Doa Bangun & Sebelum Tidur, Adab, Dzikir, DLL [PENJELASAN SANGAT LENGKAP]

Pergantian siang malam adalah salah satu bukti keesaan Allah. Kita sebagai manusia yang diciptakan untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi tentu saja di anjurkan untuk dapat memanfaaatkan waktu siang dan malam sebaik mungkin. Biasanya mayoritas orang menggunakan siang untuk mencari dan mengumpulkan harta, sedangkan malam untuk beristirahat.

Namun tentu saja kita boleh tertipu dengan hal tersebut. Islam memiliki titah khusus agar kita bisa memanfaatkan sebaik mungkin untuk mencapai ridha Allah dalam segala lini kehidupan.

Jadi waktu merupakan salah satu nikmat yang harus bisa kita kelola sebaik mungkin, sehingga semakin bagusnya kita dalam mengatur waktu, maka kita akan semakin sukses di dunia dan akhirat, begitu juga sebaliknya.

Banyak ulama yang membagi waktunya dalam dua puluh empat jam menjadi tiga bagian, salah satunya adalah Abu Hurairah, Imam Al-Darimi menjelaskan di dalam kitab Sunan-nya;

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ إِنِّي لَأُجَزِّئُ اللَّيْلَ ثَلَاثَةَ أَجْزَاءٍ فَثُلُثٌ أَنَامُ وَثُلُثٌ أَقُومُ وَثُلُثٌ أَتَذَكَّرُ أَحَادِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Abu Hurairah pernah berkata; Sungguh aku membagi waktu malamku menjadi tiga bagian, sepertiga waktu malam untuk tidur, sepertiga untuk beribadah, dan sepertiga lagi untuk mempelajari hadis Rasulullah SAW.

Jadi islam bukanlah agama yang bersifat menekan sehingga kita tidak memiliki waktu untuk istirahat. Namun juga cukup perhatian dengan sesuatu yang berkaitan dengan kesehatan. Hal ini seirama dengan perkataan para Ulama:

العقل السالم فى الجسم السالم

Akal yang sehat terletak pada tubuh yang sehat.

Istirahat dan tidur adalah salah kebutuhan tubuh. Sehingga para dokter menyimpulkan bahwa Istirahat dan tidur juga membantu pertumbuhan dan perkembangan tubuh yang sehat. Salah satu faktor utama untuk melepaskan hormon yang dapat memicu pertumbuhan normal pada anak anak dan remaja adalah tidur yang baik dan nyenyak. Juga banyak manfaat – manfaat lain dari tidur menurut ilmu medis.

Istirahat di waktu malam tentu saja senada dengan kebiasaan Rasulullah SAW, berdasarkan hadits

كان رسول الله ينام اول اليل ويقوم آخره (متفق عليه)

Adalah Rasulullah tidur pada awal malam dan bangun pada akhirnya.

Rasulullah sebagai seorang nabi yang di utus oleh Allah untuk menjadi pedoman yang baik untuk manusia, tentu saja memiliki anjuran – anjuran yang berkenaan dengan istirahat, baik itu berupa do’a dan adab – adab yang berkaitan dengannya.

Maka pada kesempatan kali ini, kita akan mempaparkan permasalahan tidur ala Baginda Nabi Muhammad SAW, seperti do’a, adab – adab dan sebagainya yang terdapat di dalam kitab Azkar karangan Imam Nawawi, dan kitab Syamail Muhammdiyyah karangan Imam at-Turmidzi dan beberapa kitab hadits lainnya.

Doa sebelum dan bangun tidur

Sebelum istirahat dan tidur di waktu malam, maka hendaklah kita memerhatikan beberapa adab dan perilaku yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, seperti berwudhu, menulis wahiat di bawah bantal, bertaubat dari segala dausa dan menyakinkan diri sendiri untuk tidak mengulanginya lagi, bercita-cita untuk menyebarkan kebaikan kalau masih bisa bangun esoknya, dan mengusahakan agar tidak berbicara lagi setelah sholat insya. Jangan sampai kita terbiasa dengan perilaku dan kebiasaan yang tidak baik, seperti main hp, chatingan, asik internetan yang tidak jelas dan sebagainya.

Doa Sebelum Tidur

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا

Bismikallaahumma Amuutu wa Ahyaa

“Dengan nama Mu, Ya tuhan kami, aku mati dan hidup.” (HR. Bukhari)

Atau menurut riwayat yang lain :

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَحْيَا وَبِاسْمِكَ أَمُوتُ

Bismikallaahuma Ahyaa wa Bismika Amuut

“Dengan menyebut nama Mu, Ya tuhan kami, aku hidup dan dengan menyebut Nama Mu aku mati.” (HR. Muslim)

Doa Bangun Tidur

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُور

Alhamdulillaahil Ladzii Ahyaanaa Ba’da Maa Amaatanaa Wailaihin Nusyuur

“Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami kembali setela menjadikan kami mati dan kepada Nya akan dibangkitkan.”

