Adzan: Doa Setelah Adzan, Keutamaan, DLL [PENJELASAN LENGKAP]

Adzan adalah seruan untuk melakukan shalat dengan bacaan yang sudah ditentukan. Adzan juga sebuah pemberitahuan kepada muslimin bahwa sudah masuk waktu shalat. Ada pula doa setelah adzan yang dihukumi sunnah.

Lantunan adzan tidak boleh sembarangan karena sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Bacaan adzan pun harus dilakukan oleh manusia, tidak boleh hanya mengandalkan alat pengganti.

Sementara itu, iqomah adalah pemberitahuan kedua bahwa sebentar lagi shalat berjamaah akan segera dimulai. Bacaan adzan dengan iqomah hampir sama. Maka itu, iqomah disebut juga sebagai adzan yang kedua.

Sejarah Adzan dan Iqomah

Mulai disyariatkannya adzan adalah pada tahun kedua Hijriyah. Pada awalnya, Nabi Muhammad saw mengumpulkan para sahabat untuk memusyawarahkan cara apa yang baik untuk memberitahukan masuknya waktu sholat.

Selain itu, majelis ini juga merumuskan bagaimana caranya agar panggilan tersebut bisa mengajak orang ramai untuk berkumpul ke masjid dan melakukan sholat berjamaah.

Di dalam majelis ini, ada banyak sekali usulan yang masuk. Salah satu sahabat ada yang berpendapat bahwa panggilan salat bisa dilakukan dengan cara mengibarkan bendera.

Apabila bendera tersebut telah berkibar, hendaknya semua orang yang melihat bendera tersebut agar memberitahukan kepada khalayak umum. Selain bendera, ada juga yang mengusulkan agar memakai terompet seperti yang dilakukan oleh bangsa Yahudi.

Ada juga yang mengusulkan agar membunyikan lonceng yang biasa dilakukan oleh bangsa Nasrani. Sebagian lain ada yang mengusulkan agar ketika waktu shalat tiba, dinyalakan api pada tempat-tempat yang tinggi sehingga orang-orang yang di sekitarnya bisa melihatnya dengan jelas.

Dengan adanya api, setidaknya asapnya akan terlihat dari tempat yang paling jauh. Akan tetapi, semua usulan tersebut ditolak oleh Nabi Muhammad saw.

doa setelah adzan latin

Mimpi Mengenai Adzan

Suatu malam ketika musyawarah telah selesai, Abdullah bin Zaid bermimpi bertemu dengan orang yang membawa lonceng. Lalu Beliau pun bertanya kepadanya:

“Apakah lonceng itu dijual?”.

Lalu kemudian orang itu menjawab: “Untuk apa?”

Abdullah bin Zaid menjawab:

“Untuk memanggil kaum muslimin melaksanakan salat”

Lalu kemudian orang itu berkata lagi;

“Maukah engkau aku ajarkan cara yang lebih baik?” lalu Abdullah bin Zaid pun mengiyakan. Setelah itu orang tersebut melanjutkan dengan suara yang lantang;

“Allahuakbar Allahuakbar, Asyhadu alla Illaha ilallah, asyhadu anna Muhammadar rasulullah, Hayya ‘alash Shalah, hayya ‘alal Falah, allahuakbar Allahuakbar, La ilaha ilallah”

Setelah itu Abdullah bin Zaid menceritakan hal ini kepada Nabi Muhammad saw Rupanya, mimpi ini tidak dialami kalau dia saja melainkan juga oleh Umar Bin Khattab ra.

Lalu setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda “Itu adalah mimpi yang benar, berdirilah di samping Bilal dan ajarilah dia bagaimana caranya mengucapkan kalimat tersebut. Dia akan mengumandangkan adzan seperti itu karena dia memiliki suara yang amat lantang”

Dari kisah itulah adzan berasal. Hingga kini, kalimat adzan pun terus berkumandang di seluruh penjuru dunia.

