Assalamualaikum wa rahmatullahi | السلام عليكم و رحمة الله [PENJELASAN LENGKAP]

JANGAN KETINGGALAN
EMAIL EKSLUSIF
Dapatkan email-email terbaik langsung ke inbox kamu dari hasana.id
Subscribe!
in syaa Allah manfaat 🙂

Sehari-harinya kita sering melihat barisan semut yang berjalan rapi, saat mereka berpas-pasan dengan barisan di hadapannya, terlihat seperti ada perjumpaan. Mungkin kita bercerita kepada anak-anak bahwa semut itu sedang bertegur sapa dan salam-salaman.

Begitu juga dengan manusia sebagai makhluk sosial yang tidak terlepas dari interaksi dengan sesama. Sering bertegur sapa, duduk berkumpul dan kemudian pamit pergi.

Lalu apakah intensitas perjumpaan tersebut hanya sekedar perjumpaan biasa tanpa ada basa-basi atau ada adat khusus? Islam menjawab persoalan kecil ini dengan sebuah rahmat. Sebuah rahmat yang diberikan kepada seseorang dalam bentuk doa dan pahala.

Adapun doa dan pahala yang dimaksud adalah ketika berjumpanya dua orang atau lebih dan salah satu diantara mereka mengucapkan salam. Pada tulisan kali ini kita akan membahas seputar “Salam Dalam Islam”

Salam dalam Islam

Setiap manusia sudah tentu pasti membutuhkan interaksi sosial dengan orang lain, karena manusia sejatinya memang makhluk sosial. Namun bagi sebagian orang ada yang lebih memilih mengasingkan diri dan menganggap berkumpul-kumpul adalah sesuatu yang menakutkan.

Anehnya, meskipun sudah melakukan interaksi sosial dengan melakukan silaturahmi dan berkumpul-kumpul, justru kita cenderung kepada individualis. Hal ini disebabkan oleh kecanggihan teknologi. Smartphone misalnya.

Masing-masing sibuk dan lalai dengan gawai dan tidak mengucapkan sepatah katapun.

Untuk itu interaksi sosial harus digiatkan sejak dini, terlebih lagi kepada anak-anak. Orang tua harus mengedukasikan tentang kehidupan sosial. Lalu bagaimana hal itu diwujudkan?

Dalam agama islam edukasi kehidupan sosial dapat diwujudkan dengan mengucapkan salam dan membiasakannya kepada anak-anak. Karena dalam islam ucapan salam mengandung suatu penghormatan.

Selain penghormatan, ucapan salam juga mengandung doa. Sebagaimana yang dilakukan sahabat Anas bin Malik r.a ketika melewati anak-anak, beliau mengucapakan salam kepada mereka. Hal ini juga dilakukan oleh nabi

Untuk membiasakannya, orang tua harus memberikan contoh dengan sering-sering mengucapkan salam kepada anak-anak yang ditemui. Sehingga memberi salam dan menjawab salam menjadi suatu kebiasaan baik bagi mereka.

Kebiasaan nabi yang suka memberikan salam kepada anak-anak mencerminkan sifat ketawadhuan, akhlak yang agung dan sifat beliau yang mulia.

Apa yang dilakukan oleh nabi juga merupakan pembiasaan terhadap sunnah-sunnah dan melatih anak-anak dengan adab yang mulia.

Kelak anak-anak yang terbiasa dengan ucapan salam akan melahirkan generasi yang penuh dengan adab.

Penerapan ucapan salam tidak hanya kepada anak-anak, bagi orang tua dan teman sebaya juga berlaku. Justru makna salam yang diucapkan oleh orang dewasa memiliki makna tersendiri.

Maksud penghormatan tadi akan lebih tersampaikan. Hal ini berdasarkan dari beberapa sosial ekperimen yang kami lakukan sendiri. Dengan sebuah pertanyaan “Apa yang anda rasakan ketika mendapat ucapan salam?”

