Innalillahiwainnailaihirojiun | إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ‎ [PENJELASAN LENGKAP]

Mengucapkan innalillahiwainnailaihirojiun adalah hal yang lazim dilakukan setiap muslim tatkala mendengar kabar seseorang meninggal dunia atau tertimpa musibah. Namun, pernahkah kamu mengetahui makna di balik kalimat innalillahiwainnailaihirojiun?

Dua Fase Kehidupan Manusia

Kehidupan yang dijalani oleh manusia ada dua fase, yakni fase kehidupan di dunia dan fase kehidupan di akhirat yang dimulai dengan menempuh kematian.

Fase kehidupan di dunia adalah kehidupan yang singkat bahkan terlalu singkat untuk hanya sekadar menumpuk harta dan kesenangan, tetapi kehidupan akhirat adalah kehidupan yang tidak berkesudahan dan abadi.

Allah menghidupkan kita di dunia sebelum memasuki fase akhirat tujuannya adalah agar kita bisa memilih tempat yang ingin kita huni di akhirat, apakah di surga atau di neraka. Jika memilih surga, tugas kita di dunia harus menempuh jalur surga, begitu pula sebaliknya.

Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 185:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Kullu nafsin dzaaiqatul maut, wainnama tuwaffauna ujuurakum yaumal qiyamah, faman zuhziha ‘anin naar waudkhilal jannata faqad faaz, wamal hayaatud dunyaa illaa mataa’ul ghuruur

Artinya: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasai mati, dan hanya dihari kiamat lah pahalamu disempurnakan, barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan dalam surga sungguh dialah yang paling berntung, dan tidaklah kehidupan didunia melainkan kesenangan yang menipu.” (Ali Imran: 185)

Begitulah Al-Qur’an menjelaskan perihal kematian yang akan dihadapi oleh setiap manusia dimuka bumi ini. Tidak ada yang bisa lari dan menghidar dari kematian, bahkan formula keabadian pun tidak akan pernah bisa ditemukan untuk memperpanjang umur manusia.

Islam tidak mengajarkan kepada umatnya untuk takut menghadapai kematian, tetapi juga tidak boleh menginginkan untuk cepat dijemput ajal. Akan tetapi, yang Islam ajarkan adalah bagaimana kematangan persiapan kita menghadapi kehidupan setelah kematian datang.

Di era zaman yang serba canggih dan berteknologi tinggi, sebagian besar peristiwa masa depan sudah diketahui jauh-jauh hari sebelum peristiwa tersebut terjadi. Namun tidak demikian dengan kematian, karena kematian sepenuhnya wewenang Allah Swt tanpa ada campur tangan manusia.

innalillahiwainnailaihirojiun tulisan arab

Mengenai Kematian

Ada beberapa poin yang harus kita pahami bersama yang berkaitan dengan kematian.

Pertama, ketika sahabat atau keluarga kita meninggal tentu sangat menyesakan dada. Apalagi jika yang meninggal adalah orang yang kita sayangi.

Lantas, apa yang harus kita lakukan jika keluarga, kerabat, dan handai taulan kita meninggal untuk membantu menambah bekal mereka di akhirat?

Kedua, Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dari lahir sampai tua, sejak lajang sampai berkeluarga, dari di dunia sampai akhirat. Maka, bagaimana pandangan islam perihal kematian?

Ketiga, berbicara tentang kematian tidak luput dari yang namanya umur. Umur tua tidak menjamin ajal menghampiri dan umur muda belum tentu kematian lebih lama. Lalu, bagaimana islam memandang umur manusia?

Keempat, inti dari sebuah kematian bukanlah hanya berakhirnya hidup di dunia. Akan tetapi, yang terpenting adalah kehidupan yang harus dilalui setelah datangnya kematian.

Apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi kehidupan setelah kematian, di mana kehidupan kedua tersebut belum pernah seorang pun yang mengalaminya. Apa persiapan kita menghadapi kematian?

