Skip to content

Kisah Nabi Idris, Manusia yang Pernah Merasakan Kematian dalam Kehidupan

Sama halnya dengan kisah-kisah para nabi dan rasul lainnya, kisah Nabi Idris ‘alaihissalam juga penuh dengan makna dan bisa menjadi pengingat bagi umat Islam saat ini.

Salah satu kisah yang paling populer mengenai Nabi Idris adalah ketika beliau merasakan kematian dalam perjalanan hidupnya.

Penasaran bagaimana kisah Nabi Idris selama mengemban tugas sebagai utusan Allah Swt.? Yuk, simak ulasan Hasana.id berikut ini!

Kisah Singkat Nabi Idris Merasakan Kematian dan Masuk Surga

Bukan rahasia lagi jika Nabi Idris adalah salah satu nabi yang sudah pernah merasakan kehidupan di surga ketika masih hidup di dunia.

Beliau juga diberi keistimewaan oleh Allah Swt. karena dapat merasakan seperti apa kematian pada saat masih hidup, seperti dikisahkan berikut ini:

فلما رفعه باذن الله تعالى سأل ربه دخول الجنة فقيل له لايدخلها الا من ذاق الموت فسأل ربه الموت…

Artinya:

“Ketika Idris diangkat oleh Allah, dia pun meminta agar dimasukkan surga, tetapi tidak diperbolehkan kecuali sudah mati. Kemudian, Nabi Idris a.s. pun meminta kepada Allah Swt kematian.”

Dalam kisah Nabi Idris, diceritakan beliau yang saat itu diangkat oleh Allah Swt. menjadi nabi meminta untuk melihat seperti apa surga-Nya.

Akan tetapi, Allah tidak memperbolehkan siapa pun untuk masuk ke surga sebelum mengalami kematian terlebih dahulu.

Oleh karena itu, Nabi Idris pun memohon kepada-Nya agar bisa merasakan kematian terlebih dahulu.

Kisah Nabi Idris Merasakan Kematian

Riwayat ini dimulai saat malaikat Izroil rindu kepada Nabi Idris dan memohon kepada Allah Swt. untuk diperbolehkan mengunjunginya di bumi.

Pada saat itu, malaikat Izroil menyamar menjadi seorang laki-laki dan membawa banyak sekali buah untuk Nabi Idris.

Selama beberapa hari bersama, Nabi Idris pun akhirnya curiga dengan gerak-gerik malaikat Izroil yang menyamar tersebut.

Akhirnya, malaikat Izroil pun menceritakan siapa dirinya sebenarnya, yaitu sang malaikat pencabut nyawa.

Ia pun menceritakan kepada Nabi Idris bahwa kedatangannya bukanlah untuk mencabut nyawa Nabi Idris, melainkan hanya berkunjung.

Akan tetapi, dalam kisah Nabi Idris, diceritakan bahwa dirinya justru meminta tolong kepada Izroil untuk mencabut nyawanya.

Dengan begitu, Nabi Idris dapat merasakan bagaimana sakaratul maut yang dikatakan sangat dahsyat tersebut.

Setelah mendapatkan izin dari Allah Swt., malaikat Izroil pun mencabut nyawa Nabi Idris sambil menangis karena melihat sahabatnya tersebut kesakitan.

Kemudian, Nabi Idris pun dihidupkan kembali oleh Allah Swt.

Beliau menangis sejadi-jadinya karena tidak bisa membayangkan jika umatnya harus mengalami sakaratul maut yang menyakitkan tersebut.

Sejak saat itu, Nabi Idris pun makin rajin mengajak umatnya untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang keliru.

Kisah Nabi Idris Melihat Surga Allah Swt.

Selain meminta agar dicabut nyawanya, suatu ketika, Nabi Idris juga meminta agar Allah Swt. memperlihatkan surga dan neraka kepadanya.

Setelah mendapatkan restu dari Allah Swt., beliau pun mengunjungi neraka dan surga bersama malaikat Izroil.

Dikisahkan bahwa Nabi Idris pingsan ketika melihat neraka yang menampilkan penyiksaan-penyiksaan terhadap manusia yang durhaka kepada Allah Swt.

Dengan api yang berkobar dan bunyi gemuruh yang menakutkan, tak ada pemandangan yang lebih mengerikan dari neraka.

Sama halnya dengan kunjungannya ke neraka, Nabi Idris juga dikisahkan nyaris pingsan ketika mengunjungi surga.