Umunya mereka akan merasakan suatu kebahagian, merasa dianggap dan dihargai. Sejatinya salah satu kebahagian yang dirasakan oleh seseorang ketika mereka dianggap ada. Dihormati dan didoakan keselamatan dan kesejahteraan.

Saling memberikan salam juga akan menumbuhkan rasa persaudaraan yang dalam. Lebih lagi apabila lafaz salam diucapkan dengan penuh penghayatan.

Ada baiknya setiap salam yang dilantunkan itu dipahami makna yang terkandung di dalamnya agar terlepas dari kesan memberikan salam sebagai adat dalam perjumpaan.

Ucapan salam itu merupakan lambang kasih sayang seseorang terhadap saudara seimannya. Kasih sayang itu akan sangat terasa apabila diungkapkan dengan lisan dan penuh penghayatan dalam hati serta keikhlasan.

Berbeda antara dahulu dan kini. Masa nabi, masa sahabat, masa salafus saleh dan masa kita sekarang ini.

Apa yang telah diajarkan nabi, sahabat dan ulama mulai terabaikan, bahkan bisa hilang begitu saja jika tidak kita hidupkan kembali sunnah mengucapkan salam.

Mirisnya terlihat perbedaan yang mencolok antara kehidupan di kota yang mulai luntur budaya saling sapa dan mengucapkan salam. Bahkan ungkapan sapa sudah lebih akrab dengan bahasa yang lebih modern dan kebarat-baratan.

Meskipun tidak mengucapkan salam saat bertemu bukanlah suatu dosa, mengapa kita meninggalkannya sedangkan salam adalah suatu ibadah. Dalam hal ini kita harus saling mengingatkan ketika budaya salam mulai terabaikan.

Di aceh, di tempat penulis tinggal, mengucapkan salam masih sangat kental. Terlihat ketika saat berkendaraan dan berpas-pasaan, salah satunya akan mengangkat tangan sebagai isyarat sapaan dan mengucapkan “Assalamu ‘alaikum….

Begitu pula ketika orang luar atau pendatang masuk ke suatu kampung dan melewati pos kamling atau langgar kecil dimana orang-orang duduk berkumpul, ucapan salam juga akan kita dengarkan.

Melihat dua sisi yang berbeda tersebut, sudah saatnya tradisi yang baik yang telah diajarkan ini kita galakkan kembali dengan menerapkan sejak dini kepada anak-anak dan dan mebiasakannya dalam pergaulan sehari-hari.

Assalamualaikum: memahami salam lebih dalam

Sebelumnya kita telah melihat salam dari beberapa sudut pandang, baik dari subjektif maupun objektif. Sekarang mari kita melihat salam dari sejarahnya.

Salam pertama kalinya diucapakan oleh Abuna Adam dan malaikat di dalam surga.

لَمَّا خَلَقَ اللهُ آدَمَ وَنَفَخَ فِيهِ الرُّوحَ عَطَسَ فَقَالَ: الحَمْدُ لِلَّهِ، فَحَمِدَ اللَّهَ بِإِذْنِهِ، فَقَالَ لَهُ رَبُّهُ: رَحِمَكَ اللَّهُ يَا آدَمُ، اذْهَبْ إِلَى أُولَئِكَ المَلَائِكَةِ، إِلَى مَلَإٍ مِنْهُمْ جُلُوسٍ، فَقُلْ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، قَالُوا: وَعَلَيْكَ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ، ثُمَّ رَجَعَ إِلَى رَبِّهِ، فَقَالَ: إِنَّ هَذِهِ تَحِيَّتُكَ وَتَحِيَّةُ بَنِيكَ، بَيْنَهُمْ

“Artinya: ……….pergilah engkau kepada para malaikat yang diantara mereka ada yang sedang duduk. Lalu ucapkanlah Assalamu’alaikum. Para malaikat pun menjawab Wa alaikum salam warahmatullah, setelah mengucap salam. Dan tuhan menyampaikan, itulah salam penghirmatanmu dan salam penghormatan keturunanmu di tengah mereka ”(HR Tirmidzi)

