Mengenal Wahabi: Sejarah, Ciri-Ciri, dan Perbedaan Mereka dengan ASWAJA

Mengenal Wahabi: Sejarah, Ciri-Ciri, dan Perbedaan Mereka dengan ASWAJA

Kebatilan yang paling berbahaya adalah ia yang bersembunyi di balik topeng kebenaran. Seperangkata kebatilan yang dibungkus dengan topeng kebenaran, kemudian diperkenalkan kepada khalayak ramai sebagai kebenaran.

Ada beberapa ungkapan yang mutlak benar seperti ajakan mari kembali kepada Alquran dan hadis, beragama harus dengan dalil bukan ikut-ikutan, agama itu adalah qala Allah dan Qala Rasul. Semua ungkapan tersebut adalah sesuatu yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Sayangnya ungkapan-ungkapan tersebut ternyata hanya menjadi topeng untuk menyusupkan berbagai kebatilan. Nyatanya dibalik topeng-topeng tersebut, tersimpan kampanye-kampanye untuk perlahan mulai meninggalkan dan merendahkan pendapat para ulama yang dikemas seolah bertentangan dengan Alquran dan Hadis. Dibaliknya ternyata terdapat pikiran yang gemar menyesatkan, membid’ahkan bahkan mengkafirkan orang lain. Di baliknya ternyata terdapat seonngok kegoisan yang memaksakan ijtihad mereka dan interpretasi mereka terhadap Alquran dan hadis sebagai satu-satunya kebenaran. Di baliknya ternyata tersimpan upaya untuk menganulir dan membatalkan keragaman ijtihad yang telah dimaklumi dan disepakati sekian lama.

Masih ada banyak kebatilan lainnya yang disusupi di balik topeng-topeng tersebut. Tulisan ini hendak membahas lebih jauh sekelompok orang yang melakukan kampanye-kampanye kebatilan yang dibalut kebenaran tersebut. Mereka disebut atau memperkenalkan diri dengan berbagai sebutan dan istilah, namun di sini kita akan menyebut mereka dengan panggilan yang paling familiar dan dominan dipergunakan yaitu Wahabi.

Apa Itu Wahabi

Wahabi adalah istilah yang merujuk pada pengikut Muhammad Ibn Abdul wahab. Muhammad Ibn Abdul Wahab lahir pada tahun 1703 M/1115 H di ‘Uyainah. Ia berasal dari Najd, sebuah kawasan di belahan timur wilayaj kerajaan Saudi saat ini. Dengan demikian istilah Wahabi sebenarnya diambil dari nama ayah beliau, hal ini tentu saja disebabkan nama beliau sendiri yaitu nabi Muhammad adalah nama Rasul pembawa risalah agama Islam, sekaligus nama yang terlalu umum dipergunakan. Oleh karena itu nama Wahab lah yang terpilih sebagai istilah yang merujuk pada pribadi,pemikiran dan para pengikut beliau.

Sebelumnya perlu diingat bahwa Abdul Wahab atau ayah dari Muhammad Ibn Abdul Wahab adalah seorang ulama yang tidak sepemikiran dengan prinsip wahabi tersebut.ayahnya tersebut telah lama merasa janggal dengan pemikiran MBAW.  Bahkan saudara kandungnya sendiri yaitu Sulaiman Ibn abdulwahab secara tegas menentang pemikiran MBAW. Ia menulis sebuah buku berjudul الصواعق الإلهية فى ردّ على الوهابية

Pemikiran MBAW sendiri banyak digadang-gadang sebagai upaya purifikasi atau pemurnian ajaran Islam, namun seringkali visi tersebut nyatanya hanya sebuah upaya memaksakan interpretasi beliau sendir terhadap sumber ajaran Islam dan menganggap ijtihad yang lain sebagai racun yang merusak kemurnian Islam. Apa yang ia sebut sebagai purifikasi itu ternyata hanya upaya menganulir interpretasi yang tidak sesuai kemauannya.

Ciri-ciri Wahabi

Ciri-ciri wahabi dapat dilihat dari dua sisi, yaitu corak pemikiran mereka dan hal-hal zhahir yang seringkali melekat dan dimonopoli oleh mereka.

