Mengenal Kitab Al Hikam dan Menimba Ilmu Darinya

Bagi yang berkecimpung di dunia pesantren, tentu tidak asing dengan sebuah kitab bernama Al Hikam. Pada kesempatan kali ini, Hasana.id ingin memaparkan pembahasan mengenai buku fenomenal tersebut. Apa saja pelajaran yang dapat kita petik darinya? Simak saja uraian berikut.

Kitab Al Hikam

Al Hikam adalah kitab yang kental bernuansa ajaran tasawuf. Dikarang oleh seorang ulama asal Mesir bernama Ibnu Atthaillah as-Sakandari.

Kitab berjudul asli Matan Al-Hikam Al-Athai sangat populer di lingkungan pesantren di Indonesia, khususnya yang berbasis ahlusunnah wal jamaah ala Nahdlatul Ulama.

Penulis Kitab Al Hikam menyandarkan ajaran tasawufnya pada Alquran dan As-Sunnah. Karya yang satu ini menonjolkan ciri khas tasawuf falsafi yang menitikberatkan urusan teologi atau akidah, diimbangi dengan pengamalan-pengamalan ibadah dan muamalah untuk mencapai makrifat.

Kitab Al Hikam merupakan pedoman bagi para pejalan suluk. Suluk sendiri adalah metode atau disiplin dalam mengerjakan berbagai bentuk ibadah dan amalan-amalan dengan satu tujuan, yaitu mendekatkan diri kepada Allah Swt. Metode ini menjadi ciri khas tradisi masyarakat penganut tarikat-tarikat Islam.

Al Hikam memberikan akomodasi bagi mereka yang ingin ber-suluk. Di dalamnya terdapat berbagai panduan untuk menempuh perjalanan spiritual tingkat lanjut. Termasuk berbagai metode-metode pelaksanaan dengan disiplin ketat sesuai kaidah yang terkandung dalam Alquran dan hadis.

Kunci dari kitab ini adalah spiritualitas tasawuf tingkat tinggi khas sufi. Oleh karena itu, tidak sembarang santri boleh mempelajarinya. Banyak pesantren mempersyaratkan si santri harus sudah menguasai berbagai khasanah ilmu agama, terutama ilmu bahasa Arab, fikih, akhlak, serta dasar-dasar tasawuf.

Terbagi menjadi pasal-pasal yang jumlahnya lebih dari 250 pasal, Al Hikam kemudian menjadi bahan kajian berbagai pihak. Bukan hanya lintas mazhab, melainkan juga lintas agama dan pemikiran. Maka dari itu, kitab tersebut dianggap penting oleh banyak kalangan.

Selanjutnya, kitab ini juga menjadi pijakan bagi ulama-ulama lain dalam menyusun karyanya masing-masing, termasuk kitab-kitab syarah (penjelasan) dan terjemahannya.

Di antara kitab syarah Al Hikam yang banyak beredar, antara lain Syarhul Hikam karya Sayid Ramadan Al-Buti, Nurrudin Barikani, dan Ali Baris.

Biografi Singkat Pengarang Kitab Al Hikam

Bernama lengkap Syekh Abu al-Fadhil Tajuddin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Abdul Rahman bin Abdullah bin Ahmad bin Isa bin al-Husain Athaillah al-Jizami. Beliau adalah ulama kelahiran 648 Hijriah atau sekitar tahun 1250 Masehi.

Julukan as-Sakandari atau al-Iskandari mengacu pada tempat kelahiran beliau, yaitu Aleksandria di Mesir. Pada masa kehidupan beliau, Mesir berada di bawah kekuasaan Dinasti Mamluk.

Pengarang Kitab Al Hikam berasal dari keluarga terdidik, terutama soal ilmu agama. Sang kakek sendiri dikatakan juga merupakan seorang ulama fikih terkemuka pada masanya.

Sejak kecil Ibnu Athaillah sudah aktif belajar kepada para ulama-ulama besar di zamannya. Salah satu guru terdekat beliau adalah Abu Al-Abbas Ahmad bin Ali Al-Anshari Al-Mursi, murid Abu Al-Hasan Al-Syadzili yang mendirikan tarikat Syadziliah.

