Istiqamah

Istiqamah sering kita ucapkan dan kita dengar sehari-hari, baik dalam do’a, nasehat-nasehat dan ceramah-ceramah islami. Barangkali sahabat hasana.id pernah mendengar satu kalam hikmah yang berbunyi:

الاستقامة خير من ألف كرامة

Al-istiqamah khairun min alfi karamah

“Istiqamah lebih baik dari 1000 karamah”.

Kalam hikmah ini menunjukkan betapa istiqamah lebih utama dari karamah, seseorang yang sudah dianugerahkan istiqamah, sebenarnya dirinya sudah lebih baik dan lebih beruntung ketimbang diberikan karamah seperti yang didapat oleh para waliyullah.

Sebab itu, kali ini hasana.id akan menyajikan buat kamu bahasan lengkap tentang istiqamah, semoga bermanfaat bagi kamu yang mau tau seputar istiqamah dan mudah-mudahan juga mau mengamalkan istiqamah, amin, baca sampai tuntas, ya.

Apa Arti Istiqomah?

Istiqamah bisa diartikan secara bahasa dan istilah. Secara bahasa, istiqamah adalah bentuk masdar dari fi’il istaqama yastaqimu yang artinya teguh, lurus dan konsisten.

Apabila merujuk ilmu sharaf, istiqamah merupakan mashdar dari fi’il madhi “istaqama”. Kata ini merupakan bab tsulasi mazid atau kata yang sudah ada penambahan dari kata dasarnya. Istaqama adalah penambahan dari kata dasar “qama” yang berarti tegak lurus. Hanya saja qama mempunyai mashdar iqamah yaitu mengumandangkan tanda akan ditegakkannya shalat sedangkan istiqamah memiliki arti tegak lurus pada pendirian.

Adapun pengertian istiqamah secara istilah kita bisa rujuk beberapa kalam dari-ulama-ulama terdahulu. Kita mulai dari pengertian istiqamah dari sahabat Rasulullah Saw. Para sahabat memberikan beberapa pengertian tentang istiqamah. Hal ini sebagaimana diketengahkan oleh Syekh wahbah Zuhayli dalam kitabnya Tafsir al-Munir.

Beliau menyatakan bahwa Saidina Abu bakar memberi arti istiqamah dengan tidak menyekutukan Allah Swt dengan yang lainnya. Umar bin Khattab mengartikannya dengan teguh pendirian baik lahir maupun batin pada mengerjakan perintah dan menjauhi larangan Allah Swt. Kemudian Sayyidina Ustman mengartikan istiqamah dengan ikhlas dalam beramal, Sayyidina Ali mengartikan istiqamah dengan melaksanakan perintah fardhu atau wajib.[1]

Sayyid Qutub dalam kitabnya Fi Zilal al-Qur’an memberi arti istiqamah dengan: “Keseimbangan pada menelusuri jalan (agama) yang telah ditetapkan tanpa penyimpangan.[2] Sedangkan menurut Syekh al-Miraghi istiqamah adalah: Keseimbangan dalam ketaatan, baik yang bersifat i’tikad, ucapan maupun dengan sikap.[3]

Dalam buku Membumikan Al-Qur’an, Abi Quraish Syihab menyatakan bahwa istiqamah berasal dari “qawama” yang artinya tegak lurus. Arti istiqamah berarti sikap teguh dalam pendirian dan tetap berada pada garis lurus yang telah diyakini kebenarannya.[4]

Dalil Istiqomah

Al-Qur’an

Beberapa dalil istiqamah dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut: [5]

At-taubah 7

كَيْفَ يَكُونُ لِلْمُشْرِكِينَ عَهْدٌ عِندَ ٱللَّهِ وَعِندَ رَسُولِهِۦٓ إِلَّا ٱلَّذِينَ عَٰهَدتُّمْ عِندَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ۖ فَمَا ٱسْتَقَٰمُوا۟ لَكُمْ فَٱسْتَقِيمُوا۟ لَهُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَّقِينَ

Hud 112 dikombinasikan dengan Al-Fussilat 6

فَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا۟ ۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya: “Maka tetaplah engkau (hai Muhammad) pada jalan yang lurus, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan orang-orang yang yang bertaubat yang sedang bersamamu dan janganlah kamu melmpaui batas, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Hud: 112).

