sekaligus memohon ampunan kepada Allah Swt. Bahkan, kerap kali terlihat jamaah masjid sampai meluber hingga keluar dari bangunan masjid itu sendiri.

Pahalanya Sepadan dengan QIyamul Lail Semalam Penuh

Seperti yang telah diketahui, shalat Tarawih dianjurkan dikerjakan secara berjamaah di masjid. Aturna satu ini tidak hanya dilandasi oleh aturan yang ditetapkan oleh Umar bin Khattab saja, tetapi Allah ternyata juga menjanjikan pahala berlimpah bagi umat-Nya yang mengerjakan shalat Tarawih berjamaah.

Bahkan, shalat Tarawih yang dilakukan berjamaah dengan imam shalat akan mendapatkan pahala yang setara dengan qiyam selama semalam penuh.

Selain itu, mengerjakan Tarawih berjamaah juga mendapatkan keutamaan yang 27 derajat lebih tinggi dari mengerjakan Tarawih secara munfarid atau sendirian.

Meningkatkan Silaturahmi Antar Umat

sholat Tarawih yang dikerjakan secara berjamaah juga dapat mempererat tali silaturahmi antar umat muslim. Hal ini disebabkan karena kamu akan bertemu dengan banyak umat muslim lainnya yang juga akan mengikuti shalat Tarawih secara berjamaah.

Tak hanya itu saja, mengerjakan shalat Tarawih di rumah juga dapat meningkatkan ukhuwah islamiyah.

Menenangkan Jiwa

Salah satu keutamaan dari mengerjakan shalat Tarawih adalah mendapatkan jiwa yang tenang. Apalagi sempat disebutkan bahwa shalat merupakan obat hati dan jiwa. Tidak heran orang yang mengerjakan shalat, baik shalat wajib dan shalat sunah akan terlihat lebih tenang dan damai.

Menyehatkan Tulang dan Persendian

Banyak orang yang masih belum mengetahui keutamaan mengerjakan shalat Tarawih. Siapa yang menyangka jika shalat yang dilakukan di malam bulan Ramadhan ini juga dapat menyehatkan tulang dan persendian. Hal ini rupanya berkaitan dengan gerakan shalat yang dilakukan secara terus-menerus dalam satu waktu.

Apalagi gerakan shalat yang diawali dengan berdiri, ruku’, sujud dan berdiri lagi sangat baik untuk melatih kekuatan tulang dan persendian. Tidak heran jika banyak orang tua yang masih bersemangat mengikuti shalat Tarawih selain bertujuan untuk mendapatkan pahala dan berkah Ramadhan.

Meningkatkan Fungsi Otak

Selain menjaga kesehatan tulang dan sendi, melaksanakan shalat Tarawih dengan jumlah rakaat yang cukup banyak ternyata juga memberikan dampak bagi otak.

Gerakan sujud dalam shalat Tarawih dipercaya dapat meningkatkan asupan darah yang membawa oksigen ke otak. Meningkatnya kadar oksigen dalam darah, terutama dalam otak aka mengoptimalkan kerja otak sekaligus saraf-saraf yang ada di otak.

Menghilangkan Stress

Keutamaan lain yang bisa kamu dapatkan dari shalat Tarawih adalah menghilangkan stress. Saat seseorang mengerjakan shalat, secara otomatis tubuh akan melepaskan senyawa kimia yang berfungsi untuk meredakan stress.

Hal ini juga diperkuat oleh pendapat dari Dr. Loretta G. Breuning, pendiri dari Inner Mammal Institue sekaligus penulis dari The Science of Positivity.

Dr. Loretta menyebutkan bahwa pada saat orang sedang bersembahyang (shalat) maka secara otomatis tubuhnya akan melepaskan hormon oksitosin yang membuat tubuh dan pikiran merasa lebih lega. Tidak heran jika hal ini juga dapat menghilangkan stress.

Nah, setelah membaca perihal shalat Tarawih di atas, semoga kamu dapat memahami dan mengamalkan apa saja yang harus dilakukan saat shalat Tarawih, ya!

Selain itu, di masa pandemi seperti sekarang, tidak ada salahnya untuk melaksanakan shalat Tarawih di rumah demi meminimalisir penyebaran virus Covid-19.

Source:

https://islam.nu.or.id/post/read/38921/sejarah-hukum-dan-praktik-Tarawih

https://islam.nu.or.id/post/read/105857/tata-cara-shalat-Tarawih-sendiri

https://islam.nu.or.id/post/read/90694/mengapa-jumlah-rakaat-Tarawih-berbeda-beda-ini-penjelasannya

https://islam.nu.or.id/post/read/68880/doa-kamilin-dibaca-sesudah-shalat-Tarawih

https://islam.nu.or.id/post/read/52918/bacaan-bilal-dan-jawabannya-dalam-Tarawih

https://www.brilio.net/wow/keutamaan-sholat-Tarawih-di-bulan-ramadhan-beserta-dalilnya-2004243.html

https://www.nbcnews.com/better/health/your-brain-prayer-meditation-ncna812376

 

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p

close-link
Chat Admin..
1
3 Ebook Islami GRATIS!
3 Ebook Islami GRATIS!
1. 100 tanya jawab edisi 2
2. 100 kata-kata inspirasi edisi 1
3. Tata cara Sholat Hajat

Mau? Klik "Chat Admin" sekarang!