Ibnu Atthaillah nantinya juga mewarisi ajaran tarikat tersebut, sekaligus menjadi imam tertinggi generasi ketiga. Terkait tarikat Syadiziliah ini, Ibnu Athaillah menyusun kitab yang khusus membahas tentangnya, yaitu Latha’if al-Minan fi Manaqib al-Syaikh Abu al-Abbas wa Syaikihi Abu al-Hasan.

Semasa tinggal di Aleksandria, beliau banyak belajar tafsir, hadis, fikih dan ushul fikih, nahwu shorof, dan lain sebagainya. Pada masa ini beliau terpengaruh pandangan kakeknya yang berlatar belakang fikih dan cenderung menolak paham tasawuf.

Namun, sejak bertemu dengan Abu al-Abbas, pandangan itu mulai berubah. Beliau malah berubah mengagumi tasawuf dan mempelajarinya dengan seksama. Sudah jelas buktinya, bahwa Ibnu Athaillah nantinya menyusun Al Hikam yang kemudian menjadi salah satu kitab wajib bagi pengamal tasawuf.

Pada akhirnya Ibnu Athaillah pindah ke Kairo dan menghabiskan hidupnya di sana hingga akhir hayatnya pada tahun 709 Hijriah, sekitar 1309 Masehi. Ibnu Athaillah sempat mengajar fikih di berbagai lembaga pendidikan, termasuk Masjid Al-Azhar Kairo.

Ringkasan Isi Kandungan Kitab Al Hikam

Cetakan asli Matan Al-Hikam Al-Athaii karya Ibnu Athaillah salah satunya tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Kitab ini disertai dengan keterangan tentang nama penulis dan sejumlah catatan penerbitan pada akhir bagian.

Koleksi Kitab Al Hikam tersebut terbagi jadi 3 bagian. Bagian pertama berisi 246 larik yang memuat tema-tema sufisme. Bagian kedua berisi nasihat-nasihat, sedang bagian ketiga berupa munajat atau doa-doa Ibnu Athaillah yang berjumlah 33 larik.

Guna melengkapi pemahaman mengenai pemikiran-pemikiran Ibnu Athaillah, Hasana.id akan mencoba menguraikan isi kandungan kitab Al Hikam secara ringkas. Meski tidak mencakup seluruh isi kitab, setidaknya uraian berikut dapat memberikan gambaran buat kamu untuk mempelajarinya.

Bergantung hanya kepada Allah

أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبيرِ. فَما قامَ بِهِ غَيرُكَ عَنْكَ لا تَقُمْ بهِ لِنَفْسِكَ

Maknanya:

“Istirahatkanlah dirimu dari melakukan tadbir (mengatur urusan duniawi) dengan susah payah. Karena, sesuatu yang telah diurus untukmu oleh selain dirimu (sudah diurus oleh Allah), tidak perlu engkau turut mengurusnya.” (Pasal 4)

Manusia memang dibekali kehendak untuk menginginkan segala sesuatu. Namun, hanya Allah-lah yang memiliki kekuasaan penuh untuk mewujudkan atau tidak mewujudkan keinginan itu. Allah Maha Berkehendak, dan kehendak-Nya adalah satu-satunya yang berlaku.

Sebagai contoh, petani menanam benih buah mangga di pekarangannya. Setiap hari dia menyirami dan memberinya pupuk, memang cuma itu yang bisa dia lakukan. Selebihnya, hanya Allah yang bisa menentukan pohon mangga dapat tumbuh, berbuah, atau mandul sekalipun.

Pelajaran pertama dari Kitab Al Hikam adalah tentang kepasrahan. Daripada sibuk memikirkan hasil yang akan diperoleh dari segala usaha yang kita lakukan, lebih baik kita fokus mengoptimalkan usaha yang dilakukan, nantinya Allah akan menentukan hasilnya seperti apa.

