no comments

Wudhu: Panduan SUPER Lengkap (Tata Cara, Doa, Niat, Rukun, Dll)

Wudhu adalah syarat sahnya shalat. Tidak sah melakukan shalat tanpa wudhu terlebih dahulu. Wudhu itu sendiri memiliki syarat dan anggota wudhu yang harus dipenuhi. Kalau tidak, maka wudhu menjadi tidak sah. Jika wudhu tidak sah, maka shalatpun tidak sah. Oleh karena itu penting bagi kita untuk mempelajari tata cara berwudhu yang benar.

Pengertian Wudhu

Secara bahasa, wudhu bermakna bersih dan indah. Secara syariat, wudhu adalah membersihkan anggota-anggota wudhu untuk menghilangkan hadats kecil.

Beberapa ibadah dalam shalat seperti shalat, thawaf dan lainnya mengharuskan seseorang berwudhu terlebih dahulu. Seperti dalam pengertian di atas, wudhu dilakukan untuk mennghilangkan hadats kecil agar ibadah tertentu menjadi sah dilakukan.

Wudhu juga termasuk kedalam syarat sah shalat. Akan tetapi hukum wudhu sendiri bisa menjadi wajib atau sunnah, tergantung kepada kejadian sebelumnya.

Wajib hukumnya jika orang tersebut memiliki hadats kecil seperti habis buang air kecil, buang air besar, tidur, menyentuh kemaluan dan lainnya.

Menjadi sunnah hukumnya jikalau orang tersebut masih memiliki wudhu, khususnya pada shalat fardhu’.

Berwudhu bisa menggunakan air atau debu (tayammum). Dengan syarat objek yang dijadikan sebagai bahan wudhu harus suci dan mensucikan. Contoh dan macam-macam air yang suci dan mensucikan adalah air hujan, air terjun, air sumur, air laut, air sungai, air lelehan es atau salju, air dari tangki dan kolam yang ukurannya lebih dari dua kullah.

Wajib atau Sunnahnya Wudhu

Seperti yang dijelaskan diatas, bahwa wudhu sendiri bisa menjadi wajib atau sunnah hukumnya. Lalu bagaimana sajakah pembagian dari wajib dan sunnah wudhu tersebut? Berikut mari kita ulas satu persatu.

Wudhu wajib, untuk seorang muslim yang hendak shalat, thawaf dan membaca Al-Quran. Menurut 4 madhab ulama menyentuh Al-Quran hukumnya wajib berwudhu. Hal ini merujuk kepada Al-Quran Surah Al Waqi’ah ayat 77-79.

إِنَّهُ ۥ لَقُرۡءَانٌ۬ كَرِيمٌ۬ (٧٧) فِى كِتَـٰبٍ۬ مَّكۡنُونٍ۬ (٧٨) لَّا يَمَسُّهُ ۥۤ إِلَّا ٱلۡمُطَهَّرُونَ

Artinya : “Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (QS. Al-Waqi’ah: 77-79)

Wudhu sunnah, jika dilakukan untuk seorang muslim yang mengulang wudhu ketika hendak shalat, seorang muslim yang hendak tidur namun dalam keadaan junub, seorang muslim yang hendak mandi junub, seorang muslim yang ingin mengulangi hubungan badan suami/istri, ketika marah, ketika hendak adzan, hendak membaca kitab dan lain sebagainya.

Sunnah-sunnah Wudhu

Tidak hanya itu wudhu juga memiliki kelebihan lain. Yakni, kita bisa mengambil hikmah sunah-sunah yang dilakukan sebelum atau sesudah-nya.

Ada berapa poin sunnah yang bisa kita amalkan ketika berwudhu. Yang pertama adalah, disunahkan kepada setiap muslim agar menggosok gigi sebelum memulai wudhu. Hal ini berdasarkan Sabda Rasulullah SAW:

“Sekiranya aku tidak memberatkan umatku niscaya aku perintah mereka bersiwak tiap kali akan berwudhu.” (Riwayat Ahmad)

Yang kedua adalah disunnahkan untuk mencuci Kedua telapak kita sebanyak 3 kali sebelum berwudhu. Hal ini menjadi sunnah, akan tetapi menjadi wajib ketika kita bangun dari tidur.

