Ilmu Tajwid: Nun Mati, Mim Mati, Mad, DLL [LENGKAP]

Salah satu ibadah yang sangat di anjurkan Rasulullah saw adalah membaca Alquran (qiraatul qur’an). Sebelum membaca, kamu harus mempelajari ilmu untuk memperbagus bacaan Alquran yang disebut ilmu tajwid. 

Mari pahami bersama!

Mempelajari Ilmu Tajwid

ilmu tajwid
fungsi ilmu tajwid

Karena dalam membaca Alquran diwajibkan dengan bacaan yang benar dan tepat. Agar tidak mengubah makna yang terkandung dalam Alquran.

Hal ini sesuai dengan tuntunan pada ayat:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلً

Artinya : Bacalah Al quran dengan tartil

Adapun pengertian tartil menurut Ibnu Abbas adalah membaca dengan jelas, sehingga segala huruf nya terdengar dengan jelas.

Jika kamu membacanya dengan salah, tentunya pahala yang diharapkan tidak akan kita dapatkan. Bahkan kadang kadang bisa mengakibatkan kita berdosa. 

Kemulian yang didapatkan ketika membaca Alquran sangatlah banyak. Hal ini dapat di lihat dengan banyaknya ayat dan hadis yang menerangkan tentang fadhilah qiraatul quran kelebihan membaca Alquran.

Dalam Alquran terdapat hukum agama, nasihat penenang jiwa, dan memberi syafaat bagi yang membacanya. Sebagaimana untaian hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yaitu:

عن أبي أمامة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: اقرؤوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعاً لأصحابه .رواه مسلم

Artinya: “Diriwayatkan dari Abi Umamah ra, beliau berkata “Saya mendengar baginda rasul bersabda : Baca lah Alquran, karena kelak hari kiamat Alquran akan memberi syafaat bagi orang yang membacanya”

Apa itu tajwid?

Tajwid secara bahasa adalah memperbagus. Adapun definisi tajwid menurut istilah yang tertulis didalam kitab Al burhan fi tajwidil quran karangan Muhammad Shadiq Qamhawi ialah:

اخراج كل حرف من مخرجه مع اعطاء حقه و مستحقه

Artinya: Mengeluarkan setiap huruf dari makhrajnya, beserta memberikan hak dan mustahaknya

Hak huruf ialah sifat sifat asli (lazimah) dan esensial yang dimili oleh setiap hurufnya, yang tidak bisa terlepas dari nya seperti jahr, syiddah, isti’la.

Mustahak huruf ialah sifat sifat tidak asli yang terdapat pada huruf, karena ada hal tertentu. Seperti tafkhim tarqiq, idzhar, dan ghunnah.

Jadi, ilmu tajwid adalah ilmu yang mempelajari pengucapan setiap huruf dari makhrajnya dan memberikan hak, serta mustahaknya

Hukum Bacaan Nun Mati Dan Tanwin

Apabila huruf nun sukun atau tanwin bertemu dengan huruf hijaiyah. Maka ia mempunyai empat bacaannya: idzhar, idgham, iqlab, dan ikhfa.

Idzhar/Idzhar Halqi

Secara bahasa idzhar ialah Al bayan artinya menjelaskan. Adapun secara istilah ialah:

اخراج كل حرف من مخرجه من غير غنة فى الحرف المظهر

Artinya: Mengeluarkan setiap huruf dari makhrajnya tanpa ada ghunnah pada pada huruf idzhar

Adapun huruf idzhar itu ada enam yaitu ح خ ع غ ه ء (ha’-kha’-ain-ghain-ha-hamzah)

Apabila ada nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu dari huruf Idzhar di atas, maka harus dibaca Idzhar dengan membaca jelas bacaan setiap hurufnya tanpa ada ghunnah (dengung).

