Innalillahiwainnailaihirojiun | إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ‎ [PENJELASAN SANGAT LENGKAP]

JANGAN KETINGGALAN
EMAIL EKSLUSIF
Dapatkan email-email terbaik langsung ke inbox kamu dari hasana.id
Subscribe!
in syaa Allah manfaat 🙂

Kehidupan yang dijalani oleh manusia ada dua fase yakni fase kehidupan di dunia dan yang kedua yaitu fase kehidupan diakhirat yang dimulai dengan menempuh kematian.

Kehidupan didunia adalah kehidupan yang singkat bahkan terlalu singkat untuk hanya sekedar menumpuk harta dan kesenangan, namun kehidupan akhirat adalah kehidupan yang tidak berkesudahan dan abadi.

Allah menghidupkan kita didunia sebelum memasuki fase akhirat tujuannya adalah agar kita bisa memilih dimana tempat yang ingin kita diami diakhirat, apakah di surga atau dineraka. Jika memilih surga maka tugas kita didunia yaitu menempuh jalur surga, pun begitu sebaliknya

Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 185:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Latin: Kullu nafsin dzaaiqatul maut, wainnama tuwaffauna ujuurakum yaumal qiyamah, faman zuhziha ‘anin naar waudkhilal jannata faqad faaz, wamal hayaatud dunyaa illaa mataa’ul ghuruur

Artinya: Setiap yang bernyawa pasti akan merasai mati, dan hanya dihari kiamat lah pahalamu disempurnakan, barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan dalam surga sungguh dialah yang paling berntung, dan tidaklah kehidupan didunia melainkan kesenangan yang menipu. (Ali Imran: 185)

Begitulah Al Quran menjelaskan perihal kematian yang akan dihadapi oleh setiap manusia dimuka bumi ini. Tidak ada yang bisa lari dan menghidar dari kematian, bahkan formula keabadian pun tidak akan pernah bisa ditemukan untuk memperpanjang umur manusia.

Islam tidak mengajarkan kepada ummatnya untuk takut menghadapai kematian, namun juga tidak boleh mengnginkan untuk cepat dijemput ajal. Akan tetapi yang islam ajarkan adalah bagaimana kematangan persiapan kita menghadapi kehidupan setelah kematian datang.

Di era zaman yang serba canggih dan berteknologi tinggi, sebagian besar peristiwa masa depan sudah diketahui jauh-jauh hari sebelum peristiwa tersebut terjadi, namun tidak demikian dengan kematian, karena kematian sepenuhnya hak perogatif dan wewenang Allah Swt tanpa ada campur tangan manusia.

Ada beberapa poin yang harus kita pahami bersama yang berkaitan dengan kematian.

Pertama, ketika sahabat atau keluarga kita meninggal tentu sangat menyesakkkan dada, apalagi jika yang meninggal adalah orang yang kita sayangi, untuk membantu menambah bekal mereka diakhirat apa yang harus kita lakukan jika keluarga, kerabat, dan handai taulan kita meninggal?

Kedua islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dari semenjak lahir sampai tua, dari semenjak jomblo sampai berkeluarga, dari mulai didunia sampai akhirat, maka dari itu bagaimana pandangan islam perihal kematian?

Ketiga, berbicara tentang kematian tidak luput dari yang namanya umur. Umur tua tidak menjamin ajal menghampiri dan umur muda belum tentu kematian lebih lama, bagaimana islam memandang umur manusia?

Keempat inti dari sebuah kematian bukanlah hanya semata-mata diri kematian, akan tetapi yang paling penting adalah kehidupan yang harus dilalui setelah datangnya kematian. Apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi kehidupan setelah kematian, dimana kehidupan kedua tersebut belum pernah seorangpun yang mengalaminya. Apa persiapan kita menghadapi kematian?

Beberapa pertanyaan diatas akan coba kita uraikan dibawah dengan lebih detil dan tidak lupa disertai dengan dalil-dalil yang menguatkan isi pembahasan kita.

Inna lillahi wainna ilaihi raaji’un

Musibah sejatinya adalah proses pengampunan dosa dari banyaknya dosa-dosa yang telah kita kerjakan dahulu, baik musibah berupa kehilangan harta, kehilangan kesehatan sampai kematian

Setiap manusia yang hidup di muka bumi pasti akan mengalami musibah dan cobaan, itu sebagai pertanda kebutuhan kita kepaa tuhan dan kelemahan kita yang masih harus bergantung padaNya .

Islam telah mengatur kehidupan manusia disegala lini sampai memberikan solusi terhadap apa saja cobaan yang dialami

Adalah suatu anjuran ketika mendapat musibah untuk mengucapkan kalimat istirja’ yaitu Inna lillahi wainna ilaihi rahi’un,

Berikut kalimat istirja’ yang benar serta latin dan terjemahannya

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Latin: Inna lillaahi wainna ilaihi raaji’un

Artinya: sesungguhnya kita milik Allah dan kepadanyalah kita kembali

sebagaimana dalam surat Al Baqarah ayat 156

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Latin: Alladziina idzaa ashaabathummushibah qaaluu innaa lillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun

Artinya: yaitu ketika mereka ditimpa musibah mereka mengucapkan inna lillahi wainna ilaihi rajiun ( sesungguhnya kita milik Alllah dan kepadanya kita kembali)

Ada beberapa keutamaan dibalik ucapan kalimat istirja’ Inna lillahi wainna ilaihi raaji’un

Berikut kami uraikan satu persatu secara lebih detil

Bentuk tawakkal dan keikhlasan

Mengucap kalimat istirja’ adalah mengajak hati kita untuk menerima segala sesuatu yang ditakdirkan Allah dengan lapang dada baik itu kadar baik maupun kadar buruk, juga memberi arti tawakkal dan menyerahkan segala urusan kepada Allah, sebagaimana dalam firman Allah surat Ath Thalaq ayat 2

ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

Latin: dzaalikum yuu’adlu bihi man kana yu’minu billaahi walyaumil aakhir waman yattaqillaaha yaj’al lahu makhrajaa

Aryinya: Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang-orang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan memberi baginya jalan keluar.

