Doa Selamat [PEMBAHASAN MENYELURUH]

Saat berinteraksi dengan orang lain, kita sudah biasa membuka sapaan dengan memberi salam dan mengucapkan kata-kata selamat seperti selamat pagi, selamat siang atau selamat malam sesuai dengan waktu yang sedang kita jalani. Begitu pula saat kita mengapresiasi sebuah peristiwa hebat yang dialami oleh seseorang. Pada saat itu kita sering mengucapkan selamat sukses, selamat berbahagia. Kita juga mengucapkan selamat ketika sedang berada pada hari-hari penting, seperti selamat hari raya, selamat ulang tahun dan lain sebagainya.

Kata-kata selamat yang kita pakai sehari-hari membuktikan bahwa kita menyukai keselamatan, kedamaian dan ketentraman di dalam hidup dan mengharapkan keselamatan itu juga diberikan kepada orang lain. Keselamatan yang diinginkan pun bukan hanya sebatas di dunia, tetapi juga keselamatan di akhirat yaitu dimudahkan ketika dihisab segala amalan dan dijauhkan daripada siksa api neraka.

Apa Makna Selamat?

Nah, apa arti selamat yang sesungguhnya. Secara bahasa, selamat dapat diartikan terbebas dari, malapetaka, bencana; terhindar dari bahaya, malapetaka, bencana; tidak kurang suatu apa; tidak mendapat gangguan, kerusakan, dan sebagainya.[1] Dalam kitab Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari disebutkan bahwa ada perbedaan pendapat ulama tentang arti salam yang berarti selamat.

Syekh Iyadz mengutip tentang perbedaan pendapat ini. Sebagian ulama mengartikan salam penjagaan Allah Swt kepada hambanya, jadi apabila kita mengatakan salam kepada seseorang, itu artinya kita mendoakan agar Allah Swt diberi penjagaan kepada orang tersebut. Satu pendapat menyebutkan bahwa arti salam adalah Allah Swt melihat dan mengawasi segala perbuatan hamba-Nya. Pendapat yang lain menyebutkan bahwa salam adalah nama Allah Swt yaitu al-Salam.[2]

Bagaimana Memperoleh keselamatan?

Modal yang paling utama untuk memperoleh keselamatan dunia dan akhirat itu adalah dengan iman yang ada di dalam dada serta taqwa kepada Allah Swt. Artinya mustahil seseorang akan selamat pada dua kehidupan itu jika tidak beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. Untuk keselamatan di dunia barangkali kita bisa selamat apabila berhati-hati dalam mengambil tindakan atau melakukan sebuah perbuatan, tetapi keselamatan di akhirat itu mutlak dengan iman dan takwa.

Iman adalah membenarkan dengan hati segala sesuatu yang dibawa dan diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw, mengakui dengan lisan (bersyahadat) dan mengamalkan dengan anggota badan. [3] Sedangkan takwa adalah menjalani segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik ketika sendiri atau bersama orang lain.[4]

Dalam Al-Qur’an Allah Swt menjanjikan untuk memberi kebahagiaan, kehidupan yang baik dan jalan keluar dalam segala permasalahan bagi orang yang beriman dan bertaqwa.

Allah Swt berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan, dan mereka dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. An-Nahl: 97).

Dalam tafsir al-Qurthubi Syekh menerangkan bahwa di kalangan mufassirin ada perbedaan pendapat dalam menafsirkan maksud hayah thayyibah (kehidupan yang baik) dalam ayat tersebut hingga lima penafsiran:

Pertama hayah thayyibah diartikan dengan rizki yang halal. Hal ini sebagaimana ditafsirkan oleh Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubair, ‘Atha’ dan al-Dahhak. Kedua qana’ah (merasa cukup dengan apa yang diberikan oleh Allah Swt serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kekurangan yang berlebih-lebihan), hal ini sebagaimana ditafsirkan oleh Sayyidina Ali ra, Hasan al-Bashri, Zaid bin Wahhab. Ketiga, taufik kepada taat, tafsir ini diketengahkan oleh sebagian mufassir. Keempat menefasirkannya dengan surga. Hal ini diketengahkan oleh Mujahid dan Qatadah. Kelima menafsirkannya dengan sa’adah yaitu kebahagiaan dengan mendapatkan manisnya taat kepada Allah Swt.[5]

Dari kelima arti tersebut walaupun berbeda-beda dalam menafsirkan hayah thayyibah tetapi mengandung esensi kesejahteraan dan keselamatan di dunia dan akhirat.

Doa Selamat

Setelah ada iman dan taqwa di dalam hati sebagai modal utama dalam mencapai keselamatan di dunia dan akhirat, di samping itu juga dianjurkan mengamalkan beberapa doa untuk memohon keselamatan, selain bernilai ibadah, membaca doa-doa ini menjadi ikhtiyar bagi kita untuk lebih memastikan memperoleh keselamatan itu.

Doa Selamat Dunia dan Akhirat (arab, latin, terjemah)

اَللهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ. اَللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِىْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ

Allahumma inna nas aluka salamatan fiddiin, wa ‘aafiyatan fil jasad, waziaadatan fil ‘ilmi wa barakatan firrizqi wataubatan qablal maut wa rahmatan ‘indal maut wa maghfiratan ba’dal maut. Allahumma hawwin ‘alainaa fi sakaraatil maut wa najjata minan naari wal’afwa ‘indal hisaab.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu keselamatan dalam beragama, kesehatan badan, kelimpahan ilmu, keberkahan rezeki, taubat sebelum datangnya maut, kasih sayang pada saat datangnya maut, dan ampunan setelah datangnya maut.”

ربنا آتنا فى الدنيا حسنة وفى الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

Artinya: “ Ya Allah datangkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat”

Selain membaca doa, dianjurkan pula merutinkan wirid berikut sesudah shalat, wirid ini sebagaimana dikumpulkan oleh Habib Umar bin Hafidz dalam kitab al-Khulah al-Madad:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ (3x)

اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلَامْ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ, وَأَدْخِلْنَا دَارَكَ دَارَ السَّلَامْ, تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ

اَللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا رَادَّ لِمَا قَضَيْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ, وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ (3).

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ, عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةِ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ.

سُبۡحَٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِينَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِين. (الصافات: 180-182).

فِى كُلِّ لَهْظَةٍ أَبَدًا عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ.[6]

Astagfirullah (3x)

Allahumma antassalaam wa minkassalaam wa ilaika ya’udussalaam, fahayyina rabbana bissalaam, wa adkhilna daraka darassalaam, tabarakta rabbana wa ta’alaita ya zal jalali wal ikraam.

Allahumma la mani’a lima a’thaita wala mu’thiya lima mana’ta wa raadda lima qadhaita wala yanfa’u zal jaddi minkal jad.

Allahumma a’inni ‘ala zikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik

Rabbana taqabbal minna innaka antas sami’ul ‘alim, watub ‘alaina innaka antat tawwaburrahim (3x).

Wa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadiw wa ‘ala alihi washahbihi wa sallim. ‘Adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatih.

Subhanaka rabbil ‘izzati ‘amma yasifun, wa salamun ‘alal mursalina wal hamdulillahi rabbil ‘alamin.

Fi kulli lahdhatin abada. ‘Adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatih.