Syarat-Syarat Adzan

Selain ketentuan dan etika, ada juga syarat-syarat sah diberlakukannya adzan. Beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah akan kita bahas di dalam sub judul berikut.

Telah Masuk Waktu

Jika ada seseorang mengumandangkan adzan ketika belum masuk waktu salat, adzannya dianggap haram hukumnya sebagaimana kesepakatan para jumhur ulama. Hal ini berlaku jika adzan tersebut diperuntukan untuk memanggil shalat.

Akan tetapi boleh hukumnya bahkan disunnahkan (di beberapa kondisi tertentu) untuk adzan diluar waktu shalat asal untuk tujuan lain. Misalnya, mengadzani bayi yang baru lahir atau di saat tertimpa musibah.

Kecuali adzan subuh yang memang dulu pernah dilakukan dua kali masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup dan juga adzan shalat jum’at.

Yang pertama adalah pada seperenam malam terakhir, sedangkan yang kedua adalah adzan yang menandakan masuknya waktu subuh yakni saat fajar sudah menjelang.

Wajib Menggunakan Bahasa Arab

Para jumhur ulama sepakat bahwa adzan yang dikumandangkan menggunakan selain bahasa Arab, tidak sah hukumnya.

Hal ini dikarenakan adzan merupakan ritual ibadah melainkan bukan semata-mata hanyalah panggilan atau menandakan waktu datangnya sholat.

Sama halnya seperti bacaan salat yang tidak boleh menggunakan bahasa selain bahasa Arab.

Pengucapan Lafaz yang Tertib dan Benar

Diharamkan untuk membolak-balikkan lafaz azan. Urutannya pun harus benar dan baik. Jangan sampai kita memainkan atau bahkan menambahkan dan mengurangi dari lafaz azan tersebut.

Selain itu perhatikan juga etika dan tata krama ketika mengumandangkan adzan.

Tidak Bersahut-sahutan

Jika adzan dilakukan oleh dua orang dengan cara sambung menyambung satu sama lain, adzan tersebut hukumnya tidak sah.

Akan tetapi, jika dilakukan oleh berapa vokal (lebih dari satu orang) secara berbarengan dibolehkan. Bahkan hal ini tidak dimakruhkan sebagaimana yang telah dikatakan oleh Ibnu Abidin. Hal ini juga pernah dilakukan pertama kali oleh Bani Umayyah.

doa setelah adzan sesuai sunnah

Hukum Mengumandangkan Adzan

Menurut jumhur para ulama, selain al-hanabilah, bahwa azan shalat merupakan sunnah muakkadah. Untuk laki-laki yang mengerjakannya di masjid dan waktunya untuk sholat fardhu dan sholat Jumat (kecuali untuk keperluan lain seperti mengadzani bayi yang baru lahir).

Namun di luar salat itu, tidak disunnahkan untuk mengumandangkan adzan. Misalnya pada salat Idulfitri, Iduladha, tarawih, salat gerhana, serta salat lainnya.

Lalu bagaimana untuk jamaah wanita? Menurut Imam Syafi’i dan Maliki untuk jamaah perempuan dianjurkan agar untuk undangan iqomah saja tanpa adzan.

Hal ini agar menghindari fitnah yang dikeluarkan oleh suara perempuan ketika adzan. Bahkan, iqomah makruhkan oleh imam Hanafi.

Etika dan Kriteria Seorang Muazin

Tahukah Anda bahwasannya ketika mengumandangkan adzan juga harus memperhatikan adab dan etika nya.

Di antara etika dan kriteria dari adzan tersebut adalah di bawah ini:

Kriteria Muazin:

1. Islam dan berakal.
2. Agamanya baik.
3. Lebih diutamakan orang dewasa, tetapi kalau terpaksa anak kecil juga tidak apa-apa.
4. Amanah.
5. Tidak berniat untuk menerima upah adzan.
6. Memiliki suara yang lantang dan merdu.