Ikhlas Menurut Al Hikam

الأَعْمالُ صُوَرٌ قَائَمةٌ، وَأَرْواحُها وُجودُ سِرِّ الإِخْلاصِ فِيها

Maknanya:

“Amal itu merupakan kerangka yang tetap (mati, tidak bergerak), dan ruhnya ialah keikhlasan yang ada (melekat padanya).” (Al Hikam 10)

Segala perbuatan pasti memiliki kandungan nilainya masing-masing. Di antara sikap dan perbuatan yang bernilai tinggi adalah jika dilandasi dengan rasa ikhlas. Ikhlas artinya bersih hati, murni, atau tulus. Secara bahasa berarti amal perbuatan yang dilakukan semata-mata karena Allah Ta’ala.

مِنْ عَلاماتِ النُّجْحِ في النِّهاياتِ، الرُّجوعُ إلى اللهِ في البِداياتِ

Maknanya:

“Di antara keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan.” (Pasal 26)

Ikhlas menurut Kitab Al Hikam 10 adalah roh dari segala bentuk amal. Amal akan menjadi sia-sia tanpa keikhlasan.

Ketika seseorang telah berniat ikhlas sebelum mengerjakan sesuatu, dirinya tidak akan lagi memikirkan hasilnya. Pasalnya, yang terpenting bagi dirinya hanyalah bagaimana dia tetap bisa menjaga keikhlasannya. Itu sudah merupakan keberhasilan tersendiri baginya.

مَنْ أَشْرَقَتْ بِدايَتُهُ أَشْرَقَتْ نِهايَتُهُ

Maknanya:

“Barangsiapa yang cemerlang pada permulaan, akan cemerlang pula pada kesudahan.” (Pasal 27)

Meski demikian, bukan berarti orang yang berniat ikhlas tidak bisa memperoleh hasil kesuksesan dari perbuatannya. Ikhlas memotivasi diri untuk lebih bersungguh-sungguh. Sementara, usaha keras dan sungguh-sungguh pada umumnya adalah rintisan dari keberhasilan.

ما اسْتُوْدِعَ في غَيْبِ السَّرائِرِ، ظَهَرَ في شَهادةِ الظَّواهِرِ

Maknanya:

“Apa yang tersimpan dalam kegaiban hati, akan teraktualisasikan (termanifestasi) di dunia nyata.” (Pasal 28)

Maka dari itu, hendaknya kita senantiasa menumbuhkan keikhlasan dalam diri. Jika mampu mendapatkannya, akan makin baik jika kita juga selalu menjaganya. Caranya adalah dengan selalu memelihara iman dan takwa kepada Allah Ta’ala.

Sifat-Sifat Allah

وكَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَلولاهُ ما كانَ وُجودُ كُلِّ شَيءٍ!

Maknanya:

“Bagaimana mungkin Dia bisa dihalangi oleh sesuatu, sementara apabila tidak ada Dia, niscaya tidak akan ada segala sesuatu itu?” (Pasal 15)

Kamu tentu sudah mengenal 20 sifat Allah Swt. yang wajib diketahui. Pasal 15 dari Kitab Al Hikam mengungkapkan tentang dua sifat Allah yang paling utama, yaitu Wujud dan Qidam.

Wujud artinya ada, berdiri sendiri, serta tidak ada yang menciptakan. Demikianlah Allah, Dia mutlak ada, tanpa bandingan dan tanpa tandingan.

Segala sesuatu bisa ada hanya karena adanya Allah, dalam hal ini Allah yang menciptakannya. Maka, mustahil menutupi kebenaran Allah dengan apa saja, karena Dia Maha Ada.

عَجَباً كَيْفَ يَظْهَرُ الوُجودُ في العَدَمِ! أَمْ كَيْفَ يَثْبُتُ الحادِثُ مَعَ مَنْ لَهُ وَصْفُ القِدَمِ!

Maknanya:

“Alangkah mengherankan, bagaimana mungkin keberadaan sesuatu yang ‘pasti ada’ (Allah) bisa terhalang oleh sesuatu yang (sebelumnya) ‘tidak ada’ (yaitu makhluk)? Bagaimana mungkin pula sesuatu yang baru (al-hadits, yaitu makhluk) dapat bersama dengan Zat yang memiliki sifat Qidam (tidak berpermulaan)?” (Pasal 16)

Apalagi Allah juga memunyai sifat Qidam, yaitu awal yang mendahului adanya segala sesuatu. Tentu saja Allah Ta’ala ada sebelum semua yang Dia ciptakan. Sebaliknya, mustahil semua yang kita ketahui sekarang ini bisa ada tanpa Allah menciptakannya.