Beberapa pertanyaan di atas akan hasana.id uraikan di bawah dengan lebih detail dan tidak lupa disertai dengan dalil-dalil yang menguatkan isi pembahasan kita.

Innalillahiwainnailaihirojiun | إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ‎

Musibah sejatinya adalah proses pengampunan dosa dari banyaknya dosa-dosa yang telah kita kerjakan dahulu, baik musibah berupa kehilangan harta, sakit, sampai kematian.

Setiap manusia yang hidup di muka bumi pasti akan mengalami musibah dan cobaan. Itulah pertanda kebutuhan kita kepada Tuhan dan kelemahan kita yang masih harus bergantung pada-Nya .

Islam telah mengatur kehidupan manusia di segala lini sampai memberikan solusi terhadap apa saja cobaan yang dialami. Demikian halnya ketika mendapat musibah, setiap muslim dianjurkan untuk mengucapkan kalimat istirja’ yaitu innalillahiwainnailaihirojiun.

Berikut ini kalimat istirja’ atau innalillahiwainnailaihirojiun yang benar, baik Arab, latin, dan terjemahannya.

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Innalillahiwainnailaihirojiun

Artinya: “Sesungguhnya kita milik Allah dan kepadanyalah kita kembali.”

Sebagaimana dalam surat Al Baqarah ayat 156:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Alladziina idzaa ashaabathummushibah qaaluu innaa lillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun

Artinya: “yaitu ketika mereka ditimpa musibah mereka mengucapkan inna lillahi wainna ilaihi rajiun ( sesungguhnya kita milik Alllah dan kepadanya kita kembali).”

innalillahiwainnailaihirojiun ucapan

Keutamaan di Balik Kalimat Istirja’ Innalillahiwainnailaihirojiun

Berikut kami uraikan satu persatu makna innalillahiwainnailaihirojiun secara lebih mendetail.

Kalimat Innalillahiwainnailaihirojiun Sebagai Bentuk Tawakkal dan Keikhlasan

Mengucap kalimat istirja’ adalah mengajak hati kita untuk menerima segala sesuatu yang ditakdirkan Allah dengan lapang dada baik itu kadar baik maupun kadar buruk, juga memberi arti tawakkal dan menyerahkan segala urusan kepada Allah, sebagaimana dalam firman Allah surat Ath Thalaq ayat 2

ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

Dzaalikum yuu’adlu bihi man kana yu’minu billaahi walyaumil aakhir waman yattaqillaaha yaj’al lahu makhrajaa

Artinya: “Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang-orang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan memberi baginya jalan keluar.”

Mengucapkan Innalillahiwainnailaihirojiun Dapat Meringankan Hati

Dengan mengucapkan innalillahiwainnailaihirojiun, kita telah menjadikan hati tenang dan lebih relaks karena musibah yang kita alami tidak lain semata hanya dari Allah.

Bersabar dengan Cobaan

Cobaan terberat adalah ketika orang yang kita sayangi kembali ke hadirat IIlahi, maka di sinilah tingkat kesabaran diuji, orang yang mampu melewati semua ini pasti akan Allah naikkan ke derajat yang tinggi.

Sebagaimana dalam hadis Rasulullah saw bersabda:

قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: إذَا أَحَبَّ اللهُ عَبْدًا ابْتَلَاهُ بِبَلَاءٍ لَا دَوَاءَ لَهُ، فَإِنْ صَبَرَ اجْتَبَاهُ، وَإِنْ رَضِيَ اصْطَفَاهُ

Idzaa ahabballaahu ‘abdan ibtalaahu bibalaain laa dawaa a lahu fain shabara ijtabaahu wain radhiaishtafahu

Artinya: “Apabila Allah menginginkan mencintai hambanya maka maka Allah akan menguji dengan ujian yang tidak ada penawarnya, jika ia bersabar maka ia memilihnya dan jika dia ridha maka Allah akan memilihnya.”