Meringankan hati

Dengan menngucap istitja’ kita telah mejadikan hati kita tenang dan lebih rileks karena musibah yang kita alami tidak lain semata hanya dari Allah.

Bersabar dengan cobaan

Cobaan terberat adalah ketika orang yang kita sayangi kembali kehadhirat iIlahi, maka disinilah tingkat kesabaran kita diuji, orang yang mampu melewati semua ini pasti akan Allah naikkan kederajat yang tinggi. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah Saw bersabda

قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: إذَا أَحَبَّ اللهُ عَبْدًا ابْتَلَاهُ بِبَلَاءٍ لَا دَوَاءَ لَهُ، فَإِنْ صَبَرَ اجْتَبَاهُ، وَإِنْ رَضِيَ اصْطَفَاهُ

Latin: Idzaa ahabballaahu ‘abdan ibtalaahu bibalaain laa dawaa a lahu fain shabara ijtabaahu wain radhiaishtafahu

Artinya: Apabila Allah menginginkan mencintai hambanya maka maka Allah akan menguji dengan ujian yang tidak ada penawarnya, jika ia bersabar maka ia memilihnya dan jika dia ridha maka Allah akan memilihnya

Mengendalikan emosi

Manusia yang ketika ditimpa musibah namun masih saja kelihatan tenang dan tegar dia patut untuk dipuji, karena disamping telah mengalahkan rasa sakit yang mendalam dia juga telah mampu mengendalikan hawa nafsu dalam bentuk emosi.

Hal yang harus dilakukan ketika mendapat kabar meninggal seseorang

Semua orang pernah merasakan kehilangan, ada yang kehilanga sesuatu yang tidak berharga, ada juga yang kehilangan sesuatu yang tak akan pernah bisa dilupakan, salah satunya adalah kehilangan keluarga kita.

Kehilangan orang yang sangat kita cintai memang sangat berat, apalagi jika orang tersebut sangat berpengaruh dalam kehidupan kita.

Namun apa yang harus kita lakukan jika ada dalam lingkungan kita yang meninggal, berikut kita terakan dibawah

1. Membaca Surat Yasin dan Surat Ar- Ra’d bagi orang yang sedang dalam sekarat

hal ini untuk mempermudah keluarnya ruh dari orang tersebut seperti dalam kitab I’anah At Thalibin

ما من ميت يقرأ عنده يس إلا هون الله عليه. ويستحب – إذا احتضر الميت – أن يقرأ عنده أيضا سورة الرعد فإن ذلك يخفف عن الميت سكرة الموت، وإنه أهون لقبضه، وأيسر لشأنه

Latin:Ma min mayyitin yuqrau ‘indahu yaasiin illaa hawwanallahu ‘alaihi, wayustahabbu idza ihtadharal mayyit an yaqra a ‘indahu aydhan suratur ra’d fainna dzalika yukhaffifu ‘anil mayyit sakratal maut wainnahu ahwanun liqabdhihi waaisara lisya’nihi

Artinya: Tidaklah orang sakit yang dibacakan surat yasin melainkan Allah permudah baginya, Dan disunahkan bagi orang yang datang menjenguk orang yang sakratul maut agar membaca surat Ar Ra’d agar mempermudah keluarnya roh dari badan orang sakit

2. Mengucap kalimat istirja’

Rasulullah Saw bersabda

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ. اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا. إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

Latin: Ma min muslim tushiibuhu mushiibatan fayaquuli ma amarahullahu inna lillaahi wainnaa ilaihi raaji’un allaahumma ajirnii fi mushiibatii wakhliflii khairan minha illaa akhlafallaahu lahu khairan minhaa

Artinya: Tidaklah seorang muslim yang ditimpa musibah kemudian mengucap inna lillahi wainna ilaihi raji’un melainkan Allah hadiahkan yang lebih baik kepadanya

Imamn Al Gazali menambahkan dalam kitabnya Adab fid din berkaitan tentang adab dan tatakrama bertakziah yang harus diperhatikan

آداب المعزّي: خفض الجناح، وإظهار الحزن، وقلة الحديث، وترك التبسم فإنه يورث الحقد

Latin: Adaabul mu’azzi khafdhul janaahi waidlharul huzni waqillatul hadiits watarkut tabassum fainnahu yuuritsul hiqda

Artinya: Beberapa adab ketika bertakziah yaitu tidak melakukan hal-hal yang kurang baik atau kurang layak, menampakkan rasa duka, sedikit berbicara, dan tidak menampakkan raut muka senang, karena itu dapat menyebabkan ketidaksukaan orang kepada kita

3. Mengurus jenazah

Mengurus jenazah adalah fardhu kifayah, artinya kewajiban bersifat atas kelompok. Jika di daerah orang meninggal tersebut sudah ada yang mengurus, maka kewajiban ke warga / keluarga yang lain sudah gugur.

Mengurus di sini adalah memandikan, mengkafani, menshalatkan, dan menguburkan. Semua harus sesuai tata cara yang sudah diatur oleh syariat.