Hal tersebut dilakukan agar membersihkan kotoran yang menempel di kedua tangan kita saat kita tertidur. Sebab, boleh jadi ketika tidur kita tidak sadar telah menyentuh berbagai macam kotoran. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

“Apabila seorang di antara kamu bangun tidur maka hendaknya tidak mencelupkan kedua tangannya di dalam bejana air sebelum mencucinya terlebih dahulu tiga kali krn sesungguhnya ia tidak mengetahui di mana tangannya berada.”

Yang ketiga adalah disunahkan untuk menghirup air dengan hidung. Praktek ini biasa disebut dengan Istinsyar. Hal tersebut dilakukan untuk mengusir setan yang biasa bersarang pada celah-celah hidung kita.

Selanjutnya adalah disunnahkan untuk mencelah jenggot (jika memiliki jenggot tebal) ketika kita membasuh wajah. Hal ini ditunjukkan agar air wudhu dapat menjangkau kulit kulit yang tertutup oleh jenggot.

Disunnahkan juga untuk mencuci anggota badan yang sebelah kanan terlebih dahulu. Hal ini tentunya lebih afdhol daripada mendahulukan bagian badan yang sebelah kiri.

Mencelahi jari-jari tangan dan kaki juga termasuk ke dalam sunnah wudhu. Daerah ini memang merupakan anggota tubuh yang sangat sulit sekali jangkau oleh masuknya air.

Disunnahkan untuk Membasuh anggota anggota wudhu masing-masing sebanyak 3 kali. Terkecuali bagian kepala, ia hanya disunahkan untuk membasuhnya satu kali saja.

Gunakanlah air yang cukup dan tidak berlebih-lebihan. Karena Rasulullah SAW berwasiat bahwa perilaku tabzir adalah perbuatan yang dzalim.

Hal-hal yang Membatalkan Wudhu

Ada banyak hal yang bisa membatalkan wudhu kita, diantaranya adalah mengeluarkan sesuatu dari depan dan belakang. Seperti buang air kecil, buang air besar, kentut dan sebagainya.

Tidak hanya itu, cairan yang keluar berapa saat setelah kencing juga dihukumi najis. Dan tidak sah wudhunya jika cairan tersebut masih menempel pada pakaian kita.

Ketika tinja keluar dari dubur, hal ini dihukumi membatalkan wudhu, baik sedikit maupun banyak. Begitu juga kentut, iya tetap membatalkan wudhu walaupun terdengar maupun tidak suaranya.

Tidur sampai hilang kesadaran juga membatalkan wudhu. Tidur yang dimaksud adalah tidur yang sampai indra pendengaran dan penglihatan tidak berfungsi lagi. Dengan kata lain yang hilang akal atau hilang kesadaran. 

Selain itu, hilang kesadaran lain juga membatalkan wudhu seperti gila, mabuk, pingsan dan lainnya. Bagi wanita, istihadhah kecil dan sedang membatalkan wudhu.

Keutamaan Wudhu

Wudhu merupakan amalan yang sangat ringan dikerjakan. Akan tetapi Tahukah kamu bahwasannya amalan ini mempunyai pengaruh yang ajaib dan luar biasa.

Salah satunya adalah menghapuskan dosa kecil. Dengan menjaga wudhu, tentunya kita sudah berusaha untuk membantu menghapuskan dosa-dosa kecil kita di masa lalu.

Wudhu juga mengangkat kedudukan serta derajat seseorang di dalam surga. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ

Artinya: “Maukah kalian aku tunjukkan tentang sesuatu (amalan) yang dengannya Allah menghapuskan dosa-dosa, dan mengangkat derajat-derajat?” Mereka berkata, “Mau, wahai Rasulullah!!” Beliau bersabda, “(Amalan itu) adalah menyempurnakan wudhu’ di waktu yang tak menyenangkan, banyaknya langkah menuju masjid, dan menunggu sholat setelah menunaikan sholat. Itulah pos penjagaan”. [HR. Muslim (586)]

Nabi Muhammad SAW juga telah mengabarkan kepada kita selaku umatnya bahwa beliau nanti akan mengenali seluruh ummatnya di padang mahsyar, dengan ciri anggota badannya yang mengeluarkan cahaya. Cahaya tersebut merupakan pengaruh dari wudhu mereka ketika di dunia.