Kenapa ketika hendak tidur, do’a yang di anjurkan adalah do’a yang mengisyarah kepada hidup dan mati? Karena para Ulama menjelaskan bahwa tidur dinamakan sebagai mati kecil, artinya kita tidak tau apakah kita masih memiliki kesempatan untuk membuka mata yang terpejam atau tidak. Karena hal inilah kita disunatkan untuk berwudhu ketika hendak tidur, sehingga ketika Allah mencabut ruh dari tubuh, kita berada dalam kondisi yang suci.

Adab–adab tidur ala Rasulullah SAW

Mematikan lampu ketika hendak tidur

Hal ini merupakan perintah dari Rasulullah SAW berdasarkan riwayat Bukhari (5624):

أَطْفِئُوا الْمَصَابِيحَ إِذَا رَقَدْتُمْ وَغَلِّقُوا الْأَبْوَابَ وَأَوْكُوا الْأَسْقِيَةَ وَخَمِّرُوا الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ

“ Matikanlah semua lampu apabila kalian hendak tidur, dan kuncilah semua pintu, dan tutuplah wadah air, tempat makan dan minum.”

Membaca doa ketika hendak merebahkan diri di atas kasur

Hal ini merupakan perintah dari Rasulullah SAW berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Anas:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا فَكَمْ مِمَّنْ لَا كَافِيَ لَهُ وَلَا مُؤْوِي رواه مسلم

“Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami makan dan minum, dan telah menjadikan kami berkecukupan, padahal banyak orang yang tidak memiliki kecukupan dan tempat tinggal”. (HR. Muslim: 2715)

Meletakkan tangan kanan di bawah pipinya yang kanan.

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Turmidzi yang diriwayatkan dari Barra’ bin Azib :

عَنْ البَرَّاءِ بْنِ عَازِبِ ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ وَضَعَ كَفَهُ اليُمْنَى تَحْتَ خَدِّهِ الأَيْمَنِ ، وَقَالَ : رَبِّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تُبْعَثُ عِبَادُكَ

Dari Barra’ bin ‘Azib bahwa sanya Nabi SAW apabila telah tidur di atas ranjangnya, beliau meletakkan telapak tangannya yang kanan di bawah pipinya sebelah kanan, dan berdoa رَبِّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تُبْعَثُ عِبَادُكَ. (H.R Tirmidzi)

Tidur berbaring sebelah kanan.

Apabila tidur sebelum subuh, maka kita luruskan lengan, kemudian kita letakkan kepala diatas lengan.

Hal ini berdasarkan Hadist yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dari Abi Qatadah:

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا عَرِسَ بِلَيْلٍ اضْطَجَعَ عَلَى شَقِّهِ الأَيْمَنِ ، وَإِذَا عَرِسَ قُبَيْلَ الصُّبْحِ نَصَبَ ذِرَاعَهُ ، وَوَضَعَ رَأْسَهُ عَلَى كَفِّهِ

Dari Abi Qatadah bahwa sesungguhnya Nabi SAW apabila berbaring di waktu malam, maka beliau tidur di atas lambungnya yang sebelah kanan, sedangkan apabila beliau tidur sebelum subuh, maka beliau luruskan lengannya, dan meletakkan kepalanya di atas telapaknya ” (HR. Tirmidzi)

Kumpulan zikir dan bacaan doa tidur

Takbir, tasbih, dan tahmid masing – masing kita kerjakan tiga puluh tiga kali.

hal ini berdasarkan hadis Nabi SAW ketika berkata kepada Siti Fathimah yang diriwayatkan dari Sayyidina ‘Ali

إِذَا أَوَيْتُمَا إِلَى فِرَاشِكُمَا، أَوْ أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا، فَكَبِّرَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ، وَسَبِّحَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ، وَاحْمَدَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ

Jika kalian hendak berbaring di atas kasur, atau merebahkan diri kalian, maka takbirlah tiga puluh tiga kali, tasbih tiga puluh tiga kali, dan tahmid tiga puluh tiga kali

Namun juga ada riwayat yang menerangkan bahwa takbir dan tahmid, masing – masing dibaca tiga puluh empat kali. Adapun bunyi takbir, tasbih dan tahmid yaitu

الله أكبر . سبحان الله . الحمد لله

Allahu akbar . Subhanallah . Alhamdulillah

“Allah Maha Besar . Maha Suci Allah . Segala Puji Bagi Allah”

Membaca doa di bawah ini setelah merapikan tempat tidurnya

Sebagaimana yang di ajarkan oleh baginda nabi Muhammad SAW berdasarkan riwayat Abu Hurairah yang terdapat di dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim :

بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي ، وَبِكَ أَرْفَعُهُ ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا ، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ

Bismika rabbi wadha’tu jambi wabika arfa’uhu in amsaktu nafsi farhamha wa in arsaltaha fahfazha bima tahfadzu bihi ‘ibaadakash shaalihiin

“Dengan nama Mu Wahai Tuhanku, aku telah meletakkan tubuhku dan dengan Mu aku mengangkatnya, jika Kamu mengambil jiwaku maka berilah rahmat untuknya, dan jika Engkau biarkan dia maka jagalah ia dalam penjagaan Mu kepada hamba-hamba Mu yang shaleh”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Mengangkat tangan dan meniupnya. Kemudian membaca surah Al Ikhlas, Al Falaq, dan Al Nas sebelum tidur. Setelah itu mengusapkan beliau keseluruh tubuh yang bisa terjangkau oleh tangan.

Amalan di atas sebagaimana yang di jelaskan di dalam Hadist yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dari Sayyidah ‘Aisyah:

عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ فَنَفَثَ فِيْهِمَا ، وَقَرَأَ فِيْهِمَا قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الفَلَقِ وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ ، يَبْدَأُ بِهِمَا رَأْسَهُ وَوَجْهَهُ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَصْنَعُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Dari ‘Aisyah RA berkata: apabila Rasulullah SAW hendak tidur di atas ranjangnya pada tiap – tiap malam, beliau mengumpulkan tangannya dan meniupnya, dan membaca ayat qul huwallahu ahad, qul a’u dzu bi rabbil falaq, dan qul a’u dzu bi rabbin naas, kemudian beliau menyapu dengan tangannya apa saja yang sanggup dari tubuhnya. Beliau memulainya dari kepala dan wajah, dan apa saja yang berhadapan dari tubuhnya sampai tiga kali.” (H.R Tirmidzi)

  • Surah al-Ikhlas

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ . اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ . وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

Qul huwallahu ahad. Allahus shamad. Lam yalid wa lam yuulad wa lam yakul lahu kufuwan ahad.

Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.Dan tidak ada sesuatu yang sekufu dengan Dia.”

  • Surah an-Nas

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ . مَلِكِ النَّاسِۙ اِلٰهِ النَّاسِۙ. مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ . الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ. مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

Qul a’uuzu bi rabbin naas. Malikin nas. Ilaahin nas. Min syarril waswaasil khannass. Alladzii yuwaswisu fii shuduurin nas. Minal jinnati wan nas

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan setan yang bersembunyi, yang berbisik ke dalam dada manusia, daripada jin dan manusia.

  • Surah al-Falaq

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ . مِن شَرِّ مَا خَلَقَوَ . مِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ .وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِي ٱلۡعُقَدِ .وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ.

Qul A’uudzu birabbil falaq. Min syarri maa khalaq. Wa min syarri ghaasiqin idzaa waqab. Wa min syarrin naffaatsaati fiil ‘uqad. Wa min syarri haasidin idzaa hasad

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai waktu subuh. dari kejahatan makhluk yang diciptakan Nya. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap. dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul .dan dari kejahatan pendengki bila ia mendengki.

  • Membaca dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah, berdasarkan riwayat dari Abu Mas’ud al-Anshari al-Badri

اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖ ۗ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ

Aamanar rasuul bimaa unnzila ilaihi mir rabbihii wal mukminuun. Kullun aamana billahi wa malaaikatihii wa kutubihii wa rusulihii. Laa nufarriqu baina ahadimm mir rusulihii wa qaaluu sami’na wa atha’na ghufraanak rabbanaa wa ilaikal mashiir

Rasul dan orang mukmin beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya,. Semua beriman kepada Allah, malaikat – malaikat Nya, kitab – kitab Nya dan rasul-rasul Nya. ), “Kami tidak membedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat kami kembali.”

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ

Laa yukallifullahu nafsan illaa wu’ahaa. Lahaa maa kasabat wa ‘alaiha makh tasabat. Rabbanaa laa tu-akhiznaa in nasiinaa au akhta’na. rabbanaa wa laa tahmil ‘alainaa ishrang kamaa hamaltahuu ‘alal ladziina ming qablinaa. Rabbanaa wa laa tuhammilnaa ma laa thaaqata lanaa bihii. Wa’fu ‘anna wagh firlanaa war hamnaa. Anta maulana fan shurnaa ‘alal qaumil kaafirinn.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan apa yang dia sanggupi. Dia meraih pahala dari (kebaikan) yang diperbuatnya dan mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Kamu siksa kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Kamu bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Kamu berikan beban kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Kamu berikan kami beban apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”

zikir ketika terbangun tengah malam dan berencana tidur lagi

zikir ini berdasarkan yang diriwayatkan oleh ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda

مَن تَعارَّ من الليل فقال: لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ، ثم قال: اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي – أو دعا – استُجِيبَ له، فإنْ توضأ وصلى قُبِلتْ صلاتُه