Mengendalikan Emosi

Manusia yang ketika ditimpa musibah, tetapi masih saja kelihatan tenang dan tegar dia patut untuk dipuji. Karena di samping telah mengalahkan rasa sakit yang mendalam, dia juga telah mampu mengendalikan hawa nafsu atau emosinya.

innalillahiwainnailaihirojiun adalah kalimat

Hal yang Harus Dilakukan Ketika Mendapat Kabar Meninggal Selain Mengucap Innalillahiwainnailaihirojiun

Semua orang pernah merasakan kehilangan, ada yang kehilangan sesuatu yang tidak berharga, ada juga yang kehilangan sesuatu yang tak akan pernah bisa dilupakan. Salah satunya adalah kehilangan keluarga kita.

Kehilangan orang yang sangat kita cintai memang sangat berat, apalagi jika orang tersebut sangat berpengaruh dalam kehidupan kita.

Namun apa yang harus kita lakukan jika ada dalam lingkungan kita yang meninggal, berikut kita terakan dibawah

1. Membaca Surat Yasin dan Surat Ar- Ra’d bagi Orang yang Sekarat

Tujuan membaca kedua surat ini adalah untuk mempermudah keluarnya ruh dari orang tersebut seperti dalam kitab I’anah At Thalibin:

ما من ميت يقرأ عنده يس إلا هون الله عليه. ويستحب – إذا احتضر الميت – أن يقرأ عنده أيضا سورة الرعد فإن ذلك يخفف عن الميت سكرة الموت، وإنه أهون لقبضه، وأيسر لشأنه

Ma min mayyitin yuqrau ‘indahu yaasiin illaa hawwanallahu ‘alaihi, wayustahabbu idza ihtadharal mayyit an yaqra a ‘indahu aydhan suratur ra’d fainna dzalika yukhaffifu ‘anil mayyit sakratal maut wainnahu ahwanun liqabdhihi waaisara lisya’nihi

Artinya: “Tidaklah orang sakit yang dibacakan surat yasin melainkan Allah permudah baginya, Dan disunahkan bagi orang yang datang menjenguk orang yang sakratul maut agar membaca surat Ar Ra’d agar mempermudah keluarnya roh dari badan orang sakit.”

2. Mengucap Kalimat Istirja’ Innalillahiwainnailaihirojiun

Rasulullah saw bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ. اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا. إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

Ma min muslim tushiibuhu mushiibatan fayaquuli ma amarahullahu inna lillaahi wainnaa ilaihi raaji’un allaahumma ajirnii fi mushiibatii wakhliflii khairan minha illaa akhlafallaahu lahu khairan minhaa

Artinya: “Tidaklah seorang muslim yang ditimpa musibah kemudian mengucap innalillahiwainnailaihirojiun melainkan Allah hadiahkan yang lebih baik kepadanya.”

Imam Al Gazali menambahkan dalam kitabnya Adab fid din berkaitan tentang adab dan tatakrama bertakziah yang harus diperhatikan

آداب المعزّي: خفض الجناح، وإظهار الحزن، وقلة الحديث، وترك التبسم فإنه يورث الحقد

Adaabul mu’azzi khafdhul janaahi waidlharul huzni waqillatul hadiits watarkut tabassum fainnahu yuuritsul hiqda

Artinya: “Beberapa adab ketika bertakziah yaitu tidak melakukan hal-hal yang kurang baik atau kurang layak, menampakkan rasa duka, sedikit berbicara, dan tidak menampakkan raut muka senang, karena itu dapat menyebabkan ketidaksukaan orang kepada kita.”

3. Mengurus Jenazah

Mengurus jenazah adalah fardhu kifayah, artinya kewajiban bersifat atas kelompok. Jika di daerah orang meninggal tersebut sudah ada yang mengurus, kewajiban masyarakat muslim atau keluarga yang lain sudah gugur.