Dilihat dari segi jauh dan dekatnya kedudukan enam huruf tersebut, maka terjadi tiga tingkatan hukum Idzhar:

  1. izdhar a’la, izhar yang tinggi atau kuat, yaitu pada huruf hamzah dan ha’.
  2. izhar ausath, izdhar pertengahan, yaitu pada huruf ain dan kha’.
  3. izhar adna, izdhar yang rendah atau lemah, yaitu pada huruf ghain dan kha’.

Berikut contoh contoh bacaan Idzhar:

مَنْ أَمَنَ – كُلٌّ اَمَنَ- مِنْهُمْ- سَلَامٌ هِيَ – مِنْ عِنْدِكَ – أَنْعَمَ – مِنْ حَسَنَةٍ – يَنْحِتُوْنَ – مِنْ غِلِّ – مِيْثَاقَا غَلِيْظَا – وَاِنْ خِفْتُمْ

Idgham

Idgham menurut bahasa ialah idkhal (memasukkan), sedangkan idgham menurut istilah.

التقاء حرف ساكن بمتحرك بحيث يصيران حرفا مشددا يرتفع اللسان عنده ارتفاعة واحدة

Artinya : Bertemu huruf mati dengan huruf yang berbaris sehingga jadi keduanya huruf yang bertasydid, dan lisan mengucapkan huruf terebut dengan sekali ucap.

Idgham dalam hukum nun mati dan tanwin terbagi pada dua pembagian:

Idgham Bighunnah

Secara bahasa idgham artinya memasukan, sedangkan bighunnah artinya berdengung.

Huruf huruf idgham bighunnah itu ada empat : ي – و – م – ن (ya-waw-mim-nun).

Maka apabila nun mati atau tanwin berjumpa dengan salah satu huruf empat yang di atas maka hukum bacaannya ialah idgham bighunnah.

Cara membaca idgham bighunnah adalah dengan memasukkan bunyi suara nun mati atau tanwin kepada huruf idgham yang ada di depan nya sehingga menjadi satu ucapan yang seakan akan satu huruf.

Ketika di-idgham-kan, suara harus ditasydidkan kepada huruf idgham bighunnah yang ada di depan nun mati atau tanwin, kemudian ditahan kira-kira 2 ketukan dengan memakai ghunnah (sengau) ketika membacanya.

Berikut contoh contoh hukum idgham bighunnah:

مَنْ يَقُوْلُ – اَنْ يُكَبِّرُوا – قَوْلَامَعْرُوْفًا – نَفْسِ وَاحِدَةِ

Pada dasarnya setiap nun mati atau tanwin yang berjumpa dengan salah satu dari pada huruf yang empat diatas maka tetap dibaca idgham bighunnah.

Namun ada beberapa kalimat yang dianggap sebagai pengecualian yang tidak lagi dibaca idgham bighunnah melainkan dibaca dengan hukum izhar yaitu: صِنْوَانٌ ,بُنْيَانٌ, دُّنْيَا, قِنْوَانٌ

Idgham Bilaghunnah

Bilaghunnah mempunyai arti tidak berdengung, adapun huruf idgham bila ghunnah itu ada dua : ل ر (lam dan ra’).

Maka jika berjumpa nun mati atau tanwin dengan huruf lam atau ra’ itu dibacakan dengan hukum idgham bilaghunnah.

Cara membaca idgham bilaghunnah ialah dengan memasukkan suara nun mati atau tanwin sepenuhnya kepada huruf lam atau ra tanpa memakai dengung pada waktu meng-idgham-kan suara harus ditaydidkan kepada huruf lam dan ra seraya menahan nafas sejenak.

Berikut contoh hukum idgham bila ghunnah:

مِنْ لَّذُ نْكَ – خَيْرٌ لَّكَ – مِنْ رَبِّكُمْ – شَيْطَا نٍ رَّ جِيْمٍ

Iqlab

Iqlab secara bahasa ialah:

تحويل الشيء عن وجهه

‘’Memindahkan sesuatu dari bentuk asal nya kepada bentuk yang lain’’.