Jika merujuk pada pemikiran wahabi maka kita dapat melihat beberapa karakter pemikiran berikut ini:

  1. Membenturkan simpulan dan dan ijtihad para ulama fikih dengan makna zhahir satu dua ayat Alquran dan Hadis, kemudian mengajak untuk kembali kepada Alquran dan Hadis.
  2. Mengusung pemikiran tekstual terhadap Alquran dan hadis dengan mengabaikan kaidah-kaida bahasa, ulumul quran, ulumul hadis dan ushul fikih
  3. Seringkali terburu-buru membuat kesimpulan dengan satu hadis atau ayat ALquran tanpa membuat perbandingan dan konfirmasi dengan ayat dan hadis-hadis yang lain.
  4. Membuat batasan yang sangat sempit tentang amalan-amalan dan hubungannya dengan dalil. Maksudnya menganggap sebuah amalan tanpa dalil spesifik dan eksplisist otomatis merupakan bid’ah.
  5. Meremehkan taqlid pada berbagai mazhab dan ulama fikih, tetapi dalam kesempatan yang lain justru menganjurkan untu taqlid pada ulama-ulama mereka.
  6. Seringkali melontarkan tuduhan tahayul, bid’ah dan khurafat kepada pihak lain secara serampangan.

Jika melihat pada hal-hal yang melekat dan dimonopoli oleh mereka adalah:

  1. Gemar memonopoli istilah sunnah, dalil, salaf, manhaj yang lurus dan lain sebagainya
  2. Memaknai hadis semacam tentang kain di bawah mata kaki secara tekstual, sehingga kebanyakan mereka menggunakan celana di atas mata kaki. Pemahaman seperti ini tentu kita hormati selama mereka tidak menyesatkan yang tidak sepaham dengan mereka dalam masalah celana di bawah mata kaki tersebut.
  3. Menunjukkan gelagat eksklusifitas dalam banyak hal seperti penampilan dan sosial kemasyarakatan karena merasa mayoritas umat islam yang berbeda pemikiran dengan mereka sebagai orang yang tidak sempurna keislamannya. Namun ciri-ciri semacam ini tidak berlaku seratus persen, mengingat orang yang berafisiliasi pada pemikiran wahabi pun terbagi dalam sikap yang berbeda dalam hal interaksi mereka dengan umat Islam non-Wahabi. Ada yang sangat ekstri tetapai tidak sedikt pula yang mencoba sedikit moderat.

Apakah Wahabi Sebuah Aliran

Dalam tradisi ahl Sunnah wa al-Jamaah perbedaan pendapat adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Perbedaan tersebut berlaku dalam masalah akidah maupun fikih, meskipun perbedaan dalam masalah fikih lebih longgar untuk diakomodasi dibanding perbedaan dalam masalah akidah. Berbagai perbedaan pendapat yang terbentuk itu diafisiliasi dalam sebuah aliran dengan nama dan corak tertentu. Ada sebagian aliran yang hilang ditelan sejarah, dan ada yang tetap eksis hingga sekarang.

Wahabi memiliki karakter pemikiran yang khas dalam memahami teks-teks dalil agama, baik berkaitan dengan persoalan fikih maupun akidah. Jika melihat pada fakta tersebut, maka wahabi sejatinya dapat dikategorikan sebagai sebuah aliran. Karena memiliki metode interpretasi dan penggalian hukum serta pendapat-pendapat yang terkhusus dan membedakan mereka dengan mayoritas umat Islam di seluruh dunia. Dengan demikian sebagian  bentuk interpretasi mereka tetap diterima, misalnya dalam masalah fikih, akan tetapi dalam masalah akidah dan pokok-pokok agama maka pendapat mereka harus diperjelas dan diklarifikasi kekeliruannya.  Dalam hal ini maslah yang lebih besar justru saat mereka sangat aktif menyesatkan dan mengkafirkan interpretasi yang berbeda dengan mereka. Hal inilah yang membuat pemikiran dan tokoh-tokoh wahabi gencar dilawan dengan berbagai bentuk, meskipun dalam banyak dimensi wahabi tetap diposisika sebagai bagian dari umat Islam.

Sejarah Wahabi

Paparan singkat mengenai sejarah Wahabi dapat dimulai dengan menjelaskan sejarah kehidupan Muhammad Ibn Abdulwahab selaku pelopor dari muncul dan meluasnya gerakan pemikiran tersebut. Muhammad Ibn Abdul Wahab lahir di ‘Uyainah (Najd), sebuah daerah yang berada sekitar 70 km ke arah barat laut dari kota Riyadh, lahir tahun 1115 H/1701 M. dan meninggal pada tahun 1206 H/1793 M.