Maksud dari mengurus di sini adalah memandikan, mengafani, mensalatkan, dan menguburkan. Semua harus sesuai tata cara yang sudah diatur oleh syariat.

4. Takziyah

Menurut Imam Al Gazali ada empat hal yang harus diperhatikan ketika bertakziah ke tempat duka, yaitu:

1. Menghindari hal-hal yang tidak semestinya.

2. Menampakkan perasaan duka.

Ini sangat perlu untuk dilakukan, untuk menjaga sanak family dan keluarga yang ditinggalkan dalam kondisi yang masih sedih, bukan malah menampakkan rasa ceria

3. Sedikit berbicara.

Alangkah baik ketika melayat tidak berbicara hal yang tidak perlu dan lebih banyak menghibur keluarga yang ditinggalkan

4. Tidak menampakkan perasaan senang sehingga mereka tidak berburuk sangka kepada kita.

innalillahiwainnailaihirojiun disebut bacaan

Kematian Dalam Islam

إَنَّ مِنْ أَمَارَاتِ السَّاعَةِ أَنْ يُظْهِرَ مَوْتِ الْفَجْأَةِ

Inna min amaaraatis saa’ah an yudlhira mautil faj ah

Artinya: “Termasuk dalam tanda tanda akhir zaman adalah merebaknya kematian mendadak.”

Manusia tidak akan bisa menghindar dari kematian, juga tidak perlu untuk mengejarnya, karena kematian adalah ketentuan Allah yang telah ditetapkan kepada seluruh hambanya.

Ketika kematian telah mendatangi manusia disitulah babak baru kehidupan dimulai, dimana surga dan nerakanya seseorang akan Nampak ketika manusia telah dibaringkan didalam liang lahat.

Orang yang kehidupan di dunia sibuk dengan perbuatan yang dilarang oleh Allah pasti akan gemetar dan takut mendengar kabar kematian, tetapi tidak demikian dengan orang beriman dan bertakwa. Mereka akan senang sebab kematian adalah penghubung antara dia dengan Tuhannya,

Rasulullah saw bersabda:

الْمَوْتُ جِسْرٌ يُوْصِلُ الْحَبِيْبَ إِلَى الْحَبِيْبِ

Al Mautu jisrun yuushilul habiiba ilal habiibi

Artinya: “Kematian adalah jembatan yang menghubung kekasih dengan kekasihnya.”

Kematian adalah jembatan menuju Tuhan, karena kita tidak akan pernah bisa melihat langsung Allah Swt jika ruh masih berada dalam jasad, maka satu-satunya jalan menuju Tuhan adalah kematian

Meskipun bentuk kematian semua makhluk sama saja, yaitu dengan keluarnya ruh maka orang tersebut sudah dikatakan meninggal. Akan tetapi, Islam memandang beda tiap-tiap orang yang meninggal.

Ada empat golongan orang meninggal menurut islam seperti dalam sabda Rasulullah Saw

  1. Kematian Ulama
  2. Meninggalnya orang kaya
  3. Kematian orang miskin
  4. Wafatnya seorang pemimpin

الْمَوْتُ أَرْبَعٌ مَوْتُ الْعُلَمَاءِ وَمَوْتُ الْأَغْنِيَاءِ وَمَوْتُ الْفُقَرَاءِ وَمَوْتُ الْأُمَرَاءِ فَمَوْتُ العُلَمَاءِ ثُلمَةٌ في الدِّينِ وَمَوْتُ الأَغْنِيَاءِ حَسَرَةٌ وَمَوْتُ الْفُقَرَاءِ رَاحَةٌ وَمَوْتُ الْأُمَرَاءِ فِتْنَةٌ

Artinya: “Kematian dalam islam ada empat, kematian orang alim, kematian orang kaya, kematian orang fakir, dan kematian pemimpin. Matinya ulama menimbulkan perpecahan umat, matinya orang kaya menyebabkan kegundahan, matinya orang fakir menjadi peristirahatan, dan matinya pemimpin menimbulkan fitnah.”