4. Takziyah

Menurut Imam Al Gazali ada empat hal yang harus diperhatikan ketika bertakziah ke tempat duka yaitu

1. Menghindari hal-hal yang tidak semestinya

2. Menampakkan perasaan duka

Ini sangat perlu untuk dilakukan, untuk menjaga sanak family dan keluarga yang ditinggalkan dalam kondisi yang masih sedih, bukan malah menampakkan rasa ceria

3. Sedikit bicara

Alangkah baik ketika melayat tidak berbicara hal yang tidak perlu dan lebih banyak menghibur keluarga yang ditinggalkan

4. Tidak menampakkan perasaan senang, Agar mereka tidak berburuksangka kepada kita

Kematian dalam islam

إَنَّ مِنْ أَمَارَاتِ السَّاعَةِ أَنْ يُظْهِرَ مَوْتِ الْفَجْأَةِ

Latin: Inna min amaaraatis saa’ah an yudlhira mautil faj ah

Artinya: Termasuk dalam tanda tanda akhir zaman adalah merebaknya kematian mendadak

Manusia tidak akan bisa menghindar dari kematian, juga tidak perlu untuk mengejarnya, karena kematian adalah ketentuan Allah yang telah ditetapkan kepada seluruh hambanya. Ketika kematian telah mendatangi manusia disitulah babak baru kehidupan dimulai, dimana surga dan nerakanya seseorang akan Nampak ketika manusia telah dibaringkan didalam liang lahat.

Orang yang kehidupan di dunia sibuk dengan perbuatan yang dilarang oleh Allah pasti akan gemetar dan takut mendengar kabar kematian, tapi tidak demikian dengan orang beriman dan bertakwa, mereka akan senang sebab kematian adalah penghubung antara dia dengan Tuhannya,

Rasulullah Saw bersabda

الْمَوْتُ جِسْرٌ يُوْصِلُ الْحَبِيْبَ إِلَى الْحَبِيْبِ

Latin: Al Mautu jisrun yuushilul habiiba ilal habiibi

Artinya: Kematian adalah jembatan yang menghubung kekasih dengan kekasihnya

Kematian adalah jembatan menuju Tuhan, karena kita tidak akan pernah bisa melihat langsung Allah Swt jika ruh masih berada dalam jasad, maka satu-satunya jalan menuju Tuhan adalah kematian

Namun meskipun bentuk kematian semua makhluk sama saja, yaitu dengan keluarnya ruh maka orang tersebut sudah dikatakan meninggal. Akan tetapi islam memandang beda tiap-tiap orang yang meninggal.

Ada empat golongan orang meninggal menurut islam seperti dalam sabda Rasulullah Saw

  1. Kematian Ulama
  2. Kemataian orang kaya
  3. Kematian orang miskin
  4. Kematian pemimpin

الْمَوْتُ أَرْبَعٌ مَوْتُ الْعُلَمَاءِ وَمَوْتُ الْأَغْنِيَاءِ وَمَوْتُ الْفُقَرَاءِ وَمَوْتُ الْأُمَرَاءِ فَمَوْتُ العُلَمَاءِ ثُلمَةٌ في الدِّينِ وَمَوْتُ الأَغْنِيَاءِ حَسَرَةٌ وَمَوْتُ الْفُقَرَاءِ رَاحَةٌ وَمَوْتُ الْأُمَرَاءِ فِتْنَةٌ

Artinya: Kematian dalam islam ada empat, Kematian orang alim, kematian orang kaya, kematian orang fakir, dan kematian pemimpin. Matinya ulama menimbulkan perpecahan umat, matinya orang kaya menyebabkan kegundahan, matinya orang fakir menjadi peristirahatan, dan matinya pemimpin menimbulkan fitnah.

Umur dalam islam

Diantara amanah yang Allah titipkan kepada manusia adalah umur. Banyak manusia yang tak mampu menjaga umurnya dengan baik sehingga umur berlalu sehari, sebulan, setahun dan bahkan bertahun-tahun begitu saja tanpa ada sesuatu yang bisa dibanggakan kelak di akhirat.

Perihal umur siapa yang tau. Begitulah kiranya banyak orang mengatakan. Memang benar tidak ada yang tau persoalan umur, kita hanya bisa mengisi sisa-sisa umur kita dengan hal-hal kebaikan.

Umur adalah waktu yang Allah berikan kepada segenap makhluknya dimana nanti akan diminta pertanggungjawaban tentang umur kita, apakah lebih banyak kita isi dengan kebaikan atau malah lebih dikotori oleh kejahatan.

Ada manusia yang hidupnya melewati 100 tahun pun ada juga yang hanya 1 hari melihat dunia, semua sesuai dengan porsi masing-masing kita, namun Imam Gazali sedikit berbeda sudut pandang tentang umur, beliau hanya menganggap umur manusia tidak lebih dari tiga hari.