Lafaz Salam (Assalamu‘alaikum) Arab, Latin Dan Terjemahan

Shighot/lafaz permulaan salam adalah

السلام عليكم
Assalaamu‘alaikum
Semoga keselamatan untuk kalian

Boleh juga mengucapkan dengan shighot

السلام عليكم و رحمة الله
Assalaamu ‘alaikum wa rarohmatullahi
Semoga Allah melimpah keselamatan dan rahmat Allah untuk kamu sekalian

Atau mengucapkan dengan shighot yang utuh

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
Assalaamu ‘alaikum wa rarohmatullahi wa barakaatuh
Semoga Allah melimpahkan keselamatan untuk kalian, rahmat dan keberkahanNya.

Sebagian nash/dalil menyebutkan shigot barusan adalah shigot yang lebih afdhol sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Abu Hasan Mawaridy dalam kitab Hawiy dan oleh Imam Sa’id Mutawally dalam kitab Sholatul Jum’ah.

Dalam riwayat Hadits Abu Dawud dari riwayat Mu’adz bin Anas mengatakan Nabi juga menambahkan dengan shighot “و مغفرته” sehingga sempurna menjadi

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته و مغفرته
Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barakaatuh wa maghfiratuh
Semoga Allah melimpahkan keselamatan untuk kalian, rahmat, keberkahan dan keampunanNya.

Boleh juga mengucapkan salam dengan shighot nakirah

سلام عليكم
Salaamun ‘alaikum

Ada pula shighot lain

عليكم السلام atau عليكم سلام
‘alaikumus salaamu atau ‘alaikum salaamun
semoga kesejahteraan di atasmu.

(adapun shighot ini dimakruhkan karena ada larangannya)

Dalam penggunaan dhamir khitab pada lafaz salam disunatkan menggunakan dhamir jamak (كم) sekalipun orang yang menjawab salam seorang diri, agar ucapan salam ini mencakupi sekalian malaikat dan sebagai takzim.

Dalam sebuah hadits nabi juga membenarkan ucapan salam dengan shighot ( السلام عليك)
atau سلام عليك) ).

Dari berbagai shighot yang salam yang telah disebutkan, jangan sampai membuat kita ragu atau bimbang. Justru memberikan kita pilihan dalam ucapan salam. Atau boleh juga mengucapkan dengan shighot yang sudah masyhur dalam kehidupan sehari-hari.

Lafaz Jawab Salam Arab, Latin Dan Terejemahan

Adapun shigot/lafaz menjawab salam yang benar sebagaimana yang dijelaskan Imam Nawawi dalam kitab Adzkar adalah sebagai berikut

وعليك السلام
wa ‘alaikas salaam
dan di atasmu kesejahteraan

Atau boleh pula menjawab dengan shigot

وعليكم السلام
wa ‘alaikumus salaam
dan di atasa kamu sekalian kesejahteraan

Pada shighot di atas apabila dibuang huruf waw (و ) sehingga menjadi عليكم السلام, maka sudah memadai sebagai jawaban salam.

Jawaban salam yang telah disebutkan adalah nash Imam Syafi’I dalam kitab beliau Al-Umm yang telah menjadi Mazhab yang sahih lagi masyhur.

Memberi dan Menjawab salam dalam islam

Islam adalah agama yang penuh dengan kedamaian, saling menghormati, saling menghargai dan saling mendoakan satu sama lain baik dalam waktu dan kondisi yang khusus seperti menjenguk orang sakit dan keadaan lain.

Untuk mendokan kepada sesama muslim juga bisa diwujudkan dengan saling mengucapkan salam dan menjawabnya.

Adapun memberikan salam hukumnya adalah sunat mustahab(sunat yang sangat dianjurkan), bukan wajib.

Sedangkan menjawab salam hukumnya wajib. Tentu menimbulkan tanda tanya bagi kita mengapa memberikan salam sunat dan menjawabnya menjadi wajib?

