Bagini Cara Mengucapkan Ijab Kabul Yang Benar Saat Akad Nikah

Ijab kabul menjadi suatu hal yang sangat penting dalam setiap prosesi akad nikah. Juga disebut sebagai sighat pernikahan, salah satu rukun nikah ini wajib dipenuhi agar pernikahan menjadi sah.

Bagi yang belum pernah menjalankan mungkin ijab dan kabul ini terdengar sederhana atau bahkan sepele. Apalagi mengingat bahwa sighat tersebut seperti teks dialog yang bisa diucapkan oleh semua laki-laki dengan mudah.

Padahal, sighat pernikahan mempunyai arti yang mendalam dan sangat penting untuk dipahami oleh setiap umat Islam yang akan ke jenjang pernikahan.

Untuk itu, Hasana.id bermaksud membahas hal-hal penting seputar ijab kabul yang dapat kamu simak berikut ini.

Mengenal Ijab Kabul Sebagai Syarat Sah Nikah

Sebelum mempelajari bagaimana cara mengucapkannya, sebaiknya kamu terlebih dahulu memahami apa arti dari ijab dan kabul.

Pengertian ijab itu sendiri adalah sebuah tutur kata yang diucapkan dari wali calon pengantin perempuan kepada calon suaminya.

Sedangkan kabul adalah jawaban calon pengantin laki-laki terhadap pernyataan ijab yang disampaikan oleh wali mempelai perempuan.

Oleh sebab itu, ijab kabul dapat diartikan sebagai prosesi saat wali perempuan menikahkan anak atau cucu perempuannya dengan seorang laki-laki sampai kemudian calon pengantin laki-laki tersebut menjawabnya.

Meskipun secara istilah artinya terdengar sederhana, prosesi ini sebenarnya menyimpan arti yang mendalam baik bagi mempelai laki-laki maupun perempuan.

Salah satunya adalah terkait dengan pertanggungjawaban atas dosa mempelai perempuan yang dinikahkan tersebut.

Saat seorang laki-laki mengucapkan kabul atas ijab yang dikatakan oleh wali mempelai perempuan, artinya saat itu juga segala dosa mempelai perempuan yang sebelumnya ditanggung oleh ayahnya menjadi berpindah kepada dirinya.

Bukan hanya itu saja, tugas membimbing dalam hal agama dan memberi nafkah perempuan tersebut juga telah diberikan kepada mempelai laki-laki tersebut dari ayah mempelai perempuan.

Termasuk juga kewajiban-kewajiban lainnya, seperti memanjakan dan menjaga mempelai perempuan tersebut baik di dunia maupun di akhirat.

Dengan kata lain, pelindung utama perempuan tersebut bukan lagi ayahnya melainkan laki-laki yang telah mengucapkan kabul tadi.

Cara Mengucapkan Ijab Kabul dalam Bahasa Indonesia

Meskipun terdapat lafal ijab kabul Bahasa Arab, masyarakat Muslim Indonesia umumnya menggunakan teks yang berbahasa Indonesia.

Pertama-tama, wali perempuan akan membaca istighfar sebanyak tiga kali sebelum mengucapkan ijab kepada mempelai laki-laki. Berikut adalah contoh bacaan ijabnya dalam Bahasa Indonesia:

“Saudara (nama mempelai laki-laki) bin (nama ayah kandung mempelai laki-laki), Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak perempuan saya yang bernama (nama mempelai wanita) binti (nama ayah mempelai wanita/walinya), dengan mas kawin berupa (sebutkan mas kawin yang diberikan pengantin laki-laki kepada pengantin perempuan). Tunai.”

Sedangkan ucapan ijab kabul mempelai pria adalah sebagai berikut:

“Saya terima nikah dan kawinnya (nama pengantin wanita) binti (nama ayah kandung pengantin wanita atau wali), dengan mas kawin tersebut di bayar tunai.”

Setelah mempelai laki-laki mengucapkan bacaan kabul tersebut, kemudian penghulu akan memimpin proses pernikahan sambil berseru, “Sah?”.

Lalu, para hadirin yang menyaksikan prosesi ijab kabul tersebut dapat serempak menjawab “Sah!” sebagai tanda sahnya akad pernikahan yang baru dilakukan oleh dua insan, pria dan wanita.

Barulah setelah itu penghulu akan memimpin doa untuk kedua mempelai dan akad pernikahan pun selesai.