1. Hari kemarin

Yaitu hari yang telah kita lalui dan jalani, tidak bisa kita putar kembali, tidak ada mesin yang dirancang untuk bisa kembali kehari kemaren, kita hanya bisa mengharap semoga hari kemaren amal baik lebih banyak ketimbang amal buruk

2. Hari ini

Hari ini adalah hari dimana kita sedang melakukan suatu perbuatan, kita tidak bisa menyimpan hari ini untuk kedepan ataupun mebuangnya ke hari kemaren, yang kita bisa hanya menjalaninya. Maka jalanilah hari ini sebaik mungkin karena yang benar-benar milik kita hanyalah hari ini

3. Hari esok

Esok adalah hari yang sama sekali belum tersentuh dan belum tentu akan menjadi milik kita, kita hanya bisa berharap dengan harapan yang baik semoga hari esok menjadi hari paling baik diantara segala hari

Rasulullah Saw bersabda

لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

Latin: Laa tazuulu qadamu ibni adam yaumal qiyaamah min ‘indi rabbihi hattaa yusala ‘an khamsinn’an ‘umurihi fiima afnaahu wa ‘an syababihi fiima ablaahu wamalihi min aina iktasabahu wafima anfaqahu wamadza ‘amila fiimaa ‘alima

Artinya: Tidak akan tergelincir kaki manusia pada hari kiamat sehingga ditanya tentang lima hal, tentang umurnya kemana dia gunakan, tentang masa mudanya kemana dia habiskan, tentang hartanya darimana dia dapatkan dan kemana dia habiskan, dan tentang apa yang dia amlka dengan ilmu yang diketahuinya ( H.R Tirmidzi)

Mempersiapkan hidup setelah mati

Dunia dan isinya adalah cobaan dan ujian bagi kita semua dalam beribadah kepada Allah. Orang yang terpedaya dengan kenikmatan dunia dan lalai dari beribadah kepada Allah maka mereka telah jatuh kedalam jurang yang sangat dalam. Hal ini senada denagan ucapan Rasulullah saw

إِنَّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ من بعدي ما يفتح عليكم من زهرة الدنيا و زينتها

Latin: inna mimma akhaafu ‘alaikum min ba’dii ma yuftahu ‘alaikum min zahratid dunyaa waziinataha

Artinya: Sesungguhnya yang aku (Muhammad) khawatirkan atas kalian adalah dibukanya bunga-bunga dunia dan hiasannya.

Kehidupan didunia bukanlah kehidupan yang hakiki dan abadi, kita tidak perlu terlalu mencai kenyamanan disini, toh nantinya kita juga akan pergi. Tidak akan benar-benar menetap, namun hanya singgah sebentar untuk mengumpulkan bekal esok ketika kita sudah pulang ke akhirat.

Layaknya seorang perantau yang pasti akan pulang kekampung halaman suatu hari nanti, begitulah kita didunia. Suatu hari kita pasti akan pulang, namun apakah bekal kita sudah cukup atau belum, maka mulai hari ini kumpulkan bekal dengan beramal sebaik mungkin, agar rumah kita diakhirat nanti menjadi rumah yang senyaman mungkin.

Adapun bekal yang dibutuhkan untuk meraih kebahagiaan diakhirat adalah dengan memperbnyak amal shaleh, karena Allah telah menjanjikan bertemu denganNya di surga bagi mereka yang beraml saleh sebagiamana dalam surat Al Kahfi ayat 110

فَمَنْ كانَ يَرْجُوا لِقاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

Latin: Faman kaana yarjuu liqaa a rabbihi falya’mal ‘amalan shaaliha walaa yusyrik bi’ibaadati rabbihi ahadaa

Artinya: Barangsiapa berharap bertemu denganNya maka hendaklah mengerjakan amal saleh dan janganlah menyekutukanNya dengan sesuatu apapun

Menjauhi perbuatan jahat

Sebagaimana yang harus kita perbanyak adalah amal baik, tentu saja yang harus kita jauhi adalah amal buruk. Tidak akan berguna amal baik jika dibarengi dengan amal jahat.

Para ulama terdahulu sangat mementingkan hal ini, mereka tidak akann sembarangan dalam mengerjakan sesuatu, bukan saja yang haram dan makruh yang mereka tinggalkan, namun juga perbuatan mubah yang tidak ada manfaatnya untuk akhirat.

Dan bekal terakhir yang perlu kita lakukan adalah terus bertaubat memohon ampun kepada Allah meskipun dosa yang telah kita kerjakan terlalu banyak, karena bukanlah manusia paling baik mereka yang tidak pernah melakukan dosa akan tetapi manusia terbaik adalah manusia yang mau bertaubat atas kesalahannya.

Taubatlah kepada Allah meskipun kamu selalu mengerjakan dosa, terus bertaubat sampai kamu tidak lagi melakukan dosa

من أحكم مقام توبته حفظه الله تعالى من سائر الشوائب التى فى الأعمال

Barang siapa menguatkan taubatnya kepada Allah, niscaya Allah jaga dia dari hal hal yang menghilangkan pahalanya dalam beramal

Diantara manusia terbaik didunia hanya orang yang mau bertaubatlah yang paling dicintai oleh Allah Swt, jika Allah telah mencintai kita tentu saja apapun yang menghalangi kita akan Allah permudahkan . sebagaiamana dalam surat Al Baqarah ayat 222

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Latin: Innallaha yuhibbut tawwaabiin wayuhibbul mutathahhiriin

Artinya: Sesungguhnya Allah mencintai mereka yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.

Namun jika kita menunda-nunda dan enggan untuk bertaubat, kita termasuk orang yang mendlalimi diri sendiri sebagaimana dalam firman Allah Surat Al Hujarat ayat 11

وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Latin: waman lam yatub fa ulaaika humudl dlalimuun

Artinya: Dan barang siapa yang tidak mau bertaubat maka mereka termasuk orang-orang yang dlalim

Penutup

Kematian adalah hal yang tidak bisa kita hindari, mencintai dunia dengan berlebihan dapat menyebabkan kita takut akan mati. Yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan bekal menghadapi kematian sebanyak mungkin.

