Hikmah Bacaan Alhamdulillah dan Waktu-Waktu Yang Disunahkan untuk Mengucapkannya

Bacaan tahmid, yaitu Alhamdulillah, merupakan suatu bentuk pujian kepada Allah Swt. yang sering kita ucapkan dan dengar di kehidupan sehari-hari.

Ungkapan syukur tersebut biasanya kita ucapkan saat memperoleh hadiah, kejutan, rezeki, dan lain sebagainya. Dalam beberapa literatur keislaman, kata hamdalah ini bahkan sering menjadi bagian kalimat pembuka para muallif atau pengarang kitab.

Namun, bacaan tahmid ternyata bukan hanya disunahkan untuk diucapkan saat kita menerima nikmat saja. Selain itu, ada juga macam-macam lafal hamdalah yang dijabarkan oleh para ulama.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini Hasana.id tertarik untuk membahas lebih lanjut mengenai ungkapan Alhamduilillah melalui artikel ini. Yuk, simak ulasannya!

Tulisan Arab Alhamdulillah dan Artinya

Berikut adalah tulisan Arab bacaan tahmid beserta latinnya dan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia:

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ

Alhamdulillah

Artinya:

“Segala puji bagi Allah”

Lafal tersebut pun ada cukup banyak diulang dalam Alquran, sebagai bagian dari mengingatkan kaum Muslim untuk memuji Allah Swt. sebagai Tuhan Alam Semesta.

Penempatannya dalam ayat-ayat Alquran pun beragam, mulai dari di awal, tengah, atau bahkan di akhir.

Di antara ayat-ayat yang mengandung lafal hamdalah, Al-Fatihah tentu menjadi sorotan sebab ayat pertama yang kita temukan dalam Alquran tersebut ternyata dimulai dengan pujian atas Allah Swt.

Selain Al-Fatihah, ada juga surah-surah lain dalam Alquran yang diawali dengan kata Al-hamdu. Salah satunya adalah dalam surah al-An’am ayat 1 yang berbunyi:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمٰتِ وَالنُّوْرَ ەۗ ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ

Al-ḥamdu lillāhillażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa wa ja’alaẓ-ẓulumāti wan-nụr, ṡummallażīna kafarụ birabbihim ya’dilụn

Artinya:

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan gelap dan terang, namun demikian orang-orang kafir masih mempersekutukan Tuhan mereka dengan sesuatu.

Kemudian, lafal hamdalah juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Surah al-Kahfi, Surah Saba’, dan Surah Fathir. Sebab ketiganya juga diawali dengan lafal Al-hamdu.

Arti dari Alhamdulillah Menurut Kajian Tafsir

Jika dilihat dari sudut pandang bahasa Arab, kata hamdalah berasal dari kalimat ” حمدت حمدا لله (hamidtu hamdan lillahi [Aku telah memuji dengan suatu pujian untuk Allah])”.

Kalimat tersebut kemudian dicukupkan dengan hanya menyebutkan kata benda dasarnya saja, sedangkan kata kerjanya dihilangkan.

Dalam hal ini, kata kerja yang dimaksud adalah حمدت, yang kemudian ditambahkan kata benda dasar sehingga berbunyi “hamdan lillahi حمدا لله” .

Kemudian, kata tersebut dilengkapi dengan huruf alif dan lam sehingga terbentuklah kata “Alhamdulillah [الحمد لله]” yang menunjukkan makna keberlangsungan selamanya.

Apabila dikaji dari susunan kalimatnya, kata hamdalah merupakan pujian khusus yang ditujukan pada Allah Ta’ala.

Sebagaimana dikemukakan oleh pendapat Jumhur al-‘ulama, hal ini adalah dilihat dari susunan kalimatnya yang sempurna dengan dijadikannya lam al-tarif dalam kata al-hamdu yang mempunya fungsi sebagai lil-istighraq.

Artinya, bacaan tahmid tersebut memang sejatinya dikhususkan untuk Allah Swt. saja. Sebab, tidak ada suatu kebaikan kecuali Allah Ta’ala saja lah yang menguasainya.

Makna dan Keutamaan Alhamdulillah

Seperti dikemukakan di atas, secara umum, Alhamdulillah artinya adalah segala puji bagi Allah. Akan tetapi, secara hakikat, hamdalah bisa mempunyai penjabaran makna yang lebih dalam.

