Doa Iftitah: Bacaan Latin & Arab, Hukum, Macam, DLL [PENJELASAN LENGKAP]

JANGAN KETINGGALAN
EMAIL EKSLUSIF
Dapatkan email-email terbaik langsung ke inbox kamu dari hasana.id
Subscribe!
in syaa Allah manfaat 🙂

Sholat dalam praktiknya tidak hanya  melengkapi syarat dan rukun, tetapi adapula bacaan dan gerakan yang hukumnya sunat. Salah satu bacaan sunat yang dikerjakan dalam awal sholat adalah membaca doa iftitah setelah membaca takbiratul ihram.

Dalam matan (redaksi) hadits terdapat beberapa bacaan doa iftitah yang kalimat dan isinya berbeda. Sebenarnya, meskipun berbeda, memilih salah satu atau membaca kedua doa tersebut tidak menjadi masalah karena keduanya bersumber dari hadis nabi.

Tetapi dalam praktik sholat harian kaum muslimin perbedaan dalam bacaan doa iftitah ini  banyak menimbulkan perbedaan pendapat. Dan pada kesempatan ini kita akan membahas lebih dalam tentang doa iftitah, dengan harapan praktik ibadah kita lebih terarah dan menjadikannya sempurna.

Doa Iftitah: Mengenal Lebih Dalam

Penetapan doa iftitah sebagai suatu kesunahan dalam sholat tentunya memiliki sejarahnya tersendiri. Ada asal usulnya kenapa dibaca setiap awal sholat setelah takbiratul ihram.

Sesuai dengan namamnya, iftitah yang berasal dari kata fatah memiliki arti pembukaan, sehingga doa ini dibaca setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca surat Al Fatihah.

Mengenai sejarah doa iftitah, ada suatu riwayat yang mengisahkannya.

Dari Ibnu Umar RA beliau berkata : suatu ketika kami sholat bersama nabi Muhammad SAW, tiba-tiba ada seorang jamaah bersuara dan melafalkan kalimat “Allahu akbar kabiiraa, walhamdulillaahi katsiraa, wasubhaanallaahi bukratan wa ashiilaa.”

Lantas Rasulullah kemudian bertanya “siapa yang mengatakan kalimat tadi?”

Orang yang bersuara itu pun menjawab “Saya Ya Rasul.”

Kemudian Rasulullah SAW berkata “Saya heran dengan kalimat itu, karena kalimat itu mampu membuka pintu-pintu langit.”

Lalu Ibnu Umar mengatakan bahwa semenjak mendengar perkataan Rasulullah tentang doa iftitah itu, aku tidak pernah meninggalkan bacaan kalimat doa iftitah tersebut.

Dalam keterangan kitab Ibanatu Ahkam, doa iftitah pada hakikatnya berisi ungkapan pujian atas kebesaran-Nya. Selain itu, doa iftitah juga mengandung suatu pengakuan betapa lemah dan lengahnya seorang insan hingga memerlukan perlindungan dan pengampunan dari Allah SWT.

Lebih dari itu, dengan membaca doa iftitah berarti kita telah memohon petunjuk agar diberikan akhlak yang mulia dan dihindarkan dari akhlak yang buruk.

Karena secara keseluruhan, doa iftitah menggambarkan betapa lemahnya seorang hamba dan mengakui kelemahannya serta berserah diri.

Adapun keutamaan membaca doa iftitah adalah sebagaimana yang pernah dikatakan Nabi Muhammad SAW dalam salah satu haditsnya sebagai berikut.

Suatu ketika, Nabi SAW mendengar salah seorang sahabat membaca doa iftitah, kemudian beliau bersabda “Saya melihat ada 12 malaikat yang berebut untuk mengantarkan doa ini kepada Allah” (HR. Muslim 1385)

Hukum Membaca Doa Iftitah

Sebagaimana yang kita ketahui, doa iftitah tidak disebutkan dalam rukun sholat. Artinya, jika tidak membaca doa iftitah, sholat kita dianggap sah. Menandakan jelas bahwa hukum membaca doa iftitah adalah sunat.

Doa iftitah yang hanya dibaca satu kali setelah takbiratul ihram ini tetap dibaca oleh si mushalli(orang sholat) baik ia sholat sendirian maupun sholat berjamaah dengan bacaan yang pelan dan tidak terburu-buru.

Terlepas dari bacaannya yang berbeda-beda, seperti versi Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang dibaca setiap sholat lima waktu, kedua-duanya dihukumi sunat haiat, bukan sunat ab’ad, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam Abu Syuja’ dakam kitab Matan Taqrib.

