Puasa Asyura: Hukum, Niat, Dalil, DLL [LENGKAP]

Bulan Muharram termasuk dalam bulan yang sangat agung dari 12 bulan dalam islam. Bulan ini terjadi banyak peristiwa besar baik pada periode umat sebelum nabi Muhammad Saw ataupun sesudah itu.

Melaksanakan puasa di bulan pertama dalam kalender Hijriyah ini memiliki keutamaan dan pahala luar biasa di sisi Allah SWT.

Puasa asyura adalah puasa yang termasuk dalam deretan puasa yang statusnya sunat muakkad. Keutamaan puasa ini tentu sangat banyak, bahkan ada sebagian ulama yang menulis tentang keutamaan puasa ini menjadi sebuah buku.

Lalu apa saja yang perlu kita ketahui tentang puasa asyura ini? keutamaan dan faedah-faedah apakah yang terkandung di dalam puasa Asyura ini?

Adakah dalil yang menjelaskan tentang ini? Lalu niat dan tatacara nya bagaimana? Apakah sama dengan puasa-puasa yang lain? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang masih ambigu dan samar tentang ini?

Maka dari itu hasana.id akan sedikit menjelaskan tentang apa saja yang perlu kita pahami mengenai ini, secara ringkas akan kita bagi kedalam beberapa point seperti yang tersebut di bawah ini:

  1. apa itu puasa asyura
  2. hukum puasa asyura
  3. dalil puasa asyura
  4. niat puasa asyura
  5. tata cara puasa asyura
  6. hikmah puasa asyura
  7. puasa asyura dan puasa tasu’a

Langsung saja akan kita bahas satu persatu point di atas dengan lebih gamblang dan jelas

Apa itu puasa Asyura

Akhir dari kehidupan yang baik adalah keluar dari dunia dengan memperoleh titel takwa, inilah hal yang sangat di idam-idamkan oleh setiap mukmin. Bertakwa artinya mendedikasikan segala kehidupan kita terus dalam mujahadah dan ubudiah kepada-Nya.

Salah satu ibadah yang sangat agung martabatnya dan sangat banyak keutamaannya adalah puasa.

Bulan Muharram adalah bulan yang sangat diagunggkan dan mendapat gelar syahrullah atau bulan Allah, dalam bulan ini berbagai amalan dan ibadah dianjurkan, termasuk dalamnya yaitu puasa, atau yang lebih kita kenal puasa asyura.

Puasa asyura adalah puasa yang disunnahkan pada bulan Muharram tepatnya pada hari ke 10 hijriah dari bulan tersebut. Puasa ini sudah sangat masyhur dan familiar pada kalangan umat islam di seluruh penjuru dunia.

Karena fadhilah yang terkandung di dalamnya membuat semua orang menyesal jika tidak sempat berpuasa.

Secara etimologi asyura berasal dari bahasa arab yang berarti sepuluh, sedangkan secara istilah asyura identik dengan sepuluh Muharram.

Asyura diistilahkan hanya pada sepuluh Muharram tidak pada bulan-bulan yang lain karena pada 10 bulan Muharram sangat banyak terjadi peristiwa-peristiwa penting yang sangat patut untuk kita peringati bersama.

Namun puasa pada 10 muharram ini tidak hanya dilakukan oleh orang islam saja, orang-orang Yahudi pun merayakan ritual ini.

Alasan mereka berpuasa adalah karena pada hari ini lah Allah menyelamatkan Nabi Musa as dari kejaran Firaun dan menenggelamkannya di laut merah. Atas hal ini lah maka orang yahudi turut merayakan puasa ini.

Filosofi dari puasa asyura sudah sejak lama sudah ada, bahkan amalan berpuasa asyura ini telah lebih dulu ada dari pada puasa Ramadhan. Namun amalan ini dahulu hanya terkusus kepada Rasulullah Saw saja tidak pada yag lain.

Sebenarnya Rasulullah Saw telah berpuasa asyura sejak berada di Mekkah namun tidak memerintahkan kepada umatnya untuk berpuasa, beliau hanya berpuasa untuk dirinya.

Baru ketika beliau hijrah ke Madinah dan melihat orang Yahudi yang berpuasa, Rasulullah Saw memerintahkan umatnya untuk juga berpuasa.

Ketika Rasulullah saw melihat orang yahudi berpuasa lalu bertannya pada mereka, mengapa kalian berpuasa pada hari ini? Mereka menjawab karena pada hari ini Allah Swt telah menyelamatkan nabi Musa dari kejaran firaun dan menengelamkannya.

Maka rasulullah menjawab kami lebih berhak untuk nabi Musa ketimbang kalian, lalu Rasulullah berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada hari tersebut yag dikenal dengan puasa asyura.