Di dunia pesantren, misalnya, bacaan tahmid tersebut bermakna segala pujian itu dimiliki oleh Allah Swt. atau satu-satunya yang berhak dipuji adalah Allah Ta’ala.

Selain itu, hamdalah juga bisa dimaknai sebagai berikut “segala pujian itu khusus bagi-Nya”.

Memahami hakikat tersebut adalah satu hal, hal lainnya yang tak kalah penting adalah mengucapkan pujian tersebut dengan penuh rasa mengagungkan-Nya.

Sedangkan keutamaan mengucapkan hamdalah antara lain adalah mendapatkan pahala, ditambah rezekinya, dan diampuni dosanya.

Dalam Alquran Surah Ibrahim ayat 7 tertuang janji Allah Swt. kepada orang-orang yang senantiasa mengucap syukur dengan memuji nama-Nya. Berikut bunyi firman Allah tersebut:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Wa iż ta`ażżana rabbukum la`in syakartum la`azīdannakum wa la`ing kafartum inna ‘ażābī lasyadīd

Artinya:

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Bukan hanya itu saja, senantiasa mengucapkan hamdalah juga akan menimbulkan perasaan tenteram dalam jiwa dan menghindarkan kita dari stres atau depresi.

Dengan selalu mengucap syukur kepada Allah Swt., kita juga akan terhindar dari emosi negatif yang seringkali tak terkontrol saat musibah datang.

Hikmah Memahami Hakikat Alhamdulillah

Hendaknya sebagai hamba-Nya, kita harus mencerminkan bagaimana kita selalu memuji Allah Swt. atas segala nikmat dan karunia yang telah Ia berikan.

Jika telah memahami hakikat tersebut, maka dapat dimengerti bahwa segala pujian hanya menjadi milik-Nya semata.

Dengan kata lain, apabila kita mendapatkan pujian dari sesama manusia, sudah sepantasnya pujian tersebut dikembalikan kepada sang pemilik pujian yang sesungguhnya, yaitu Allah Swt.

Memahami hakikat tersebut dan mengamalkannya dengan selalu mengucapkan Alhamdulillah akan membuat kita menjadi pribadi yang tidak tergila-gila dengan pujian atau seringkali mengharapkan pujian dari orang lain.

Selain itu, memahami hal tersebut juga menjauhkan kita dari sifat besar kepala serta lupa diri karena pujian yang diberikan oleh makhluk lain.

Yang tak kalah penting, dalam mengerjakan segala hal, termasuk beribadah kepada Allah Swt., kita akan mempunyai kesadaran diri untuk tidak menunaikannya demi sebuah pujian.

Dengan begitu, kita dapat menuntaskan suatu pekerjaan dengan penuh tanggung jawab.

Meskipun demikian, bukan berarti kita diwajibkan menahan diri untuk memberikan pujian kepada orang lain.

Kita sebaiknya tetap tidak enggan untuk memuji suatu ucapan, perbuatan terpuji, dan ide yang dilakukan oleh siapa pun.

Sebab, saling memuji dalam kebaikan juga merupakan perilaku yang baik di antara sesama manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain itu, dengan saling memuji, barangkali seseorang yang menerima pujian tersebut sepenuhnya menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu terjadi berkat izin-Nya.

Oleh karena itu, ia pun ikut mengucapkan Alhamdulillah yang akhirnya bisa menjadi sumber mengalirnya pahala bagi kita dan orang tersebut.

Jadi, daripada saling melontarkan cacian dan makian, sebaiknya kita hiasi dunia ini dengan saling memuji dalam hal kebaikan.

Waktu Yang Disunahkan dan Dilarang untuk Membaca Alhamdulillah

Selain disunahkan untuk dibaca saat mendapatkan nikmat dari Allah Swt., bacaan tahmid juga disunahkan pada kesempatan-kesempatan lain.

Dalam al-Adzkar an-Nawawi, Imam an-Nawawi memaparkan beberapa hal yang disunahkan untuk membaca ucapan hamdalah, berikut ini kutipannya:

قال العلماء : فيستحب البداءة بالحمد لله لكل مصنف ، ودارس ، ومدرس ، وخطيب ، وخاطب ، وبين يدي سائر الأمور المهمة

Artinya:

“Disunnahkan memulai dengan ‘alhamdulillah’ untuk setiap muallif, orang yang belajar, orang yang mengajar, orang yang diceramahi dan orang yang berceramah, serta dalam perkara-perkara penting yang lain.” (Imam an-Nawawi, al-Adzkâr an-Nâwâwî, [Beirut: Dâr Kutub Islamiyah, 2004 M), j. 1, h. 172.)