Artinya, doa iftitah ini apabila ditinggalkan bacaannya baik sengaja atau tidak, maka tidak disunatkan untuk melakukan sujud sahwi untuk menutupi kekurangan dalam sholat.

Imam Nawawi rahimahullah, salah seorang ulama besar Mazhab Syafi’I, menganjurkan kita untuk senantiasa membaca doa iftitah baik dalam sholat wajib atau sholat sunat. Bahkan di dalam kondisi sholat sambil duduk dan berbaring tetap disunatkan membaca doa iftitah.

Berbeda mazhab, berbeda pula pandangan tentang doa iftitah. Para jumhur ulama dalam mazhab Syafi’I mengatakan sunat.

Mazhab Hanafi dan mazhab Hambali juga mengatakan sunat. Sedangkan mazhab Maliki mengatakan makruh hukumnya membaca doa iftitah

Orang (Mazhab Maliki) yang membaca langsung surat Al Fatihah setelah takbiratul ihram, melakukannya berdasarkan hadits yang diriwayatka oleh Anas bin Malik.

“Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar mengawali sholat dengan Alhamdu lillaahi rabbil ‘alamiin” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berikut ini berisi rangkuman tentang hukum membaca doa iftitah yang dilakukan dengan memenuhi 4 syarat:

1. Doa iftitah tidak dibaca pada sholat jenazah, baik sholat secara langsung maupun sholat ghaib atau sholat langsung di hadapan kubur.

2. Doa iftitah dibaca dalam sholat yang memiliki waktu normal, yaitu waktu yang masih luas dan cukup untuk membaca doa iftitah serta melakukan rukun sholat lainnya sampai selesai.

Adapun jika waktu sholat sudah sempit dan memaksakan membaca doa iftitah menyebabkan sholat di luar waktu, maka hukum membaca doa iftitah bisa dikategorikan haram.

Alasannya mendahulukan rukun sholat lebih utama daripada mengejar kesunnahan dalam sholat apabila waktu sholat sudah sempit.

3. Bila makmum masbuq (terlambat), harus memilki dugaan kuat jika ia membaca doa iftitah maka akan mendapatkan rukuk bersama imam.

Bila sangkaanya membaca doa iftitah membuat tidak dapat rukuk dengan imam, maka tidak disunatkan lagi membaca doa iftitah.

4. Bagi makmum masbuq, bila imam tidak lagi dalam posisi berdiri, maka tidak ada kesunahan membaca doa iftitah.

Makmum masbuq langsung takbiratul ihram dan mengikuti posisi imam ketika itu.

Ada satu kondisi lain tentang doa iftitah yang dibaca dalam sholat sunat yang kuantitas rakaat/salamnya berulang-ulang seperti sholat tarawih (yang dilaksakan dua rakaat sekali salam), sholat duha dan sholat sunat lainnya.

Apakah tetap dibaca setelah setiap takbiratul ihram atau cukup dibaca pada takbiratul ihram pertama?

Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan cukup membaca doa iftitah setelah takbiratul ihram rakaat pertama.

Pendapat yang kedua mengatakan doa iftitah tetap dibaca setiap ulangan rakaat sholat. Dan nabi melakukan hal demikian.

Dalilnya berdasarkan hadits dari Abu Hurairah, setiap kali nabi selesai takbiratul ihram, nabi diam sejenak.

Hal ini membuat Abu Hurairah bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang anda baca disaat kami tidak mendengar suara anda antara takbiratul ihram dan Al Fatihah?” Nabi Muhammad menjawab “saya membaca doa iftitah Allahumma baa’id bainii wa baina khathaayaya kamaa baa’adta bainal masyriqi wa maghribi

Berdasarkan hadits di atas, secara implisit dapat kita pahami bahwa Nabi Muhammad SAW membaca doa iftitah di tiap-tiap takbiratul ihram. Baik dalam sholat fardu maupun sholat sunat yang kuantitas rakaat/salamnya berulang-ulang seperti sholat sunat tarawih.

Setelah memahami uraian di atas, pada dasarnya hukum membaca doa iftitah adalah sunat. Meskipun sunat, ada baiknya kita tidak meninggalkan doa iftitah.

Sholat yang dikerjakan tanpa melengkapinya dengan amalan sunat yang telah dianjurkan, ibarat memakan nasi putih tanpa lauk dan sayur.

Melakukan sholat dengan segala sunat haiat naupun ab’ad ibaratnya kita telah menambahkan ikan dan sayuran serta pelengkap lainnya, sehingga sholat yang kita kerjakan terasa puas dan nikmat.