Pada ayat di atas istiqamah diungkapkan dalam bentuk fi’il amar atau satu bentuk ungkapan dalam bahasa Arab yang menunjukkan arti perintah. Dalam ayat di atas yang dipaling ditekankan untuk istiqamah adalah Nabi Saw, karena beliau adalah suri tauladan bagi umatnya. Walaupun pada hakikatnya istiqamah juga diperintahkan kepada umatnya.

Hal ini ditunjukkan oleh ayat:

قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ فَٱسْتَقِيمُوٓا۟ إِلَيْهِ وَٱسْتَغْفِرُوهُ ۗ وَوَيْلٌ لِّلْمُشْرِكِينَ

Artinya: “Katakanlah (Hai Muhammad), Aku hanyalah manusia sepertimu yang diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang maha esa, maka tetaplah kamu pada jalan yang lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang musyrik. (QS. Fussilat: 6).

Dalam ayat ini Nabi Saw diperintahkan untuk menyampaikan kepada ummatnya untuk bertauhid atau mengesahkan Allah Swt, juga untuk beritiqamah pada jalan yang lurus. Maksud istiqamah di sini sebagaimana kata Syekh al-Miraghi adalah tetap dalam penghambaan diri kepada Allah Swt.

Al-Fussilat: 30

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian (istiqamah), maka malaikat akan turun seraya berkata: “Janganlah takut dan merasa bersedih, dan berilah kabar gembira dengan surga yang telah dijanjkan”. (QS. Al-Fusshilat: 30).

Syekh al-Maraghi mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan istiqamah dalam ayat ini adalah teguh dalam beriman agar tidak tergelincir dengan beribadah dan meneguhkan i’tikad-i’tikad yang benar.[6]

Dari beberapa tafsir di atas memang sedikit perbedaan dalam menafsirkan istiqamah pada beberapa ayat, tapi dapat disimpulkan istiqamah itu berkaitan dengan keyakinan atau i’tikad, perbuatan dalam beramal ibadah dan tujuan hidup.

Asy syura 15

فَلِذَٰلِكَ فَٱدْعُ ۖ وَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ ۖ وَقُلْ ءَامَنتُ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِن كِتَٰبٍ ۖ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ ۖ ٱللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۖ لَنَآ أَعْمَٰلُنَا وَلَكُمْ أَعْمَٰلُكُمْ ۖ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۖ ٱللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۖ وَإِلَيْهِ ٱلْمَصِيرُ

Artinya: “Maka karena itu, serulah mereka dan istiqamahlah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya lah kita kembali”.

Jin 16

وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا

Artinya: Dan jikalau mereka tetap berteguh diri di atas jalan itu (agama Islam), sesungguhnya Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar”.

At takwir 28

لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ

Artinya: “Yaitu bagi siapa saja di antara kamu yang ingin menempuh jslsn ysng lurus”.

Hadis

Dalam beberpa hadis Nabi Saw juga menganjurkan untuk berlaku istiqamah.

Hadis Riwayat Muslim: Diriwayatkan oleh Sufyan bin Abdillah Assaqafi ra beliau berkata: Aku pernah bertanya: “Wahai Rasulullah, wasiatilah aku tentang Islam yang tidak perlu ku tanyakan lagi kepada orang sesudah engkau, lantas beliau menjawab: “katakanlah Aku beriman kepada Allah Swt kemudian istiqamahlah”. (HR. Muslim).

Dalam kitab Shahih Muslim an-Nawawi karya Syekh Fuad Abdul Baqi disebutkan bahwa hadis tersebut sejalan dengan firman Allah dalam surat Al-Fussilat: 30 (sebagaimana telah penulis ketengahkan di atas). Dalam hadis ini diajarkan bahwa orang yang telah beriman haruslah senantiasa istiqamah dalam imannya dan senantiasa menjalani segala perintah-Nya.[7]

Hadis Riwayat Ibnu Majah: “Diriwayatkan dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: Istiqamahlah, sebaik-baik kamu adalah jika teguh dalam pendirian, dan sebaik-baik amalmu adalah shalat, dan sekali-kali tidak memelihara wudhu kecuali orang mukmin”. (HR. Ibnu Majah).