Beliau mengusung sebuah gerakan dan pemikiran yang beliau klaim sebagai gerakan pemurnian tauhid dan penghidupan sunnah. Namun dalam praktek ke depannya cenderung serampangan memaksakan sudut pandangnya sendiri, sehingga banyak pendapat dan amalan umat Islam yang bertentangan dengan pandangannya dituduh sebagai pelanggaran terhadap tauhid sekaligus anti tesis terhadap sunnah, yang kemudian dicap sebgai bid’ah.

Keadaan semacam ini membuat Muhammad Ibn Abdul Wahab menuduh segala bentuk ziarah ke makam nabi dan para ulama adalah bentuk kesyirikan secara mutlak, tanpa memisahkan mana yang benar dan mana yang menyimpang. Hal yang sama dituduhkan kepada para pengajar dan pengamal tasawuf, yang ia klaim sebagai bid’ah secara mutlak. Secara lebih jauh, bahkan ia cenderung meremehkan berbagai khazanah mazhab fiqih yang telah bertahan berabad-abad sebagai sebuah bentuk dualisme sumber kebenaran selain Alquran dan Hadis, simpulan hukum dan kaidah perumusan hukum para ulama dibenturkan dengan alquran dan hadis, tujuannya agar kemudian menjadikan pendapat dan interpretasi dirinya sebagai satu-satunya yang mendapat legalitas kebenaran.

Sejak masa pelopornya, gerakan wahabi telah menimbulkan konflik dan pertentangan dengan umat Islam mayoritas, hal ini sudah berlaku di Najd sendiri sebagai negeri kelahiran Muhammad Ibn Abdul Wahab dan meluas ke daerah Arab yang lain. Bahkan gerakan tersebut berkembang sampai pada tindakan fisik dimana wahabi memperoleh dukungan hingga menjadi kekuatan militer dan pasukan yang melakukan serangan dan perampasan kepada sesama umat Islam yang tidak sepaham dengan mereka, hal ini secar detail dapat dibaca dalam buku-buku sejarah yang membahas Wahabi.

Salafi dan Wahabi

Banyak kasus dimana entitas wahabi sering menyebut kelompok dan arah pemikiran mereka sebagai Wahabi. Hal ini sebagai penolakan terhadap istilah wahabi yang memiliki konotasi negatif. Adapun istilah salafi dipilah dan dimonopoli atas dasar pengakuan bahwa mereka adalah gambaran pemikiran yang sama dengan generasi awal umat Islam, sebagai sebuah pemikiran murni yang kemudian dikotori sekian lama sebelum dimurnikan oleh mereka. Namun ini nyatanya adalah pengaburan istilah yang tidak berdasar. Salaf adalah sebutan untuk tiga kurun pertama umat Islam yang diklaim sebagai generasi terbaik oleh Rasulullah Sendiri. Istilah salaf tidak pernah digunakan oleh ulama manapun selama berabad-abad sebagai afisiliasi pemikiran tertentu. Monopoli istilah salafy oleh kelompok wahabi tidak lain merupakan upaya mengaburkan identitas dan sejarah mereka sekaligus usaha mereka untuk memonopoli legalitas kebenaran bagi pemikiran mereka sendiri.

Perkembangan Wahabi di Indonesia

Perkembangan Wahabi di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Pada masa dahulu lembaga ini banyak mengirim para pelajar ke timur tengah berkat dukungan jamaah Wahabi. Alumni dari utusan mereka lah yang kemudian menyebarkan aliran Wahabi di Indonesia. Lembaga lainnya yang turut berperan adalah LIPIA, sebagaimana diketahui lembaga tersebut memberikan biaya penuh kepada pelajar sekaligus menghasilkan para pelajar berpaham wahabi.

Ustadz-ustadz yang sangat aktif berceramah sekaligus menyebarkan paham wahabi di berbagai media di indonesia di antaranya adalah: Yazid Ibn abdul qadir jawwas, Farid Okbah, Ja’far Umar Thalib, Abdul hakim Abdat. Mereka sebagian di antara tokoh-tokoh senior. Adapun tokoh-tokoh yang lebih muda di antaranya adalah Firanda Andirja, Khalid Basalamah, Syafiq Basalamah, dan lain-lain.