Namun, kali ini alasannya adalah karena takjub dengan pesona serta keindahan surga Allah Swt. tersebut.

Diperlihatkan kepada Nabi Idris surga yang dihiasi sungai-sungai dengan air yang begitu bening serta pohon-pohon yang berbatang emas dan perak.

Tersedia juga istana-istana yang dibuat khusus bagi para penghuni surga kelak.

Dalam kisah Nabi Idris, diceritakan juga pohon-pohon tersebut menghasilkan buah yang begitu harum dan segar.

Setelah diangkat ke langit dan melihat surga, Nabi Idris diyakini menetap di sana dan terus beribadah kepada Allah Swt. sampai hari kiamat.

Beliau juga sempat bertemu dengan Nabi Muhammad Saw. ketika Rasulullah melakukan perjalanan ruhani ke langit.

Hikmah dari Kisah Nabi Idris

Ketika berkesempatan untuk menemui Allah Swt., Rasulullah saw. diantar oleh malaikat Jibril ke langit keempat dan bertemu dengan Nabi Idris.

Atas karunia Allah Swt., Nabi Idris mendapatkan posisi di atas dan merasakan keistimewaan yang tidak dirasakan oleh umat Islam lainnya.

Meskipun tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai pertemuan dan isi pembicaraan antara Nabi Muhammad saw. dengan Nabi Idris, perjumpaan keduanya tetap mengandung makna.

Dalam kisah Nabi Idris yang merasakan kematian dalam kehidupan, Nabi Muhammad saw. dapat memahami lebih jauh mengenai makna kematian itu sendirian.

Beliau memahami bahwa kematian yang dianugerahkan Allah Swt. kepada Nabi Idris juga bisa diterapkan dalam kehidupan umat Islam dalam berbagai makna.

Salah satunya adalah memaknai mati sebagai menindas keinginan hawa nafsu. Berikut sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan Abu Bakar:

موتوا قبل تموتوا ومن اراد ان ينظر الى الميت يمشى على وجه الأرض فلينظر الى ابى بكر

Artinya:

“Matilah engkau sebelum datang kematian. Siapa yang ingin melihat mayat berjalan di permukaan bumi”

Selain itu, dijelaskan juga dalam haditsnya berbunyi:

الناس نيام واذا موتو انتبنوا

Artinya:

“Semua manusia sebenarnya dalam keadaan tidur, apabila mati, barulah mereka bangun.”

Dalam hal ini, mati yang dimaksud adalah mati maknawi, bukan hissi. Artinya, kematian atas semua nafsu dan marah seseorang.

Termasuk di antara mati dalam makna ini adalah tidak pernah merasa bahwa dirinya yang paling mulia, paling kuat, dan paling benar.

Jika seseorang memiliki sifat-sifat tersebut dalam kehidupan, ia sebenarnya mempunyai hawa nafsu yang belum mati.

Padahal, manusia seharusnya mengerti bahwa pada hakikatnya, semua hal adalah milik Allah Swt. dan sebagai umat-Nya, manusia hanya diberi sedikit hak untuk memakainya.

Pertanyaan-Pertanyaan Terkait Kisah Nabi Idris a.s.

Kisah-kisah para nabi dan rasul memang tak jarang menimbulkan berbagai pertanyaan.

Begitu juga dengan perjalanan Nabi Idris ‘alaihissalam selama mengemban tugas sebagai utusan Allah Swt.

Nabi Idris merupakan nabi kedua setelah Nabi Adam dari 25 nabi dan rasul yang wajib diimani umat Islam.

Dia juga diketahui merupakan keturunan pertama yang dikaruniai gelar kenabian setelah pendahulunya, yaitu Nabi Adam dan Nabi Syith ‘alaihissalam.

Idris adalah putra dari Qabil dan Iqlima, yaitu keturunan dari Nabi Adam selaku manusia pertama yang diturunkan di muka bumi.

Karena kisahnya yang menarik dan patut diteladani, sering kali kita bertanya-tanya akan asal-usul kisah tersebut agar lebih bisa memaknainya.

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang umum ditanyakan ketika membahas kisah Nabi Idris.

Apakah Nabi Idris Masih Hidup dan Tinggal di Surga?

Mengutip penjelasan kisah Nabi Idris dari Hasyiyah Syaikh Ahmad Dardir ala Qisshotil Mi’roj, beliau masih hidup karena ruhnya sempat dikembalikan setelah dicabut di langit keempat.