Hikmah Istiqomah

Perlu diketahui bahwa sebanding dengan beratnya istiqamah, ia dapat membuahkan beberapa keutamaan yang luar biasa besarnya, setidaknya bisa dikatakan ada tiga keutamaan yang didapat dengan istiqamah:

Ditemani Malaikat Rahmat Ketika Ajal

Istiqamah akan mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan. Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt:

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian (istiqamah), maka malaikat akan turun seraya berkata: “Janganlah takut dan merasa bersedih, dan berilah kabar gembira dengan surga yang telah dijanjkan”. (QS. Al-Fusshilat: 30).

Syekh Wahbah Juhayli dalam Tafsir al-Wajiz menafsirkan istiqamah yang dimaksud adalah meneguhkan diri dalam beramal shalih dan tetap dalam pemahaman tauhid (mengesakan Allah Swt). Mereka akan didatangi malaikat rahmat ketika mati, dimasukkan ke dalam kubur hingga dibangkitkan dari alam kubur malaikat itu selalu menemani. Malaikat itu berkata janganlah takut dan gundah dengan perkara akhirat yang akan engkau temuai nanti dan tidaklah perlu menyesal dengan perkara yang sudah lalu kau kerjakan di dunia. Kemudian dikatakan kepada mereka “Kabarkanlah mereka dengan surga yang pernah dijanjikan melalui lisan rasul-rasul mereka di dunia, mereka akan sampai dan memasuki surga itu”.[8]

Diluaskan Rezeki

وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا

Artinya: Dan jikalau mereka tetap berteguh diri di atas jalan itu (agama Islam), sesungguhnya Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar”.

Masih mengutip Syekh Wahbah Juhayli dalam Tafsir al-Wajiz-nya menafsirkan ayat ini jika mereka istiqamah dalam Islam dan keimanan mereka akan diberi air yang banyak, maksud air yang banyak adalah majas dari makna rezeki yang luas. Sehingga akan memberi arti; “Sesungguhnya kami akan memberikan rezeki yang banyak”. Dipakai lafal air yaitu “al-ma’” karena air adalah sebab semua kebaikan dan rezeki.[9]

Mendapat Kehidupan yang Tentram

Hal ini sebagaimana janji Allah kepada orang yang senantiasa beramal Shalih:

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.

Tentang ayat ini, Syekh Wahbah Zuhayli menafsirkan; laki-laki dan wanita yang mengerjakan amal shalih di dunia dalam keimanan yang sebenar-benarnya (bukan tidak beriman), maka dia akan diberi karunia dengan ketentraman di dunia, rezeki yang halal dan kebahagiaan. Begitupula di akhirat akan diberikan pahala atas perbuatan yang paling utama yang telah mereka kerjakan.[10]

Hal-Hal Yang Perlu Diketahui Terkait Istiqomah

Istiqamah terbagi dua, yaitu istiqamah dalam mengerjakan taat dan istiqamah dalam meninggalkan maksiat

Istiqamah berbuat taat

Kita sudah banyak tau tentang amalan taat baik yang fardu maupun yang sunnah, tapi kadang sangat sulit mengamalkannya.

Bukan malah menambahkan amalan sunnah, yang fardu saja masih bolong-bolong.

Itu artinya kita belum istiqamah dalam ketaatan. Karena istiqamah dalam taat itu adalah konsisten dalam mengamalkan ibadah.

Maksud ibadah di sini bukan hanya yang fardu saja, karena yang fardu sudah semestinya dilakukan sebagai kewajiban. Ibaratnya amalan fardu adalah hutang yang mesti kita lunasi dengan Allah Swt. Orang yang membayar hutang sesuai dengan kadar hutangnya memang biasa, tetapi membayar lebih dari kadar yang dihutangi barulah luar biasa. Membayar hutang dengan kadar yang lebih itu adalah dengan mengerjakan amalan-amalan sunnah.

Oleh karena itu di samping mengamalkan amalan fardu, amalan sunnah perlu juga dilaksanakan dengan istiqamah.