Lafal Ijab Kabul Bahasa Arab untuk Akad Nikah

Meskipun umumnya di Indonesia kalimat ijab dan kabul diucapkan dalam Bahasa Indonesia, tidak ada salahnya mengetahui bagaimana lafal ijab kabul dalam Bahasa Arab.

Berikut adalah bacaan ijab oleh wali mempelai perempuan dalam Bahasa Arab dan artinya:

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام علي اشرف الانبياء والمرسلين سيدنا محمد وعلي اله وصحبه اجمعين. اما بعد.

اوصيكم عباد الله واياكم بتقوي الله. ازوجك علي ما امر الله به من امسا ك او تسريح باحسان.

واحل الله لكم النكاح وحرم عليكم السفاح

يا … انكحتك وزوجتك فاطمة بنت سالم موكلي بمهر – الف روبية حالا / مؤجلا

Ankahtuka wa zawwajtuka binti [sebutkan namanya] muwakkili bimahri [sebutkan jumlah maskawin] hallan.

Artinya:

Aku menikahkanmu dengan perempuan bernama [sebutkan nama] yang walinya mewakilkan padaku dengan maskawin [sebutkan jumlah maskawin].

Sedangkan di bawah ini adalah kalimat kabul sebagai jawaban mempelai laki-laki terhadap ucapan ijab dari wali mempelai perempuan:

قبلت نكاحها وتزويجها بالمهر المذكور

Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bilmahril madzkur

Artinya:

“Saya terima nikahnya dengan mahar/maskawin tersebut”

Fakta-Fakta Mengenai Ijab Kabul dalam Islam

Berbicara mengenai ijab dan kabul memang menarik karena ada hal-hal tertentu yang dipercaya sebagai fakta.

Akan tetapi, apakah hal-hal yang dianggap sebagai fakta tersebut benar adanya? Salah yang paling banyak dipercaya adalah tentang tidak boleh ada jeda dalam pengucapan ijab kabul.

Tidak jarang adanya tuntutan untuk mengulang prosesi akad nikah karena ijab dan kabul yang diucapkan oleh mempelai laki-laki kurang nyambung.

Justru hal ini seringkali membuat mempelai laki-laki menjadi grogi dan membuat ucapan kabulnya semakin tidak jelas dan tak tertata baik.

Akhirnya, akad nikah yang sebenarnya sudah sah saat pertama kali diucapkan justru menjadi tidak sah karena pengulangan dan kehilangan percaya diri.

Bagaimana hukum bersambungnya kalimat ijab dan kabul?

Lalu, bagaimana sebenarnya ketentuan mengenai sah tidaknya ucapan ijab dan kabul dalam akad nikah?

Menurut ilmu fikih, ada beberapa persyaratan yang menentukan sah atau tidaknya akad nikah. Salah satu syaratnya adalah bersambungnya ucapan ijab yang diungkapkan oleh wali calon pengantin perempuan dengan ucapan kabul yang dinyatakan oleh calon pengantin laki-laki.

Mengapa hal ini menjadi wajib? Karena sesungguhnya kalimat ijab kabul merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Namun, yang menjadi masalah adalah adakah batasan tertentu sebuah kalimat ijab dan kabul dianggap bersambung atau tidak?

Terkait hal ini, ada perbedaan pemahaman dan pengaplikasian dalam masyarakat dalam prosesi pernikahan.

Sebagian masyarakat dapat menerima jeda diamnya mempelai laki-laki dalam waktu singkat. Namun, sebagian lainnya melarang jeda ketika mengucap ijab dan kabul meski walaupun hanya sedetik.

Bagi kategori kedua, bersambungnya kalimat ijab dan kabul diartikan bahwa huruf terakhir dari ijab harus sungguh-sungguh bersambung dengan huruf pertama kabul.

Dalam kitab Al-Fiqhul Manhaji karya Dr. Musthafa Al-Khin dan dalam Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab oleh Imam Nawawi dijelaskan bahwa persyaratan terkait bersambungnya kalimat ijab dan kabul tidak lah mutlak.

Jadi, adanya jeda dalam kesatuan ijab kabul tersebut masih bisa ditoleransi. Apalagi jika jeda waktu yang sangat singkat tersebut hanya digunakan untuk sekadar mengambil napas, menelan ludah, atau bahkan bersin.

Dengan kata lain, akad nikah yang dilakukan masih dihukumi sah meski ada jeda relatif singkat antara ucapan ijab oleh wali pengantin perempuan dengan pernyataan kabul oleh pengantin laki-laki.