Kematian adalah jembatan antara dunia yang fana dengan kehidupan yang abadi diakhirat kelak.

Adapun bekal yang harus kita siapkan didunia adalah memperbanyak amal salih, meninggalkan amal buruk dan bertaubat, semoga allah menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang berbahagia diakhirat. Amiin

Pembukaan

Kehidupan yang dijalani oleh manusia ada dua fase yakni fase kehidupan di dunia dan yang kedua yaitu fase kehidupan diakhirat yang dimulai dengan menempuh kematian.

Kehidupan didunia adalah kehidupan yang singkat bahkan terlalu singkat untuk hanya sekedar menumpuk harta dan kesenangan, namun kehidupan akhirat adalah kehidupan yang tidak berkesudahan dan abadi.

Allah menghidupkan kita didunia sebelum memasuki fase akhirat tujuannya adalah agar kita bisa memilih dimana tempat yang ingin kita diami diakhirat, apakah di surga atau dineraka. Jika memilih surga maka tugas kita didunia yaitu menempuh jalur surga, pun begitu sebaliknya

Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 185:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Latin: Kullu nafsin dzaaiqatul maut, wainnama tuwaffauna ujuurakum yaumal qiyamah, faman zuhziha ‘anin naar waudkhilal jannata faqad faaz, wamal hayaatud dunyaa illaa mataa’ul ghuruur

Artinya: Setiap yang bernyawa pasti akan merasai mati, dan hanya dihari kiamat lah pahalamu disempurnakan, barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan dalam surga sungguh dialah yang paling berntung, dan tidaklah kehidupan didunia melainkan kesenangan yang menipu. (Ali Imran: 185)

Begitulah Al Quran menjelaskan perihal kematian yang akan dihadapi oleh setiap manusia dimuka bumi ini. Tidak ada yang bisa lari dan menghidar dari kematian, bahkan formula keabadian pun tidak akan pernah bisa ditemukan untuk memperpanjang umur manusia.

Islam tidak mengajarkan kepada ummatnya untuk takut menghadapai kematian, namun juga tidak boleh mengnginkan untuk cepat dijemput ajal. Akan tetapi yang islam ajarkan adalah bagaimana kematangan persiapan kita menghadapi kehidupan setelah kematian datang.

Di era zaman yang serba canggih dan berteknologi tinggi, sebagian besar peristiwa masa depan sudah diketahui jauh-jauh hari sebelum peristiwa tersebut terjadi, namun tidak demikian dengan kematian, karena kematian sepenuhnya hak perogatif dan wewenang Allah Swt tanpa ada campur tangan manusia.

Ada beberapa poin yang harus kita pahami bersama yang berkaitan dengan kematian.

Pertama, ketika sahabat atau keluarga kita meninggal tentu sangat menyesakkkan dada, apalagi jika yang meninggal adalah orang yang kita sayangi, untuk membantu menambah bekal mereka diakhirat apa yang harus kita lakukan jika keluarga, kerabat, dan handai taulan kita meninggal?

Kedua islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dari semenjak lahir sampai tua, dari semenjak jomblo sampai berkeluarga, dari mulai didunia sampai akhirat, maka dari itu bagaimana pandangan islam perihal kematian?

Ketiga, berbicara tentang kematian tidak luput dari yang namanya umur. Umur tua tidak menjamin ajal menghampiri dan umur muda belum tentu kematian lebih lama, bagaimana islam memandang umur manusia?

Keempat inti dari sebuah kematian bukanlah hanya semata-mata diri kematian, akan tetapi yang paling penting adalah kehidupan yang harus dilalui setelah datangnya kematian. Apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi kehidupan setelah kematian, dimana kehidupan kedua tersebut belum pernah seorangpun yang mengalaminya. Apa persiapan kita menghadapi kematian?

Beberapa pertanyaan diatas akan coba kita uraikan dibawah dengan lebih detil dan tidak lupa disertai dengan dalil-dalil yang menguatkan isi pembahasan kita.

Inna lillahi wainna ilaihi raaji’un

Musibah sejatinya adalah proses pengampunan dosa dari banyaknya dosa-dosa yang telah kita kerjakan dahulu, baik musibah berupa kehilangan harta, kehilangan kesehatan sampai kematian

Setiap manusia yang hidup di muka bumi pasti akan mengalami musibah dan cobaan, itu sebagai pertanda kebutuhan kita kepaa tuhan dan kelemahan kita yang masih harus bergantung padaNya .

Islam telah mengatur kehidupan manusia disegala lini sampai memberikan solusi terhadap apa saja cobaan yang dialami

Adalah suatu anjuran ketika mendapat musibah untuk mengucapkan kalimat istirja’ yaitu Inna lillahi wainna ilaihi rahi’un,

Berikut kalimat istirja’ yang benar serta latin dan terjemahannya

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Latin: Inna lillaahi wainna ilaihi raaji’un

Artinya: sesungguhnya kita milik Allah dan kepadanyalah kita kembali

sebagaimana dalam surat Al Baqarah ayat 156

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Latin: Alladziina idzaa ashaabathummushibah qaaluu innaa lillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun

Artinya: yaitu ketika mereka ditimpa musibah mereka mengucapkan inna lillahi wainna ilaihi rajiun ( sesungguhnya kita milik Alllah dan kepadanya kita kembali)

Ada beberapa keutamaan dibalik ucapan kalimat istirja’. Berikut kami uraikan satu persatu secara lebih detil

  1. Bentuk tawakkal dan keikhlasan

Mengucap kalimat istirja’ adalah mengajak hati kita untuk menerima segala sesuatu yang ditakdirkan Allah dengan lapang dada baik itu kadar baik maupun kadar buruk, juga memberi arti tawakkal dan menyerahkan segala urusan kepada Allah, sebagaimana dalam firman Allah surat Ath Thalaq ayat 2

ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

Latin: dzaalikum yuu’adlu bihi man kana yu’minu billaahi walyaumil aakhir waman yattaqillaaha yaj’al lahu makhrajaa

Aryinya: Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang-orang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan memberi baginya jalan keluar.