Etika Seorang Muazin:

1. Disunahkan suci dari hadas besar dan kecil.
2. Berdiri.
3. Sang muadzin menghadap ke arah kiblat ketika mengumandangkan adzan.
4. Mengumandangkan adzan di tempat yang tinggi, atau menggunakan pengeras suara.
5. Memperhatikan tajwid yang ada, memperlambat adzan mempercepat iqomah.
6. Meletakkan jari jemari di samping telinga ketika mengumandangkan adzan.
7. Menengok ke kanan dan ke kiri ketika mengumandangkan hayya’alatain.

doa setelah adzan arab

Keutamaan Adzan

Selain disunnahkan, ternyata mengumandangkan adzan juga memiliki banyak keutamaan. Hal ini dikarenakan seorang muadzin memiliki peranan yang sangat penting untuk memanggil kaum muslimin agar berkumpul melaksanakan ibadah.

Meskipun disuarakan atau dikumandangkan oleh manusia, tetapi hakekatnya adzan merupakan panggilan Allah Swt. kepada seluruh hamba-hambaNya agar segera menunaikan sholat.

Berikut kami rangkum 5 keutamaan adzan berdasarkan hadis-hadis shahih.

Ganjaran Pahala yang Sangat Besar

Pahala mengumandangkan azan sangatlah besar. Saking besarnya pahala adzan ini, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengibaratkan jika orang-orang mengetahui pahala dari mengumandangkan adzan, sesungguhnya mereka pasti akan berebut untuk adzan meskipun dengan cara diundi.

Rasulullah saw bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا

“Seandainya orang-orang mengetahui pahala yang terkandung pada adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mungkin mendapatkannya kecuali dengan cara mengadakan undian atasnya, niscaya mereka akan melakukan undian” (HR. Bukhari dan Muslim)

Segala Makhluk dan Benda Akan Menjadi Saksi Bagi Seorang Muadzin

Semua makhluk dan benda yang mendengar adzan dari seorang muazin, akan menjadi saksi bagi dirinya di hari kiamat nanti.

Sesungguhnya hal ini merupakan benar adanya, maka dengan demikian seorang muadzin juga akan mendapatkan syafaat di hari kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لَا يَسْمَعُ صَوْتَهُ شَجَرٌ وَلَا مَدَرٌ وَلَا حَجَرٌ وَلا جِنٌّ وَلا إِنْسٌ إِلا شَهِدَ لَهُ

“Tidaklah suara adzan didengar oleh pohon, lumpur, baru, jin dan manusia, kecuali mereka akan bersaksi untuknya” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Mendapatkan Ampunan dari Allah Swt

Diantara keutamaan seorang muadzin yang paling istimewa adalah diampuni dosa-dosa masa lalunya oleh Allah Swt. Benda-benda serta makhluk yang mendengar adzan secara tidak langsung (tanpa kita sadari) memohonkan ampunan untuk seorang muazin.

Dengan demikian, berbahagialah kalian jika telah mampu mengumandangkan adzan karena pada hakikatnya seluruh benda makhluk yang mendengarkan sedang memohonkan ampun kepada Allah Swt. atas dosa-dosa kalian.

doa setelah adzan latin dan artinya

Mendapatkan Pahala dari Orang yang Shalat Berjamaah Bersamanya

Jika kalian mengumandangkan adzan pada waktu salat, kemudian banyak orang yang datang ke masjid untuk menunaikan salat berjamaah, sesungguhnya kalian akan mendapatkan keutamaan serta pahala seperti yang didapat oleh orang-orang salat berjamaah di masjid itu.

Maka, betapa bahagianya kita jika mampu memanggil puluhan bahkan ratusan orang untuk ikut turut serta berjamaah salat di masjid.