Bacaan Doa Iftitah Dan Artinya         

Bacaan doa iftitah memiliki beragam bacaan yang berasal dari hadits Nabi SAW. Dalam berbagai ragam bacaan, yang lebih dianjurkan adalah membaca doa yang ma’tsur, yaitu doa yang bersumber dari hadits Nabi. Meskipun boleh pula membaca doa yang lain.

Dalam hal ini berbeda kelompok atau ormas berbeda pula amalan doa yang dibaca seperti versi Nahdatul ulama dan Muhammadiyah.

Disini kami menyebutkan doa iftitah dari kedua ormas karena doa yang dibaca adalah doa yang paling umum dikalangan masyarakat, apalagi telah dipelajari dan dihafal secara luas oleh berbagai kalangan sejak kecil dari buku tuntunan sholat lengkap.

Adapun doa iftitah dari kelompok Nahdhiyyin adalah sebagai berikut.                     

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً

إِنِّىْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Allahu akbar kabiira, walhamdu lillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukrataw washiilaa.

Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawaati wal ardha haniifam muslimaw wamaa ana minal musyrikiin.

Inna sholaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil ‘aalamiin. Laa syariika lahu wabidzaalika umirtu ana minal muslimiin.

Artinya :

Allah Maha Besar lagi sempurna kebesaranNya dan segala puji hanya kepada Allah, pujian yang banyak dan Maha Suci Allah di waktu pagi dan petang.
Sesungguhnya aku, menghadapkan wajahku(hatiku) kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan tunduk dan aku bukanlah dari golongan musyrik.
“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu apapun baguNya dan dengan itu aku diperintahkan untuk tidak menyekutukanNya. Dan adalah aku dari golongan orang muslim.”

Adapun doa iftitah yang lebih sering dibaca oleh kelompok Muhammadiyah adalah sebagai berikut.

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ

الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَد

Allaahumma baa’idnii wa baina khathaayaaya kamaa baa’adtal masyriqi wal maghribi.

Allaahumma naqqinii min khathaayaaya kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minad danas.

Allaahummaghsilnii min khathaayaaya bil maai wats-tsalji wal barad.

Artinya : “Ya Allah, jauhkanlah aku daripada kesalahan dan dosa sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat.

“Ya Allah,bersihkanlah aku dari segala kesalahan dan dosa sebagaimana bersihnya kain putih dari kotoran.

“Ya Allah, sucikanlah segala kesalahanku dengan air, salju dan air embun sebersih-bersihnya.”

Ke dua doa di atas adalah doa yang paling masyhur dibaca oleh rakyat Indonesia.

Macam-Macam Doa Iftitah Dan Artinya

Selain dua doa iftitah di atas, masih banyak lagi doa iftitah yang harus kita ketahui. Diantaranya adalah doa yang populer dalam Mazhab Hanafi dan Hambali.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إلَهَ غَيْرُكَ

Subhaanakallaahumma wa bihamdika wa tabaarakasmuka wa ta’aalaa jadduka wa laa ilaaha ghairuka.

Artinya : ”Maha Suci Engkau Ya Allah dengan pujianMu, Maha Suci namaMu dan Maha Tinggi keagunganMu, Tiada Tuhan selain Engkau.”

Pengambilan dasar doa di atas adalah sebagaiman yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah, ketika nabi mengawali sholatnya selalu membaca ”Maha Suci Engkau Ya Allah dengan pujianMu, Maha Suci namaMu dan Maha Tinggi keagunganMu, Tiada Tuhan selain Engkau.” (HR Abu Daud dan Ad-Daruquthni dari riwayat Anas)

Selain doa di atas, berikut ini adalah  bacaan doa iftitah yang lain.

Riwayat pertama.

 اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

Allahumma ba’id baini wabaina khathayaaya kama ba’adta bainal masyriqi wal maghribi.
Allahumma naqqini minal khathaya kama yunaqqats tsaubul abyadu minad danas.
allahummaghsil khathayaaya bil mai watstsalji walbaradi.

Artinya “Ya Allah jauhkanlah aku dari dosa-dosaku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat.Ya Allah bersihkanlah dosa-dosaku sebagaimana bersihnya pakaian putih dari kotoran. Ya Allah cucilah aku dari dosa-dosaku dengan air, salju dan embun” (HR Bukhari dan Muslim, dengan beberap perbedaan redaksi antara Bukhari dan Muslim)

Riwayat kedua.

وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفًا (مُسْلِمًا) وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ. أَنْتَ رَبِّى وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِى وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِى فَاغْفِرْ لِى ذُنُوبِى جَمِيعًا إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ وَاهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wajjahtu wajhiya lilladzi fataras samaawaati wal ardha haniifam muslima wama ana minal musyrikin. Inna shalatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaati lillahi rabbil ‘alamiin. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin. Allahumma antal maliku laa ilaaha illa anta. Anta rabbi wa ana ‘abduka zhalamta nafsii wa’taraftu bidzanbi faghfirli dzunubi jamii’an. Innahu la yaghfirudz dzununa illa anta. Wahdinii liahsanil khalqi laa yahdi liahsaniha illa anta washrifni ‘anni sayyiaha laa yashrif ‘anni sayyiaha illa anta labbaika wa sa’daika wal khairu kulluhu fi yadaika wasy syarru laisa ilaika ana bika wa ilaika tabaarakta wa ta’aalaita astaghfiruka wa atuubu ilaika.

Atinya :”Aku hadapkan wajahku kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam keadaan tunduk(dan menyerahkan diri), dan aku bukanlah dari golongan orang musyrik. Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan Semesta Alam. Tidak ada sekutu bangiNya. Dan dengan yang demikian itulah aku diperintahkan dan aku termasuk orang yang berserah diri. Ya Allah engkau adalah penguasa. Tiada Tuhan selain Engkau semata. Ya Allah Engkau adalah Tuhan sedangkan aku adalah hambaMu. Aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku telah mengakui segala dosaku, maka ampunilah dosa-dosaku. Tiada yang dapat mengampuni dosa-dosaku melainkan Engkau. Tunjukilah aku kepada akhlak yang baik. Tiada yang dapat membimbing kepada akhlak yang baik melainkan engkau. Palingkanlah aku dari akhlak yang buruk. Tiada yang dapat memalingkan aku dari akhlak yang buruk melainkan Engkau. Aku penuhi panggilanMu Ya Allah. Aku patuhi perintahMu. Seluruh kebaikan berada dalam tanganMu. Sedangkan keburukan apapun tidaklah pantas dinisbahkan kepadaMu. Aku hanya ingin hidup karenaMu dan kembali kepadaMu. Maha berkah Engkau Yang Maha Tinggi. Aku mohon ampunan dan bertaubat kepadaMu

Riwayat ketiga.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إلَهَ غَيْرُكَ

Subhaanaka allahumma wa bihamdika wa tabaarakasmuka wa ta’aala jadduka walaa ilaaha ghairuka.

Artinya: “Maha suci Engkau Ya Allah dan dengan pujianMu, Maha Suci namaMu dan Maha Tinggi keagunganmu. Tidak ada tuhan Selain Engkau ” (HR Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasa’I, Ibnu Majah dan Ahmad)

Riwayat ke empat

الله اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ ِكَثِيْرًا وَ سُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Allahu akbar kabiiraa, walhamdu lillahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukrataw washiilaa.

Artinya: “Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya, segala puji bagi Allah dengan banyaknya. Dan Maha Suci Allah pada waktu pagi dan petang

Riwayat kelima.

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

Alhamdu lillaahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih

Artinya: ”Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik dan penuh berkah

Riwayat ke enam.

اللهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ , وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ قَيِّمُ السَّمَا وَاتِ وَالْاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ , وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْاَرْضِ وَمَنْ  فِيْهِنَّ , اَنْتَ الْحَقُّ , وَوَعْدُكَ الْحَقُّ , وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ , وَالْجَنَّةُ حَقُّ , وَالنَّارُ حَقُّ , وَالسَّا عَةُ حَقُّ

اللهُمَّ لَكَ اَسْلَمْتُ , وَبِكَ اَمَنْتُ , وَعَلَيْكَ تَوَ كَلْتُ , وَاِلَيْكَ اَنَبْتُ , وَبِكَ خَاصَمْتُ . وَاِلَيْكَ حَاكَمْتُ . فَاغْفِرْ لِى مَا قَدَّمْتُ وَمَا اَخَّرْتُ , وَمَا اَسْرَرْتُ وَمَا اَعْلَنْتُ , اَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَاَنْتَ الْمُؤَخِّرُ , اَنْتَ اِلَهِيْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ

Allahumma lakal hamdu anta nuurus samawaati wal ardhi waman fihinna, walakal hamdu anta qayyimus samawaati wal ardhi waman fihinna, walakal hamdu anta rabbus samawaati wal ardhi waman fihinna, antal haqqu, wa wa’dukal haqqu, waliqaukal haqqu, wal jannatu haqqu, wan naaru haqqu, was saa’atu haqqu, allahumma laka aslamtu, wabika amantu, wa ‘alaika tawakkaltu, wailaika anabtu, wabika khaashamtu, wailaika haakamtu, faghfirlii maa qaddamtu wamaa akhkhartu, wamaa asrartu wamaa a’lantu antal muqaddimu wa antal muakhkhir, anta ilaahii laa ilahaa illa anta.