Menunda Beramal Baik

إِحالَتُكَ الأَعْمالَ عَلَى وٌجودِ الفَراغِ مِنْ رُعُوناتِ النَفْسِ

Maknanya:

“Menunda beramal saleh guna menantikan kesempatan yang lebih luang, termasuk tanda kebodohan jiwa.” (Pasal 18)

Kebodohan jiwa yang dimaksud dalam Kitab Al Hikam pasal 18 ini adalah beberapa kemungkinan yang menyebabkan seseorang menyia-nyiakan kesempatan berbuat baik.

Alasan pertama, mungkin karena orang tersebut lebih mengutamakan kepentingan duniawi. Kedua, sombong karena merasa bisa menentukan nasibnya sendiri. Ketiga, melalaikan kenyataan bahwa hati cenderung bisa berubah-ubah.

Maka dari itu, segeralah menjalankan niat baik yang berawal dari keikhlasan. Kita tidak pernah tahu kapan ajal menjemput, yang otomatis itu akan menghentikan kemungkinan niat baik dapat terlaksana. Lagipula, niat baik dapat segera berubah karena hati manusia rentan terkena pengaruh segala hal.

Menaklukkan Hawa Nafsu

أَصْلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ وَشَهْوةٍ؛ الرِّضا عَنِ النَّفْسِ. وَأَصْلُ كُلِّ طاعَةٍ وَيَقَظَةٍ وَعِفَّةٍ؛ عَدَمُ الرِّضا مِنْكَ عَنْها. وَلَئِنْ تَصْحَبَ جاهِلاً لا يَرْضى عَنْ نَفْسِهِ خَيرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَصْحَبَ عالِماً يَرْضى عَنْ نَفْسِهِ. فأَيُّ عِلْمٍ لِعالِمٍ يَرْضى عَنْ نَفْسِهِ! وَأَيُّ جَهْلٍ لِجاهِلٍ لا يَرْضى عَنْ نَفْسِهِ!

Maknanya:

“Pangkal segala maksiat, kelalaian dan syahwat adalah ridha terhadap nafsu. Dan pangkal dari segala ketaatan, kewaspadaan dan kesucian adalah engkau tidak ridha terhadap hawa nafsu. Bersahabat dengan orang jahil yang tidak memperturutkan hawa nafsunya lebih baik bagimu daripada bersahabat dengan orang alim yang tunduk pada hawa nafsunya. Ilmu macam apa yang disandang si alim yang tunduk pada hawa nafsunya itu? Sebaliknya, kejahilan apa yang dapat disandangkan pada orang jahil yang tidak memperturutkan hawa nafsunya?” (Pasal 35)

Hawa nafsu adalah sumber dari segala jenis perbuatan maksiat. Perbuatan yang berlandaskan hawa nafsu sekilas terasa nikmat, tetapi pada dasarnya kenikmatan itu adalah tipuan. Pasalnya, tidak ada hawa nafsu yang mengarah pada kebaikan, seperti kutipan nasihat dari Al Hikam di atas.

Apabila seseorang terdorong untuk berbuat baik karena menuruti hawa nafsunya, maka sepatutnya dia curiga. Jangan-jangan ada dorongan itu mengandung setitik pamrih, sehingga mengotori niat dan pada akhirnya membuat dia lalai dari mengingat Allah.

Introspeksi Diri

تَشَوُّفُكَ إلى ما بَطَنَ فيكَ مِنَ العُيوبِ خَيْرٌ مِنْ تَشَوُّفِكَ إلى ما حُجِبَ عَنْكَ مِنَ الغُيوبِ

Maknanya:

“Usahamu untuk mengetahui aib-aib yang tersembunyi dalam dirimu adalah lebih baik daripada berusaha menyingkap perkara gaib yang tersembunyi darimu.” (Pasal 32)

Allah Ta’ala membekali manusia dengan akal dan hati untuk dapat membedakan hal-hal yang baik dan buruk. Meski demikian, seringkali kita gagal mengontrol diri, sehingga melakukan perbuatan yang seharusnya dihindari.