Hanya saja, Nabi Idris selanjutnya bergabung dengan para ahli surga, sedangkan ketetapannya sama dengan ketetapan para Nabi lainnya.

Dijelaskan juga dalam tafsir al-Qurthubi berikut ini:

الجامع لأحكام القرآن » سورة مريم » قوله تعالى واذكر في الكتاب إدريس إنه كان صديقا نبيا قال وهب بن منبه : فإدريس تارة يرتع في الجنة ، وتارة يعبد الله تعالى مع الملائكة في السماء

Artinya:

“Wahab bin Munabbih mengatakan: Nabi Idris terkadang berada di surga dan terkadang beribadah kepada Allah di langit bersama malaikat. Wallahu a’lam.”

Namun, sebagian ulama menolak anggapan bahwa Nabi Idris ‘alaihissalam masih hidup.

Mengingat telah diangkat kepada Allah Swt., artinya beliau tak lagi hidup di dunia. Wallahu’alam.

Apakah Mukjizat Nabi Idris ‘alaihissalam?

Nabi Idris mendapatkan beberapa mukjizat dari Allah Swt., termasuk diturunkannya tiga shuhuf atau lembaran wahyu kepadanya.

Beliau diberi berbagai macam pengetahuan oleh Allah Swt., termasuk ilmu merawat kuda dan ilmu perbintangan.

Dalam kisah Nabi Idris yang dimuat di berbagai sumber, beliau juga diketahui mendapatkan pengetahuan ilmu berhitung atau sekarang lebih dikenal dengan sebutan matematika.

Sama dengan namanya yang berasal dari kata “darasa” yang berarti belajar, Nabi Idris juga sangat gemar belajar dan rajin mengkaji peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam semesta.

Selain itu, beliau juga diketahui sebagai orang pertama yang bisa memotong kain dan menjaitnya menjadi pakaian.

Dikisahkan bahwa orang-orang sebelumnya hanya memanfaatkan kulit binatang untuk menutupi aurat mereka.

Karena tak pernah putus asa ketika menjalankan tugasnya sebagai nabi utusan Allah, Nabi Idris diberi gelar “Asadul Usud” yang berarti singa.

Nabi Idris dikisahkan tak pernah takut pada saat berhadapan dengan umatnya yang kafir.

Akan tetapi, di balik kekuatannya tersebut, beliau tidak pernah sombong. Bahkan, beliau justru dikenal sebagai orang yang sangat pemaaf.

Benarkah Nabi Idris Adalah Orang Pertama yang Memakai Pena?

Disebutkan dalam kisah Nabi Idris ‘alaihissalam bahwa salah satu keistimewannya adalah menjadi manusia pertama yang memakai pena untuk menulis.

Selain pena, Nabi Idris juga dianugerahi kemampuan untuk membuat alat-alat yang dapat digunakan untuk mempermudah pekerjaan manusia.

Oleh karena itu, salah satu pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Nabi Idris adalah untuk tekun belajar dan bekerja keras menggunakan tangan sendiri.

Kapan Masa hidup Nabi Idris a.s.?

Pertanyaan ini sering muncul pada saat membahas kisah Nabi Idris karena terdapat perbedaan pendapat antara para ulama terkait hal ini.

Sebagian ulama meyakini bahwa beliau hidup sebelum masa Nabi Nuh, sedangkan ulama lain beranggapan sesudahnya. Berikut alasan-alasan yang mendasari kedua golongan tersebut.

Pendapat Pertama: Nabi Idris Hidup Sebelum Nabi Nuh

Ahli sejarah seperti ath-Thabari, Ibnu Katsir, Ibnu Jarir, asy-Syaukani, Ibnu Ishaq, dan as-Suyuthi berpendapat bahwa Nabi Idris hidup pada masa sebelum Nabi Nuh.

Pendapat tersebut dikemukakan dengan mengacu pada beberapa alasan berikut.

Pertama, dilihat dari nasabnya, Nabi Idris merupakan salah satu nenek moyang Nabi Nuh.

Kedua, tafsir atas Surah Maryam ayat 58 menceritakan silsilah keturunan para nabi.

أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ مِن ذُرِّيَّةِ ءَادَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَٰهِيمَ وَإِسْرَٰٓءِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَٱجْتَبَيْنَآ ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُ ٱلرَّحْمَٰنِ خَرُّوا۟ سُجَّدًا وَبُكِيًّا

Ulā`ikallażīna an’amallāhu ‘alaihim minan-nabiyyīna min żurriyyati ādama wa mim man ḥamalnā ma’a nụḥiw wa min żurriyyati ibrāhīma wa isrā`īla wa mim man hadainā wajtabainā, iżā tutlā ‘alaihim āyātur-raḥmāni kharrụ sujjadaw wa bukiyyā.

