no comments

Yuk Mengenal Aqidah Ahlussunnah Yang Benar Menurut Buya Yahya

Hari ini saya ingin sharing ilmu mengenai aqidah ahlussunnah yang benar menurut salah seorang ulama besar di Indonesia, Buya Yahya. Pemaparan itu beliau tulis di page facebook beliau tanggal 3 April 2015 dengan judul “Membentengi Aqidah Ahlussunnah”. Tulisan beliau saya ambil intisarinya dengan merubah cara penulisan tanpa mengurangi substansi dari maksud tulisan tersebut. Semoga bermanfaat.

Salah satu pemberian Allah yang paling berharga kepada hambanya adalah aqidah yang benar. Maka ilmu yang membahas tentang aqidah yang benar adalah ilmu yang sangat penting dibandingkan ilmu-ilmu yang lainya. Namun sekarang ini banyak sekali beredar pemahaman-pemahaman yang salah mengenai aqidah.

Menurut Buya Yahya, ada dua hal yang harus diketahui dan diamalkan oleh setiap orang agar berada dalam koridor aqidah yang benar. Pertama, mengenal identitas aqidah yang benar. Kedua, mempertahankan manhaj talaqqi.

Mengenal Identitas

Mengenal identitas disini maksudnya adalah  mengenal bagaimana sebenarnya ciri-ciri aqidah yang benar. Menurut Buya Yahya, ada 5 ciri atau syarat agar seseorang bisa dikatakan berada dalam koridor aqidah yang benar. Kelima hal tersebut adalah:

1. Islam

Seseorang yang beraqidah yang benar adalah seorang Muslim, Sunni, Asy’ari, Shufi dan Bermadhab. Artinya tidak cukup seorang itu dikatakan aqidahnya benar jika hanya menyebut dirinya sebagai seorang muslim saja. Sebab Islam sekarang bermacam-macam dan alangkah banyaknya Islam yang dipalsukan oleh musuh-musuh Allah. Oleh karena itu, seorang muslim harus melanjutkan dengan ikrar bahwa dirinya adalah muslim ahlussunnah wal jamaah .

2. Ahlu sunnah wal jamaah

Namun muslim ahlu sunnah wal jamaah saja ternyata belum cukup karena adanya pemalsu-pemalsu ahlussunnah wal jamaah. Maka dari itu harus dilanjutkan dengan ikrar bahwa dirinya adalah pengikut ahlu sunnah wal jamaah Asy’ariyah.

3. Asy’ariyah atau Maturidiyah.

Namun orang yang mengatakan dirinya sebagai Asy’ariy atau pengikut Imam Abul Hasan Al Asy’ari ternyata belum cukup, sebab ada sekelompok orang yang sepertinya mengagungkan Imam Abul Hasan Al Asy’ari ternyata mereka adalah musuh-musuh Abul Hasan Al Asy’ari. Dan pengikut Imam Abul Hasan yang benar adalah mereka yang berani mengatakan dirinya pengikut para Ahli Tasawuf (shufiyyah) di dalam ilmu mendekatkan diri kepada Allah.

4. Shufiyyah

Maka seorang Asy’ari yang benar harus berkeinginan untuk menjadi seorang shufi dan mencintai ahli Tasawuf. Termasuk fitnah besar akhir-akhir ini adalah tuduhan sesat kepada ahli tasawwuf. Memang menurut Buya Yahya harus diakui ada segelintir orang yang menodai citra tasawwuf namun itu tergolong orang yang sesat mengaku bertasawwuf. Adapun tasawuf adalah ilmu untuk membersihkan hati dalam irama mencari ridha Allah.
Maka sangat sesat orang-orang yang memusuhi tasawwuf biarpun dia mengaku ahlussunnah dan biarpun juga mengakui Abul Hasan Al-Asy’ari.

5. Pengikut salah satu 4 madzhab

Identitas terakhir agar berada dalam koridor yang benar adalah mengikuti kepada salah satu dari Imam mazhab yang empat. Imam Madzhab yang empat adalah Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad Bin Hambal. Dalam bahasa fiqh kita sering menyebut dengan istilah bertaqlid kepada salah satu dari imam 4 madhab.

Identitas terakhir ini juga harus dipahami dengan benar. Hal ini karena sekarang ini banyak muncul orang yang mengaku ahlussunnah wal jamaah akan tetapi dengan kesombongannya mereka merendahkan dan membenci taqlid. Mereka bahkan hingga sampai mencaci-maki dan merendahkan para ulama-ulama yang bertaqlid. Padahal bertaqlid adalah termasuk ciri aqidah ahlusunnah wal jamaah yang benar.  Maka orang sesat adalah orang yang me-ngaku Islam tetapi bukan ahlissunah, membenci asy’ariyah, membenci tasawwuf dan tidak mau bermadhab. Ini adalah cara pintas untuk mengenali orang-orang yang beraqidah benar di tengah-tengah kesesatan ummat.