Niat Wudhu

Sebelum masuk ke bahasan rukun atau tata cara wudhu. Alangkah baiknya jikalau kita mengetahui terlebih dahulu niat dari berwudhu itu sendiri. Sebelum berwudhu, dianjurkan untuk membaca niat wudhu yakni:

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَلِرَفْعِ الْحَدَثِ الْاَصْغَرِفَرْضًالِلّٰهِ تَعَالٰى

“Nawaitul wudhuu-a liraf’ll hadatsil ashghari fardhal lilaahi ta’aalaa”

Artinya: “Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardu karena Allah.”

Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung dari niat, maka niatkanlah wudu itu seperti halnya kita berniat di dalam salat. Boleh dijaharkan atau boleh juga dibaca dalam hati.

Rukun Wudhu atau Tata-cara Berwudhu

Rukun wudhu bisa diartikan sebagai cara-cara atau hal yang harus dilakukan ketika wudhu. Jika langkah ini tidak dilakukan, maka tentunya hal tersebut menyebabkan hukum wudhu tersebut menjadi tidak sah.

Berikut adalah cara berwudhu dengan benar dan harus diterapkan tanpa ada kesalahan atau kekeliruan.

Mencuci Telapak Tangan

Mencuci telapak tangan adalah langkah awal berwudhu. Ingat jangan lupa agar untuk membaca niat terlebih dahulu sebelum masuk ke tahapan ini. Untuk niat wudhu ada di sub judul sebelumnya.

Bersihkan telapak tangan dengan menyeka pada sisi sela-sela jari. Mulailah dari tangan kanan kemudian tangan kiri. Lakukanlah ini sebanyak tiga kali dan dengan diiringi doa:

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي جَعَلَ اْلمَاءَ طَهُوْرًا

“Allhamdulillahilaziy ja’alal ma’a tohuro.”

Artinya: “Dengan nama Allah yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang. Segala Puji bagi Allah yang menjadikan air itu suci.”

Berkumur-Kumur

Langkah yang kedua yakni berkumur. Berkumurlah sebanyak 3 kali, dan gerakan dengan niat untuk membersihkan mulut. Hal ini dilakukan untuk menghabiskan sisa-sisa makanan yang tersisa di dalam mulut kita.

Lalu bacalah bacaan ini:

اللَّهُمَّ اَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Allahumma aini alay dzikrika wasukrika wahusni ibadatika.”

Artinya: ”Ya Allah, bantulah aku supaya aku dapat berzikir kepadaMu, dan bersyukur kepadaMu, dan perelok ibadah kepadaMu.”

Membasuh Hidung

Langkah selanjutnya membasuh lubang hidung secara menyeluruh. Lakukanlah istinsyar, dengan cara menghirup air ke dalam hidung lalu mengeluarkannya. Lakukanlah ini selama 3 kali seraya berdoa:

اَللَّهُمَّ أَرِحْنِي رَائِحَة الجَـنَّةْ

Allahuma arihniy roihata janat.”

Artinya: “Ya Allah, berilah aku ciuman daripada haruman bau Syurga.”

Membasuh Wajah

Langkah selanjutnya setelah membasuh seluruh permukaan wajah secara merata. Lakukanlah sebanyak 3 kali dengan gerakan memutar sekeliling wajah seraya berdoa:

اَللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِى يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ

“Allahuma bayadh wajhi yawmatabyaht wujudhu wataswadu wujdhu.”

Artinya : “Ya Allah, putihkanlah wajahku pada hari putihnya wajah-wajah dan hitamnya wajah-wajah.”

Membasuh Kedua Tangan

Langkah selanjutnya adalah membasuh kedua tangan. Basuhlah kedua tangan hingga mencapai batas siku-siku. Lakukan hal tersebut sebanyak 3 kali secara menyeluruh.