Hukum Puasa Asyura

Salah satu dari bentuk dedikasi kita adalah menjalankan perintah-Nya tanpa melihat status perintah tersebut apakah wajib ataupun sunat. Ibadah yang tidak melihat status dari ibadah tersebut akan mampu membuat kita lebih sempurna dalam tingkat kedekatan dengan Allah

Ada banyak hadits dan pendapat dari para ulama mengenai hukum dari puasa ini. Yang pasti semuanya sepakat kalau puasa asyura ini hukumnya sunah yang mendapat pahala yang besar bagi dia yang mau berpuasa pada hari tersebut.

Kesunahan puasa ini terdapat dalam hadits yang Rasulullah sabdakan. Artinya puasa ini tidak menyebabkan berdosa jika kita tidak sempat berpuasa atau dalam keadaan tidak mampu, baik itu karena sakit ataupun karena halangan yang lain.

Dalam kitab nihayatuz zain bahkan ada satu pembahsan tentang puasa asyura. Berikut penulis nukil sedikit redaksi yang ada dalam kitab tersebut.

فصل فِي صَوْم التَّطَوُّع

(و) الثَّانِي صَوْم يَوْم (عَاشُورَاء) وَهُوَ عَاشر الْمحرم لِأَنَّهُ صلى الله عَلَيْهِ وَسلم سُئِلَ عَنهُ فَقَالَ يكفر السّنة الْمَاضِيَة  وَإِنَّمَا كَانَ صَوْم عَرَفَة بِسنتَيْنِ وعاشوراء بِسنة لِأَن الأول يَوْم نَبينَا صلى الله عَلَيْهِ وَسلم وَالثَّانِي يَوْم غَيره من الْأَنْبِيَاء وَنَبِينَا صلى الله عَلَيْهِ وَسلم أفضل الْأَنْبِيَاء فَكَانَ يَوْمه بِسنتَيْنِ وَلِأَن المزية لَا تَقْتَضِي الْفَضِيلَة

Latin: fashlun fii shaumith tathawwu’i

Wa tsaanii shauma yaumi ‘aasyuraa’a wahua ‘aasyirul muharrami liannahu shallallaahu ‘alaihi wasallam suila ‘anhu faqaala yukaffirus sanatal maadhiyata wainnama kaana shauma ‘arafata bisanataini wa ‘aasyuraaa bisanatin liannal awwala yauma nabiyyina shallallahu ‘alaihi wasallam wa tsaani yaumu ghairihi minal ambiyaa’I wanabiyyuna shallallahu ‘alaihi wasallam afdhalul ambiyaa’i fakaana yaumuhu bisanataini waliannal maziyyata la taqtadhil fadhiilata.

Artinya: pasal pada pembahasan puasa sunat

Yang kedua adalah puasa asyura yaitu puasa pada hari kesepuluh muharram, karena Rasulullah saw pernah ditanya perihal puasa ini, maka rasulullah Saw bersabda bahwa puasa asyura dapat menjadi tebusan (dosa) setahun yang lalu. Dan hanya sanya puasa arafah menjadi penebus dosa dua tahun (satu tahun yag lalu dan satu tahun yang akan datang) sedangkan asyura hanya menjadi tebusan (dosa) bagi satu tahun saja karena yang pertama (puasa arafah) adalah puasa yang dinisbahkan kepada Rasulullah saw, sedangkan puasa asyura adalah puasa yang dinisbahkan kepada para nabi selain Nabi Muhammad saw. Dan tentu saja Nabi Muhammad Saw lebih diunggulkan dari pada nabi-nabi yang lain. Maka puasa yang penisbatan nya kepada Rasulullah menjadi kafarat dua tahun. dan juga kenapa puasa ‘arafah mengandung nilai lebih berbanding puasa ‘asyura yang padahal notabene puasa ‘asyura memiliki beberapa kelebihan dan keunggulan menyangkut kisah para Nabi) karena keunggulan (pada diri para Nabi) tidakberindikasi dan menuntut (berimplikasi) kepada kefadlilahan (yang bisa mengalahkan kefadlihan Nabi Muhammad SAW)

Dalil Puasa Asyura

Berpuasa merupakan salah satu amalan yang paling disunnahkan untuk dilakukan dalam islam. Salah satu waktu yang paling baik untuk dilakukan adalah berpuasa di bulan Muharram.

Ada sebuah tuduhan yang sebenarnya tidak mendasar yang dialamatkan kepada umat islam.

Mereka mengatakan bahwa orang-orang yang berpuasa asyura adalah orang yang melestarikan tradisi jahiliyah, karena dilihat baik untuk dilestarikan maka umat islam melanjutkan tradisi tersebut. Tuduhan yang semacam ini tentu sangat buruk dan keji.