Mempertahankan Manhaj Talaqqi

Talaqqi adalah pengambilan ilmu dengan memperhatikan kedisiplinan, kesinambungan, dan keilmuan antara guru dengan murid. Singkatnya dari poin ini adalah ilmu itu harus dipelajari dari guru yang benar dan dari sumber atau kitab yang benar. Hal ini sangat penting dalam menjaga dan mengkaji ahlu sunnah wal jamaah yang benar.

Menurut Buya Yahya, ada 3 hal yang menyebabkan hadirnya aqidah yang tidak benar saat ini.

1. Dari awal pendidikan agamanya memang tidak dikenalkan dengan aqidah yang benar melalui kitab-kitab yang benar dengan manhaj talaqqi.
2. Manhaj talaqqi masih diberlakukan akan tetapi itu hanya sekedar pembacaan rutin tanpa ditindaklanjuti kajian yang lebih dalam. Hal ini akan menjadikan seseorang akan mudah tercemar oleh aqidah-aqidah yang sesat karena disatu sisi mereka kurang mendalami aqidah yang mereka tekuni. Disisi lain virus kesesatan bertebaran melalui media-media yang saat ini menjadi lebih dekat kepada masyarakat seperti televisi, radio dan buletin-buletin yang semua itu lebih mudah dibaca dengan bahasa lokal yang mudah di fahami seiring berkem-bangnya dunia tehnologi. Sementara penyeru kesesatan pun sangat gigih dalam menyebarkan kesesatan.
3. Semangat ingin tahu kepada agama yang tinggi yang tidak dibarengi dengan bimbingan seorang guru dan hanya hanya mengandalkan kemampuannya dalam membaca buku-buku yang ditemukannya di toko-toko buku atau yang dibaca melalui internet. Hal yang semacam inilah yang kami cermati telah benar-benar menjadikan aqidah kita semakin hari semakit keropos.

Hakekat Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Ahlu sunnah wal jamaah adalah manhaj beraqidah yang benar dengan dua ciri. Pertama mereka sangat mencintai keluarga Nabi Muhammad SAW. Kedua, mereka juga sangat mencintai sahabat Nabi Muhammad SAW.

Asy`ariyah adalah sebuah pergerakan pemikiran pemurnian aqidah yang dinisbatkan kepada Imam Abul Hasan Al-Asy`ariy. Beliau lahir di Bashrah tahun 260 Hijriyah bertepatan dengan tahun 935 Masehi. Beliau wafat di Bashrah pada tahun 324 H / 975-6 M.

Imam Al-Asy`ari pernah belajar kepada ayah tiri beliau yang bernama Al-Jubba`i, seorang tokoh dan guru dari kalangan Mu`ta-zilah. Sehingga Al-Asy`ari awalnya adalah penganut Mu`tazilah, sampai tahun 300 H. Namun setelah beliau mendalami paham Mu`tazilah hingga berusia 40 tahun, terjadilah debat panjang antara beliau dengan gurunya, Al-Jubba`i dalam berbagai masalah. Debat itu membuatnya tidak puas dengan konsep Mu`tazilah dan beliau pun keluar dari paham itu dan kembali kepada pemahanan AhliSunnah Waljamaah.

Imam Al-Asy`ari telah berhasil mengembalikan pemahaman sesat kepada aqidah yang benar dengan kembali kepada apa yang pernah di bangun oleh para salaf (ulama sebelumnya) dengan senantiasa memadukan antara dalil nash (naql) dan logika (`aql). Dengan itu beliau berhasil melumpuhkan para pendukung Mu`tazilah yang selama ini menebar fitnah ditengah-tengah ummat Ahlussunnah. Bisa dikatakan sejak berkembangya aliran Asy`ariyah inilah Mu`tazilah berhasil diruntuhkan.

Kaum Asya’irah dari masa ke masa selalu mempunyai peran dalam membela aqidah yang benar aqidah ahlisunnah waljamaah. Terbukti dalam sejarah perkembangan Islam ulama Asya’irahlah yang memenuhi penjuru dunia. Merekalah ahli sunnah yang sesungguhnya. Ada juga pakar aqidah yang semasa dengan Imam Abul Hasan Asy’ari yaitu Imam Abu mansur Almaturidi. Secara umum tidak ada perbedaan diantara keduanya. Hanya karena yang tersebar di Indonesia makakita umum mengenal dengan sebutan Asy’ariyah.

Wallahu a’lam bishshawab

Nah, begitulah penjelasan Buya Yahya soal aqidah yang benar, aqidah ahlussunnah wal jamaah. Oh iya, jangan lupa baca juga soal pelajaran-pelajaran sebelum membangun rumah tangga ya. Penting banget juga untuk kamu yang ingin menikah hehe.

See u in syaa Allah..

Artikel ini bermanfaat? Ditunggu ya komentarnya :p