Imam Hulaimy berkata : “kesunnahan memberi salam dan kewajiban menjawab salam itu dikarenakan dasar atau inti dari salam itu sendiri adala doa keselamatan dan aman kepada penerima salam. Di saat seseorang memberikan salam, maka yang lain tidak boleh diam dan wajib untuk mendoakan kepada pemberi salam ”

Nashnya ada dalam kitab Ianah tholibin juz 4 hal 213

((قوله: سنة) قال الحليمي: وإنما كان الرد فرضا والابتداء سنة، لان أصل السلام أمان ودعاء بالسلامة، وكل اثنين أحدهما آمن من الآخر، يجب أن يكون الآخر آمنا منه، فلا يجوز لاحد إذا سلم عليه غيره أن يسكت عنه لئلا يخافه.

Imam Nawawi dalam tafsir Munir memberikan keterangan tentang wajib menjawab salam. Dimana disebutkan tidak menjawab salam adalah suatu penghinaan. Penghinaan akan menimbulkan kemudhratan. Sedangkan perilaku mudharat adalah haram hukumnya.

Perlu juga kita pahami, adapun makna wajib menjawab salam disini ada dua makna, yaitu wajib/fardu kifayah dan wajib ‘ain.

Jika salam yang diberikan itu khusus untuk satu orang tertentu atau tertakyin, maka hukum menjawab salamnya wajib ‘ain. Dimana yang diberi salam tidak menjawab akan berdosa.

Seandainya salam tersebut ditujukan kepada suatu kelompok, maka hukumnya fardu kifayah. Satu orang saja menjawab maka terlepaslah semua tanggung jawab yang lain.

Meskipun demikian, memberikan salam lebih utama daripada menjawab salam sekalipun komitmen hukumnya menjawab salam lebih tinggi dari memberi salam.

Di saat seseorang memberikan salam dengan tulus dan rasa kasih sayang, namun salam tersebut tidak dijawab, tentu akan menimbulkan rasa sakit hati dan kekecewaan sehingga menimbulkan prasangka buruk terhadap orang yang disalami.

Dalam islam jelas-jelas hal ini tidak boleh dilakukan. Karena dengan ucapan salam akan memupuk rasa persaudaraan yang lebih dalam.

Hukum seputar memberi salam kepada lawan jenis dan non muslim

Dalam agam islam kita memang dianjurkan memberikan salam kepada sesama muslim, tetapi kita tidak boleh lupa dengan batasan-batasan yang telah ditentukan. Seperti memberikan salam kepada lawan jenis dan non muslim.

Berikut ini kesimpulan yang kami rangkum dari kitab Tuhfah jilid 9 hal 260 (cet Darul Fikri) dan kitab Ianah Tholibin jilid 4 hal 185 (cet Haramain):

1. perempuan tua sunat memberi salam kepada ajnabi

2. perempuan tua wajib menjawab salam ajnabi

3. perempuan belum tua haram memberi salam kepada ajnabi

4. perempuan belum tua haram menjawab salam ajnabi

5. ajnabi makruh memberi salam kepada wanita yang belum tua

6. ajnabi makruh menjawab salam perempuan belum tua

Note:

perempuan tua adalah perempuan yang sudah berumur dan tidak menimbulkan rasa suka dan syahwat.

Perempuan belum tua adalah perempuan yang masih muda atau agak berumur dan masih menimbulkan syahwat jika melihatnya/ masih kita sukai.

Ajnabi adalah laki-laki yang bukan mahram bagi perempuan tua/ belum tua. Baik laki-laki itu masih muda atau sudah tua.

Adapun persoalan salam antara muslim dan non muslim, nabi telah menjelaskannya dalam sebuah hadits.

Memulai salam kepada non muslim.

لا تبدؤوا اليهود ولا النصارى بالسلام وإذا لقيتموهم في طريق فاضطروهم إلى أضيقه ” رواه الإمام مسلم في صحيحه

“Janganlah kamu memulai salam kepada Nashrani dan Yahudi. Maka apabila kamu bertemu di suatu jaan. Maka paksalah mereka ke jalan yang sempit”(HR Muslim)

Menjawab salam dari non muslim.