Dari kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca Alhamdulillah juga disunahkan dalam setiap permulaan menulis karya.

Selain itu, masih ada waktu-waktu lain saat membaca hamdalah disunahkan. Hasana.id akan membahasnya lebih lanjut di bawah ini.

Kapan Disunahkan untuk Membaca Hamdalah

Bacaan tahmid juga disunahkan untuk diucapkan ketika berceramah. Hal ini berlaku baik bagi orang yang akan mendengarkan ceramah maupun orang yang akan memberikan ceramah.

Saat Mengawali Ceramah

Hal ini juga diajarkan oleh Imam Syafi’i bahwa bacaan hamdalah dianjurkan bagi setiap umat Islam yang akan melakukan hal-hal penting, termasuk ceramah.

قال الشافعي رحمه الله : أحب أن يقدم المرء بين يدي خطبته وكل أمر طلبه : حمد الله تعالى ، والثناء عليه سبحانه وتعالى ، والصلاة على رسول الله ﷺ

Artinya:

“Imam as-Syafii Rahimahullah berkata: Aku lebih suka orang yang mengawali setiap khutbahnya (ceramahnya) dan setiap hal yang dicari dengan: memuji kepada Allah Swt. (membaca alhamdulillah) dan membaca shalawat kepada Rasulullah saw. (lihat: Imam an-Nawawi, al-Adzkâr an-Nâwâwî, [Beirut: Dâr Kutub Islamiyah, 2004 M), j. 1, h. 172.)

Bahkan, dalam khutbah Jum’at, hukum membaca hamdalah bukan lagi hanya sebuah sunah, melainkan sebuah kewajiban. Sebab, membaca ucapan syukur tersebut termasuk dalam rukun khutbah Jum’at. Artinya, jika tidak dilakukan maka khutbah tersebut menjadi tidak sah.

Selain itu, ucapan Alhamdulillah hirobbil alamin juga disunahkan untuk diamalkan sebelum memulai pelajaran, baik itu sebagai murid yang belajar maupun sebagai guru yang mengajar.

Setelah Selesai Minum dan Makan

Selanjutnya, bacaan tahmid juga disunahkan setelah selesai minum dan makan. Berikut bunyi anjuran tersebut dalam kitab Imam an-Nawawi:

يستحب بعد الفراغ من الطعام والشراب ، والعطاس ، وعند خطبة المرأة – وهو طلب زواجها – وكذا عند عقد النكاح ، وبعد الخروج من الخلاء ،

Artinya:

“Disunnahkan (membaca alhamdulillah) setelah makan dan minum, setelah bersin dan ketika melamar seorang perempuan, yaitu meminta menjadi istrinya, begitu juga ketika akad nikah, dan setelah keluar dari toilet.” (Imam an-Nawawi, al-Adzkâr an-Nâwâwî, [Beirut: Dâr Kutub Islamiyah, 2004 M), j. 1, h. 172.)

Yang tentunya tidak lagi asing bagi kita adalah sunah untuk mengucapkan hamdalah setelah bersin.

Kemudian, membaca hamdalah juga disunahkan untuk hal-hal lain seperti saat melamar seorang perempuan dan setelah melangsungkan akad nikah.

Saat mengawali dan mengakhiri doa juga disunahkan untuk membaca Alhamdulillah. Kemudian, setelah keluar dari toilet untuk membuang hajat juga disunahkan.

Sedangkan saat terhindar dari suatu bencana atau mendapatkan nikmat kamu juga disunahkan untuk mengucapkan hamdalah. Hal ini tentu sudah tak asing lagi bagi kita semua.

Terakhir, disunahkan juga untuk mengucapkan hamdalah saat ada anggota keluarga yang meninggal dunia. Terkait hal ini, Hasana.id akan membahasnya lebih lanjut pada poin membaca hamdalah saat tertimpa musibah.

Kapan Mengucapkan Alhamdulillah Dilarang

Sebagaimana dijelaskan di atas, berbagai kegiatan yang kita lakukan dapat mendatangkan hikmah yang besar jika diakhiri dengan mengucapkan hamdalah.

Misalnya, saat makan kita dianjurkan untuk memulainya dengan bismillah dan mengakhirinya dengan membaca tahmid supaya Allah Swt. meridai kegiatan tersebut.

