Puasa Arafah: Hukum, Dalil, Niat, DLL [PENJELASAN LENGKAP]

إِنَّ ٱلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَٰتِ وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ وَٱلْقَٰنِتِينَ وَٱلْقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلْخَٰشِعِينَ وَٱلْخَٰشِعَٰتِ وَٱلْمُتَصَدِّقِينَ وَٱلْمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلْحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَٱلْحَٰفِظَٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرًا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Arab-Latin: Innal-muslimīna wal-muslimāti wal-mu`minīna wal-mu`mināti wal-qānitīna wal-qānitāti waṣ-ṣādiqīna waṣ-ṣādiqāti waṣ-ṣābirīna waṣ-ṣābirāti wal-khāsyi’īna wal-khāsyi’āti wal-mutaṣaddiqīna wal-mutaṣaddiqāti waṣ-ṣā`imīna waṣ-ṣā`imāti wal-ḥāfiẓīna furụjahum wal-ḥāfiẓāti waż-żākirīnallāha kaṡīraw waż-żākirāti a’addallāhu lahum magfirataw wa ajran ‘aẓīmā

Arti: Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (Q.S Al Ahzab ayat 35)

Dalam ayat ini Allah menjanjikan keampunan bagi mereka yang beramal baik dan menjauhi larangan. Termasuk dalam amal baik yang disebutkan adalah berpuasa. Maka pastilah Allah juga menjanjikan ampunan bagi mereka yang mau berpuasa.

Dari sekian banyak puasa yang ada, terdapat satu puasa yang kedudukannya sangat tinggi di sisi Allah swt, dan hanya ada sekali dalam satu tahun, namanya adalah puasa Arafah.

Puasa ini dilakukan tepat pada hari sebelum masuknya hari raya aidul adhha atau hari raya kurban. Hari raya jatuhnya pada tanggal 10 zulhijjah, maka sebelum masuk 10 zulhijjah ada satu puasa  yang dinamakan puasa arafah yang bertepatan pada 9 zulhijjah..

Namun apakah kalian sudah tau hakikat dari puasa arafah ini? Sebenarnya puasa arafah ini puasa yang bagaimana sih?

Lalu hukumnya apakah sama dengan puasa Ramadahan sehingga berdosa bagi siapa saja yang tidak puasa atau tidak? Lalu apa dalil anjuran bagi puasa ini? Dan bagaimana cara niat yang benar untuk puasa ini? Juga tatacara pelaksanaan yang tepat bagaimana?

Tentu saja pertanyaan diatas masih mengahantui kalian kan, dan masih membuat bingung kepala.

Maka dari itu dibawah ini kita akan coba jelaskan pertanyaan-pertanyaan diatas dengan lebih detail dari biasanya. Maka dari itu dibawah ini akan kita bahas satu persatu yang meliputi point-point sebagai berikut:

  1. apa itu puasa arafah
  2. hukum puasa arafah
  3. dalil puasa arafah
  4. niat puasa arafah
  5. tata cara puasa arafah
  6. hikmah puasa arafah

Langsung saja kita jelaskan satu persatu dengan lengkap..

Apa itu puasa arafah

Puasa adalah salah satu ibadah yang kaitannya langsung dengan Allah Swt atau biasa kita istilahkan dengan hablun minallah.

Faedah berpuasa selain karena anjuran dan ajakan syariat islam, juga memberi dampak dan pengaruh yang besar bagi kesehatan tubuh manusia.

Berdasarkan riset, observasi, dan verivikasi dari berbagai sumber ditemukan beragam manfaat yang terkandung dalam puasa. Bahkan banyak penyakit kronis sekarang yang metode pengobatannya melalui puasa.

Kendatipun demikian Islam telah memerintahkan umatnya untuk beribadah puasa jauh hari sebelum ditemukannya berbagai manfaat yang terkandung didalamnya.

puasa arafah adalah puasa yang dilaksanakan pada hari arafah atau hari 9 zulhijah. Puasa ini disunatkan bagi mereka yang tidak melaksanakan ibadah haji.

Adapun bagi mereka yang melaksanakan ibadah haji maka tidak disunatkan bagi mereka melaksanakan puasa arafah ini.