  1. Meringankan hati

Dengan menngucap istitja’ kita telah mejadikan hati kita tenang dan lebih rileks karena musibah yang kita alami tidak lain semata hanya dari Allah.

  1. Bersabar dengan cobaan

Cobaan terberat adalah ketika orang yang kita sayangi kembali kehadhirat iIlahi, maka disinilah tingkat kesabaran kita diuji, orang yang mampu melewati semua ini pasti akan Allah naikkan kederajat yang tinggi. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah Saw bersabda

قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: إذَا أَحَبَّ اللهُ عَبْدًا ابْتَلَاهُ بِبَلَاءٍ لَا دَوَاءَ لَهُ، فَإِنْ صَبَرَ اجْتَبَاهُ، وَإِنْ رَضِيَ اصْطَفَاهُ

Latin: Idzaa ahabballaahu ‘abdan ibtalaahu bibalaain laa dawaa a lahu fain shabara ijtabaahu wain radhiaishtafahu

Artinya: Apabila Allah menginginkan mencintai hambanya maka maka Allah akan menguji dengan ujian yang tidak ada penawarnya, jika ia bersabar maka ia memilihnya dan jika dia ridha maka Allah akan memilihnya

  1. Mengendalikan emosi

Manusia yang ketika ditimpa musibah namun masih saja kelihatan tenang dan tegar dia patut untuk dipuji, karena disamping telah mengalahkan rasa sakit yang mendalam dia juga telah mampu mengendalikan hawa nafsu dalam bentuk emosi.

Hal yang harus dilakukan ketika keluarga meninggal

Semua orang pernah merasakan kehilangan, ada yang kehilanga sesuatu yang tidak berharga, ada juga yang kehilangan sesuatu yang tak akan pernah bisa dilupakan, salah satunya adalah kehilangan keluarga kita.

Kehilangan orang yang sangat kita cintai memang sangat berat, apalagi jika orang tersebut sangat berpengaruh dalam kehidupan kita.

Namun apa yang harus kita lakukan jika ada dalam lingkungan kita yang meninggal, berikut kita terakan dibawah

  1. Membaca Surat Yasin dan Surat Ar- Ra’d bagi orang yang sedang dalam sekarat

hal ini untuk mempermudah keluarnya ruh dari orang tersebut seperti dalam kitab I’anah At Thalibin

ما من ميت يقرأ عنده يس إلا هون الله عليه. ويستحب – إذا احتضر الميت – أن يقرأ عنده أيضا سورة الرعد فإن ذلك يخفف عن الميت سكرة الموت، وإنه أهون لقبضه، وأيسر لشأنه

Latin:Ma min mayyitin yuqrau ‘indahu yaasiin illaa hawwanallahu ‘alaihi, wayustahabbu idza ihtadharal mayyit an yaqra a ‘indahu aydhan suratur ra’d fainna dzalika yukhaffifu ‘anil mayyit sakratal maut wainnahu ahwanun liqabdhihi waaisara lisya’nihi

Artinya: Tidaklah orang sakit yang dibacakan surat yasin melainkan Allah permudah baginya, Dan disunahkan bagi orang yang datang menjenguk orang yang sakratul maut agar membaca surat Ar Ra’d agar mempermudah keluarnya roh dari badan orang sakit

  1. Mengucap kalimat istirja’

Rasulullah Saw bersabda

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ. اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا. إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

Latin: Ma min muslim tushiibuhu mushiibatan fayaquuli ma amarahullahu inna lillaahi wainnaa ilaihi raaji’un allaahumma ajirnii fi mushiibatii wakhliflii khairan minha illaa akhlafallaahu lahu khairan minhaa

Artinya: Tidaklah seorang muslim yang ditimpa musibah kemudian mengucap inna lillahi wainna ilaihi raji’un melainkan Allah hadiahkan yang lebih baik kepadanya

Imamn Al Gazali menambahkan dalam kitabnya Adab fid din berkaitan tentang adab dan tatakrama bertakziah yang harus diperhatikan

آداب المعزّي: خفض الجناح، وإظهار الحزن، وقلة الحديث، وترك التبسم فإنه يورث الحقد

Latin: Adaabul mu’azzi khafdhul janaahi waidlharul huzni waqillatul hadiits watarkut tabassum fainnahu yuuritsul hiqda

Artinya: Beberapa adab ketika bertakziah yaitu tidak melakukan hal-hal yang kurang baik atau kurang layak, menampakkan rasa duka, sedikit berbicara, dan tidak menampakkan raut muka senang, karena itu dapat menyebabkan ketidaksukaan orang kepada kita

Menurut Imam Al Gazali ada empat hal yang harus diperhatikan ketika bertakziah ke tempat duka yaitu

  1. Menghindari hal-hal yang tidak semestinya
  2. Menampakkan perasaan duka

Ini sangat perlu untuk dilakukan, untuk menjaga sanak family dan keluarga yang ditinggalkan dalam kondisi yang masih sedih, bukan malah menampakkan rasa ceria