Pada dasarnya manusia sangat jauh dari kesempurnaan. Jadi, kesalahan adalah lumrah, termasuk kodrat manusia. Maka dari itu, agama Islam menganjurkan umatnya untuk senantiasa introspeksi diri, sebagai permulaan dari tobat, untuk kemudian memperbaiki kesalahan dan kembali ke jalan Allah Ta’ala.

Islam mengenal konsep muhasabah yang searti dengan introspeksi diri. Muhasabah adalah salah satu jalan mendekat kepada Allah. Dengan itu kita dapat lebih memahami diri sendiri, mengetahui kekurangan, serta mendorong diri untuk selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

Manfaat Shalat

الصَّلاةُ طُهْرَةٌ لِلْقُلوبِ مِنْ أَدْناسِ الذُّنوبِ، واسْتِفْتاحٌ لِبابِ الغُيوبِ

Maknanya:

“Salat merupakan penyucian hati dari kotoran dosa dan pembuka pintu kegaiban.” (Pasal 119)

Mustahil salat menduduki posisi kedua dalam rukun Islam jika ibadah yang satu ini tidak membawa manfaat besar. Telah kita ketahui bersama bahwa salat adalah tiang agama, di mana ia dapat mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan keji dan mungkar.

Selain itu, salat memberikan begitu manfaat rahasia yang akan bisa dirasakan apabila kita terus menerus mengerjakannya, apalagi dengan niat tulus ikhlas dan penuh kekhusyukan. Ibnu Athaillah sendiri dalam Al Hikam pasal 119 menerangkan bahwa salat merupakan sarana untuk menyucikan hati dari dosa.

Di dalam salat, kita berhadapan langsung dengan Allah Ta’ala. Bacaan-bacaan dalam salat merupakan media komunikasi seorang hamba dengan-Nya. Jika Allah menerima salat kita, otomatis Dia akan memancarkan cahaya-Nya bagi kita.

Memilih Pergaulan

لا تَصْحَبْ مَنْ لا يُنْهِضُكَ حالُهُ وَلا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقالُهُ

Maknanya:

“Janganlah engkau bersahabat dengan orang yang keadaannya tidak membangkitkan semangatmu, dan pembicaraannya tidak membimbing ke jalan Allah.” (Pasal 43)

Di antara faktor utama yang membentuk kepribadian manusia adalah lingkungan pergaulan, salah satunya pertemanan. Hampir sama seperti keluarga, lingkungan pertemanan memiliki andil besar dalam perkembangan kepribadian seseorang.

Sudah merupakan kodrat manusia, bahwa Allah menciptakannya berkelompok-kelompok, menurut kesamaannya masing-masing. Lingkaran pertemanan anak soleh cenderung akan menarik anak-anak yang soleh pula, dan itu berlaku sebaliknya.

Oleh karena itu, hendaknya kamu berhati-hati dalam memilih teman. Ibnu Athaillah dalam Al Hikam merumuskan kategori teman yang baik, yaitu mereka yang dapat memberi pengaruh positif.

Termasuk dalam hal mengingat Allah dengan selalu mengajak kita mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Menyikapi Pujian

المؤمِنُ إذا مُدِحَ اسْتَحْيا مِنَ اللهِ تَعالى أنْ يُثْنى عَلَيْهِ بِوَصْفٍ لا يَشْهَدُهُ مِنْ نَفْسِهِ

Maknanya:

“Ketika seorang mukmin dipuji, maka seharusnya ia merasa malu kepada Allah, karena ia dipuji dengan sifat yang tidak ia dapati dalam dirinya.” (Pasal 143)

Pasal 143 dalam Kitab Al Hikam, Ibnu Athaillah ingin memperingatkan kita semua agar tidak terburu-buru senang hati, bangga, apalagi besar kepala ketika menerima pujian dari orang lain. Pasalnya, pada dasarnya pujian itu kurang tepat jika ditujukan kepada kita.

Setiap dari kita pasti memiliki aib yang tersembunyi. Allah telah menutupinya, sehingga orang lain tidak mampu melihatnya. Ketika menerima pujian, hendaknya kita menyadari bahwa diri kita masih memunyai banyak kekurangan, sehingga pujian dapat melecut semangat untuk segera memperbaikinya.