Arafah sendiri diambil dari bahasa arab yaitu “arafa” yang memiliki arti “mengenal”, hal ini berkaitan erat dengan peristiwa besar yang dialami nabi Ibrahim as yaitu diperintahkan untuk menyembelih nabi Ismail as.

Sebagaimana kita maklumi bersama bawa nabi Ibrahim bermimpi bahwa Allah memerintahkannya untuk menyembelih Ismail.

Mimpi ini terjadi pada 8 zulhijjah, baru pada 9 zulhijah nabi Ibrahim mengetahui makna mimpi tersebut dan memahami cara implementasinya.

Mengenal ini dalam bahasa arab disebut “arafah”. Maka sudah selayalknya kita memperingati peristiwa yang super agung ini.

Adapun bagi mereka yang sedang menunaikan ibadah haji, hari ini (9 zulhijah) adalah hari dimana mereka sedang melaksanakan inti dari ibadah haji tersebut yaitu melaksanakan wukuf di arafah.

Maka sudah selayaknya bagi kita semua untuk merasakan dan memperingati ibadah ini salah satunya dengan berpuasa.

Dalam konteks filosofi haji, wukuf di arafah adalah titik terdalam bagi seseorang untuk bertawakkal dan berserah diri kepada Allah Swt.

Dalam hal ini wukuf di arafah tidak bergantung pada kecerdasan akal dan pikiran seseorang, akan tetapi ianya diilihat dari sudut ketajaman spiritual dan religious mereka.

Mengapa demikian karena prosesi wukuf hakikatnya adalah berada dalam padang arafah yang merupakan replika dari alam mahsyar di akhirat.

Sehingga orang yang melaksanakan wukuf sepatutnya untuk menghadirkan hati dan merenungi keadaan ketika besok berada di padang mahsyar kelak.

Dari sudut inilah maka wukuf di arafah terasa sangat berat bagi kita. Maka sangat wajar jika kita turut merasakannya dengan berpuasa pada hari ini.

Hukum Puasa Arafah

Puasa dalam pandangan dan persepsi islam adalah murni ibadah lillahi taalah sebagaimana sabda Rasulullah Saw dari Allah dalam sebuah hadits

كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به

Latin: kullu ‘amal ibni adam lahu illash shauma fainnahu lii wa anaa ajzii bihi

Artinya:  Setiap amalan anak adam (manusia) adalah baginya melainkan puasa, sesungguhnya puasa itu adalah untukKu dan Akulah yang memberi balasan baginya (HR Bukhari dalam Shahihnya: 7/226 dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu

Klasifikasi hukum puasa dalam syariat islam dibagi dua: ada puasa yang statusnya wajib juga ada yang statusnya sunat.

Contoh puasa yang hukumnya wajib adalah puasa ramadhan, puasa nadhar, dan puasa kafarah.

Meskipun puasa ada yang statusnya wajib dan sunat, namun tidak mengurangi kesakralan puasa yang statusnya sunat.

karena dua duanya ini datang dari Allah Swt. Oleh karena itu kita tetap dperintahkan untuk melaksanakannya

Adapun hukumnya puasa ini adalah sunah muakkad, artinya meskipun puasa ini humunya sunah namun anjuran dan juga dilaksanakan oleh rasulullah Saw sehingga kesunnahan pada puasa ini sanagt kuat, hampir-hampir mendekati wajib.

Puasa ini juga dilaksanakan oleh Rasulullah Saw. Artinya jika suatu amal ibadah yang bukan wajib tapi dilakukan Rasulullah Saw maka ibadah tersebut kekuatan statusnya adalah sunah muakkad.

Adalah sebuah keanehan jika sebuah amal yang selalu dilakukan Rasulullah malah kita abaikan dan tinggalkan.

Namun bagi kita kesunahan hukum ini jangan sampai membuat kita menganggap puasa ini boleh ditinggalkan.

akan tetapi tanamkan dalam pikiran kita untuk mengambil kesempatan dan peluang untuk melaksanakannya.

Karena puasa ini baik itu sunat ataupun wajib toh dia tetap sama-sama datang perintahnya dari Allah Swt.

Karena agar kita semua diridhai oleh Allah Swt adalah dengan memperbanyak melakukan ibadah sunat, bukan hanya mempadai pada ibadah wajib.