Artinya:

Aku mohon ampun kepada Allah. (3 x)

Wahai Allah. Engkau Maha Sejahtera, dan dari-Mu lah kesejahteraan, dan kepada-Mu lah akan kembali kesejahteraan itu. Maka hidupkanlah kami, dan masukkan kami ke negeri-Mu (surga) yang sejahtera, Engkau Maha Memberi Keberkahan dan Engkau Maha Mulia, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Wahai Allah. Tidak ada yang dapat menghalangi sesuatu yang Engkau beri, dan tak ada yang mampu memberi sesuatu yang Engkau cegah. Tidak ada yang dapat menolak apa yang telah Engkau tetapkan. Tidaklah ada manfaatnya orang yang memiliki kekayaan, karena dari-Mu lah kekayaan itu. Wahai Allah. Tolonglah aku agar mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan sebaik-baik ibadah kepada-Mu. Tuhan kami, terimalah dari kami (permohonan kami), sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, terimalah tobat kami sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (3 x) Shalawat dan salam Allah tercurah atas junjungan kami Muhammad, dan keluarga serta para sahabatnya. Maha Suci Tuhanmu, Tuhan Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan, dan kesejahteraan dilimpahkan atas para Rasul, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam [Surah Al-Saffat: 180-182]. Setiap saat, selamanya, sejumlah ciptaan-Mu, seluas ridha, dan seberat arsy.

Doa Selamat dari Segala Bencana dan Ujian

اللَّهُمَّ افْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ الخَيْرِ وَأَبْوَابَ البَرَكَةِ وَأَبْوَابَ النِّعْمَةِ وَأَبْوَابَ الرِّزْقِ وَأَبْوَابَ القُوَّةِ وَأَبْوَابَ الصِّحَّةِ وَأَبْوَابَ السَّلَامَةِ وَأَبْوَابَ العَافِيَةِ وَأَبْوَابَ الجَنَّةِ.

اللَّهُمَّ عَافِنَا مِنْ كُلِّ بَلَاءِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ وَاصْرِفْ عَنَّا بِحَقِّ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَبِيِّكَ الكَرِيْمِ شَرَّ الدُّنْيَا وَعَذَابَ الآخِرَةِ،غَفَرَ اللهُ لَنَا وَلَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ وَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ

Latin: Allahummaftah lana abwabal khair, wa abwabal barakah, wa abwaban ni’mah, wa abwabar rizqi, wa abwabal quwwah, wa abwabas shihhah, wa abwabas salamah, wa wa abwabal ‘afiyah, wa abwabal jannah.

Allāhumma ‘afina min kulli bala ‘id duniya wa ‘adzabil akhirah, washrif ‘annāa bi haqqil Qur’anil ‘azham wa nabiiyikal karam syarrad duniya wa ‘adzabal akhirah. Ghafarallahu lana wa lahum bi rahmatika ya arhamar rahiman. Subhana rabbika rabbil ‘izzati ‘an ma yashifun, wa salamun ‘alal mursalin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Artinya: “Ya Allah, bukalah bagi kami segala pintu kebaikan, pintu keberkahan, pintu kenikmatan, pintu rezeki, pintu kekuatan, pintu kesehatan, pintu keselamatan, pintu afiyah, dan pintu surga. Ya Allah, jauhkanlah dari kami semua ujian dunia dan siksa akhirat. Palingkanlah kami dari keburukan dunia dan siksa akhirat dengan kebenaran Al-Qur’an yang agung dan derajat Nabi-Mu yang mulia. Semoga Allah mengampuni kami dan mereka. Wahai, zat yang maha pengasih. Maha suci Tuhanmu, Tuhan keagungan, dari segala yang mereka sifatkan. Semoga salam tercurahkan kepada para Rasul. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam.”

Doa Selamat Nabi Musa (arab, latin, terjemah)

رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ.