Ketika Adzan Berkumandang Setan Akan Lari Terbirit-birit

Tahukah Anda bahwasannya istilah setan akan lari ketika adzan adalah benar adanya. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِذَا نُودِىَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعَ التَّأْذِينَ

“Apabila adzan untuk shalat dikumandangkan, setan melarikan diri terkentut-kentut sampai tidak mendengar adzan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal ini dikarenakan setan sangat benci dengan segala sesuatu yang baik. Dia akan selalu berusaha untuk menjerumuskan manusia ke dalam hal-hal yang buruk dan negatif.

doa setelah adzan lengkap

Fungsi Lain dari Adzan

Tak hanya untuk panggilan sholat, ternyata adzan juga memiliki kegunaan dan fungsi lain. Sebenarnya, ada perbedaan pendapat di sini. Ada yang berpendapat bahwa sannya adzan hanya boleh digunakan untuk panggilan sholat saja tidak boleh untuk yang lain.

Sementara ada juga yang berpendapat bahwa adzan memiliki berapa fungsi lain selain dari memanggil kaum muslimin untuk salat.

Para pengikut mazhab Imam Syafi’i mengisyaratkan kurang lebih ada beberapa fungsi lain dari adzan diantaranya adalah akan kita bahas di bawah ini.

Untuk Bayi yang Baru Lahir

Disunahkan untuk mengadzankan anak yang baru lahir pada telinga kanannya. Lalu kemudian dilanjutkan dengan iqomat pada telinga kirinya.

Tidak ada perbedaan yang dilakukan untuk anak laki-laki maupun perempuan. Keduanya sama saja dan dilakukan ketika bayi masih berumur 0 bulan.

Pada Keadaan-keadaan Tertentu

Selain untuk bayi, adzan juga bisa digunakan pada keadaan-keadaan tertentu seperti mendapatkan musibah misalnya.

Ketika mendapatkan musibah atau terkena bencana, maka sesungguhnya hal yang dilakukan pertama kali ialah mengumandangkan adzan. Contoh ketika kita mendapati gempa bumi atau tsunami, setelah kejadian tersebut kita bisa mengumandangkan adzan.

Tak hanya mendapatkan musibah, adzan juga boleh dikumandangkan ketika mendapati orang yang sedang marah, pengusir binatang liar atau buas ataupun melihat Jin yang sedang menampakan dirinya.

Hal ini berdasarkan hadis yang kita bahas sebelumnya bahwa setan akan lari terbirit-birit ketika mendengar adzan.

Kisah Tentang Adzan: Adzan Terakhir Bilal

Ketika Rasulullah saw wafat pada tahun 11 Hijriyah di usianya yang menginjak ke-63, kabar kesedihannya pun langsung menyebar ke seluruh pelosok Madinah. Semua penduduk yang ada di sana pun tak kuasa untuk menahan diri.

Seperti yang diriwayatkan oleh Annas ra:

“Aku tidak pernah melihat hari yang lebih baik dan lebih terang selain hari dimana ketika Rasulullah SAW masuk dan datang ke tempat kami. Dan tidak pula aku lihat, hal yang lebih buruk dan muram selain hari dimana ketika Rasulullah SAW meninggal dunia.”  

Begitu pula sama halnya dengan Bilal bin Rabbah. Dirinya dilanda kesedihan yang sangat amat dalam sepeninggal Rasulullah SAW.

Di dalam kitab Shuwar Min Hayaatis Shahabah yang ditulis oleh Dr. Abdurrahman Ra’fat,dijelaskan bahwasannya Bilal hanya mampu mengumandangkan Adzan selama tiga hari sejak kepergian Rasulullah saw.

Ketika Bilal mengumandangkan adzan, selalu berhenti pada kalimat “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”. Seketika itu beliau langsung menangis tersedu-sedu. Begitupun kaum Muslimin yang mendengarnya ikut larut dalam tangisan yang pilu.

Ketika Bilal Menjumpai Khalifah

Riwayat lain menceritakan bahwa ketika Bilal menemui Khalifah (saat itu yang menjabat adalah Abu Bakar ra) beliau berkata:

“Wahai Khalifah, aku pernah mendengar bahwasannya Rasulullah saw bersabda: Amal orang mukmin yang paling utama adalah Jihad Fi Sabilillah.

Lalu Abu Bakar bertanya; “Lalu apa maksudmu wahai Bilal?”