Ibadah wajib hanya membuat kita terlepas dari siksa dan murka Allah Swt, sedangkan ibadah sunat ini membuat kita semakin dekat dengan Allah, barang siapa yang hatinya telah dekat dengan Allah maka tidak yang bisa membuatnya kecewa.

Peluang yang super besar ini hanya terdapat pada umat Nabi Muhammad Saw tidak pada umat lain.

Puasa ini juga membuat iri umat lain dengan diberikan berbagai ganjaran pahala bagi yang melaksanakan nya.

Alangkah gembiranya kita sebagai umat Rasulullah yang menjalankan ibadah ini.

Sekali lagi penulis menekankan agar kita ambil kesempatan yang sangat besar ini untuk terus menambah pundi-pundi amal kita agar kehidupan di akhirat kelak mebahgiakan kita semua.

Lebih-lebih ibadah puasa merupakan ibadah yang nilainya sangat luar biasa disisi Allah Swt.

Dalil Puasa Arafah

Ada banyak ragam puasa dalam Islam, dari mulai puasa harian seperti puasa senin kamis, ada juga puasa buanan seperti puasa ayyamul baidh, puasa awal bulan, pertengahan bulan, dan akhir bulan.

Juga ada puasa tahunan maksudnya dalam setahun hanya dilaksanakan ibadah puasa sekali seperti puasa Ramadhan, puasa arafah, puasa asyura  dan lain sebagainya.

Berbicara tentang dalil sebenarnya sudah sangat masyhur mengenai dalil dari anjuran puasa arafah ini.

Mulai dari dalam Al Quran, juga banyak hadits nabi yang menjelaskan keutamaan dari puasa ini. Jika kita jelaskan dalil-dalil dari puasa ini sungguh akan menjadi sebuah buku yang sangat tebal.

Namun pada artikel ini kita akan coba sebutkan beberapa dalil yang penulis rasa sangat urgent dan penting untuk di sebutkan disini, dengan juga menyebutkan referensi-referensi terkait.

Dalil-dali yang akan kita sebutkan nanti kiranya menjadi penyemangat dan mengkokohkan hati kita untuk mengamalkan ibadah yang luar biasa ini.

صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضية ومستقبلة وصوم يوم عاشوراء يكفر سنة ماضية

Latin: Shaumu yauma ‘arafata yukaffiru sanataini maadhiyatin wamustaqbalatin washaumu yauma ‘aasyura’a yukaffiru sanatan maadhiyatan

Artinya: berpuasa pada hari arafah dapat menjadi tebusan bagi dosa dua tahun yang lalu dan yang akan datang, dan puasa hari asyura menjadi tebusan bagi dosa satu tahun yang lalu

Dalam hadits ini menjelaskan tentang begitu besarnya pahala bagi siapa saja yang berpuasa juga diampunkan dosa 2 tahun sekaligus, satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.

Juga hadits yang lain yaitu

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Latin: maa min ayyaamil ‘amalush shaalihu fiiha ahabbu ilallaahi min haadzihil ayyaami ya’ni ayyaamal ‘asyri qaaluu yaa rasulallah walaljihaadu fii sabiilillaahi qaala walal jihaadu fii sabiilillaahi illaa rajulun kharaja binafsihi wamaalihi falam yarji’ min dzaalika bisyai’in

Artinya: tidak ada satu amal pun yang dicintai Allah dari ini hari yakni 10 hari zuluhijjah (hari pertama sampai dengan hari kesepuluh zulhijjah) para sahabat bertanya Ya Rasulullah tidak juga dengan jihad? Rasulullah menjawab tidak juga dengan jihad di jalan Allah kecuali seorang laki-laki yang keluar untuk berjihad dengan nyawanya dan hartanya maka tidak kembali dari padanya sesuatu apapun. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah. Hadits senada juga diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ahmad)

Itulah dua hadits pentig sebagai dalil bagi kesunnahan berpuasa arafah. Maka setelah mengetahui dalil diatas apakah kita masih enggan menuanikan ibadah ini juga. Semoga tidak

Niat Puasa Arafah

Bagi kita yang belum waktunya diberikan kemampuan serta kesempatan untuk bisa melaksanakan ibadah haji, sangat disunahkan untuk tetap melaksanakan ibadah puasa pada tanggal 8 dan 9 Dzullhijah.