Meskipun demikian, bukan berarti kita bisa mengakhiri setiap perbuatan dengan mengucapkan Alhamdulillah. Sebab, ada saat di mana membaca kalimat tahmid tersebut diharamkan hukumnya.

Salah satunya adalah mengucapkan kalimat tersebut setelah meminum alkohol yang dilarang oleh agama.

Selain itu, mengucapkan hamdalah juga dilarang jika kita melakukannya setelah berbuat kemaksiatan atau zina.

Dalam kitab al-Bujairomi alal Khatib dijelaskan hukum membaca hamdalah itu ada empat. Yang pertama adalah wajib, sebagaimana tertulis dalam rukun khotbah Jum’at.

Yang kedua adalah sunnah, seperti saat melakukan amal kebaikan, mengawali dan mengakhiri makanan, serta hal-hal baik lainnya yang telah disebutkan sebelumnya.

Ketiga, hukum membaca Alhamdulillah menjadi makruh jika kamu mengucapkannya di tempat yang kotor atau saat mulut dalam keadaan najis (contohnya setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang diharamkan oleh agama).

Keempat, membaca hamdalah menjadi haram hukumnya jika diucapkan saat kamu merasa senang karena telah melakukan kemaksiatan.

Dari uraian di atas, kamu dapat menyimpulkan bahwa status membaca hamdalah mempunyai hukumnya sendiri-sendiri tergantung dari kondisinya.

Oleh karena itu, biasakanlah diri kita untuk membaca tahmid pada saat yang diwajibkan dan disunahkan, serta menjauhi yang berstatus makruh atau haram.

Macam-Macam Bacaan Alhamdulillah Menurut Para Ulama

Selain menjelaskan mengenai waktu-waktu tertentu yang disunahkan untuk membaca hamdalah, Imam an-Nawawi dalam kitabnya juga menyebutkan beberapa macam lafal hamdalah yang dihimpun dari para ulama.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa lafal hamdalah memiliki perbedaan cara pengucapan di kalangan para ulama.

Menurut Para Ulama Khurasan

Misalnya, para ulama Khurasan umumnya mengucapkannya dengan ungkapan majami’ alhmdu atau hamdalah yang agung.

Berikut ini adalah lafal majami’ alhmdu yang biasanya diucapkan para ulama Khurasan tersebut:

الْحَمْدُ لِلّهِ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ

Alhamdulillâhi hamdan yuwâfî ni’amahu wa yukâfiu mazîdah

Artinya:

“Segala puji bagi Allah dengan Pujian yang sebanding dengan nikmat-nikmat-Nya dan mencakup tambahannya.” (Imam an-Nawawi, al-Adzkâr an-Nâwâwî, [Beirut: Dâr Kutub Islamiyah, 2004 M], j. 1, h. 174.)

Menurut Beberapa Ulama Lainnya

Kemudian, an-Nawawi juga menjelaskan bahwa sebagian ulama juga ada yang menambahkan kalimat “subhanaka” di awal bacaan hamdalah dan mengikutinya dengan kata “fa laka alhamdu hatta tardho” pada akhir kalimat.

Kamu bisa menemukan lafal salah satu macam bacaan Alhamdulillah tersebut di bawah ini:

سُبْحَانَكَ لَا أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ فَلَكَ اْلحَمْدُ حَتَّي تَرْضَى

Subhânaka Lâ uhsi tsanâ’an ‘alaika kamâ atsnaita ‘alâ nafsik fa laka-l-hamdu hattâ tardlâ.

Artinya:

“Maha Suci Engkau yang aku tidak bisa menghitung pujian kepadamu sebagaimana engkau memuji dirimu sendiri, maka untukmu segala puji hingga engkau ridha.” (Imam an-Nawawi, al-Adzkâr an-Nâwâwî, [Beirut: Dâr Kutub Islamiyah, 2004 M], j. 1, h. 174.)

Menurut an-Nawawi beberapa ulama yang lain juga mengungkapkan hamdalah dengan lafal sebagai berikut:

لَا أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Lâ uhsi tsanâ’an ‘alaika kamâ atsnaita ‘alâ nafsik.

Artinya:

“Aku tidak bisa menghitung pujian kepadamu sebagaimana engkau memuji dirimu sendiri.” (Imam an-Nawawi, al-Adzkâr an-Nâwâwî, [Beirut: Dâr Kutub Islamiyah, 2004 M], j. 1, h. 174.)