وقال صلى الله عليه وسلم ” إذا سلم عليكم أهل الكتاب فقولوا وعليكم ” متفق عليه.

“Apabila ahli kitab mengucapkan salam, maka jawablah Wa Alaikum”(Muttafaqun Alaih)

Berdasarkan dua hadits di atas dapat kita simpulkan bahwa jangan memberikan salam kepada non muslim, adapun jika mereka memberikan salam kita tetap menjawabnya dengan jawaban seperti hadits di atas, tanpa menambahkan warahmatullahi wa wabarakaatuh.

Hal demikian bisa saja karena ucapan salam dari mereka itu mengandung niat jelak dan mengolok-olok.

Namun sebagian ulama memberikan keringanan perihal salam kepada non muslim sebagaimana pendapat Abu Yusuf.

jangan kalian bersalam kepada mereka dan jangan pula bersalaman tangan dengan mereka. Apabila kalian masuk di tengah-tengan mereka maka ucapkanlah Assalamu ‘ala man taba’al huda(kesejahteraan bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk)

Menjawab salam dari penyiar radio.

Permasalahan ini cukup menarik untuk kita kaji, karena kita sudah berada di era teknologi dimana pengajian agama juga mulai disiarkan langsung di radio maupu live streaming media sosial.

Para penyiar atau presenter biasanya ketika memulai acara akan memberikan ucapan salam kepada sidang pendengar. Bagaimanakah status salam tersebut, apakah tetap wajib dijawab?

Salah seorang ulama Yaman, Syeh Muhammad bin Salim bin Hafidh ibnu Syeh Abu Bakar bin Salim dalam kitabnya menjelaskan.

Tidak wajib menjawab salam bagi para pendengar radio. Hal ini karena(penyiar)yang memberi salam tidak ada niat/kasad dari salamnya kepada orang yang ditentukan, karena tidak bisa dipastikan siapa saja yang mendengar radio tersebut, kemudia bahkan kadang ada yang mendengarnya adalah orang-orang yang ditunutut untuk menjawab salam seperti wanita ajnabi dan kafir, selain itu ulama juga menyebutkan; disunatkan memberi salam ketika bertemu atau berpisah. Sedangkan penyiar itu bukan orang yang baru datang atau berpisah.

Imam Nawai menyebutkan dalam kitab Al-azkar “berkat Abu Sa’ad al Mutawalli dan lainnya, apabila memanggil seseorang dari belakang satir(penutup) atau belakang pagar kemudian ia berkata: Asaalamua’alaikum ya fulan, ataupun ia menulis surat yang berisi Assalamua’alaikum hai fulan, atau ia mengirimkan utusan dan berkata kepada utusannya; sampaikan salamku kepada si fulan. Kemudian surat sampai kepadanya atau utusan tersebut sampai(telah menyampaikan salamnya), maka wajib baginya menjawab salam tersebut”(Al azkar hal 237 cet Dar Fikri)

Maka jika seandainya penyiar radio tersebut menentukan kepada siapa salamnya(orang yang dituju) , misalnya dia berkata “Assalamu’alaikum Mbak Fitri yang lagi di seputaran Jogja, apa kabarnya siang hari ini, semoga selalu dalam keadaan bahagia”, si penyiar berkeyakinan salamnya itu akan didengar oleh yang dimaksud, dan ternyata salam itu memang didengar, maka bagi pendengar yang dimaksud wajib menjawab salam penyiar sebagaimana yang telah dipahami dari penjelasan yang telah disebutkan di atas.

Kesimpulan

Tidak wajib menjawab salam dari penyiar radio baik presenter TV sekalipun siaran langsung atau acara ulangan, kecuali ucapan salam khusus kepada seseorang saat siaran langsung.

Batasan Memberi Dan Menjawab Salam

Dalam hal ini Imam Nawawi menjelaskan batasan-batasan seseorang mendapatkan keutamaan atau menggugurkan kewajiban menjawab salam, yaitu minimalnya suara salam itu terdengar meskipun lirih.