  1. Sedikit bicara

Alangkah baik ketika melayat tidak berbicara hal yang tidak perlu dan lebih banyak menghibur keluarga yang ditinggalkan

  1. Tidak menampakkan perasaan senang, Agar mereka tidak berburuksangka kepada kita

Kematian dalam islam

إَنَّ مِنْ أَمَارَاتِ السَّاعَةِ أَنْ يُظْهِرَ مَوْتِ الْفَجْأَةِ

Latin: Inna min amaaraatis saa’ah an yudlhira mautil faj ah

Artinya: Termasuk dalam tanda tanda akhir zaman adalah merebaknya kematian mendadak

Manusia tidak akan bisa menghindar dari kematian, juga tidak perlu untuk mengejarnya, karena kematian adalah ketentuan Allah yang telah ditetapkan kepada seluruh hambanya. Ketika kematian telah mendatangi manusia disitulah babak baru kehidupan dimulai, dimana surga dan nerakanya seseorang akan Nampak ketika manusia telah dibaringkan didalam liang lahat.

Orang yang kehidupan di dunia sibuk dengan perbuatan yang dilarang oleh Allah pasti akan gemetar dan takut mendengar kabar kematian, tapi tidak demikian dengan orang beriman dan bertakwa, mereka akan senang sebab kematian adalah penghubung antara dia dengan Tuhannya,

Rasulullah Saw bersabda

الْمَوْتُ جِسْرٌ يُوْصِلُ الْحَبِيْبَ إِلَى الْحَبِيْبِ

Latin: Al Mautu jisrun yuushilul habiiba ilal habiibi

Artinya: Kematian adalah jembatan yang menghubung kekasih dengan kekasihnya

Kematian adalah jembatan menuju Tuhan, karena kita tidak akan pernah bisa melihat langsung Allah Swt jika ruh masih berada dalam jasad, maka satu-satunya jalan menuju Tuhan adalah kematian

Namun meskipun bentuk kematian semua makhluk sama saja, yaitu dengan keluarnya ruh maka orang tersebut sudah dikatakan meninggal. Akan tetapi islam memandang beda tiap-tiap orang yang meninggal.

Ada empat golongan orang meninggal menurut islam seperti dalam sabda Rasulullah Saw

  1. Kematian Ulama
  2. Kemataian orang kaya
  3. Kematian orang miskin
  4. Kematian pemimpin

الْمَوْتُ أَرْبَعٌ مَوْتُ الْعُلَمَاءِ وَمَوْتُ الْأَغْنِيَاءِ وَمَوْتُ الْفُقَرَاءِ وَمَوْتُ الْأُمَرَاءِ فَمَوْتُ العُلَمَاءِ ثُلمَةٌ في الدِّينِ وَمَوْتُ الأَغْنِيَاءِ حَسَرَةٌ وَمَوْتُ الْفُقَرَاءِ رَاحَةٌ وَمَوْتُ الْأُمَرَاءِ فِتْنَةٌ

Artinya: Kematian dalam islam ada empat, Kematian orang alim, kematian orang kaya, kematian orang fakir, dan kematian pemimpin. Matinya ulama menimbulkan perpecahan umat, matinya orang kaya menyebabkan kegundahan, matinya orang fakir menjadi peristirahatan, dan matinya pemimpin menimbulkan fitnah.

Umur dalam islam

Diantara amanah yang Allah titipkan kepada manusia adalah umur. Banyak manusia yang tak mampu menjaga umurnya dengan baik sehingga umur berlalu sehari, sebulan, setahun dan bahkan bertahun-tahun begitu saja tanpa ada sesuatu yang bisa dibanggakan kelak di akhirat.

Perihal umur siapa yang tau. Begitulah kiranya banyak orang mengatakan. Memang benar tidak ada yang tau persoalan umur, kita hanya bisa mengisi sisa-sisa umur kita dengan hal-hal kebaikan.

Umur adalah waktu yang Allah berikan kepada segenap makhluknya dimana nanti akan diminta pertanggungjawaban tentang umur kita, apakah lebih banyak kita isi dengan kebaikan atau malah lebih dikotori oleh kejahatan.

Ada manusia yang hidupnya melewati 100 tahun pun ada juga yang hanya 1 hari melihat dunia, semua sesuai dengan porsi masing-masing kita, namun Imam Gazali sedikit berbeda sudut pandang tentang umur, beliau hanya menganggap umur manusia tidak lebih dari tiga hari.

  1. Hari kemaren

Yaitu hari yang telah kita lalui dan jalani, tidak bisa kita putar kembali, tidak ada mesin yang dirancang untuk bisa kembali kehari kemaren, kita hanya bisa mengharap semoga hari kemaren amal baik lebih banyak ketimbang amal buruk

  1. Hari ini

Hari ini adalah hari dimana kita sedang melakukan suatu perbuatan, kita tidak bisa menyimpan hari ini untuk kedepan ataupun mebuangnya ke hari kemaren, yang kita bisa hanya menjalaninya. Maka jalanilah hari ini sebaik mungkin karena yang benar-benar milik kita hanyalah hari ini

  1. Hari esok

Esok adalah hari yang sama sekali belum tersentuh dan belum tentu akan menjadi milik kita, kita hanya bisa berharap dengan harapan yang baik semoga hari esok menjadi hari paling baik diantara segala hari

Rasulullah Saw bersabda

لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

Latin: Laa tazuulu qadamu ibni adam yaumal qiyaamah min ‘indi rabbihi hattaa yusala ‘an khamsinn’an ‘umurihi fiima afnaahu wa ‘an syababihi fiima ablaahu wamalihi min aina iktasabahu wafima anfaqahu wamadza ‘amila fiimaa ‘alima