Artinya: “Ya Allah, hanya milikMu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi serta siapa saja yang disana. Hanya milikMu segala puji, Engkau yang mengatur langit dan bumi serta siapa saja yang ada disana. Hanya milikMu segala puji, Engkau pencipta langit dan bumi serta siapa saja yang ada disana. Engkau Maha Benar, janjiMu benar, firmanMu benar, pertemuan denganMu benar, surga itu benar, neraka itu benar dan kiamat itu benar. Ya Allah hanya kepadaMu aku pasrah diri, hanya kepadaMu aku beriman, hanya kepadaMu aku bertawkkal, hanya kepadaMu aku bertaubat, hanya dengan petunjukMu aku berdebat, hanya kepadaMu aku memohon keputusan, karena itu ampunilah aku atas dosa yang telah lewat dan akan datang, yang kulakukan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Engkau yang paling awal dan Engkau yang paling akhir. Engkau Tuhanku. Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.

Riwayat ke tujuh.

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ أَنْتَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيم

Allahumma rabba jibrila wa miikaaila wa israafiila faathiras samawaati wal ardhi ‘aalimal ghaibi wasy syahaadati anta tahkumu baina ‘ibaadika fiimaa kaanuu fiihi yakhtalifuun, ihdinii masih limakhtulifa fiihi minal haqqi biidznika innaka anta tahdii man tasyaau ilaa shiraathim mustaqiim

Artinya: “Ya Allah tuhannya Jibril, Mikail,dan Israfil. Pencipta langit dan bumi. Yang mengetahui yang ghaib dan nampak. Engkau yang memutuskan diatara hambaMu terhadap aya yang mereka perselisihkan. Berilah petunjuk kepadaku utuk menggapai kebenaran yang diperselisihkan dengan izinMu. Sesungguhnya engkau memberi peunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus.”ٍ

Dalil-Dalil Seputar Doa Iftitah

Dalam sub bab ini akan disebutkan seputar dalil doa iftitah berdasarkan ayat Alquran dan hadits.

Di dalam Alquran juga disebutkan bacaan ayat yang menjadi doa iftitah, yaitu pada surat Al An’am ayat 79 dan 163.

إِنِّي وَجَّهۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفٗاۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

Artinya “sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan pencipta langit dan bami dalam keadaan tunduk, dan aku bukanlah dari golongan kaum musyrik ”(Al An’am, 79.)

لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ

Artinya “Tiada sekutu bangiNya, dan dengan demikian aku diperintahkan dan adalah aku orang pertama yang meyerahkan diri kepadaNya.

Untuk dalil doa iftitah yang bersumberkan dari hadits, sudah disebutkan sebelumnya pada Macam-Macam Doa Iftitah, yang semunya bersumberkan dalam hadits.

Dibawah ini juga ada pendapat salah satu ulama besar mazhab Syafi’I dalam kitabnya.

Imam Nawawi di dalam kitabnya Al Adzkar, setelah menyebutkan doa-doa iftitah, kemudian melanjutkan bahwa semua doa ini hukumnya Mustahbbah,yaitu sangat dianjurkan. Masih dalam kitab Al Adzkar, beliau menganjurkan untuk menggabungkan semua doa tersebut jika sholat sendirian, atau bagi imam yang mendapat izin dari makmum. Adapun jika makmum tidak mengizinkan maka tidak boleh bagi imam membaca doa yang panjang. Hendaknya imam membaca sebagian doa yang bagus saja dan menyingkat doa iftitah yang dimulai dari lafaz وَجَّهْتُ وَجْهِىَ hingga lafaz مِنَ الْمُسْلِمِينَ. Demikian juga bagi orang yang sholat sendirian dan hanya ingin bacaan yang ringan. (Al Adzkar, 1/45)

Penutup

Setelah mempelajari seluk beluk doa iftitah, ada poin penting yang kita ambil, meskipun hukum doa iftitah adalah sunat, sangat dianjurkan untuk membaca dan tidak meninggalkannya dalam berbagai kondisi.

Jika takut terlalu panjang, kita bisa menghafal dan membaca doa iftitah yang lebih ringkas seperti doa dalam riwayat ketiga, empat dan lima. Dengan harapan penuh kepada Allah semoga sholat dan segala ibadah kita diterima oleh Allah. Amiin.

 

JANGAN KETINGGALAN
EMAIL EKSLUSIF
Dapatkan email-email terbaik langsung ke inbox kamu dari hasana.id
Subscribe!
in syaa Allah manfaat 🙂

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p