“Barangsiapa yang terjaga di malam hari, kemudian dia membaca :

لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syain qodiir. Alhamdulillah wa subhanallah, wa laa ilaha illallah, wallahu akbar, wa laa hawla wa laa quwwata illa billah

Tiada tuhan selain Allah, sendiri Nya, tiada bandingan bagi Nya, kerajaan dan pujian untuk Nya, Dia Maha Berkuasa di atas segalanya. Segala puji bagi Allah, dan maha suci Allah, dan tiada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar, dan tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي

“Ya Allah, ampunilah aku“, atau berdoa dengan doa yang lain, maka akan dikabulkan doanya, jika dia berwudhu dan melaksanakan shalat maka akan diterima shalatnya.” ( HR. Bukhari )

Doa ketika susah tidur

Doa ini diajarkan rasulullah SAW kepada sahabat Zaid bin Tsabit saat mengalami susah tidur, karena alasan tertentu. Ia kemudian mengadu kepada Rasulullah, dan memberikan Zaid bacaan doa berikut ini:

اللَّهُمَّ غَارَتِ النُّجُومُ ، وهَدَأَتِ الْعُيُونُ ، وَأَنْتَ حَيٌّ قَيُّومٌ ، يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ أَنِمْ عَيْنِي وأهْدِئْ لِيَلِي

Allaahumma ghaaratin nujuum wa hada atil ‘uyuunu wa anta hayyuun qayyuum, ya hayyu wayyum anim ‘ainii ahdi’ laili

Artinya: “Wahai Tuhan yang mengorbitkan segala bintang, Yang menjadikan mata terpejam, Engkau adalah Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus, wahai yang Maha Hidup dan Maha Mengurus lelapkanlah mataku dan redupkanlah malam.” ( HR. Ibnu Sinni )

Doa ketika terkejut saat tidur

Doa di bawah merupaka doa yang datang dari Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Daud, at-Turmidzi, Ibnu Sinni dan yang lain

أعوذ بكلمات اللهِ التَّامَاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَمِنْ شَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَأَنْ يَحْضُرُوْنِ

A’uudzu bikalimaatillaahit taammati min ghadzbihi wamin syarri ‘ibaadihi wamin hamazaatis syayaathinn wa ay yahdhuruun

“Aku berlindung kepada Allah dengan segala kalimat Allah yang sempurna dari kemurkaan-Nya, dan dari kejahatan hamba-Nya dan dari godaan setan yang datang.”

Doa ketika dilanda mimpi buruk

berdasarkan atsar yang dikeluarkan Sa’id bin Manshur, Ibnu Abu Syaibah, ‘Abdur Rozzaq Rohimahumullah dengan sanad-sanad yang shohih dari Ibrohim An Nakho’i, berkata :

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ فِيْ مَنَامِهِ مِا يَكْرَهُ فَلْيَقُلْ إِذَا اسْتَيْقَظَ : أَعُوْذُ بِمَا عَاذَتْ بِهِ مَلَائِكَةُ اللهِ وَرَسُلُهُ مِنْ شَرِّ رُؤْيَايَ أَنْ تُصِيْبَنِيْ فِيْهَا مَا أَكْرَهُ فِيْ دِيْنِيْ وَ دُنْيَايَ

‘Jika salah seorang dari kalian melihat dalam tidurnya sebuah mimpi yang dia benci dan tidak suka maka ketika dia terbangun dan tersentak hendaklah dia mengucapkan,

أَعُوْذُ بِمَا عَاذَتْ بِهِ مَلَائِكَةُ اللهِ وَرَسُلُهُ مِنْ شَرِّ رُؤْيَايَ أَنْ تُصِيْبَنِيْ فِيْهَا مَا أَكْرَهُ فِيْ دِيْنِيْ وَ دُنْيَايَ

A’uudzu bimaa ‘aanat bihi malaaikatallahi wa rusulihii min syarrir rukyaya an thusiibani fiihaa maa akrahu fi diinii wa dunyaaya

“Aku berlindung kepada Dzat yang berlindung para malaikat Allah dan utusan (Rasul-Rasulnya) kepada Nya dari keburukan mimpiku agar tidak terjadi pada diriku hal yang telihat dalam mimpiku berupa keburukan pada permasalahan agama dan duniaku.”

Masih banyak zikir-zikir dan amalan lain yang bisa kita amalkan ketika berencana tidur, Maka sudah seharusnya, kita sebagai orang – orang yang berjalan di manhaj Nabi Muhammad SAW untuk serius dalam mengamalkan do’a, zikir, dan adab – adab yang bersumber dari hadis – hadis dan atsar yang shahih, sehingga tidur, mimpi dan bangun kita menjadi amalan yang penuh berkah disisi Allah.

 

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p