Bilal pun menjawab;

“Aku ingin berjuang di jalan Allah hingga akhir hayatku menjemput

“Lalu siapa lagi yang akan menjadi muadzin bagi kami?” Abu Bakar bertanya lagi.

Sambil meneteskan air mata, Bilal pun menjawab;

“Aku tidak akan menjadi muadzin lagi untuk orang lain setelah Rasulullah saw.”

Lalu kisah ini dilanjutkan oleh seorang ulama madzhab maliki, Ibnu ‘Abd Al-Barr. Beliau lahir di Andalusia pada tahun 978 Masehi. Di dalam kitabnya yang berjudul Al-Isti’ab, beliau mengisahkan bahwa sepeninggal Rasulullah saw., Bilal tidak pernah mengumandangkan adzan lagi.

Lalu di dalam kitabnya itu juga disebutkan, ketika Nabi saw meninggal, Bilal memutuskan untuk pergi ke Suriah. Akan tetapi, Abu Bakar menyuruhnya untuk tetap tinggal dan berada dalam pengabdian.

Lalu Bilal pun berkata:

”Jika engkau telah memerdekakan diriku untuk dirimu sendiri, buatlah diriku tertawan lagi. Namun, jika engkau telah memerdekakan diriku untuk Allah, maka biarkanlah diriku pergi di jalan Allah”

Lalu Abu Bakar pun meninggalkannya sendirian.

Setelah pergi dari Madinah, Bilal menghabiskan sisa-sisa hidupnya di Suriah. Pada suatu hari, Umar bin Khattab (ketika menjadi Khalifah) berkunjung ke Suriah.

Pada kesempatan tersebut, orang-orang membujuk Umar bin Khattab untuk meminta kepada Bilal agar mengumandangkan adzan lagi untuk satu kali saja.

Akhirnya, Bilal pun mengiyakan dan konon itu menjadi adzan terakhir bagi dirinya.

Riwayat Bilal di Suriah

Cerita ini diceritakan dengan versi yang berbeda pada riwayat lain. Versi berikutnya adalah dikisahkan pada suatu malam yang spesial di Suriah, malam saat Bilal sedang tertidur lelap.

Dia bermimpi didatangi oleh seorang yang sangat dicintainya, yakni Rasulullah saw. Di dalam mimpinya, Rasulullah saw bertanya kepada Bilal: “Wahai Bilal, mengapa dirimu tidak pernah mengunjungiku?”

Sontak, Bilal pun terbangun dari tidurnya. Jantungnya berdebar, lalu dengan sigap dirinya pun langsung bersiap-siap untuk menempuh perjalanan menuju ke Madinah. Sesampainya di sana, iapun berziarah ke makam Nabi Muhammad saw.

Di depan makam Nabi, Bilal menangis tersedu-sedu menumpahkan rasa rindu. Rindu kepada Nabi Muhammad saw yang telah memberikannya amanah untuk menjadi seorang muadzin.

Ketika air mata membasahi kedua pipinya, tiba-tiba datang dua orang pemuda berjalan mendekati Bilal. Ternyata mereka adalah kedua cucu Rasulullah saw., yakni Hasan dan Husain.

Dengan mata sembab, bilal pun menatap keduanya. Dia bergerak mendekat, memeluk kedua cucu Nabi Muhammad saw. Dalam suasana haru itu, salah satu diantara cucu nabi berkata “Paman, sudikah kiranya dirimu untuk sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang Kakek kami.”

Bilal bin Rabbah yang sudah tua, mendengar permintaan itu hatinya luluh. Dirinya tidak kuasa untuk menolak permintaan tersebut.

Ketika waktu salat tiba, dia pun menaiki tangga ketempat yang dahulu biasa ia gunakan untuk mengumandangkan adzan. Dengan pijakan yang teguh, dia menarik nafas dalam-dalam. Lalu, ia pun mulai melantunkan adzan.

Seisi Madinah pun terkejut mendengar suara adzan Bilal. Kota Madinah menjadi senyap. Suara yang hilang selama bertahun-tahun, kini datang terdengar lagi.