Selama jedanya tidak dalam waktu lama, kalimat ijab dan kabul tersebut masih dianggap bersambung dan akad nikah tetap dianggap sah.

Berapa lama batasan waktu ijab kabul disebut singkat atau lama?

Menurut Musthafa Al-Khin, ijab kabul yang tidak sah karena jeda waktu yang dianggap terlalu lama adalah saat wali dari mempelai perempuan dapat menarik kembali dan membatalkan perkawinan dalam masa jeda tersebut.

Sedangkan menurut pendapat Wahbah Az-Zuhaili, jeda waktu yang lama adalah sampai pengantin laki-laki malas untuk mengucapkan bacaan kabul.

Sementara itu, Az-Zuhaili juga menjelaskan bahwa jeda waktu tersebut menjadikan pernyataan kabul tidak lagi sesuai dengan statusnya sebagai jawaban atas ucapan ijab oleh wali pengantin perempuan.

Namun, tidak ada salahnya jika untuk kehati-hatian kalimat ijab kabul tersebut diulang jika dirasa jeda waktu di antaranya terlalu lama.

Akan tetapi, sebaiknya jeda tersebut memang benar-benar lama dari apa yang telah dijelaskan di atas. Sehingga tidak ada kesan memaksakan kalimat ijab dan kabulnya benar-benar harus bersambung.

Doa Rasulullah saw. Saat Menikahkan Putrinya

Sebagai umat Muslim, tentu kita harus menjadikan Nabi Muhammad sebagai contoh dalam melakukan segala sesuatu.

Sama halnya dengan saat mengadakan acara ijab kabul untuk akad pernikahan. Kamu bisa menilik terlebih dahulu bagaimana Rasulullah menikahkan anak terakhirnya, yaitu Sayyidah Fatimah ra. dengan Sayyidina Ali ra.

Pernikahan antara Fatimah dan Ali sendiri dilaksanakan pada bulan Ramadan atau tepatnya pada saat perang Badar Kubro pada tahun ke-2 Hijriyah.

Lalu, bagaimana doa Rasulullah saw. saat menikahkan putrinya tersebut? Berikut adalah doanya beserta dengan artinya:

بارك الله لكم وبركة عليكم

barakallahu lakum wa baraka alaikum

Artinya:

“Semoga Allah Swt. memberi kalian keberkahan dan melimpahkan atas kalian keberkahan.”

Selain itu, dalam kitab Al-Adzkar al-Muntakhabah min Kalami Sayyid al-Abrar oleh Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraft al-Nawawi al-Dimasyqi, ada doa yang dianjurkan untuk diucapkan bagi pasangan mempelai laki-laki dan perempuan yang akan melakukan ijab kabul.

بَارَكَ اللهُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَّا فِي صَاحِبِهِ أَللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

Bârakallâhu likulli wâhidin minnâ fî shâhibihi. Allahumma innî as`aluka khairahâ wa khaira mâ jabaltahâ ‘alaihi wa a’ûdzu bika min syarrihâ wa min syarri ma jabaltahâ ‘alaihi

Artinya:

“(Semoga) Allah memberkahi masing-masing dari kita dengan pasangannya. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebaikannya dan kebaikan pasangannya, dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan pasangannya.”

Doa tersebut dimaksudkan untuk mendoakan kedua mempelai agar menjadi pasangan yang penuh berkah.

Praktik Ijab Kabul oleh Masyarakat Muslim di Nusantara

Meskipun sama-sama mengikuti rukun nikah dalam ajaran Islam, tidak bisa dipungkiri bahwa prosesi pernikahan masyarakat Muslim di Indonesia sangat beragam.

Hal ini tentu tidak jauh dari sejarah masuknya Islam ke Nusantara yang mengalami akulturasi dengan budaya serta tradisi yang sebelumnya sudah ada di Tanah Air.

Tak jarang masyarakat di berbagai daerah menyelenggarakan pernikahan dengan menggabungkan akad nikah dengan tradisi yang berkembang di masing-masing daerah.

Untuk menambah wawasan kamu tentang praktik ijab kabul di Nusantara, Hasana.id telah merangkum beberapa di antaranya di bawah ini.