Tentu saja tuduhan itu tidak benar, karena sangat banyak hadits-hadits yang menyebutkan tentang anjuran puasa ini, juga kualitas hadits yang kuat dan ditasheh oleh pakar-pakar hadits yang masyhur.

Untuk menolak tuduhan yang seperti itu, maka di sini akan kita uraikan mengenai dalil anjuran dan fadhilah yang terkandung di dalamnya.

Diantaranya adalah hadits riwayat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِينَةَ فَرَأَى اليَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: مَا هَذَا؟، قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى الله بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى، قَالَ: «فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ»، فَصَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Artinya: Nabi shallallalhu ‘alaihi wa salam datang ke Madinah, maka beliau melihat orang-orang Yahudi yang melaksanakan puasa hari ‘Asyura. Rasulullah Saw bertanya kepada mereka: “apa yang kalian lakukan?” Mereka menjawab, “Ini adalah hari yang baik. Karena pada hari ini Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka. Maka pada hari ini Nabi Musa berpuasa.” Nabi shallallalhu ‘alaihi wa salam bersabda, “Aku lebih layak dengan nabi Musa dibandingkan dengan kalian.”Maka Rasulullah pun berpuasa ‘Asyura dan juga memerintahkan para shahabat untuk berpuasa ‘Asyura.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
dari hadits ini jelas menyebutkan bahwa Rasulullah Saw memerintahkan para sahabat untuk berpuasa, artinya puasa ‘asyura adalah perintah langsung dari Rauslullah Saw, bukan puasa tradisi jahiliyah itu.

Juga hadits yang lain seprti hadits riwayat sayyidina Aisyah radhiyallahu anha

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ صَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

Artinya: Orang-orang dari kaum musyrik Quraisy melaksanakan tradisi puasa pada hari ‘Asyura sejak zaman jahiliyah. Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam juga melaksanakan puasa ‘Asyura. Pada saat Rasulullah Saw tiba di Madinah, maka Rasulullah berpuasa ‘Asyura disamping juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa. Kemudian ketika puasa Ramadhan Allah wajibkan, Rasulullah meninggalkan puasa hari ‘Asyura. Maka siapa saja yang ingin berpuasa, dia boleh berpuasa ‘Asyura. Dan siapa saja ingin meninggalkannya, dia boleh tidak berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim).
hadits ini menjadi dalil kepada tidak wajibnya puasa ‘asyura kepada umat Rasulullah Saw, dan sekaligus menjdadi lebih ringan perbuatan ini, karena seandainya Rasulullah Saw senantiasa mengerjakan puasa ‘asyura maka dikhawatirkan umat akan menganggap  bahwa puasa  ini statusnnya memang wajib untuk dilakukan.

Satu lagi hadits riwayat muslim yang kita kutip disini sebagai dalil bagi kesunnahan puasa ‘asyura yaitu

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Artinya: Nabi SAW ditanya persoalan keutamaan akan ibadah puasa Arafah? Rasulullah menjawab, ”bahwa puasa Arafah dapat menghapus dosa (menjadi kafarat) setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Rasulullah juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”bahwa puasa ’Asyura dapat menghapus dosa (menjadi kafarat) setahun yang lalu.” [HR Muslim]

Hadits ini lebih menekankan akan keutamaan yang dikandung dalam puasa asyura, dan juga kita telah sama sama memaklumi bahwa yang dimaksud dapat menghapus dosa adalah dosa yang kaitan dan hubungannya dengan Allah.

Adapun dosa yang terikat dengan manusia tidak akan terhapus sampai orang tersebut memaafkan kesalahan kita.

Niat Puasa Asyura

Sebagaimana ibadah-ibadah yang lain, ibadah puasa asyura juga disyaratkan untuk termaktub niat di dalamnya, niat menjadi faktor sekaligus komponen utama dalam ibadah.

Tanpa niat ibadah hanya akan menjadi sebuah seremonial belaka. Karena hanya dengan niat lah yang akan menjadi pembeda antara ibadah dengan bukan.

Begitu juga dengan puasa, perebdaan antara puasa dengan orang yang menahan lapar terletak pada niat, jika seseorang berniat puasa ketika menahan lapar maka dia akan mendapat pahala, namun jika dia tidak berniat maka yang dia dapat hanya lapar saja.

Maka dari itu perlu untuk kita ketahui bersama ucapan niat puasa asyura yang baik dan benar, insyaallah dengan mengetahui lafadz niat yang benar Allah Swt akan menerima ibadah puasa kita semua amiin .