Adapun pelaksanaan puasa pada tanggal 8 Dzulhijjah di sebut sebagai puasa Tarwiyah sedangkan puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah disebut sebagai puasa Arafah.

Adapun bagi mereka yang diberikan kemampuan untuk melaksanakan ibadah haji maka tidak diperintahkan ibadah puasa ini.

Karena ada hadits yang menegaskan larangan bagi mereka untuk melakukan puasa ini.

Karena berdekatan nya puasa 8 zulhijjah (tarwiyah) dan 9 zulhijjah (arafah) dan membuat kita agak sedikit kebingungan untuk membedakannya maka  kita terlebih dulu harus mengetahui niat dari kedua puasa tersebut.

Saat  melaksanakan ibadah puasa arafah  ini ada beberapa point yang harus dipahami dengan seksama salah satunya adalah lafadz niat puasa 9 Dzulhijjah atau lafadz niat puasa arafah.

semoga dengan mengucapka niat puasa arafah dengan benar dan baik, InsyaAllah puasa yang akan kita lakukan tersebut akan di terima oleh Allah SWT.

Maka disini kita akan jelaskan tata cara mengucapkan lafadz niat yang benar agar jangan sampai kita ingin berpuasa arafah tapi malah niat puasa tarwiyah

ataupun sebaliknya kita hendak melaksanakan puasa tarwiyah malah berniat dengan niat puasa arafah.

Berikuta lafadz niat puasa arafah yang benar

نويتُ صومَ عرفة سُنّةً لله تعالى

Latin: Nawaitu shauma arafata sunnatan lillahi ta’ala

Artinya: sengaja Saya niat puasa sunnah arafah karena Allah Ta’ala

Insyaalah Allah Swt akan menerima ibadah kita ini amin ya rabbal alamin

Tata Cara Puasa Arafah

Setelah mengetahui cara pengucapan lafadz niat yang baik dan benar untuk beribadah puasa arafah, maka langkah selanjutnya adalah mengetahui tata cara melaksanakan ibadah puasa arafah ini.

Tidak ada yang berbeda antara puasa arafah dengan puasa-puasa sunah yang lain. Baik kewajiban-kewajibannya maupun larangannya,, semua sama.

Tatacara melaksanakan puasa arafah sama dengan puasa yang lain yaitu menahan diri dari melakukan perbuatan yang dapat membatalkan puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

Hanya saja ada sedikit perbedaaan antara puasa wajib dengan puasa suant termasuk puasa arafah, yaitu jika niat yang puasa wajib haruslah diniat pada malam hari, jika seseorang tidak berniat pada malam hari maka puasanya tidak sah.

Berbeda halnya dengan puasa sunat, kita tetap boleh berniat sampai tergelincir matahari atau sampai masuk waktu dhuhur, selama waktu itu kita belum melakukan perbuatan yang dapat membatalkan puasa.

Maka dari itu kita tetap bisa berniat baik itu pukul 8 pagi, puku 10 ataupun puku 12 sampai batas masuk waktu dhuhur selama dalam waktu itu kita masih dalam kondisi berpuasa.

Hikmah Puasa Arafah

Banyak hikmah yang terkandung dalam puasa ini, juga banyak peristiwa-peristiwa besar yang terjadi. Sehingga sangat menyesal rasanya jika kesempatan berpuasa arafah tidak bisa kita ambil dan raih.

Sungguh amat lah rugi bagi mereka yang tidak berpuasa, dan amatlah beruntung bagi mereka yang diberi kemudahan untuk berpuasa

Puasa arafah ini sangat identik dengan ibadah haji dan pelaksanaan qurban, dimana dahulu Nabi Ibrahim as mengorbankan nabi Ismail as untuk diqurbankan atas perintah Allah Swt, dan sebagai bentuk penghambaan yang sebenar-benarnya dari nabi Ibrahim kepa-Nya

Sebagaimana hadits yang telah kita sebutkan diatas yaitu terdapat keutamaan yang besar dalam puasa arafah.

Salah satunya adalah Allah subhanahu wataala memberi anugerah kepada siapa saja yangberpuasa pada hari arafah kepadanya ampunan dua tahun yaitu satu tahun dosa yang lalu dan satu tahun dosa yang akan datang.