Lakukan dengan gerakan yang memutar dan menyeluruh ke permukaan tangan. Ketika membasuh tangan kanan, maka disunahkan untuk berdoa:

اَللَّهُمَّ اَعْطِنِى كِتاَبِى بِيَمِيْنِى وَحَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيْرًا

“Allahumma a’tini kitabiy biyamiyni wahasibni hisaban yasiyron.”

Artinya:“Ya Allah! berikanlah kepadaku kitabku dari sebelah kanan dan hitunglah amalanku dengan perhitungan yang mudah.”

Lalu ketika mengusap tangan kiri, disunnahkan juga untuk berdoa:

اَللَّهُمَّ لاَ تُعْطِنِى كِتاَبِى مِنْ يَساَرِىْ وَ لاَ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِىْ

“Allahumma latu’tini kitabi minyasariy wala minwaro’i tohriy.”

Artinya: “Ya Allah! aku berlindung denganMu dari menerima kitab amalanku dari sebelah kiri atau dari sebelah belakang.”

Membasuh Kepala

Basuhlah kepalamu mulai dari kening hingga ujung kening (ubun-ubun). Lakukan secara menyeluruh dan merata. Ulangi hal ini sebanyak 3 kali. Ketika mengusap kepala, disunnahkan untuk berdoa :

اَللَّهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ عَلَى النَّارِ

“Allahumma harom sa’riy wabasariy a’la nnari.”

Artinya: “Ya Allah, haramkan rambutku dan kulit kepalaku dari pada neraka.”

Membasuh Daun Telinga

Membasuh daun telinga bisa dipraktekkan dengan mengusap telinga bagian dalam maupun luar dengan air. Lakukan hal ini secara menyeluruh hingga merata ke bagian telinga. Lakukan ini 3 kali seraya berdoa:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ اْلقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ

“Allahummajalni minaladziyna yastami’uwnal qowla fayatabi’uwna ahnashu.”

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendengarkan kata dan mengikuti sesuatu yang terbaik.”

Membasuh Kaki

Langkah selanjutnya adalah membasuh kedua kaki. Basuhlah kedua kaki secara menyeluruh hingga batasan mata kaki. Hati-hati dengan bagian ini. Jika ada yang terlewat, maka wudhu tersebut tidak sah.

Ketika membasuh kaki kanan, disunnahkan untuk berdoa:

اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ قدَمِي عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ تَزِلُّ فِيْهِاْ لاَقْدَامِ

“Allahumma tabbatqodamiy a’lasoroti yawmatazilu fiyhil laqdami.”

Artinya: “Yaa Allah, yaa Tuhanku,tetapkanlah tumuitku diatas titian yang lurus bersama tumit hamba-hamba-Mu yang shaleh.”

Lalu ketika membasuh kaki kiri, disunnahkan juga untuk berdoa:

اَللّهمَّ اِنِّى اَنْتُجِلَ قَدَمِ عَلَى صِرَاطِ فِى النَّارْ يَوْمَ تِجِلُ اَقْدَمِ المُنَافِقِيْنْ وَ المُشْرِكِينْ

“Allahuma iniyantujila qodamia’la sirotifinari yawmatijilu akdami munafikiyn wamusyrikiyni.”

Artinya: “Ya Allah yaa Tuhanku,sesungguhnya aku-berlindung kepada-Mu dari keterpelesetan tumuitku dari atas jalan neraka,pada hari dikala terpeleset tumit orang-orang kafir.”

Tertib

Rukun wudhu yang terakhir adalah tertib. Maksud tertib di sini adalah tidak boleh berwudhu dengan cara meloncat urutan ke urutan lainnya. Ia harus tertib dilakukan secara berurutan.

Jikalau ada yang terlewat atau tidak berurutan secara sengaja, maka hukumnya wudhu tersebut tidaklah sah. Demikianlah rukun dan tata cara wudhu.

Adapun jenis air yang tidak dibolehkan untuk berwudhu adalah antara lain air yang mengandung najis seperti air liur anjing dan jenis-jenis najis lainnya.

Air dari sari buah juga tidak bisa digunakan untuk berwudhu karena air tersebut suci namun tidak mensucikan. Air sari buah yang dimaksud adalah air seperti air kelapa, air semangka atau air yang berasal dari dalam pohon.