Umur Dalam Islam

Di antara amanah yang Allah titipkan kepada manusia adalah umur. Banyak manusia yang tak mampu menjaga umurnya dengan baik sehingga umur berlalu sehari, sebulan, bahkan bertahun-tahun tanpa ada sesuatu yang bisa menjadi bekal kelak di akhirat.

Padahal, perihal umur siapa yang tahu. Begitulah kiranya banyak orang mengatakan. Memang benar tidak ada yang tau persoalan umur, kita hanya bisa mengisi sisa-sisa umur kita dengan hal-hal kebaikan.

Umur adalah waktu yang Allah berikan kepada segenap makhluk-Nya. Nantinya kita akan diminta pertanggungjawaban tentang umur kita, apakah lebih banyak kita isi dengan kebaikan atau malah lebih dikotori dengan kejahatan.

Ada manusia yang hidupnya melewati 100 tahun pun ada juga yang hanya 1 hari melihat dunia, semua sesuai dengan porsi masing-masing. Namun, Imam Gazali sedikit berbeda sudut pandang tentang umur, beliau hanya menganggap umur manusia tidak lebih dari tiga hari.

1. Hari Kemarin

Yaitu hari yang telah kita lalui dan jalani, tidak bisa kita putar kembali, tidak ada mesin yang dirancang untuk bisa kembali kehari kemaren, kita hanya bisa mengharap semoga hari kemaren amal baik lebih banyak ketimbang amal buruk

2. Hari Ini

Hari ini adalah hari dimana kita sedang melakukan suatu perbuatan, kita tidak bisa menyimpan hari ini untuk kedepan ataupun mebuangnya ke hari kemaren, yang kita bisa hanya menjalaninya. Maka jalanilah hari ini sebaik mungkin karena yang benar-benar milik kita hanyalah hari ini

3. Hari Esok

Esok adalah hari yang sama sekali belum tersentuh dan belum tentu akan menjadi milik kita, kita hanya bisa berharap dengan harapan yang baik semoga hari esok menjadi hari paling baik diantara segala hari

Rasulullah saw bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

Laa tazuulu qadamu ibni adam yaumal qiyaamah min ‘indi rabbihi hattaa yusala ‘an khamsinn’an ‘umurihi fiima afnaahu wa ‘an syababihi fiima ablaahu wamalihi min aina iktasabahu wafima anfaqahu wamadza ‘amila fiimaa ‘alima

Artinya: “Tidak akan tergelincir kaki manusia pada hari kiamat sehingga ditanya tentang lima hal, tentang umurnya kemana dia gunakan, tentang masa mudanya kemana dia habiskan, tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan kemana dia habiskan, dan tentang apa yang dia amlka dengan ilmu yang diketahuinya.” (HR. Tirmidzi)

innalillahiwainnailaihirojiun disebut juga dengan lafadz

Mempersiapkan Hidup Setelah Mati

Dunia dan isinya adalah cobaan dan ujian bagi kita semua dalam beribadah kepada Allah. Orang yang terpedaya dengan kenikmatan dunia dan lalai dari beribadah kepada Allah, mereka telah jatuh kedalam jurang yang sangat dalam. Hal ini senada denagan ucapan Rasulullah saw.

إِنَّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ من بعدي ما يفتح عليكم من زهرة الدنيا و زينتها

Inna mimma akhaafu ‘alaikum min ba’dii ma yuftahu ‘alaikum min zahratid dunyaa waziinataha

Artinya: “Sesungguhnya yang aku (Muhammad) khawatirkan atas kalian adalah dibukanya bunga-bunga dunia dan hiasannya.”