Sedangkan iqlab menurut istilah ulama tajwid ialah:

جعل حرف مكان حرف اخر مع مراعاة الغنة

‘’Menjadikan satu huruf pada tempat huruf yang lain beserta tetap memelihara bacaan ghunnah’’

Huruf iqlab itu hanya satu, yaitu ب (ba).

Iqlab dalam pengertian hukum nun mati dan tanwin ialah membalikkan bacaan bunyi nun mati atau tanwin menjadi huruf mim (perubahan hanya pada bacaan saja tidak pada tulisan)

Adapun cara membaca iqlab adalah dengan mengubah suara nun mati atau tanwin menjadi mim.

Kedua bibir dirapatkan untuk bisa mengeluarkan bunyi huruf mim dengan dibarengi dengung yang keluar dari pangkal hidung, kemudian ditahan menahan nafas sejenak kira-kira 2 ketukan sebagai tanda bahwa di sana terdapat huruf iqlab.

Contoh huku iqlab مَنْ بِخَلَ – اَنْبَتَكُمْ

Ikhfa’

Menurut bahasa adalah الستر (satru) artinya samar-samar atau tertutup, sedangkan menurut istilah adalah:

عبارة عن النطق بحرف بصفة بين الاظهار والإدغام عارمن التشديد مع بقاءالغنة فى الحرف الأول

‘’Mengucapkan huruf dengan sifat antara izhar dan idgham tanpa tasydid dan dengan menjaga ghunnah pada huruf yang diikhfakan’’.

Apabila ada nun mati atau tanwin yang bertemu dengan salah satu dari huruf ikhfa’ maka hukum bacaannya ialah ikhfa.

Adapun huruf ikhfa’ itu ada 15:

ص ذ ث ك ج ش ق س د ط ز ف ت ض ظ

(SHOD, DZAL, TSA, KHAF, JIM, SYIN, QOF, SIN, DAL, THO, ZAY, FA, TA, DHOD, ZHO)

Cara membaca huruf ikhfa adalah dengan memadukan antara suara nun mati atau tanwin dengan suara huruf yang berada di depannya, suara ikhfa akan terdengar samar-samar antara izhar dan idgham.

Antara suara nun mati atau tanwin dengan huruf ikhfa yang di hadapannya. Ketika demikian suara nun mati atau tanwin masih tetap terdengar namun samar-samar demikian juga huruf ikhfa sudah mulai terdengar namun juga samar-samar.

Saat berlangsung pembacaan ikhfa’ suara ditahan sejenak kira-kira 2 ketukan baru kemudian disambung dengan mengucapkan huruf ikhfa’

Berikut contoh contoh ikhfa’

اِنْ كُنْتُمْ – عَيْنٌ جَارِيَةٌ – مِنْ صِيَامٍ – بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ – وَ مِنْ دُوْنِهِمَا جَنَّتٰنِ

Hukum Mim Mati

Apabila huruf mim mati bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah maka itu terdapat 3 hukum bacaan nya, yaitu:

Ikhfa’ Syafawi

Ikhfa’ artinya samar, syafawi artinya bibir, terjadi nila memenuhi tiga syarat berikut:

  1. Apabila huruf ba’ berada setelah mim mati.
  2. Terjadi antara dua kata.
  3. Terjadi pada ghunnah.

Dari penjelasan ini dapat diketahui bahwa huruf ikhfa hanya satu yaitu ba’.

Berikut contoh bacaan ikhfa’: وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ- أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ

Adapun cara mengucapkan ikhfa Syafawi adalah dengan menyuarakan huruf mim menurut makhraj dan sifatnya. Sebelum mengucapkan ba’ diberi ghunnah selama 2 atau 3 harkat. 