Lagipula, sejatinya hanya Allah Ta’ala yang pantas mendapat pujian. Dia telah membuat kita memiliki kelebihan di mata orang lain, dan Dia membuat orang lain mampu melihatnya. Jadi ketika mendapat pujian, alangkah baiknya jika kita meneruskannya kepada Allah Ta’ala dengan memuji-Nya.

Jangan Putus Asa

إذا وَقَعَ مِنْكَ ذَنْبٌ فَلا يَكُنْ سَبَباً لِيأسِكَ مِنْ حُصولِ الاسْتِقامَةِ مَعَ رَبِّكَ، فَقَدْ يَكونُ ذلِكَ آخِرَ ذَنْبٍ قُدِّرَ عَلَيْكَ.

Maknanya:

“Apabila engkau terlanjur berbuat dosa, maka itu jangan membuat engkau putus asa dalam menggapai istiqomah kepada Rabb-mu, karena bisa jadi, itulah dosa terakhir yang ditakdirkan bagimu.” (Pasal 148)

Pasal 148 dalam Kitab Al Hikam ini mengingatkan kita bahwa Allah menjanjikan rahmat seluas-luasnya bagi siapa saja yang mau kembali ke jalan-Nya. Meski telah banyak berbuat dosa, bukan berarti kita lantas berputus asa, apalagi malah melakukan sesuatu yang bahkan dapat menjauhkan diri dari-Nya.

Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, Dia pasti akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya. Namun, Allah juga mengingatkan agar manusia mau bertobat dan memperbaiki kesalahan tersebut. Caranya adalah dengan berserah diri, sebelum datangnya azab yang tidak memungkinkan kita untuk ditolong lagi.

Menghindari Riya’

اسْتِشْرافُكَ أنْ يَعْلَمَ الخَلْقُ بِخُصوصِيَّتِكَ دَليلٌ عَلى عَدَمِ صِدْقِكَ في عُبودِيَتَّكَ

Maknanya:

“Keinginan agar orang lain mengetahui keistimewaan yang ada pada dirimu adalah bukti dari ketidaktulusan penghambaanmu.” (Pasal 161)

Rasulullah pernah menerangkan bahwa riya’ adalah syirik kecil. Artinya, seseorang melakukan suatu perbuatan bukan karena Allah, tetapi menyekutukannya dengan hawa nafsu sendiri, atau pencitraan demi meraih penilaian positif dari orang lain.

Riya’ dapat mengotori niat yang murni. Ibnu Athaillah juga menyebutkan tentang hal ini dalam pasal 161 Kitab Al Hikam. Menurut beliau, jika seseorang memiliki keistimewaan yang ingin diperlihatkan kepada orang lain, berarti dia bukanlah hamba yang tulus mengabdi.

Seperti diketahui, salah satu bentuk riya’ adalah memamerkan kelebihan kepada orang lain. Orang yang riya’ umumnya akan malas beramal ketika sendirian, kurang diperhatikan, atau mendapat cacian.

Tapi, dia akan berubah menjadi rajin saat ada di antara kumpulan orang dan jadi pusat perhatian, apalagi jika mendapatkan pujian.

Menghadapi Ujian dan Cobaan

رُبَّما وَجَدْتَ مِنَ المَزيدِ في الفاقاتِ ما لَمْ تَجِدُهُ في الصَّومِ وَالصَّلاةِ

Maknanya:

“Bisa jadi engkau memperoleh tambahan karunia dalam kesulitan yang menimpa, yaitu apa yang tidak engkau dapati di dalam puasa maupun salat.” (Pasal 175)

Ujian dan cobaan merupakan sunatullah, Allah pasti memberikannya kepada semua hamba-Nya tanpa terkecuali. Sesungguhnya hal itu merupakan salah satu bukti kekuasaan-Nya, serta menandakan bahwa Dia betul-betul memperhatikan makhluk-Nya.

Memang, pada umumnya manusia akan lebih mengingat Allah ketika sedang mendapatkan ujian. Selanjutnya, yang terpenting adalah bagaimana cara menyikapi ujian tersebut.