Sebuah hadits datang dari Rasulullah saw

صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضية ومستقبلة وصوم يوم عاشوراء يكفر سنة ماضية

Latin: Shaumu yauma ‘arafata yukaffiru sanataini maadhiyatin wamustaqbalatin washaumu yauma ‘aasyura’a yukaffiru sanatan maadhiyatan

Artinya: berpuasa pada hari arafah dapat menjadi tebusan bagi dosa dua tahun yang lalu dan yang akan datang, dan puasa hari asyura menjadi tebusan bagi dosa satu tahun yang lalu

Lalu apakah kita masih menyepelekan anugerah Allah yang sangat luar biasa ini.

Mendapatkan ampunan dari Allah dua tahun sekaligus adalah nikmat yang sangat harus kita syukuri sebagaimana firman Allah Swt dalam surat Yunus ayat 58

قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Latin: Qul bifaḍlillāhi wa biraḥmatihī fa biżālika falyafraḥụ, huwa khairum mimmā yajma’ụn

Artinya: Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.

juga hikmah yang kedua yaitu

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Latin: maa min ayyaamil ‘amalush shaalihu fiiha ahabbu ilallaahi min haadzihil ayyaami ya’ni ayyaamal ‘asyri qaaluu yaa rasulallah walaljihaadu fii sabiilillaahi qaala walal jihaadu fii sabiilillaahi illaa rajulun kharaja binafsihi wamaalihi falam yarji’ min dzaalika bisyai’in

Artinya: tidak ada satu amal pun yang dicintai Allah dari ini hari yakni 10 hari zuluhijjah (hari pertama sampai dengan hari kesepuluh zulhijjah) para sahabat bertanya Ya Rasulullah tidak juga dengan jihad? Rasulullah menjawab tidak juga dengan jihad di jalan Allah kecuali seorang laki-laki yang keluar untuk berjihad dengan nyawanya dan hartanya maka tidak kembali dari padanya sesuatu apapun. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah. Hadits senada juga diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ahmad)

Juga himah yang lain yaitu..

لا يَصُوْمُ عَبْدٌ يَوْمًا فِي سَبِيْلِ الله. إلا بَاعَدَ اللهُ، بِذَلِكَ اليَوْمِ، وَجْهَهُ عَنِ النَارِ سَبْعِيْنَ خَرِيْفاً

Latin: La Yashuumu ‘abdun yauman fii sabiilillahi illaa baa’adallaahu bidzaalikal yaumi wajhahu ‘anin naari sab’iina khariifan

Artinya: “Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah kecuali Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka (dengan puasa itu) sejauh 70 tahun jarak perjalanan.” (HR. Bukhari Muslim dan yang lainnya)

Disamping juga ada hikmah berpuasa secara umum seperti lebih memahami arti syukur terhadap rezeki yang Allah berikan kepada kita, bisa merasakan kelaparan yang selama ini diderita orang-orang yang setiap harinya dalam kondisi lapar.

Bisa memahami arti tawakkal yang sesungguhnya dengan berniat puasa hanya semata-mata mengharap ridha Allah Swt. Dan masih banyak hikmah-hikmah yang lain yang terkandung dalam ibadah puasa ini.

Penutup

Ibadah puasa adalah ibadah yang sangat agung disisi Allah Swt, hal ini dapat dipahami dari hadits bahwa pahala yang Allah berikan kepada orang yang berpuasa ini hanya Allah yang tau.

Ini mengindikasi kepada begitu banyaknya pahala yang diberikan.

Salah satu puasa sunat yang sangat besar manfaat dan hikmahnya adalah puasa arafah, Allah menjanjikan bagi siapa saja yang puasa arafah akan mendapat ampunan selama dua tahun, satu tahun bagi dosa yang telah lalu dan satu tahun bagi dosa yang akan datang.

Semoga kita semua diberikan jalan yang baik dan kemauan serta kemampuan untuk melaksanakan ibadah yang agung ini. Dan semoga Allah kumpulkan kita semua dengan orang-orang yang mendapat kabar baik dari Allah yaitu orang-orang yang mendapatkan ridha-Nya. Aminn ya rabbal alamin.

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p