Dinamakan ikhfa’ syafawi karena kedua huruf yang bertemu ini sama-sama keluar dari makhraj dua bibir. Selain itu juga untuk membedakan dengan ikhfa’ haqiqi. Demikian menurut jumhur ahli tajwid.

Idgham Mimi

Idgham mimi disebut juga dalam mutamatsilain.

Dinamakan dengan Mimi karena dalam proses didalamnya huruf mim dimasukkan ke pada huruf mim pula dan disebut mutamatsilain karena huruf yang berhadapan sama, baik makhrajnya maupun sifatnya.

Huruf idgham mimi hanya satu, yaitu mim (م).

Adapun cara membaca idgham mimi ialah dengan memasukkan suara mim yang mati kepada huruf mim yang berharakat yang ada di depannya. Kemudian suara diidghamkan secara sempurna 3 harkat dengan suara ghunnah yang keluar dari pangkal hidung.

Berikut contoh idgham mimi: لَهُمْ مَايَتَقُوْنَ – كُنْتُمْ مُسْلِمِيْنَ

cara membaca tajwid

Idzhar Syafawi

Secara bahasa idzhar artinya jelas, dan syafawi artinya bibir. Makam apabila ada mimmati bertemu dengan huruf hijaiyah yang selain ba’ dan mim maka dinamakan dengan idzhar syafawi.

Cara membaca idzhar syafawi harus jelas dan terang. Yaitu, pada saat menghadapkan huruf mim dengan cara merapatkan bibir. Kejelasan pengucapannya cukup hanya dengan satu ketukan saja.

Tidak boleh lebih dari satu, karena seandai dilakukan lebih dikhawatirkan akan menjadi ikhfa’ atau ghunnah.

Berikut contoh contoh dari idzhar syafawi :

اَلَمْ تَرَكَيْفَ – فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ – هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةْ – رَبُّكُمْ ذُوْرَحْمَةٍ

Hukum Mim Dan Nun Bertasydid

Apabila ditemukan huruf mim atau nun yang bertasydid( نّ / مّ ) maka disitu terdapat hukum ghunnah musyaddadah (غُنَّةُ مُشَدَّدَةٌ) ataupun tajibul ghunnah (تجب الغنة).

Ghunnah menurut bahasa ialah dengung. Menurut istilah adalah suara yang jelas yang nyaring yang keluar dari al-khaisyum (pangkal hidung) dan tidak menggunakan lidah pada waktu mengucapkannya.

Sedangkan pengertian ghunnah musyaddadah ialah huruf mim dan nun yang dalam keadaan bertasydid.

Adapun cara membacanya ialah dengan menghentakkan suara mim dan nun yang bertasydid, lalu didengungkan secara nyata ke pangkal hidung selama 2 sampai 3 ketukan.

Saat menggunakan huruf mim yang bertasydid kedua bibir harus dalam keadaan tertutup karena makhraj dari pada huruf mim hanya terjadi bila kedua bibir dalam keadaan tertutup.

Berikut contoh dari hukum ghunnah musyaddadah:

إِنَّا – فِيْهِنَّ – تُحَمِّلْنَا – عَذَابٌ مُّقِيْمٌ

Hukum Idgham

Definisi idgham secara bahasa sebagaimana tertulis dalam kitab Al Burhan Fi Ilmi Tajwid ialah:

إدخال الشيء فى الشيء

“Memasukkan sesuatu ke dalam sesuatu”

Adapun dalam definisi yang lain ialah mengartikan idgham dengan menggabungkan dua huruf yang sama berdekatan atau sejenis yang salah satunya dimasukkan kepada huruf yang lain.

Sehingga, menjadi satu huruf yang bertasydid, dan menjadi satu pula dalam pengucapan. Idgham dibagi kepada 3 bagian:

Idgham Mutamatsilain

Mutamatsilain artinya dua hal yang sama, idgham mutamatsilain bertemu dua huruf yang sama pada sifat dan makhraj.