Bacaan Alquran Saat Ijab Kabul Oleh Masyarakat Sunda-Muslim

Dalam tradisi pernikahan di Indonesia terutama di masyarakat Sunda-Muslim, tak jarang diadakan pembacaan Alquran sebagai salah satu unsur prosesi akad nikah.

Pembacaan Alquran tersebut bertujuan menambahkan nuansa Islam dalam tradisi pernikahan masyarakat Sunda yang telah memeluk agama Islam.

Khataman

Umumnya, kegiatan ini disebut sebagai pengajian Alquran oleh masyarakat Sunda-Muslim. Meskipun terdapat perbedaan dalam pelaksanaannya, aktivitas tersebut nampak sangat melekat di kalangan masyarakat Muslim.

Salah satu tradisi membaca Alquran sebelum pernikahan di masyarakat Sunda disebut sebagai khataman. Secara istilah, khataman berarti tamat atau selesai.

Namun, sebagian masyarakat Sunda biasanya memaknai hal tersebut sebagai membaca Alquran saja. Sedangkan yang lain memaknainya sebagai membaca Alquran dari juz pertama sampai terakhir.

Khataman biasanya diadakan sehari sebelum ijab kabul di rumah keluarga calon pengantin perempuan.

Sementara surah-surah yang dibaca dalam prosesi tersebut antara lain surah al-Fatihah, beberapa ayat surah al-Baqarah, al-Falaq, al-Ikhlash, an-Nas, dan Ayat Kursi.

Sebagian masyarakat juga ada yang memilih membaca sebagian Juz Amma saja dalam tradisi Khataman tersebut.

Dibaca Berjamaah

Sedangkan, sebagian yang lain juga ada yang melaksanakan tradisi membaca Alquran sebelum pernikahan secara berjamaah.

Dalam hal ini, surah-surah yang sering dibaca adalah al-Mulk, al-Waqiah, ar-Rahman, dan Yasin.

Selain itu, ada juga yang mengadakan pengajian Alquran oleh Qari profesional. Acara ini biasanya dijadikan sebagai pembuka ijab kabul.

Umumnya, surah yang dibaca dalam pengajian Alquran ini adalah an-Nisa sedangkan shalawatnya adalah shalawat badr.

Awalnya di Kalangan Keluar Pesantren Saja

Menurut KH. Abdul Qadir Jailani, adanya pembacaan ayat-ayat Alquran sebelum Ijab Kabul seperti yang dijalankan di masyarakat Sunda-Muslim tersebut baru muncul di pertengahan era 1980-an.

Sebelumnya, acara seperti ini tidak dilakukan secara luas, melainkan hanya di kalangan keluarga pesantren saja.

Di beberapa daerah, pembacaan shalawat badr terlebih dahulu umum dilakukan oleh masyarakat menjelang pernikahan.

Ada beberapa faktor yang mendorong penambahan pembacaan Alquran dalam proses pernikahan di masyarakat Sunda-Muslim.

Salah satunya adalah munculnya qari-qari yang populer di masyarakat. Selain itu, munculnya kesadaran masyarakat untuk memasukkan unsur keislaman dalam tradisi di daerah, termasuk prosesi pernikahan.

Bahkan di tahun 2000-an ada hal lain yang cukup menarik, yaitu pembacaan Alquran sebagai bagian dari mas kawin atau mahar.

Dalam hal ini mempelai laki-laki akan membaca surah atau ayat-ayat tertentu dalam Alquran yang telah disepakati sebelumnya sebagai bagian dari mahar pernikahan.

Biasanya, tradisi tersebut dilakukan oleh calon pengantin laki-laki yang merupakan alumni pesantren.

Calon pengantin laki-laki dengan gelar al-hafizh tak jarang menjalankan acara ini sebelum ijab kabul sebagai tanda bahwa ia memang telah hafal Alquran atau mutqin.

Dari uraian di atas, dapat dilihat bahwa tradisi membaca Alquran sebelum akad nikah menjadi suatu hal yang kuat di antara masyarakat Sunda-Muslim.

Ijab Kabul Pernikahan di Era Sultan Agung

Hasil pemikiran kreatif para ulama Nusantara menjadi salah satu yang membuat pernyataan ijab dan kabul di Tanah Air bervariasi.

Meskipun begitu, para ulama sepakat bahwa selama pernyataan tersebut memiliki makna dan maksud yang sama, tidak ada masalah dengan perbedaan bacaan ijab kabul di masyarakat.