Istiqamah meninggalkan maksiat

Bukan hanya dalam urusan taat, meninggalkan maksiat juga perlu istiqamah. Istiqamah untuk tidak mencuri, istiqamah untuk tidak pacaran atau berzina, istiqamah untuk tidak ghibah dan lain sebagainya.

Tidak mudah memang, apalagi di zaman sekarang banyak maksiat yang malah dipertontonkan di hadapan mata kita. Coba kita melihat sahabat-sahabat kita yang saat ini belum mampu menjauhi maksiat pacaran. Seakan-akan pacaran sesuatu yang wajar dan benar. Bahkan nauzubillah berzina sudah dianggap suatu kebanggaan.

Maka istiqamah kita diuji di zaman ini. Mari kita saling menguatkan untuk mengatakan tidak untuk zina dan pacaran. Sudah saatnya kita berhijrah menuju cinta halal. Jangan pernah takut jika tidak pacaran akan tidak menikah. Tetaplah optimis akan takdir Allah yang selalu indah. Lebih baik dianggap kolot daripada merusak kehormatan diri.

Tips Agar Selalu Istiqomah

Istiqamah adalah kata yang singkat. Sangat mudah diucapkan karena hanya satu kata. Tetapi mempraktekkannya sangat sulit. Karena sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas, istiqamah adalah tetap konsisten terhadap taat dan juga selalu menjauhi maksiat, sesuatu yang sulit diterapkan bukan?

Adapun beberapa tips yang bisa diterapkan agar istiqamah adalah:

Belajar memaksa diri untuk beramal

Nafsu selalu mengajak kepada nikmat dan bersantai. Makanya karena adanya nafsu dalam diri kita, membuat tubuh sulit sekali diajak dalam ibadah.

Makanya perlu adanya “paksaan” terhadap tubuh untuk berbuat baik yang bernilai ibadah. Bawa pikiran kita bahwa waktu yang sudah berlalu tidak akan terganti, sehingga perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Membaca kisah-kisah Nabi dan ulama terdahulu

Nabi dan para ulama-ulama harus selalu menjadi tolak ukur dalam ibadah kita. Perlu bagi kita menyempatkan diri membaca kisah-kisah mereka. Bisa dimulai dari membaca kisah Nabi kita terlebih dahulu yaitu Nabi Muhammad Saw, kemudian kisah para anbiya kemudian dilanjutkan dengan kisah para ulama-ulama salafussalih yaitu para sahabat dan tabi’in, kemudian dilanjutkan dengan kisah-kisah ulama setelah mereka.

Karena melalui kisah itu kita bisa termotivasi untuk ibadah. Kita bisa melihat kisah kesabaran dan keistiqamahan para-para ulama terdahulu dalam ibadah mereka.

Tidak masalah jika belum bisa membaca yang versi bahasa Arab dalam kitab-kitab Arab, karena sekarang sudah banyak terjemahan-terjemahan kisah-kisah para anbiya dan ulama yang bisa didapat dengan mudah dan harganya pun tidak mahal-mahal, ya sesuai lah dengan isi kantong kita yang pas-pasan, hehe.

Berteman dengan orang yang shalih

Seorang teman sangat mempengaruhi keadaan kita. Ada satu pepatah mengatakan bahwa jika ingin mengetahui pribadi seseorang maka lihatlah temannya. Pepatah ini berarti teman sangat berpengaruh pada karakter dan kebiasan seseorang.

Maka untuk bisa istiqamah dalam ibadah dan menjauhi maksiat, maka carilah teman yang shalih. Karena dialah yang akan membawa kita mencapai keistiqamahan. Mustahil kita konsisten dalam ibadah jika masih berteman dengan para penghalang untuk ibadah. Mustahil kita menjauhi maksiat jika selalu bersama pelaku maksiat, toh bermain-main di samping sumur akan dibuat jatuh ke dalamnya.