Maka dapat diketahui, bila bertemu dua huruf yang sama pada sifat dan makna seperti ba’ dengan ba’, ta dengan ta ,itu dinamakan dengan idgham mutamatsilain.

Adapun cara pengucapan ialah dengan memasukkan huruf yang pertama kepada huruf yang kedua sehingga menjadi satu huruf dalam pengucapan.

Contoh nya sebagai berikut: فَمَا رَبِحَتْ تِّـجَارَتُهُمْ

Hukum idgham mutamatsilain ini dikecualikan pada huruf waw, dan ya.

Idgham Mutajannisain

Idgham mutajanisain secara bahasa adalah dua hal yang sejenis. Sedangkan menurut istilah, ialah bertemu dua huruf yang sama makhrajnya berbeda sifatnya seperti huruf mim dan huruf ba huruf ta’ dan tha’.

Adapun cara membacanya yaitu dengan memasukkan suara yang pertama kepada huruf yang kedua, sehingga menjadi satu huruf dalam pengucapan.

Cara memasukkan huruf dengan mentasydidkan huruf yang kedua sehingga huruf yang pertama diabaikan pengucapannya dan diganti oleh huruf yang kedua.

Berikut contoh contohnya : وَدَّت طَّـآئِفَةٌ – إِذْ ظَّلَمْتُمْ – قَد تَّـبَيَّنَ

Igham Mutaqarribain

Idgham mutaqarribain adalah idgham yang terjadi apabila dua yang berdekatan makhrajnya dan berbeda sifatnya bertemu dan huruf yang pertama sukun. Misalkan huruf ق bertemu ,ك seperti pada contoh اَلَمْ نَخْلُقْكُّمْ

Hukum Mad

Mad menurut bahasa adalah memanjangkan dan menambah, sedangkan menurut istilah ialah:

إطالة الصوت بحرف من حروف المد

‘’Memanjangkan suara pada salah satu daripada huruf mad”

Huruf mad itu ada 3, yaitu : Alif, wau, dan ya.

Ketiga huruf ini menjadi huruf mad apabila dalam keadaan mati dengan syarat sebelum Alif ada huruf berharakat fathah, sebelum waw ada huruf berharakat dhamah, dan sebelumnya ya mati ada huruf yang berharkat kasrah.

Contohnya sebagai berikut جَعَلُوْا – اَلْخَبِيْرُ – اَلصَّلَاةُ

Dalam ilmu tajwid, mad itu terbagi kepada dua : mad asli dan mad far’i.

jenis ilmu tajwid

Mad Asli

Mad asli juga dikenal dengan mad thabi’i, yang secara bahasa artinya tabiat.

Adapun definisi mad secara istilah ialah mad yang berdiri sendiri karena zat huruf mad tersebut, tidak perlu adanya penyebab lain, tetapi cukup hanya dengan adanya salah satu dari huruf mad yang 3.

Huruf mad asli itu ada tiga:

  1. Alif mati jika berada di depan huruf yang berbaris fathah seperti: صَارَ
  2. waw mati bila berada di depan huruf yang berbaris dhummah seperti: كُوْنُوْا
  3. ya mati bila berada di depan huruf yang berbaris kasrah seperti: تَزِيْدُ

Cara membaca mad asli ialah dengan memanjang kan bacaan kadar 2 harkat (satu Alif) baik ketika washal ataupun waqaf. Mad asli terbagi pada lima macam:

Mad Iwadh

Secara bahasa ialah berhenti bacaan pada tanwin fathah di akhir kalimat ini pada selain huruf akhir ta marbutah. Karena bila ta marbutah huruf terakhir, maka huruf ta tersebut diganti menjadi huruf ha.