Artinya:

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka tersungkur dengan bersujud dan menangis.”

Menurut mereka, makna “من ذرية آدم “ dalam ayat tersebut adalah Nabi Idris a.s. yang diurutkan sebagai keturunan Nabi Adam a.s.

Ketiga, Nabi Idris juga tidak diceritakan ada dalam perahu Nabi Nuh ketika terjadi banjir besar.

Keempat, Nabi Idris dan Nabi Muhammad saw. bertemu di langit kempat pada saat peristiwa Isra Mi’raj.

Diceritakan bahwa pada saat itu, Nabi Idris mengucapkan salam kepada Rasulullah saw. dan menyebut Nabi Muhammad sebagai “saudara yang saleh”.

Menurut kelompok ulama ini, hal tersebut tidak menghalangi kenyataan bahwa Nabi Idris ada sebelum Nabi Nuh.

Alasannya adalah kata “saudara” dalam hal ini dapat diartikan sebagai panggilan yang lembut dan beradab, mengingat semua nabi bersaudara, sama halnya dengan semua orang mukmin.

Pendapat Kedua: Nabi Idris Hidup Setelah Nabi Nuh

Di sisi lain, beberapa ulama, termasuk Ibnu Utsaimin, al-Qurthubi, dan Muhammad bin Abdul Wahab meyakini bahwa kisah Nabi Idris seharusnya ada sesudah Nabi Nuh.

Berikut adalah alasan-alasan yang mendasari anggapan tersebut.

Pertama, tafsir surah An-Nisa ayat 163:

إِنَّآ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ كَمَآ أَوْحَيْنَآ إِلَىٰ نُوحٍ وَٱلنَّبِيِّۦنَ مِنۢ بَعْدِهِۦ ۚ وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ وَيَعْقُوبَ وَٱلْأَسْبَاطِ وَعِيسَىٰ وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَٰرُونَ وَسُلَيْمَٰنَ ۚ وَءَاتَيْنَا دَاوُۥدَ زَبُورًا

Innā auḥainā ilaika kamā auḥainā ilā nụḥiw wan-nabiyyīna mim ba’dih, wa auḥainā ilā ibrāhīma wa ismā’īla wa is-ḥāqa wa ya’qụba wal-asbāṭi wa ‘īsā wa ayyụba wa yụnusa wa hārụna wa sulaimān, wa ātainā dāwụda zabụrā

Artinya:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.”

Menurut golongan ini, ayat tersebut menjelaskan urutan nabi sesudah Nabi Nuh a.s., termasuk Nabi Idris.

Kedua, perkataan Imam al-Bukhari yang menyebutkan bahwa Nabi Idris adalah Nabi Ilyas. Jika benar begitu, jelas bahwa masa Nabi Ilyas adalah setelah Nabi Nuh.

Ketiga, ucapan Nabi Idris ketika bertemu dengan Nabi Muhammad dan menyebutkan kata “saudara” kepada beliau.

Berlawanan dengan anggapan kelompok lainnya, kisah ini menjadi bukti bahwa Nabi Idris hidup setelah masa Nabi Nuh.

Menurut mereka, jika Nabi Idris ada sebelum Nabi Nuh, seharusnya ia mengatakan “anak yang saleh”, seperti ucapan Nabi Adam kepada Nabi Ibrahim.

Akan tetapi, Nabi Idris justru mengatakan “saudara yang saleh” ketika menyapa Rasulullah.

Golongan yang Tidak Memihak

Di antara dua pendapat yang berbeda tersebut, ada juga golongan yang tidak memihak, seperti Ibnu Hajar dan Al-Qadhi.

Mereka berpendapat bahwa kedua pandangan tersebut tidak salah karena tiap-tiap kelompok memiliki alasan yang berdasar.

Kelompok ini pun memiliki alasan untuk bersifat netral.

Jika benar Nabi Nuh-lah yang pertama kali diutus Allah untuk memerangi orang-orang kafir di antara para nabi dan rasul, dapat disimpulkan bahwa masa Nabi Idris adalah sesudah Nabi Nuh.