Dzikir Nabi Adam

Imam an-Nawawi menambahkan bahwa dalam sebuah hadis dikisahkan bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam sempat diberi dzikir khusus oleh Allah Swt. yang dikenal dengan nama majami’ alhamdu.

Sebutan tersebut berarti pujian yang lengkap dalam Bahasa Indonesia. Sedangkan bunyi pujian lengkap tersebut adalah sebagai berikut:

قال آدم صلى الله عليه وسلم : يا رب شغلتني بكسب يدي ، فعلمني شيئا فيه مجامع الحمد والتسبيح ، فأوحى الله تبارك وتعالى إليه : يا آدم إذا أصبحت فقل ثلاثا ، وإذا أمسيت فقل ثلاثا : الْحَمدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ ، فذلك مجامع الحمد والتسبيح

Artinya:

“Adam alaihissalam berkata: “Ya Allah Engkau membuatku sibuk dengan usaha dari tanganku, maka ajarkanlah aku sesuatu yang di dalamnya terkumpul seluruh pujian dan tasbih. Maka kemudian Allah memberikan wahtu kepada Adam. “Ya Adam, jika tiba waktu pagi ucapkanlah sebanyak tiga kali, jika tiba waktu sore, ucapkanlah tiga kali lafal ini: Alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn hamdan yuwâfî ni’amahu wa yukâfiu mazîdah (Segala puji bagi Allah dengan Pujian yang sebanding dengan nikmat-nikmat-Nya dan mencakup tambahannya). Itu adalah himpunan pujian dan tasbih. (Imam an-Nawawi, al-Adzkâr an-Nâwâwî, [Beirut: Dâr Kutub Islamiyah, 2004 M], j. 1, h. 174.) Wallahu a’lam.

Dari hadis di atas, kamu bisa menemukan macam bacaan Alhamdulillah lainnya, yaitu Alhamdulillahi rabbil ‘alamin hamdan yuwafi ni’amahu wa yukafiu mazidah.

Bacaan dzikir tersebut dianjurkan untuk diamalkan tiga kali pada waktu pagi dan petang.

Mengucapkan Alhamdulillah Saat Tertimpa Musibah

Di atas telah disebutkan bahwa sunah hukumnya untuk mengucapkan hamdalah saat ada anggota keluarga yang meninggal.

Sebab, Allah Swt. telah menjanjikan surga bagi hamba-Nya yang mengucapkan kalimat tahmid diikuti dengan istirja (inna lillahi wa inna ilaihi rajiun) saat ditinggal mati oleh buah hatinya.

Landasan Dalil Mengucap Hamdalah Ketika Ditimpa Musibah

Dalil yang melandasi kesunahan ini adalah hadis riwayat Imam at-Tirmidzi dari Abu Musa al-Asyar r.a. Kutipan hadis tersebut juga tertulis di kitab al-Adzkar an-Nawi oleh Imam an-Nawawi, seperti berikut:

عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ” إذا مات ولد العبد قال الله تعالى لملائكته : قبضتم ولد عبدي ؟ فيقولون : نعم ، فيقول : قبضتم ثمرة فؤاده ؟ فيقولون : نعم ؟ فيقول : فماذا قال عبدي ؟ فيقولون : حمدك واسترجع ، فيقول الله تعالى : ابنوا لعبدي بيتا في الجنة ، وسموه بيت الحمد ” قال الترمذي : حديث حسن.

Artinya:

“Dari Abu Musa al-Asyari r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika seorang anak hamba Allah meninggal, Allah Swt. akan berkata kepada para malaikatnya, “Kalian sudah mengambil ruh anak hamba-Ku?” para malaikat tersebut kemudian menjawab, “iya.” Allah Swt. kemudian bertanya lagi, “Kalian sudah mengambil ruh buah hatinya?” Para malaikat pun menjawab, “iya.” Allah Swt. kemudian bertanya lagi, “Apa yang diucapkan hamba-Ku?” Para malaikat menjawab, “Ia memujimu dan beristirja’” Maka Allah Swt. berfirman, “Bangunkan untuk hamba-Ku sebuah rumah di surga, dan namailah dengan bait al-hamd.” Imam at-Tirmidzi berkata bahwa hadis ini adalah hadis hasan. (Imam an-Nawawi, al-Adzkâr an-Nâwî, [Beirut: Dâr Kutub Islamiyah, 2004 M], j. 1, h. 173). Wallahu A’lam.