Kehidupan di dunia bukanlah kehidupan yang hakiki dan abadi. Kita tidak perlu terlalu mencai kenyamanan di sini, toh nantinya kita juga akan pergi. Tidak akan benar-benar menetap, tetapi hanya singgah sebentar untuk mengumpulkan bekal esok ketika kita sudah pulang ke akhirat.

Layaknya seorang perantau yang pasti akan pulang ke kampung halaman suatu hari nanti, begitulah kita di dunia. Suatu hari kita pasti akan pulang, tetapi apakah bekal kita sudah cukup atau belum?

Maka, mulai hari ini kumpulkan bekal dengan beramal sebaik mungkin, agar rumah kita diakhirat nanti menjadi rumah yang senyaman mungkin.

Adapun bekal yang dibutuhkan untuk meraih kebahagiaan di akhirat adalah dengan memperbnyak amal shaleh, karena Allah telah menjanjikan bertemu dengan-Nya di surga. Sebagaimana dalam surat Al Kahfi ayat 110:

فَمَنْ كانَ يَرْجُوا لِقاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

Faman kaana yarjuu liqaa a rabbihi falya’mal ‘amalan shaaliha walaa yusyrik bi’ibaadati rabbihi ahadaa

Artinya: “Barangsiapa berharap bertemu dengan-Nya maka hendaklah mengerjakan amal saleh dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”

bacaan innalillahiwainnailaihirojiun

Menjauhi Perbuatan Jahat

Sebagaimana yang harus kita perbanyak adalah amal baik, tentu saja yang harus kita jauhi adalah amal buruk. Tidak akan berguna amal baik jika dibarengi dengan amalan yang jahat.

Para ulama terdahulu sangat mementingkan hal ini, mereka tidak akan sembarangan dalam mengerjakan sesuatu. Bukan saja yang haram dan makruh yang mereka tinggalkan, tetapi juga perbuatan mubah yang tidak ada manfaatnya untuk akhirat.

Bekal terakhir yang perlu kita lakukan adalah terus bertaubat memohon ampun kepada Allah, meskipun dosa yang telah kita kerjakan terlalu banyak. Karena bukanlah manusia paling baik mereka yang tidak pernah melakukan dosa, tetapi manusia terbaik adalah yang mau bertaubat atas kesalahannya.

Taubatlah kepada Allah meskipun kamu selalu mengerjakan dosa, teruslah bertaubat sampai kamu tidak lagi melakukan dosa.

من أحكم مقام توبته حفظه الله تعالى من سائر الشوائب التى فى الأعمال

Artinya: “Barangsiapa menguatkan taubatnya kepada Allah, niscaya Allah jaga dia dari hal hal yang menghilangkan pahalanya dalam beramal.”

Di antara manusia terbaik didunia hanya orang yang mau bertaubatlah yang paling dicintai oleh Allah Swt. Jika Allah telah mencintai kita, tentu saja apapun yang menghalangi kita akan Allah permudah. Sebagaimana dalam surat Al Baqarah ayat 222:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Innallaha yuhibbut tawwaabiin wayuhibbul mutathahhiriin

Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai mereka yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”

Namun, jika kita menunda-nunda dan enggan untuk bertaubat, kita termasuk orang yang menzalimi diri sendiri sebagaimana dalam firman Allah Surat Al Hujurat ayat 11:

وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Waman lam yatub fa ulaaika humudl dlalimuun

Artinya: “Dan barang siapa yang tidak mau bertaubat maka mereka termasuk orang-orang yang zalim.”

Penutup

Kematian adalah hal yang tidak bisa kita hindari, mencintai dunia dengan berlebihan dapat menyebabkan kita takut akan mati. Yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan bekal menghadapi kematian sebanyak mungkin.

Terlebih, kematian adalah jembatan antara dunia yang fana dengan kehidupan yang abadi di akhirat kelak.

Adapun bekal yang harus kita siapkan di dunia adalah memperbanyak amal saleh, meninggalkan amal buruk dan bertaubat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang berbahagia di akhirat. Aamiin.

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p