Selain itu air yang telah mengalami perubahan warna menjadi keruh yang disebabkan oleh sesuatu yang terendam di dalam kubangan tersebut maka air itu tidak bisa digunakan untuk berwudhu.

Bacaan Doa Setelah Wudhu

Ada lagi hal yang akan membuat wudhu menjadi sempurna, yaitu doa setelah wudhu. Banyak lho di antara kita yang belum bisa membaca atau menghafal doa setelah wudhu. Atau yang sudah menghafal tapi belum sempurna. Untuk itu, kali ini saya menulis tentang doa setelah wudhu yang benar seperti apa.

Doa setelah wudhu yang benar adalah sebagai berikut:

,أَشْهَدُ اَنْ لاَإِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ  وَجْعَلْنَيْ مِن عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ

Bagi kamu yang belum bisa bahasa arab, dalam bahasa latin kurang
lebih seperti ini.

“Asyhadu allaa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lah, wa asyhadu
anna mUhammadan ‘abduhu wa Rasuuluh. Allahumma j’alnii minat
tawwabiina waj’alnii minal mutathahiriina waj’alnii min ‘ibaadikash
shalihiin.”

Artinya doa tersebut adalah :

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan tidak ada yang
menyekutukanNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba-
Nya dan rasul-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku dari golongan orang yang
bertaubat, jadikanlah aku dari golongan orang yang suci/bersih, dan
jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang saleh.”

Ada yang mengatakan bahwa doa setelah berwudhu hanya sampai وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ saja, tidak disambung dengan وَجْعَلْنَيْ مِن عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ. Pendapat ini berdasarkan sebuah hadits dari Imam Turmudzi dengan redaksi bacaan yang sama namun hanya sampai وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ saja.

Syarat Sah Wudhu

Syarat sah wudhu yaitu hal-hal yang harus dipenuhi sebelum seseorang berwudhu. Syarat sah wudhu ada lima, yaitu:
1. Islam
2. Mumayyiz
3. Menggunakan air yang suci dan menyucikan
4. Tidak ada anggota wwudhu yang bisa merubah air untuk berwudhu
5. Tidak ada sesuatu yang menghalangi air wudhu ke anggota wudhu

Fardhu Wudhu

Fardhu wudhu adalah hal-hal yang harus dilakukan saat seseorang berwudhu. Fardhu wudhu ada enam, yaitu:
1. Niat melakukan wudhu untuk menghilangkan hadats kecil. Niat dibaca saat membasuh muka.
2. Membasuh muka dari mulai tumbuh rambut kepala, kedua belah telinga dan ujung dagu.
3. Membasuh kedua tangan hingga siku.
4. Membasuh sebagian rambut kepala.
5. Membasuh kedua kaki hingga mata kaki.
6. Tertib.

Pengertian Air Musta’mal dan Pendapat 4 Mazhab

Air yang dapat digunakan untuk berwudhu, hanyalah air yang suci dan mensucikan. Tidak semua air memiliki sifat ini. Lalu bolehkah kita memakai air yang bekas dipakai wudhu? Air bekas Inilah yang disebut dengan air musta’mal.

Secara etimologi (bahasa), musta’mal artinya sesuatu yang dipakai. Namun secara terminologi (istilah) musta’mal memiliki arti air yang telah digunakan untuk bersuci.

Sayyid Sabiq di dalam Kitab fiqhus sunnah mengatakan bahwa:

وهو المنفصل من أعضاء المتوضئ والمغتسل

Artinya: “air musta’mal adalah air yang jatuh dari anggota badan orang yang berwudhu atau mandi” (Fiqhus Sunnah, 1/18).

Ada beberapa pendapat mengenai ciri serta macam dari air musta’mal ini. Dari empat madzhab islam, masing-masing memiliki definisi dan syarat-syarat tersendiri. Untuk itu Mari kita bahas dibawah satu persatu.

Mazhab Al-Hanafiyah

Menurut mazhab Hanafi, air yang boleh digunakan untuk berwudhu adalah air yang bisa membasahi anggota tubuh saja bukan air yang telah tersisa di dalam wadah atau bak.