Adapun lafdz niat puasa asyura adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati asyura lillahi ta‘ala

Artinya: Aku berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah SWT

Tata Cara Puasa Asyura

Sama seperti puasa yang lain, puasa asyura juga seperti itu. Tata caranya juga sama yaitu menahan lapar dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan ketentuan-ketentuan yang disebutkan dalam pembahasan puasa yang tidak bisa kita jelaskan di sini.

Namun karena status puasa ini hukumnya adalah sunat, maka ketentuan niat puasa ini boleh saja diniat setelah fajar sampai tergelincir matahari, selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa seperti jimak, makan, minum dan lain sebagainya.

Sedangkan mengenai cara berpuasa, rukun puasa, yang membatalkan puasa dan hal-hal yang lain juga masih sama dengan puasa wajib dan puas sunat yang lain.

Hikmah Puasa Asyura

Banyak hikmah yang dikandung dalam puasa asyura ini, namun yang pasti pensyariatan suatu ibadah kepada hamba tidak luput dari yang namanya hikmah, meski kita tidak tau apa hikmah yang terdapat dibalik ibadah tersebut, begitu juga dengan puasa asyura.

Diantara hikmah nya adalah..

Diampunkan dosa satu tahun yang lalu

Seperti sabda Rasulullah saw

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Artinya: Nabi SAW ditanya persoalan keutamaan akan ibadah puasa Arafah? Rasulullah menjawab, ”bahwa puasa Arafah dapat menghapus dosa (menjadi kafarat) setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Rasulullah juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”bahwa puasa ’Asyura dapat menghapus dosa (menjadi kafarat) setahun yang lalu.” [HR Muslim]

Puasa paling baik dan utama setelah puasa Ramadhan

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

Artinya: puasa paling baik setelah puasa ramadhan adalah puasa di bulan Allah yakni Muharram

Rasulullah sengaja berpuasa untuk puasa asyura

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ

Artinya: tidak pernah aku lihat Rasulullah Saw menyegajakan puasa pada hari yang beliau lebihkan dengan hari yang lain kecuali puasa ini hari yaitu hari asyura, dan ini bulan yaitu bulan ramadhan

Puasa Asyura dan Puasa Tasu’a

Sebagaimana yang kita sebutkan di atas bahwa ada tuduhan yang digentorkan perihal puasa asyura ini, mereka mengatakan puasa asyura adalah tradisi yahudi yang dilestarikan dalam islam.

Maka untuk membedakan dengan ibadah yahudi yang juga berpuasa pada hari ini (10 muharram) maka terhadap kita orang islam disunatkan juga untuk berpuasa sebelum hari asyura, yaitu puasa pada hari 9 muharam.

Puasa pada hari 9 muharram disebut dengan puasa tasu’a. hukum puasa ini juga sunat sebagaimana yang disebut dalam kitab Nihayatuz zain

(و) الثَّالِث صَوْم يَوْم (تاسوعاء) وَهُوَ تَاسِع الْمحرم لِأَنَّهُ صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قَالَ لَئِن عِشْت إِلَى قَابل لأصومن التَّاسِع والعاشر فَقبض صلى الله عَلَيْهِ وَسلم من عَامه

Dan yang ke tiga adalah puasa hari TASU’A, yaitu hari ke Sembilan dari bulan Muharram atau satu hari sebelum puasa asyura. Rasulullah Saw bersabda: “seandainya aku (masih) hidup pada tahun depan, sungguh aku pasti akan melaksanakan puasa pada hari ke 9 dan ke 10 (dari bulan Muharram)”. (namun) beliau wafat sebelum sampai tahun depan.

Maka dari itu sangat dianjurkan bagi kita yang berpuasa asyura untuk mengerjakan puasa tasu’a juga, karena disamping untuk membedakan dengan puasa orang jahiliyah juga karena Rasulullah menganjurkan untuk puasa ini.

Penutup

Dalam bulan Muharram sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah karena dalam bulan ini terjadi banyak peristiwa-peristiwa besar di dunia, salah satu ibadah yang sangat baik untuk dikerjakan adalah berpuasa.

Ada dua puasa yang diperintahkan dalam bulan Muharram yaitu puasa tasu’a (puasa pada 9 Muharram) dan puasa ‘asyura (puasa pada 10 Muharram).

Banyak hadits dan juga kalam ulama mengenai keutamaan puasa tasu’a dan asyura ini, sebagaimana yang telah kita uraikan diatas.

Semoga sebagaimana Allah telah menyelamatkan nabi Musa pada hari ini (‘asyura) Allah juga menyelamatkan kita semua dari fitnah dunia, fitnah kubur, dan siksa neraka dan mendapatkan ridha-Nya dengan keberkatan puasa Asyura dan tasu’a. amiin ya rabal Alamin

 

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p