Akan tetapi, jika ternyata Nabi Idris hanyalah seorang nabi seperti Nabi Adam dapat disimpulkan Nabi Idris ada sebelum Nabi Nuh karena ia bukan bagian dari rasul.

Alasannya, pada awal-awal manusia tinggal di bumi, para utusan Allah tersebut belum diperintahkan untuk memberi peringatan kepada orang-orang kafir.

Tentunya, adanya perbedaan pendapat tersebut tidak seharusnya membuat iman kita berkurang terhadap utusan Allah Swt.

Kisah Nabi Idris dalam Al Qur’an dan Hadits

Di dalam Al-Qur’an sendiri, nama Nabi Idris disebutkan sebanyak dua kali, yaitu dalam surah Maryam dan surah Al-Anbiyaa’.

Dalam Al-Qur’an surah Al-Anbiyaa ayat 85 dijelaskan bahwa Nabi Idris termasuk orang-orang yang sabar sehingga beliau mendapatkan rahmat Allah Swt.

وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا ٱلْكِفْلِ ۖ كُلٌّ مِّنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Wa ismā’īla wa idrīsa wa żal-kifl, kullum minaṣ-ṣābirīn.

Artinya:

“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Dzulkifli. Mereka termasuk orang-orang yang sabar.”

Sedangkan dalam hadits, beliau muncul dalam riwayat sahih Bukhari oleh Abbas bin Malik dan riwayat Ibnu Abbas dari al-Hakim.

Kisah Nabi Idris Sebagai Orang Pertama yang Memahami Ilmu Kesehatan

Dalam salah satu sambutannya beberapa waktu lalu, Ketua Umum PBNU K.H. Said Aqil Siroj menyampaikan sejarah turunnya ilmu kesehatan ke dunia untuk pertama kali.

Dikisahkan bahwa malaikat Jibril adalah penyampai wahyu yang menurunkan ilmu kesehatan pertama kali ke muka bumi.

Ilmu kesehatan tersebut berada di sayap malaikat Jibril dan satu-satunya orang yang mampu membaca serta memahami hal tersebut adalah Nabi Idris.

Pada kegiatan Pelantikan dan Rapat Kerja Pengurus Pusat Asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (ARSINU), Kiai Said Aqil Siroj juga menyampaikan nama-nama dokter muslim yang sudah ada sejak zaman dahulu.

Ia menyebutkan Abu Bakar ar-Razi sebagai salah satu orang pertama yang menjadi dokter muslim. Lalu, ada juga Hassan Ibnul Haitham yang menemukan optik untuk kesehatan mata.

Kemudian, Ibnu Nafis disebutkan sebagai dokter tentang peredaran darah dalam tubuh manusia.

Puncak kemajuan ilmu kedokteran muslim tentu adalah lahirnya al-Husain Ibnu Sina sebagai Bapak Kedokteran Modern.

Penutup

Nabi Idris merupakan salah satu keturunan Nabi Adam, tepatnya dari Syits bin Adam yang memperoleh gelar kenabian.

Bahkan, disebutkan oleh Ibnu Katsir bahwa Nabi Idris juga merasakan masa Nabi Adam selama 308 tahun. Belaiu hidup di bumi selama 645 tahun pada masa 4833-4188 sebelum masehi.

Akan tetapi, ada pendapat dari para ulama lain yang menyatakan bahwa Nabi Idris ada setelah Nabi Nuh ‘alaihissalam.

Pendapat umum mengatakan bahwa Nabi Idris telah diangkat kepada Allah Swt. dan diberi tempat di langit keempat.

Kisahnya merasakan kematian dalam kehidupan menjadi salah satu yang paling penting untuk diketahui umat Islam.

Terakhir, semoga kisah Nabi Idris di atas dapat menjadi pengingat bagi kita untuk selalu beribadah kepada Allah Swt.

Referensi:

https://islam.nu.or.id/post/read/52294/belajar-kematian-kepada-nabi-idris-as

https://www.nu.or.id/post/read/73541/dari-sayap-jibril-nabi-idris-paham-ilmu-kesehatan-

http://al-quran.bahagia.us/q7a/1134-1026/Nabi-Idris-as_59_2221131_al-quran-bahagia.html

https://www.laduni.id/post/read/58347/bukti-jika-nabi-idris-as-masih-hidup

Kisah Nabi Idris

Kisah Nabi Idris Naik Ke Langit

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

close-link
Chat Admin..
1
3 Ebook Islami GRATIS!
3 Ebook Islami GRATIS!
Mau? Klik "Chat Admin" sekarang!