Contohnya: غَفُوْرًارَحِيْمَا

Mad Badal

Mad badal secara istilah ialah berkumpulnya huruf mad dengan Hamzah dalam satu kalimat, tetapi posisi Hamzah lebih dahulu daripada huruf mad. Dalam artian mad badal terjadi karena huruf mad didahului oleh Hamzah

Cara membaca mad badal adalah dengan dipanjangkan dua harakat atau satu Alif, contohnya: اٰمَنَوُا yang pada dasarnya bertuliskan أَاْمَنُوْا

Mad Shilah Qashirah

Mad shilah qashirah secara istilah ialah apabila ha’ dzamer yang sebelumnya terdapat huruf yang berharkat, tidak bersambung dengan huruf berikutnya, dan tidak pula bertemu dengan Hamzah yang berharakat.

Seperti pada contoh: إِنَّهٗ كَانَ

Mad Tamkin

Mad tamkin secara istilah ialah bertemunya dua huruf ya dalam 1 kata ia yang pertama berharakat kasrah dan bertasydid sedang ya yang kedua berharakat sukun atau mati.

Cara membaca mad tamkin dengan menetapkan bunyi tasydid pada huruf ya yang pertama. Kemudian, bacaan dipanjangkan saat menghadapi huruf madnya yaitu huruf yang kedua yang bertanda sukun. Panjang madnya adalah 2 harkat, contohnya: اَلنَّبِيِّيْنَ

Huruf Diawal Surat

Huruf yang lima pada awal surat dirumuskan pada lafadh حي طهر , cara membacanya dipanjangkan dua harakat seperti: كهيعص – الر

Mad Far’i

Secara istilah ialah mad yang merupakan hukum tambahan dari mad asli yang disebabkan oleh hamzah atau sukun.

Disebabkan Hamzah

  1. Mad wajib muttasil ialah huruf mad yang sesudah huruf mad berjumpa dengan Hamzah dalam satu kalimat. Cara bacanya ialah wajib dipanjangkan 5 harakat atau dua setengah Alif 2. Contohnya جَآءَ
  1. Mad jaiz munfashil ialah mad yang sesudah huruf mad berjumpa dengan Hamzah dalam lain kalimat. Cara membacanya adalah boleh dipanjangkan 2 harkat 4 harakat atau 5 harkat. Contohnya إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ
  1. Mad Shilah Thawilah ialah mad tambahan dari mad asli yang disebabkan oleh ha’ dzamir. Jadi mad shilah thawilah itu adanya huruf hamzah setelah ha dzamer, bacaanya dipanjangkan empat atau lima harkat, seperti بِهِ إِيمَانُكُمْ

Disebabkan Sukun

  1. Mad lazim kilmi mutsaqqal ialah apabila setelah huruf mad ada huruf yang bertasydid dalam satu kalimat. Cara membacanya dengan memanjanggkan terlebih dahulu huruf madnya dengan kadar 6 harkat, lalu diidghamkan pada huruf bertasydid di depannya. Contohnya: فَإِذَا جَآءَتِ ٱلطَّآمَّةُ ٱلْكُبْرَىٰ
  1. Mad lazim kilmi mukhaffaf ialah apabila setelah huruf mad ada huruf yang bertasydid dalam lain kalimat. Cara bacanya dengan memanjangkat harkat tiga alif. Contohnya: اٰۤلْـٰٔنَ وَقَدْ كُنْتُمْ بِهٖ تَسْتَعْجِلُوْنَ
  1. Mad aridhi lissukun ialah pemberhentian bacaan pada akhir kata, sedangkan huruf sebelum huruf yang diwakafkan itu merupakan salah satu daripada huruf mad thobi’i. Contohnya: يُوْقِنُوْنَۗ
  1. Mad layyin secara istilah ialah apabila ada waw dan ya yang berharakat dan huruf sebelumnya berharakat fathah. Cara bacanya dipanjangkan dua harkat, sama seperti mad asli,. Contohnya: اَلْبَيْتِ

Penutup

Sebagaimana seperti yang saya tulis, tentang pentingnya belajar ilmu tajwid, saya berharap semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi kalangan umum atau para pelajar.

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p