Artinya: ” (Musa berkata) Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”

Doa Selamat Dari Tipu Daya Orang Kafir (arab, latin, terjemah)

Selain dianjurkan untuk memperbanyak doa tersebut, Allah Swt ara yang tepat untuk menghadapi tipu daya mereka adalah dengan selalu bersabar dan bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla sebagaimana yang difirmankan oleh-Nya dalam ayat yang sedang kita bahas ini dan juga firman-Nya:

لَتُبْلَوُنَّ فِىٓ أَمْوَٰلِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ مِن قَبْلِكُمْ وَمِنَ ٱلَّذِينَ أَشْرَكُوٓا۟ أَذًى كَثِيرًا ۚ وَإِن تَصْبِرُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ

Artinya: Sesungguhnya kalian akan diuji terhadap harta dan diri kalian. Dan kalian juga akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah perkara yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. [Ali ‘Imran:186]

Doa Agar Selamat dari Penguasa Zalim (arab, latin, terjemah)

Ada tiga macam doa yang bisa dibaca untuk memohon agar selamat dari penguasa zalim, yaitu:

Pertama

اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا

(Allahumma laa tusallith ‘alainaa bidzunubinaa man laa yakhafuka fiinaa wa laa yarhamunaa)

Artinya: “Yaa Allah janganlah Engkau kuasakan (beri pemimpin) dikarenakan dosa-dosa kami (kepada-Mu) orang-orang yang tidak takut kepada-Mu atas kami dan tidak pula bersikap rahmah kepada kami.”

Kedua

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ

(Allahumma Ashlih wulata umuurina, Allahumma waffiqhim lima fihi shalaahuhum, wa shalahul Islami wal muslimin. Allhumma a’inhum ‘alal qiyami bi mahamihim kama amartahum ya rabbal ‘alamin. Allahumma ‘ab’id ‘anhum bithanats su’i wal mufsidin wa qarrrib ilaihim ahlal khairi wan nashihin ya rabbal ‘alamin. Allahumma ashlih wulata umuuril muslimin fi kulli makan)

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam, dan kaum muslimin. Ya Allah, bantulah mereka untuk menunaikan tugasnya, sebagaimana yang Engkau perintahkan, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jauhkanlah mereka dari teman dekat yang jelek dan teman yang merusak. Juga dekatkanlah orang-orang yang baik dan pemberi nasihat yang baik kepada mereka, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jadikanlah pemimpin kaum muslimin sebagai orang yang baik, di mana pun mereka berada.”

Ketiga

اللهم إني أعوذبك من إمارةِ الصبيان والسفهاء

(Allahumma inni a’udzubika min imratisshibyan was sufaha’)

Artinya: Yaa Allah, sungguh kami berlindung kepada-Mu dari pemimpin yang kekanak-kanakan dan dari pemimpin yang bodoh.”

Doa Selamat dalam Perjalanan

Dalam kitab al-Khulasah al-Madad Habib Umar menganjurkan untuk membaca beberapa bacaan berikut agar selamat dan dijaga selama dalam perjalanan, doa ini adalah doa musafri yaitu doa bagi orang yang hendak melakukan perjalanan:

Doa Ketika Meninggalkan Rumah

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ خَرَجْنَا, وَأَنْتَ أَخْرَجْتَنَا, أَللَّهُمَّ سَلِّمْنَا وَسَلِّمْ مِنَّا وَرُدَّنَا سَالِمِيْنْ, وَهَبْ لِكُلٍّ مِنَّا مَا وَهَبْتَهُ لِلْغَانِمِيْنْ.

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ

Bismikallahumma kharajna, wa anta akhrajtana. Allahumma sallimna wa sallim minna wa ruddana salimiin, wa hab li kullin minna ma wahabtahu lil ghanimin.

Allahu la ilaha illa huwal hayyul qayyum. La takkhuzuhu sinatuw wala naum, lahu ma fissamawati wama fil ardh, man zal lazi yasyfa’u ‘indahu illa biiznih, ya’lamu ma baina aidihim wama khalfahum, wala yuhituna bi syai`in min ‘ilmihi illa bima syaa`, wasi’a kursiyu hussamawati wal ardh, wala yauduhu hifdhuhuma wahuwal ‘alyyul ‘adhim.