Penjelasan KH. Sujadi

Akan tetapi, perlu pemahaman lebih lanjut mengenai kesunahan mengucapkan Alhamdulillah pada kondisi ini agar tidak terjadi salah persepsi.

Sebagaimana dikatakan oleh Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Pringsewu, yaitu KH. Sujadi dalam acara Kajian Tafsir Al-Qur’an melalui Radio Nada Ummat, hal tersebut harus didasarkan pada keilmuan dan pengetahuan agama yang mendalam.

Jika tidak demikian, maka akan terdengar aneh bagi masyarakat saat tiba-tiba mengucapkan hamdalah ketika ada orang yang meninggal.

KH Sujadi menjelaskan bahwa mengucapkan Innalillahi artinya kita menyatakan bahwa semua milik Allah sudah seharusnya akan kembali kepada-Nya.

Sedangkan, ucapan hamdalah dalam hal ini adalah untuk memuji Allah Swt. karena kita dapat melihat orang yang kita cintai meninggal dalam keadaan baik.

Sebab, melihat orang yang kita cintai meninggal dalam keadaan Islam dan beriman merupakan suatu bentuk kebahagiaan. Terlebih jika orang tersebut meninggalkan kita dalam keadaan khusnul khatimah.

Lalu, apa keistimewaan dari mengucapkan hamdalah jika terjadi musibah?

Keistimewaan Mengucapkan Alhamdulillah Saat Terkena Musibah

Pada kutipan hadis di atas, telah jelas bahwa Allah Swt. akan menyiapkan surga bagi umat Islam yang terkena musibah kemudian mengucapkan hamdalah dan istirja.

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa mengucapkan hamdalah pada saat mengalami musibah memang tidak mudah. Apalagi jika mengucapkannya saat seseorang yang kita cintai telah tiada di depan mata kita sendiri. Tentu akan sangat berat.

Oleh karena itu, menurut KH Sujadi, seseorang yang mampu melakukannya tentu sudah berada di level yang tinggi dalam hal tingkat ketauhidan.

Sebab, ia bisa mengucapkan pujian kepada Allah Ta’ala dengan segenap hatinya meskipun di sisi lain perasaannya mungkin luluh lantak.

Sama halnya dengan seseorang yang berada di antara situasi penuh kemaksiatan tetapi tetap mampu untuk beribadah kepada-Nya dan memegang prinsip sebagai seorang Muslim sejati.

Orang-orang yang dapat melakukan hal tersebut tentu sudah pada tahap memegang keimanannya dengan sangat baik.

KH Sujadi berpendapat bahwa seseorang yang mampu memegang prinsip dan menjaga pendiriannya dalam kondisi seperti apa pun termasuk dalam golongan orang-orang yang sanggup mempertahankan eksistensi dirinya.

Contoh sederhananya adalah jika seseorang yang biasa menghafalkan sesuatu di tempat yang sunyi dan tenang, saat ia berhasil mengafalkan sesuatu di tempat yang ramai dan tidak kondusif, maka seseorang tersebut telah menjadi istimewa dan mempunyai kualitas hafalan yang lebih berkualitas.

Kata Penutup

Setelah memahami ulasan di atas, hendaknya kita mulai untuk membiasakan diri membaca hamdalah baik dalam keadaan senang maupun mengalami musibah.

Semoga dengan senantiasa memuji-Nya dan bersyukur atas nikmat-Nya, kita bisa menjalani kehidupan dengan penuh berkah bersama dengan orang-orang yang kita cintai.

Akan tetapi, jangan lupa untuk menghindari perbuatan yang tercela dan mengucapkan Alhamdulillah tersebut setelah selesai melakukannya. Sebab yang semacam itu haram hukumnya bagi umat Islam. Wallahu’alam.

Referensi:

https://islam.nu.or.id/post/read/87617/alhamdulillah-dan-hakikat-pujian-kepada-manusia

https://islam.nu.or.id/post/read/97616/macam-macam-lafal-hamdalah-menurut-para-ulama

https://islam.nu.or.id/post/read/97615/disunnahkan-membaca-alhamdulillah-dalam-11-kondisi-ini

https://islam.nu.or.id/post/read/48573/alhamdulillah-yang-dilarang

https://www.nu.or.id/post/read/126415/balasan-ketika-ditimpa-musibah-mengucapkan-alhamdulillah

 

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p