Artinya: Tidak akan tergelincir kaki manusia pada hari kiamat sehingga ditanya tentang lima hal, tentang umurnya kemana dia gunakan, tentang masa mudanya kemana dia habiskan, tentang hartanya darimana dia dapatkan dan kemana dia habiskan, dan tentang apa yang dia amlka dengan ilmu yang diketahuinya ( H.R Tirmidzi)

Mempersiapkan hidup setelah mati

Dunia dan isinya adalah cobaan dan ujian bagi kita semua dalam beribadah kepada Allah. Orang yang terpedaya dengan kenikmatan dunia dan lalai dari beribadah kepada Allah maka mereka telah jatuh kedalam jurang yang sangat dalam. Hal ini senada denagan ucapan Rasulullah saw

إِنَّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ من بعدي ما يفتح عليكم من زهرة الدنيا و زينتها

Latin: inna mimma akhaafu ‘alaikum min ba’dii ma yuftahu ‘alaikum min zahratid dunyaa waziinataha

Artinya: Sesungguhnya yang aku (Muhammad) khawatirkan atas kalian adalah dibukanya bunga-bunga dunia dan hiasannya.

Kehidupan didunia bukanlah kehidupan yang hakiki dan abadi, kita tidak perlu terlalu mencai kenyamanan disini, toh nantinya kita juga akan pergi. Tidak akan benar-benar menetap, namun hanya singgah sebentar untuk mengumpulkan bekal esok ketika kita sudah pulang ke akhirat.

Layaknya seorang perantau yang pasti akan pulang kekampung halaman suatu hari nanti, begitulah kita didunia. Suatu hari kita pasti akan pulang, namun apakah bekal kita sudah cukup atau belum, maka mulai hari ini kumpulkan bekal dengan beramal sebaik mungkin, agar rumah kita diakhirat nanti menjadi rumah yang senyaman mungkin.

Adapun bekal yang dibutuhkan untuk meraih kebahagiaan diakhirat adalah dengan memperbnyak amal shaleh, karena Allah telah menjanjikan bertemu denganNya di surga bagi mereka yang beraml saleh sebagiamana dalam surat Al Kahfi ayat 110

فَمَنْ كانَ يَرْجُوا لِقاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

Latin: Faman kaana yarjuu liqaa a rabbihi falya’mal ‘amalan shaaliha walaa yusyrik bi’ibaadati rabbihi ahadaa

Artinya: Barangsiapa berharap bertemu denganNya maka hendaklah mengerjakan amal saleh dan janganlah menyekutukanNya dengan sesuatu apapun

Menjauhi perbuatan jahat

Sebagaimana yang harus kita perbanyak adalah amal baik, tentu saja yang harus kita jauhi adalah amal buruk. Tidak akan berguna amal baik jika dibarengi dengan amal jahat.

Para ulama terdahulu sangat mementingkan hal ini, mereka tidak akann sembarangan dalam mengerjakan sesuatu, bukan saja yang haram dan makruh yang mereka tinggalkan, namun juga perbuatan mubah yang tidak ada manfaatnya untuk akhirat.

Dan bekal terakhir yang perlu kita lakukan adalah terus bertaubat memohon ampun kepada Allah meskipun dosa yang telah kita kerjakan terlalu banyak, karena bukanlah manusia paling baik mereka yang tidak pernah melakukan dosa akan tetapi manusia terbaik adalah manusia yang mau bertaubat atas kesalahannya.

Taubatlah kepada Allah meskipun kamu selalu mengerjakan dosa, terus bertaubat sampai kamu tidak lagi melakukan dosa

من أحكم مقام توبته حفظه الله تعالى من سائر الشوائب التى فى الأعمال

Barang siapa menguatkan taubatnya kepada Allah, niscaya Allah jaga dia dari hal hal yang menghilangkan pahalanya dalam beramal
Diantara manusia terbaik didunia hanya orang yang mau bertaubatlah yang paling dicintai oleh Allah Swt, jika Allah telah mencintai kita tentu saja apapun yang menghalangi kita akan Allah permudahkan . sebagaiamana dalam surat Al Baqarah ayat 222

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Latin: Innallaha yuhibbut tawwaabiin wayuhibbul mutathahhiriin

Artinya: Sesungguhnya Allah mencintai mereka yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.

Namun jika kita menunda-nunda dan enggan untuk bertaubat, kita termasuk orang yang mendlalimi diri sendiri sebagaimana dalam firman Allah Surat Al Hujarat ayat 11

وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Latin: waman lam yatub fa ulaaika humudl dlalimuun

Artinya: Dan barang siapa yang tidak mau bertaubat maka mereka termasuk orang-orang yang dlalim

Penutup

Kematian adalah hal yang tidak bisa kita hindari, mencintai dunia dengan berlebihan dapat menyebabkan kita takut akan mati. Yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan bekal menghadapi kematian sebanyak mungkin.

Kematian adalah jembatan antara dunia yang fana dengan kehidupan yang abadi diakhirat kelak.

Adapun bekal yang harus kita siapkan didunia adalah memperbanyak amal salih, meninggalkan amal buruk dan bertaubat, semoga allah menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang berbahagia diakhirat. Amiin

 

JANGAN KETINGGALAN
EMAIL EKSLUSIF
Dapatkan email-email terbaik langsung ke inbox kamu dari hasana.id
Subscribe!
in syaa Allah manfaat 🙂

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p