Artinya: Artinya: Dengan nama-Mu, wahai Allah. Kami telah berangkat, dan Engkau telah (membantu kami) dalam keberangkatan kami; Ya Allah. Beri kami keselamatan dan jagalah (orang lain) selamat dari

Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafa’at (pertolongan) di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia Maha Mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar. [Q.S. Al-Baqarah: 255]

Doa Ketika Mulai Melakukan Perjalanan

أَللَّهُمَّ بِكَ انْتَشَرْتُ, وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ, وًبِكَ اعْتَصَمْتُ وَإِلَيْكَ تَوَجَّهْتُ. أَللَّهُمَّ أَنْتَ ثِقَتِيْ وَأَنْتَ رَجَائِى, فَاكْفِنِى مَا أَهَمَّنِيْ وَمَا لَا أَهَتَمُّ بِهِ, وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى, عَزَّ جَارُكَ, وَجَلَّ ثَنَائُكَ, وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ. أَللَّهُمَّ زَوِّدْنِي التَّقْوَى و اغْفِرْلِي ذَنْبِي وَوَجِّهْنِي لِلْخَيْرِ أَيْنَمَا تَوَجَّهْتُ.

Allahumma bikan tasyartu, wa ‘alaika tawakkaltu, wabika’ tashamtu, wa ilaika tawajjahtu. Allahumma anta tsiqati wa anta raja`i, fakfini ma ahamtu bihi wama la ahtammu bihi, wama anta a’lamu bihi minni. ‘Azza jaaruka, wa jalla tsana,uka wala ilaha ghairuka. Allahumma zawwidnit taqwa waghfirli zanbi wawajjihni lilkhairi ainama tawajjahtu.

Artinya: “Ya Allah. Bersama-Mu aku pergi keluar, dan kepada-Mu aku berserah diri, dan kepada-Mu aku berpegang teguh, dan untuk-Mu aku mengarahkan diriku; Ya Allah. Engkau adalah kepercayaanku dan Engkau adalah harapanku; cukupkanlah apaapa yang penting bagiku, dan (juga) apa yang tidak aku anggap penting; dan Engkau lebih mengetahui daripada aku tentang hal ini; Kemuliaan adalah Pujian-Mu, dan tidak ada Tuhan selain Engkau; Ya Allah. Tambahkanlah ketakwaan padaku, ampunilah dosaku, dan arahkan aku ke jalan kebaikan, ke manapun aku menuju”.

Keutamaan Mengamalkan Doa Selamat

  1. Selalu menganggap diri butuh kepada Allah Swt dan tidak merasa angkuh
  2. Mendapat penjagaan baik di dunia maupun di akhirat

Kesimpulan

Sebagai manusia tentu saja semua orang ingin mendapatkan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Untuk mendapatkan keselamatan yang diinginkan tersebut, modal utamanya adalah Iman dan takwa, setelah memiliki keduanya maka selain itu sangat dianjurkan untuk mengamalkan doa-doa keselamatan di atas. Semoga diberi lindungan oleh Allah Swt baik di dunia dan akhirat dengan sebab memperbanyak membaca doa keselamatan. Amin ya Rabbal ‘alamin.

https://kbbi.kemdikbud.go.id/.

Syekh Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Jld. XI, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, t.t), h. 13

Kementrian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, Mausu’ah al-Fiqhiah, Cet. VII, Jld. 19 (Kuwait: Wazirah al-Auqaf wa Syu’un, 2013), h. 259.

Syekh Ali bin Muhammad al-Baghdadi, Tafsir al-Khazin, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2008), h. 37.

Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Cet. I, Jld. XII, (Beirut: Al-Risalah, 2006), h. 425.

Habib Umar bin Hafidz, Khulah al-Mada, Aurad wa al-‘Ad’iyyah Waridah wa al-Ma’tsurah, Cet. 5, (Tarim: Maktabah Tarim al-Haditsah, 2019), h. 46-47.

 

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p