Air tersebut bisa dikategorikan sebagai air musta’mal setelah menetas dari tubuh seseorang ketika ia telah selesai melakukan wudhu atau mandi.

Menurut mazhab ini, air yang telah digunakan oleh seseorang untuk mengangkat hadats baik itu wudhu atau mandi besar, maka hukum air tersebut adalah suci namun tidak dapat mensucikan,

Jadi, air bekas mandi besar dan wudhu tidak dapat digunakan untuk bersuci meskipun air tersebut tidak tertempel oleh najis.

Madzhab Maliki

Menurut pandangan mazhab Maliki, air musta’mal adalah air yang sudah digunakan sebagai media berwudhu atau mandi besar supaya hadas kecil dan besar di dalam tubuh orang tersebut hilang.

Namun, mazhab ini tidak membedakan apakah tindakan itu sebagai tindakan sunnah atau wajib.

Mazhab ini juga berpendapat bahwasannya air musta’mal juga meliputi air yang telah digunakan untuk membersihkan najis dari anggota tubuh atau benda lainnya.

Mazhab Syafi’i

Mazhab Syafi’i mengemukakan bahwa air musta’mal adalah air yang telah digunakan untuk berwudhu, mandi besar, menghilangkan hadas dan kotoran. Air baru bisa dikatakan musta’mal apabila ditemukan sedikit saja dan niat nya sudah digunakan untuk mandi besar atau berwudhu. Meskipun air tersebut baru menyentuh bagian-bagian tertentu saja.

Sedangkan jika air tersebut digunakan untuk membersihkan anggota tubuh namun niatnya tidak untuk mandi besar ataupun berwudhu, maka mazhab Syafi’i berpendapat bahwa Air ini tidak tergolong sebagai air musta’mal.

Selain itu mazhab ini juga berpendapat bahwa air yang telah digunakan untuk memandikan mayit, orang gila, orang sakit, ataupun memandikan orang yang baru masuk Islam dianggap sebagai air musta’mal.

Air ini suci dari najis, akan tetapi tetap saja tidak dapat mensucikan.

Mazhab Hambali

Menurut mazhab Hambali, air musta’mal adalah air yang telah digunakan untuk wudhu dan mandi besar atau air yang telah digunakan untuk menghilangkan segala hadas besar dan kecil yang berasal dari tubuh meskipun air itu tidak mengalami perubahan aroma, rasa dan warna.

Mazhab ini juga berpendapat bahwa air bekas memandikan mayit termasuk kedalam air jenis musta’mal. Jika air tersebut sebelumnya digunakan untuk membersihkan kotoran dan hadats namun tidak ada niatan sebagai ibadah, maka madzhab ini berpendapat bahwa air tersebut tidak termasuk ke dalam golongan air musta’mal.

Itulah pendapat mengenai air musta’mal dari empat mazhab yang paling masyhur. Bisa disimpulkan bahwasannya sebagian besar dari empat mazhab tersebut berpendapat bahwa air musta’mal merupakan air yang suci namun tidak mensucikan.

Maka dari itu, keberadaannya pun tidak bisa dijadikan untuk bersuci lagi Dengan kata lain tidak bisa digunakan untuk wudhu ataupun mandi besar.

Akan tetapi, air tersebut tetaplah suci. Jika air musta’mal mengenai pakaian atau bagian tubuh kita, maka hukumnya suci/tidak najis dan sah untuk digunakan beribadah.

Referensi:

al-badr.net

doamuslim.com

Yang berminat dengan Ebook Islam dari Hasana.id bisa segera pesan untuk mendapatkan diskon. Rp2.500 untuk 1 mini ebook dan Rp9.500 untuk 1 ebook utama. Untuk lebih mudar bisa ambil paket mini, gold, atau platinum. Untuk lebih jelas klik link tersebut.

Promosi Produk:

Jernang Super / Jernang / Jernang Aceh

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p

Mau Ebook Islami MURAH?

Apa itu ebook? Ebook adalah elektronic book, atau buku digital. Ebook tetap disebut buku, hanya tidak berbentuk fisik (kertas). Biasanya ebook berbentuk file pdf dan bisa dibaca melalui smartphone (HP), tablet, ataupun komputer / laptop.