“Asyhadu an laa ilaha illallah…”  

Seketika orang-orang dari seluruh penjuru Madinah berlari menuju sumber suara tersebut.

“Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah… ”

Kerinduan Penduduk Madinah kepada Rasulullah

Tangis seluruh penduduk Madinah pun menggema. Luapan rindu kepada Rasulullah saw sang utusan tak terbendung sudah. Mereka menangis.

Seketika itu, terkenanglah masa-masa saat bersama Rasulullah saw. Masa tatkala beliau masih berada di tengah-tengah mereka, menyapa, mengayomi, serta mengasihi seluruh ummatnya.

Ditengah adzannya, Bilal pun tercekat tak mampu menahan segala beban di dada. Suaranya lirih, ia pun akhirnya tidak sanggup untuk menyelesaikan adzan tersebut.

Pada hari itu, kota Madinah diiringi luapan rindu. Tak ada pribadi yang begitu dicintai dan disayangi seperti Nabi Muhammad saw. Lantunan adzan dari Bilal yang memulai semua keseduan ini. 

Itulah kisah adzan terakhir sang Bilal. Di  usia senjanya, ia melantunkan adzan yang tak pernah bisa dituntaskan karena terlalu berat dan sedihnya hati.

Menjelang Ajal Sang Bilal

Bilal menghabiskan sisa-sisa hidupnya di Suriah. Menjelang ajalnya, Bilal terbaring diatas tempat tidur dan ditemani oleh istrinya. Di saat-saat terakhir tersebut, istrinya berkata:

“Sungguh sangat menyedihkan musibah yang akan kualami!”

Kemudian, Bilal Menjawab:

“Justru sebaliknya, inilah momen saat kebahagiaan dan kesenangan itu tiba. Tahukah wahai istriku bahwa kematian itu adalah sesuatu yang menggembirakan?”

Istrinya meneruskan: “Saat perpisahan telah tiba.”

Bilal lalu menjawab: “Saat perjumpaan telah datang.”

“Malam ini kau akan pergi ke laut dimana orang-orang asing berada.” Istrinya menambahkan lagi.

“Jiwaku akan kembali ke tempat asal semula.” Jawab Bilal.

“Betapa malangnya diriku!” Kata istrinya dengan sedih.

“Betapa bahagianya diriku…” tukas Bilal.

Istrinya pun bertanya: “Setelah ini, apakah nanti kita bisa berjumpa lagi?”

Bilal pun menjawab: “Di taman para kekasih Ilahi (surga)”

Lafadz serta Bacaan Adzan

Tadi kita sudah menelaaah sedikit tentang keutamaan serta arti dan sejarah adzan juga iqomah. Di bawah ini, mari kita telaah bacaan adzan agar kita bisa mempraktikkannya, sebelum mempelajari doa setelah adzan.

(٢x) اَللهُ اَكْبَرُ …،اَللهُ اَكْبَرُ
(٢x) أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ
(٢x) اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
(٢x) حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ
(٢x) حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
*(٢x) اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ
(١x) اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ
(١x) لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)
Asyhadu allaa illaaha illallaah. (2x)
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. (2x)
Hayya ‘alashshalaah. (2x)
Hayya ‘alalfalaah. (2x)
Ash-shalaatu khairum minan-nauum (2x)
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)
Laa ilaaha illallaah (1x)

Artinya:
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar
Aku menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah
Aku menyaksikan bahwa nabi Muhammad itu adalah utusan Allah
Marilah Sholat
Marilah menuju kepada kejayaan
Sholat itu lebih baik dari pada tidur
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar
Tiada Tuhan selain Allah

*Keterangan: Bacaan “Ash-shalaatu khairum minan-nauum” dibaca ketika adzan shubuh saja.

doa setelah adzan arab dan latin

Bacaan Menjawab Adzan dan Iqomah

Secara umum bacaan menjawab adzan sama dengan bacaan adzan itu sendiri. Bacaan menjawab adzan berbeda dengan doa setelah adzan. Jadi, kamu jangan salah melafalkannya.