Berikut ini redaksi yang menjelasakan batasan memberikan salam.

فصل وأقل السلام الذى يصير به مسلما مؤديا سنة السلام أن يرفع صوته بحيث يسمع المسلم عليه ،فإن لم يسمعه لم يكن آتيا بالسلام ،فلا يجب الرد عليه،وأقل ما يسقط به فرض رد السلام أن يرفع صوته بحيث يسمع المسلم ،فإن لم يسمعه لم يسقط عنه فرض الرد ،ذكرهما المتولى وغيره

“Pasal: Salam yang paling sedikit yang menjadikan seseorang muslim mendapatkan keutamaan dan kesunnahan menjawab salam adalah dengan mengeraskan suaranya sekira muslim yang lain(yang diberi salam) dapat mendengarnya. Jika muslim yang lain tidak dapat mendengarnya maka salam tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai salam (yang disunahkan) dan tidak wajib menjawab salam tersebut. Sedangkan menjawab salam yang minimalis yang menjadikan seseorang (yang diberi salam) gugur kewajibannya untuk menjawab salam adalah dengan mengeraskan suaranya sekiranya muslim lain mendengar. Jika tidak mendengar, maka kewajiban salam tersebut tidak gugur. Hal ini sebagaiman pendapat Mutawalli dan lainnya. Al Azkar An Nawawi.

Ayat dan hadits tentang memberikan salam

Pertama

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا۟ بِأَحْسَنَ مِنْهَآ أَوْ رُدُّوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَسِيبًا

apabila kamu diberikan satu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu yang lebih baik kepadnya,atau balaslah penghormatan itu(yang serupa kepanya.) sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS An-Nisa 86)

Kedua

تطعم الطعام وتقراء السلام على من عرفت ومن لم تعرف

berikanlah makanan dan ucapkanlah salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal”(HR Bukhari dan Muslim)

Ketiga

إنَّ أوْلىَ النِّاس باللهِ مَنْ بَدأهم بالسَّلاَم

sesungguhnya manusia yang paling utama disisi Allah adalah yang terlebih dahulu mengucapkan salam”(HR Daud)

Keempat

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ؟ قَالَ : تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Apakah amal dalam silam yang paling baik? Maka Rasul menjawab; berikanlah makanan dan ucapkan salam kepada orang yang kamu kenal maupun tidak ”(HR Muslim & Bukhari)

Kelima

لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلا تُؤْمِنُونَ حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلامَ بَيْنك

kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman,kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai(karena Allah) maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan jika kalian kerjakan akan saling mencintai? Sebarkanlah salam diantara kalian”(HR Bukhari)

Dan sebahagian hadits yang lainnya sudah termasuk pada pembahasan di atas.

Penutup

Kita telah sampai pada ujung pembahasan salam dengan segala sejarah, aturan terkait dalamnya. Mungkin ucapan salam yang sederhana tetapi sangat dalam maknyanya ini masih sukar untuk diucapkan, kita hanya perlu mebiasakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saat memasuki rumah, kantor, atau pada kerumunan bahkan saat bertemu khusuh dengan seseorang, maka ucapkanlah salam.

Kelak dengan ucapan salam yang penuh hikmah akan memupuk rasa ukhwah yang lebih dalam sesama umat muslim.

Referensi

  1. Al-quranul Karim
  2. Zainuddin Almalibay ”fathul mu’in”(cet Haramain juz 4 hal 188)
  3. Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad syatta “hasyiah ianatuth tholibin” (cet haramain juz 4 hal 188)
  4. Imam Nawawi “Al Azkar” maktabah imarah hal 216
  5. Al imam Ibnu Hajar Al haitami “Tuhfatul Muhtaj” (darul fikri juz 9 hal 260)
  6. Ibnu Hajar Asqalany “Bulughul Maram”
JANGAN KETINGGALAN
EMAIL EKSLUSIF
Dapatkan email-email terbaik langsung ke inbox kamu dari hasana.id
Subscribe!
in syaa Allah manfaat 🙂

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p