Seperti halnya pernyataan ijab dan kabul yang belum lama ini dilakukan oleh Presiden Jokowi dengan calon suami putrinya, yaitu Bobby.

Selepas pembacaan kalimat ijab dan kabul, proses akad nikah tersebut kemudian dilanjutkan dengan sighat ta’liq khas Nusantara.

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah sejak kapan masyarakat Indonesia menggunakan bacaan ijab dan kabul seperti yang saat ini umum dibacakan dalam akad nikah?

Jawabannya adalah sejak masa Sultan Agung atau sekitar tahun 1613-1645. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya manuskrip Sloane 2645 yang ternyata mengandung teks sighat ta’liq khas Muslim Jawa di abad ke-17.

Teks Sihat Ta’liq Abad 17

Berikut ini terjemahan dari Bahasa Jawa ke Bahasa Indonesia dari teks tersebut:

“Di dalam asma Tuhan Yang Maha Kasih lagi Maha Sayang di dalam asma Tuhan dan segala pujian bagi-Nya/

dan anugerah keagungan semoga untuk utusan Tuhan yaitu Muhammad semoga Tuhan selalu melimpahinya salam dan keagungan./

Aku berwasiat kepadamu dan diriku sendiri supaya terus takwa kepada Tuhan Aku nikahkan Niyanu dengan/

dirimu dengan mas kawin seratus hil (satuan berat?) perak sebagai hutangmu./

Qabul. Saya terima darimu nikahnya Niyanu dengan/

mas kawin yang telah diucapkan tadi, itu (teteng: tetap atau pasti?) sebagai hutangku./

Akad nikah. Akad perjanjian manakala aku meninggalkan istriku/

Niyanu selama setahun jatuhlah talak satu’’./”

Yaitu perbuatan aniaya seperti tidak memberi makan dan tidak memberi tempat tinggal. dan tidak/

Sighat ta’liq sendiri diketahui sebagai bagian dari janji seorang suami kepada istrinya yang bila dilanggar akan jatuh talak pertama.

Dalam hal ini, sang istri harus mengajukan ke pengadilan terlebih dahulu supaya jatuh talak satu dari suaminya tersebut. Calon suami diwajibkan menyatakan janji ini selepas ijab kabul oleh pemerintah.

Mengucapkan Ijab Kabul Menggunakan Bahasa Daerah

Secara syariat hal ini sah-sah saja mengingat sejak zaman ulama-ulama terdahulu pernyataan ijab dan kabul memang diucapkan sesuai bahasa masyarakatnya.

Oleh karena itu, kamu bisa menemukan ijab kabul Bahasa Sunda atau bahasa-bahasa lainnya karena tidak ada kewajiban untuk membacanya dalam Bahasa Arab.

Sedangkan praktik sighat ta’liq sendiri saat ini telah dibatasi yaitu dengan dua tahun berturut-turut seorang suami meninggalkan istrinya.

Selain itu, pada masa Sultan Agung, tidak ada keharusan bagi seorang istri untuk menggugat ke pengadilan terlebih dahulu untuk jatuhnya talak satu apabila sang suami telah melanggar sighat ta’liqnya.

Sebelumnya, jika seorang suami telah meninggalkan istrinya selama satu tahun dan berturut-turut, tidak memberikan nafkah batin dan lahir, maka secara otomatis akan jatuh talak satu terhadap sang istri.

Meskipun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa praktik ijab kabul dan shigat ta’liq tersebut sudah ada di Tanah Air sejak lama dan telah hidup di masyarakat sebagai tradisi yang tidak bisa dilepaskan dari setiap prosesi pernikahan.

Demikianlah berbagai ulasan yang telah Hasana.id kumpulkan terkait ijab kabul. Semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

Referensi:

https://www.laduni.id/post/read/55531/inilah-bacaan-dalam-akad-nikah-yang-wajib-diketahui-lelaki-muslim

https://islam.nu.or.id/post/read/95928/benarkah-tak-boleh-jeda-sama-sekali-dalam-ijab-qabul-nikah-

https://alif.id/read/nur-ahmad/ijab-kabul-pernikahan-di-jawa-era-sultan-agung-b206132p/

https://www.laduni.id/post/read/70967/doa-rasulullah-saw-saat-menikahkan-sayyidah-fatimah-azzahra.html

https://islam.nu.or.id/post/read/85099/doa-ketika-mempertemukan-mempelai-pria-dan-wanita

https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/jat/article/download/9064/4455

 

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p