Mengukuhkan ilmu dan keimanan

Abu Qasim al-Qusyairi berkata: “Sifat istiqamah hanya dimiliki oleh orang -orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya.[11]

Dari kalam ini bisa dipahami bahwa jika ingin istiqamah kita perlu mengukuhkan keimanan kepada Allah Swt. Keimanan tidak akan diperoleh tanpa ilmu. Untuk mengenal Allah dan sampai pada membenarkan segala janji-janji akhirat, seperti balasan baik dan buruk nanti di akhirat, tidak akan dicapai melainkan dengan ilmu.

Kita tau bahwa akibat dan balasan akhirat ketika mengamalkan sesuatu pastinya melalui ilmu. Sejauh mana keyakinan seseorang terhadap balasan tersebut, maka sejauh itu pula seseorang akan istiqamah melakukan amal baik. Begitupula sejauh mana dia meyakini perbuatan dosa akan dibalas dengan siksaan, maka sejauh itu pula keistiqamahannya dalam meninggalkan maksiat.

Karena dia tau janji Allah di akhirat itu benar adanya. Orang yang beramal shalih akan dibalas dengan pahala dan surga. Orang yang berbuat dosa akan dibalas dengan siksaan dan neraka. Maka itulah yang mendorong dirinya untuk konsisten beramal dan meninggalkan maksiat.

Penutup

Para sahabat dan ulama mengetengahkan pengertian istiqamah yang sedikit berbeda tapi memiliki substansi yang sama. Dari beberapa tafsir istiqamah dapat disimpulkan bahwa istiqamah itu adalah konsisten dengan sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan atau i’tikad, perbuatan dalam beramal ibadah dan tujuan hidup.

Untuk mendapatkan kesempurnaan dalam beramal, diperlukan sikap istiqamah. Karena amal yang banyak tanpa istiqamah tidak ada apa-apanya dibanding amal sedikit yang dilakukan dengan istiqamah.

Istiqamah tidak hanya pada berbuat taat saja, dalam meninggalkan maksiat juga perlu istiqamah. Sehingga kita tidak tergolong dalam bagian orang yang rajin berbuat taat tetapi juga tekun bermaksiat.

Sebelum mengakhiri artikel kali ini penulis akan mengetengahkan kata Abu Qasim al-Qusyairi dalam kitab Shahih Muslim Syarh an-Nawawi tentang keutamaan istiqamah, kata: “Barangsiapa yang memiliki sifat istiqamah maka ia akan meraih segala kebajikan dan kesempurnaan, sebaliknya orang yang tidak memiliki sifat istiqamah maka semua usahanya akan sia-sia dan semua perjuangan akan tandas”.[12]

Ya rabb, kukuhkanlah hati kami. Istiqamahkanlah hati ini senantiasa kepada-Mu, senantiasa pada jalan yang engkau ridhai. Amin ya rabbal ‘alamin.

  1. Syekh Wahbah Zuhayli, Tafsir al-Munir, Jld. 23, (Damaskus: Dar al-Fikri, t.t), h. 233.
  2. Sayyid Qutub, Fi Zilal al-Qur’an, Jld. X, (Beirut: Ihyat Tiras al-Arabi, 1971), h. 630.
  3. A. Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Jld. IX, (Beirut: Dar al-Fikri, t.t), h. 6556.
  4. Lihat Quraish Syihab, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1997), h. 284.
  5. Syekh Muhammad Fuad, Mu’jam Mufahras li Alfaz al-Qur’an al-Karim, (Kairo: Dar al-Hadis, t.t), h. 687.
  6. A. Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Jld. VIII…, h. 127.
  7. M. Fuad Abdul Baqi, Shahih Muslim Syarh an-nawawi, Jld. I, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, t.t), h. 9.
  8. Syekh Wahbah Juhayli, Tafsir al-Wajiz, (Beirut: Dar al-Fikri, 1996), h. 481
  9. Syekh Wahbah Juhayli, Tafsir al-Wajiz…, h. 574.
  10. Syekh Wahbah Juhayli, Tafsir al-Wajiz…, h. 279.
  11. Sayyid al-Allamah Abdullah Haddad, Menuju Kesempurnaan Hidup, Terj. Rosihin Abd. Ghani, (Semarang: Wicaksana, 1989), h. 414)
  12. M. Fuad Abdul Baqi, Shahih Muslim Syarh an-Nawawi, Jld. I…, h. 9.

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p