Apakah kita bisa bersabar dan berserah diri? Ataukah malah berpaling dari Allah dengan bersenang-senang untuk lari dari kenyataan?

Ibnu Athaillah dalam pasal 175 Kitab Al Hikam mengajak kita untuk berpikir optimis dalam menghadapi cobaan. Cobaan bisa menjadi sarana penghapusan dosa. Allah pun menjanjikan ganjaran setimpal bagi siapa saja yang bisa melalui ujian dengan bersabar, berserah diri, dan tetap bersyukur.

Manfaat Ibadah

لا يَزيدُ في عِزِّهِ إقْبالُ مَنْ أَقْبَلَ، وَلا يَنْقُصُ مِنْ عِزِّهِ إدْبارُ مَنْ أدْبَرَ

Maknanya:

“Tidaklah bertambah kemuliaan Allah karena seseorang mendekat kepada-Nya, dan tidak berkurang kemuliaan-Nya karena seseorang menjauhi-Nya.” (Pasal 212)

Pasal 212 Kitab Al Hikam di atas, menyiratkan bahwa Allah seakan-akan tidak membutuhkan amal ibadah kita. Kita beribadah atau tidak, Allah tetaplah Maha Agung. Kemuliaan Allah tidak terpengaruh sama sekali, bahkan jika kita menjauhi-Nya. Lalu, demi apa kita beribadah?

Manusia hidup karena Allah menciptakan jasadnya, lalu meniupkan ruh kepadanya. Kemudian dia bisa bertumbuh karena Allah telah menetapkan ketentuan-Nya dalam sunatullah.

Dia pun dapat berkembang atas rezeki dari Allah Ta’ala. Sampai suatu saat, ketika Allah mengambilnya kembali ke sisi-Nya.

Tentu saja, manusia diperintahkan untuk beribadah demi kepentingannya sendiri. Pada dasarnya manusialah yang membutuhkan kehadiran Allah Ta’ala, dan ibadah merupakan salah satu cara untuk menemui-Nya.

Tanpa kita sadari, ibadah dengan niat semata-mata karena Allah membawa berbagai manfaat positif. Hati dan pikiran akan menjadi tenang, sehingga kita bisa berpikir lebih jernih.

Ibadah membantu kita memahami diri sendiri, juga mengerti tujuan hidup. Sikap kita pun selalu terukur, dan itu akan menjaga kemuliaan kita sebagai manusia.

Mutiara ilmu dari Kitab Al Hikam di atas sekaligus menjadi akhir dari pembahasan kali ini. Pada dasarnya masih banyak khasanah lain yang bisa dipetik dari kitab karya Ibnu Athaillah tersebut.

Namun, tentu saja tak mungkin Hasana.id bisa menguraikan semua isinya di sini. Akhir kata, semoga ringkasan di atas bermanfaat buat kamu sekalian.

Referensi:

https://www.nu.or.id/post/read/33297/al-hikam-itu-kitab-tua-tapi

https://www.qudusiyah.org/id/kajian/al-hikam/

https://www.nu.or.id/post/read/41188/kitab-al-hikam

Click to access 41986-ID-aplikasi-kitab-al-hikam-di-pondok-pesantren-bi-baa-fadlrah-turen-kabupaten-malan.pdf

Click to access 229570786.pdf

https://www.kangdidik.com/2019/10/terjemah-kitab-al-hikam-bahasa.html

https://www.researchgate.net/publication/337716973_Manuskrip_Al-Hikam_Edisi_Teks_dan_Terjemahan

https://bumisultra.com/document/read/1-al-hikam

Click to access %28Ibnu%20Atha%27ilah%29%20Al-Hikam%20Al-Atha%27iyyah%20%28Kata%20Mutiara%29.pdf

https://www.alkhoirot.org/2018/05/terjemah-al-hikam.html

LSI:

Al Hikam 10

Ikhlas menurut kitab al hikam

ibnu athaillah

isi kandungan kitab al hikam

 

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p

close-link
Chat Admin..
1
3 Ebook Islami GRATIS!
3 Ebook Islami GRATIS!
Mau? Klik "Chat Admin" sekarang!