Wahabi cukup berkuasa dan mendominasi berbagai media khsussnya internet. Beberapa website keislaman yang muncul di halaman pertama google adalah website yang berisi pemikiran wahabi seperti Rumaysho, Konsultasi Syariah, Muslim id, Islamqa, al-Manhaj, era Muslim dll. Kita mungkin tanpa sadar cukup sering mengambil info islam dari website tersebut. Namun ada baiknya harus diimbangi dengan website yang bukan wahabi seperti rumah fiqih, Nu Online, Nu garis lurus dll. Tujuannya agar sisipan pemikiran wahabi yang tertolak dapat kita filter dengan sumber informasi yang lain.

Adapun channel youtube wahabi di antaranya adalah Yufid, pakdenono, rodja, Syiar tauhid, dan lain-lain. Secara umum arus pemikiran wahabi cukup deras berkembang dan didukung oleh dominasi merek di media dan internet. Sehingga untuk membendung pergerakan mereka maka kita juga harus perlahan mematahkan dominasi mereka tersebut.

Garis besar perbedaan Wahabi dan Aswaja

Membahas pertentangan wahabi tentu saja merupakan salah satu pembahasan yang sangat panjang, namun secara garis besar perbedaan wahabi dan Aswaja dapat dirangkum dengan penjelasan berikut ini:

  1. Wahabi memahami ayat dan hadis yang berisi keterangan tentang sifat Allah yang sekilas menunjukkan kesamaan dengan makhluk secara literal, sedangkan aswaja memahaminya dengan tafwidh (dibiarkan tanpa ditafsirkan0, atau ditakwil (dibelokkan pada makna yang sesuai). Hal ini tujuannya agar tidak menyamakan Allah dengan makhluk. Adapun wahabi justru menolak pemhaman takwil dan tafwidh yang telah dijelaskan dalam kitab para ulama.
  2. Wahabi secara mutlak memvonis segala perkara baru sebagai bidah yang sesat. Adapun aswaja mengukur setiap perkara baru dengan dalil-dalil syariat baik secara eksplisit maupun dengan qiyas, sehingga perkara baru itu ada yang bai dan ada pula yang buruk.
  3. Wahabi melarang mengamalkan hadis dhaif, padahal aswaja membolehkannya asalkan dhaifnya tidak parah, tidak berbicara tentang akidah dan hukum melainkan fadhailul amal, tidak bertentangan dengan dalil yang lain yang lebih kuat.
  4. Wahabi cenderung merendahkan mazhab termasuk mazhab besar yang telah berkembang sekian lama hal ini tentu saja untuk memonopoli pendapat mereka sendir. Sedangkan aswaja sangat mengakomodasi keberadaan mazhab khsusnya empat mazhab besar, serta menjadikan mazhab sebagfai pegangan awal dalam belajar fiqih.
  5. Wahabi cenderung mempersempit dalil kebenaran seolah hanya ada Alquran dan hadis, padahal sekian lama para ulama juga telah memberikan rumusan dalil yang lain seperti ijma’, qiyas, istihsan, maslahah mursalah, dan lain-lain.

Penutup

Membendung pergerakan pemikiran wahabi tidak semata-mata dilakukan dengan mempelajari dan mengemukakan kekeliruan pendapat mereka. Justru sebaliknya, cara yang paling baik adalah dengan tekun semua umat Islam mempelajari pemikiran aswaja dengan sebenar-benranya, kemudian mengajarkannya dan menyebarkannya melalui media baik media tulisan, maupun siaran. Tujuannya adalah mematahkan dominasi mereka di internet dan pelan-pelan mengambil alih untuk memperkenalkan wajah islam dengan gambaran pemikiran aswaja. Dengan demikian, secara perlahan namun pasti kekeliruan pemikiran wahabi yang tidak dapat diakomodasi dalam perbedaan pendapat bisa dihilangkan dalam masyarakat.

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p

Klik utk mendapatkan ebook gratis!

Mau Ebook Islami MURAH?

Apa itu ebook? Ebook adalah elektronic book, atau buku digital. Ebook tetap disebut buku, hanya tidak berbentuk fisik (kertas). Biasanya ebook berbentuk file pdf dan bisa dibaca melalui smartphone (HP), tablet, ataupun komputer / laptop.