Misalnya, saat seorang muazzin mengucap اَللهُ اَكْبَر maka kita juga menjawab dengan bacaan yang sama, اَللهُ اَكْبَر. Secara umum seperti itu.

Namun, ada dua bacaan yang dijawab dengan bacaan yang berbeda.

Pertama, ketika muazin membaca حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ  dan حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ, kita menjawab dengan لاحول ولاقوّة الاّ بالله.

Kedua, saat adzan shubuh dan muadzzin mengucapkan الصّلاة خير من النّوم, maka kita menjawab dengan صدقت وبررت وانا على ذلك من الشّاهدين.

Untuk iqomah, aturan menjawabnya juga sama yaitu dengan bacaan yang sama. Namun saat muazin mengucapkan قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ maka kita menjawab dengan أقامها الله وادامها وجعلني من صالحى . Bisa juga disingkat menjadi أقامها الله وادامها saja.

Bacaan Doa Setelah Adzan

Perlu diketahui bahwa setelah adzan selesai dikumandangkan, kita disunnahkan untuk membaca doa setelah adzan. Bacaan doa setelah adzan ini juga sudah ditentukan, tidak boleh sesuka hati.

Berikut bacaan doa setelah adzan adalah sebagai berikut:

اَللهُمَّ رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّآمَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَآئِمَةِ، آتِ مُحَمَّدَانِ الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَالشَّرَفَ
وَالدَّرَجَةَ الْعَالِيَةَ الرَّفِيْعَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًامَحْمُوْدَانِ الَّذِىْ وَعَدْتَهُ اِنَّكَ لاَتُخْلِفُ الْمِيْعَادَ يَآاَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Artinya:

“Ya Allah Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna, dan shalat yang tetap didirikan, kurniakanlah kepada Nabi Muhammad wasilah (tempat yang luhur) dan kelebihan serta kemuliaan dan derajat yang tinggi dan tempatkanlah Ia pada tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan, sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji, wahai dzat yang paling Penyayang”

Jika kamu kesulitan dalam melafalkan bahasa Arab, berikut bacaannya dalam huruf latin.

Allaahumma rabba haadzihid da’watit taammah, washshalaatil qaaimah, aati muhammadanil washiilata wal fadhiilah, wasy syarafa wad darajatal ‘aaliyatar rafii’ah, wab’atshu maqaamam mahmuudanil ladzii wa’adtah innaka laa tukhliful mii’aad, ya arhamar raahimiin.

Doa Setelah Iqamah

Doa setelah iqamah juga sedikit berbeda dengan doa setelah adzan. Bacaan doa setelah adzan adalah sebagai berikut:

الّلهمّ ربّ هذه الدّعوة التّامّة والصّلاة القائمة صلّ وسلّم على سيّدنا محمّد واته سؤله يوم القيامة

Artinya:

“Ya Allah Tuhan yang memiliki panggilan yang sempurna, dan shalat yang ditegakkan, curahkan rahmat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad, dan berilah/kabulkan segala permohonannya pada hari kiamat.”

Untuk kamu yang masih belum lancar membaca bahasa Arab, silakan baca tulisan latin ini:

“Allaahumma rabba hadzihid da’watit taammati wash-shalaatil qaa-imah, shallii wasallim ‘alaa sayyidinaa muhammadiw wa aatihi su’lahu yaumal qiyaamah”

Penutup

Begitulah bacaan doa setelah adzan dan iqamah. Simpel dan tidak terlalu panjang, sedangkan artinya cukup mendalam. Jadi, jangan lupa untuk terus mengamalkan doa setelah adzan, ya!

Perlu diketahui juga bahwa waktu antara adzan dan iqomah adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Kita pun dianjurkan untuk memperbanyak doa di waktu ini. Kamu boleh berdoa apa saja selama itu doa yang baik.

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p